
Gina segera memasuki rumah begitu turun dari mobil. Sedangkan Surya membawa mobilnya menuju garasi di bagian belakang rumah itu. Rumah tampak sepi. Gina berjalan menuju tangga untuk naik ke kamarnya. Saat memasuki kamar, Gina mulai menghapus riasan diwajahnya. Ia memandang wajahnya di depan cermin. Wajahnya yang tidak bermake up.
"Cantik." Pujinya pada diri sendiri. Gina merasa walau tidak memakai apapun wajahnya memang sudah ditakdirkan untuk terlihat cantik. Hanya saja ia merasa pucat jika harus keluar rumah tanpa riasan apapun. Sehingga lipstik dan eyeliner adalah alat wajib yang harus ada untuk melengkapi penampilannya setelah alas bedak warna natural yang ia bubuhkan di wajahnya.
"Nona, sebaiknya Anda mandi terlebih dulu. Saya akan memasak untuk makan malam kita." Ujar Surya begitu muncul di balik pintu. Gina menoleh ke arahnya karena tidak puas jika hanya melihat Surya dari pantulan cermin di depannya.
"Kenapa kau memasak? Mbak Yuyun dimana?"
"Baru saja aku melihatnya dengan pipi bengkak. Mbak Yuyun sedang sakit gigi sehingga kasihan kalau masih harus memasak."
"Dasar wanita itu, hari-harinya selalu saja sakit gigi. Kenapa susah sekali hanya untuk ke dokter gigi." Keluh Gina pada asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarganya sendiri itu.
"Aku harus 'membuat perhitungan' dengan wanita itu nanti." Mendengar kalimat Gina, Surya tersenyum. Ia hanya meletakkan tasnya lalu kembali keluar dari dalam kamar.
"Surya..." Panggil Gina sebelum ia benar-benar menghilang dari balik pintu.
"Iya Nona." Surya kembali membuka pintu yang hampir tertutup itu.
"Kau yakin akan memasak? Apa sebaiknya kita memesannya secara online saja?"
"Saya akan memasak saja, Nona."
"Kau yakin bisa memasak dengan baik?" Mendengar itu Surya tersenyum kecut.
"Apa saya masih harus membuktikan kepada Anda untuk yang ke sekian kali, Nona?" Gina memandangnya malas karena Surya mulai menyombong lagi
"Baiklah, saya akan mencoba memasak, Nona. Kalau rasanya tidak enak, Anda boleh memberi saja tendangan maut."
"Wah, kau yakin bertaruh dengan itu? Kau benar-benar penasaran bagaimana rasanya tendanganku?" Surya tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum lalu benar-benar menghilang dari balik pintu.
"Dia sangat percaya diri." Gina tertawa sendiri sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
Usai mandi dan berganti baju, Gina lalu turun untuk melihat apa Surya benar-benar memasak untuknya atau membeli makan malam mereka secara online. Ia berjalan menuju dapur sekarang dan melihat Surya sedang sibuk di depan kompor dengan sebuah penggorengan di atasnya. Aroma daging ayam mulai memasuki penciuman Gina begitu ia memasuki area dapur.
"Waw... apa yang kau lakukan?" Gina melihat ada api yang merambat ke atas penggorengan sesaat ia tiba di depan meja dapur. Gina sangat terkejut. Tapi Surya tampak tenang dan tidak terpengaruh sama sekali.
"Kau mau membakar dapur ini?" Gina menepuk bahu Surya.
"Saya hanya membuat daging ayam ini menjadi sedikit kecoklatan, Nona." Surya menoleh kepada Gina sebentar lalu tangannya melanjutkan membalik daging ayam fillet itu di atas teflon.
"Tapi itu sangat berbahaya sekali."
"Tidak Nona, saya adalah seorang profesional jadi hal itu tidak akan terjadi." Surya mengerling pada Gina yang berdiri di sampingnya. Melihat itu hati Gina seperti tersetrum. Kerlingan Surya memikat hatinya.
"Wahhh... si tuan sombong mulai kambuh lagi." Gina memalingkan wajahnya ke arah teflon agar Surya tidak tahu kalau wajahnya mungkin sekarang sedang merona mendapat kerlingan Surya.
__ADS_1
"Anda silakan menunggu di meja makan. Ini masih butuh waktu sedikit lama."
"Tidak, aku akan mengawasimu. Aku tidak ingin kau mencampurkan bahan-bahan yang tidak semestinya ke dalam makananku."
"Tenang saja Nona, saya tidak akan menambahkan racun tikus atau sejenisnya ke dalam makanan Anda. Mungkin hanya sedikit potasium sianida untuk penambah rasanya."
"Hei, bukankah itu juga sejenis racun?" Gina memelototi Surya. Melihat Gina tampak marah, Surya malah tertawa.
"Sudahlah Nona, tunggulah di meja makan. Sebentar lagi ini akan selesai. Sausnya juga sudah mulai mengental. Saya hanya akan memngangkat sayuran ini dan menyajikannya kemudian."
"Baiklah kalau kau memaksa, aku bisa apa." Gina tersenyum simpul karena Surya mengatasi semuanya.
Gina berjalan menjauhi dapur dan duduk disalah satu kursi di meja makan. Ia mengambil ponsel di saku celana panjangnya. Membuka pesan yang masuk. Ada pesan yang berisi gambar dari Wenny. Itu adalah foto-fotonya saat melakukan pemotretan tadi. Lagi-lagi Gina mengagumi wajahnya sendiri. Ia memang pandai dalam hal menarsiskan diri. Bosan dengan melihat ponselnya, ia mulai gelisah karena perutnya mulai menimbulkan suara-suara nyanyian lapar.
Dari tempatnya duduk, Gina melihat Surya masih sibuk menyiapkan makan malam. Memindahkan daging ayam panggang itu ke dalam piring dengan hati-hati. Menata sayuran di sekelilingnya lalu mengguyurnya dengan saus barbeque yang ia masak tadi. Surya terlihat sangat terampil melakukannya. Mata Gina sampai enggan berkedip memandang setiap gerakan Surya.
Surya yang piawai memimpin perusahaan, bisa bekerja di sawah, memiliki jiwa sosial tinggi, dia juga pandai memasak dan entah keahlian apa lagi yang ia punyai tapi Gina tidak mengetahui. Surya seperti adalah paket lengkap seorang pria idaman para wanita. Dan memikirkan itu tiba-tiba jantung Gina berdebar hebat. Kalau difikir-fikir lagi, Surya bukan hanya pria idaman tapi juga adalah suami idaman para istri. Perlahan tapi pasti ada rasa kagum menyelinap ke dalam hatinya kepada Surya.
Sepertinya sekarang hidangan sudah siap di atas piring, Surya dengan lengan baju yang dilipat seperti itu terlihat sangat berbeda. Otot lengannya yang kuat terlihat sangat manly. Ia berjalan mendekati Gina dengan dua buah piring di tangannya. Melihat itu jantung Gina semakin berisik menyuara. Dan sekarang Surya tampak menyunggingkan senyum kepadanya. Gina seperti menyublim dan terbang ke langit-langit melihat senyum Surya yang akhir-akhir ini terlihat manis dimatanya.
"Surya..." Gina mendongak dalam posisi duduknya memandang Surya yang meletakkan piring berisi steak ayam di atas meja. Aroma saus barbeque memasuki rongga indra penciumannya.
"Iya Nona." Surya menatap Gina lalu duduk di sebelahnya.
"Dari mana kau belajar semua ini?"
"Sebagai koki?"
"Bukan, sebagai pelayan." Surya lalu terkekeh.
"Lalu, dari mana kau tahu cara memasak steak?" Gina menunjuk makanan di atas piringnya.
"Aku melihat koki memasak saat jam kerjaku habis."
"Oh ya? Begitu saja?"
"Iya, lalu aku mencobanya saat di kos."
"Dan berhasil?"
"Tentu saja. Tapi setelah percobaan ke 1000 kali." Lalu Surya tertawa lagi setelah mengatakan itu. Gina tahu Surya hanya sedang melucu dan dia memanyunkan bibirnya.
"Ahh, sudah lah." Gina mengabaikan Surya yang masih tertawa lalu memotong daging ayam dengan saus yang menggoda itu di depannya.
"Surya... ini enak sekali." Gina merasakan daging ayam itu seperti meleleh di dalam mulutnya. Dengan saus barbeque daging ayam ini sama enaknya dengan daging sapi.
__ADS_1
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu." Ucap Gina spontan. Surya memandang Gina seketika. Gina akhirnya menyadari apa yang dikatakannya.
"Ehheemm... maksudku, aku jatuh cinta pada masakanmu. Iya... aku sangat menyukainya. Kau pandai memasak ya. Kau bisa masak apa lagi? Nasi padang? Siomay? Nasi kebuli? Apa lagi?" Gina menutupi rasa gugupnya dengan menjadi banyak bicara agar perhatian Surya teralihkan.
"Saya bisa semua itu. Nona."
"Benarkah? Apa kau ini seorang master chef?"
"Bisa dikatakan begitu, Nona."
"Ahh, aku tidak percaya padamu. Mana bisa kau memasak semua itu. Itu adalah masakan dari berbagai negara." Gina pura-pura sibuk dengan potongan daging ayam di depannya. Jantungnya sungguh sedang melompat kesana kemari sekarang karena kesalahannya sendiri.
"Tentu saja saya akan belajar sampai bisa, Nona. Semua akan menjadi mudah asal kita mau mempelajarinya."
"Ya, itu adalah dirimu." Gina memberinya senyum. Surya membalasnya.
Dari arah lorong menuju pintu belakang rumah ini ada sebuah ponsel yang merekam dan memotret apa yang sedang Gina dan Surya lakukan. Mbak Yuyun tersenyum melihat hasil jepretannya. Gina dan Surya sedang saling pandang dengan senyum manis keduanya. Ia menggeser lagi foto-foto sebelumnya. Gina dan Surya sedang di dapur tadi. Lalu saat mereka berdua sedang memasak sarapan waktu itu.
"Baiklah, yang ini bagus." Mbak Yuyun berjalan menuju kamarnya dengan masih menekuni ponsel.
"Kirim saja yang ini. Lalu ini. Ini dan yang ini juga." Wajah Mbak Yuyun sumringah saat mengirim foto-foto itu.
"Wah, mereka ini memang pasangan serasi. Aku belum pernah melihat Mbak Gina merona seperti itu. Wajahnya memerah." Mbak Yuyun cekikikan sendiri melihat foto-foto majikannya seperti itu. Tapi kemudian ia memegang pipinya yang bengkak karena nyeri akibat sakit gigi.
Tiba-tiba, gubrak!!!
"Awww...." Mbak Yuyun terpental setelah tubuhnya menabrak jemuran di belakang rumah.
"Kenapa jemuran ini bisa di sini. Siapa yang menaruhnya di sini. Kurang ajar sekali orangnya." Makinya sendiri. Padahal jemuran itu dia sendiri yang meletakkannya tadi sore. Mbak Yuyun bangun sambil mengelus jidatnya yang sempat menabrak jemuran itu.
Bu Marina membuka ponselnya. Ia melihat foto-foto Gina dan Surya yang dikirim oleh Mbak Yuyun barusan. Ia menjadi yakin dengan apa yang dilihatnya akhir-akhir ini. Gina telah berubah. Dia benar-benar telah mulai menyukai Surya. Pandangan matanya kepada Surya adalah sesuatu yang tidak biasa. Pandangan yang mengisyaratkan cinta.
"Pesan dari siapa?" Tanya Pak Rangga di sampingnya. Mereka sedang menghadiri pesta peringatan pernikahan salah satu teman Pak Rangga.
"Tidak ada. Hanya pesan dari operator." Jawab Bu Marina sambil menutup ponselnya. Pak Rangga lalu tidak memperhatikan lagi. Ia lalu berbincang dengan teman-temannya.
Gina memandang Surya yang sedang memotong steaknya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi mengatasi perasaannya. Semakin hari Gina semakin merasakan perasaanya tidak bisa ia kendalikan. Ia semakin menyukai Surya. Ia ingin selalu ada di dekatnya dan bersamanya setiap waktu. Ia juga mulai terbiasa dengan makan satu meja dengannya. Dan menikmati masakannya yang enak membuatnya merasa itu adalah hal paling romantis yang pernah ia dapatkan dari seorang pria. Hanya dengan Surya, Gina merasa sangat berarti. Mengabulkan semua permintaannya, memenuhi semua kebutuhannya dan selalu ada saat ia menginginkan sesuatu. Gina benar-benar merasa seperti seorang ratu saat bersama Surya.
Dan memperhatikan Surya seperti itu adalah hal yang sangat menyenangkan untuknya. Perlahan bibirnya menyunggingkan senyum seiring desiran hangat menjalari dadanya. Gina benar-benar telah menyadari bahwa dirinya sedang jatuh cinta. Cukup mudah dan sangat indah.
"Nona, apa ada sesuatu diwajah saya?" Tanya Surya melihat Gina tersenyum dan sekarang malah tertawa kecil padanya. Ia merasa mungkin ada saus atau semacamnya di wajahnya sehingga Gina menertawainya begitu.
"Oh itu ada saus menempel di pipimu." Surya lalu meraba pipinya berusaha menghapus noda saus.
"Bukan di situ. Di sini..." Gina pura-pura mengelap salah satu sisi pipi Surya untuk membuat Surya percaya ada sesuatu diwajahnya sehingga Gina memandangnya seperti itu. Ia tidak mau Surya tahu bahwa ia mulai menaruh hati padanya. Bukan, bukan tidak mau tapi belum mau memperlihatkannya kepada Surya, orang yang beberapa waktu lalu ditolaknya habis-habisan.
__ADS_1
Ia butuh waktu yang tepat untuk menunjukkannya kepada Surya karena ia butuh banyak keberanian untuk menjilat ludahnya sendiri setelah menolaknya sedemikian rupa. Gina hanya harus memilih sekarang. Untuk menikmati apa yang ia rasakan atau menekan dan menghilangkannya juga karena harga dirinya tidak boleh jatuh karena telah menyukai orang yang tidak ia inginkan sama sekali sebelumnya. Benar-benar seperti sebuah dilema.