
Surya duduk di samping Bapaknya yang masih berbaring.
"Kenapa mengkhawatirkan Bapak? Bapak tidak apa-apa."
"Aku memang sudah lama ingin pulang, Pak." Surya tersenyum lebar.
"Bapak adalah alasanku untuk pulang. Sekarang aku punya jabatan yang sangat baik di perusahaan besar jadi tidak mudah bagiku mengajukan cuti dan berlibur."
"Apakah pekerjaanmu terlalu berat? Kalau memang begitu, berhentilah bekerja. Kembalilah ke sini dan bekerja di sawah. Daripada kau selalu membayar orang untuk menggarap sawah dan juga menggaji Joko sebagai mandormu, lebih baik kau sendiri yang melakukannya." Ujar Pak Wiro.
"Benar kata Bapakmu, Sur." Tambah Ibunya sambil mengupas buah mangga.
"Aku juga sangat ingin melakukannya tapi aku masih memiliki kontrak kerja yang belum berakhir jadi aku tidak boleh berhenti begitu saja. Bisa-bisa aku akan terkena denda karena sudah menyalahi kontrak." Jelas Surya berbohong. Karena bekerja di R-Company ia tidak pernah menandatangani kontrak yang berujung denda. Saat ini ia hanya perlu menyelesaikan semua tugasnya sebagai pegawai R-Company sehingga ia tidak bisa berhenti secara tiba-tiba.
"Lalu kapan kontrakmu berakhir?"
"Masih lama, Pak. Masih banyak proyek yang ku tangani jadi aku belum bisa berhenti sekarang."
"Repot sekali punya anak menantu dari orang kaya, Bu. Perusahaan besar akhirnya dia yang memegang. Jadi sibuk anak kita." Goda Pak Wiro.
"Iya Pak. Mari kita relakan anak kita menjadi orang sukses." Ibunya juga akhirnya ikut menggoda Surya.
Surya tersenyum melihat kedua orang tuanya. Ia sangat bahagia bisa bersama mereka seperti ini. Bapaknya juga baik-baik saja dan hanya tinggal menunggu pemulihan saja.
Gina sampai di rumah Surya. Rumah dengan model lama dibagian depannya. Dengan dinding papan jati. Dengan teras yang memiliki sebuah bangku panjang dan satu buah meja kecil dengan vas bunga mawar merah plastik. Dilihat dari banyaknya bunga yang di tanam di halaman rumah Surya, Ibu Surya pastilah orang yang suka merawat tanaman.
"Masuk, Mbak." Ajak Ayu setelah berhasil membuka pintu rumah Surya dengan kunci yang diberikan padanya tadi. Gina berbalik dari tempatnya berdiri lalu mengikuti Ayu untuk masuk.
Saat Gina masuk, ia menemukan rumah yang sangat sederhana. Dengan ruang tamu berkursi kayu yang sepertinya terbuat dari kayu jati juga. Ruang tamu berukuran kecil, pikir Gina. Ruang tamu itu bahkan tidak lebih besar daripada kamar mandi di kamar Gina.
"Ini kamar Mas Surya, Mbak." Tunjuk Ayu pada sebuah kamar yang menghadap ruang makan. Gina tidak tahu kalau rumah Surya ternyata sekecil ini. Untuk ukuran Surya dengan gaji besar, ternyata ia tidak membuat rumah yang besar di kampungnya. Gina merasa Surya memang aneh. Seharusnya dengan memiliki rumah yang besar, ia bisa menunjukkan status ekoniminya pada orang-orang. Tapi ternyata tidak, rumah surya kecil sekali bagi Gina.
"Seperti inilah rumah mas Surya, Mbak. Jauh lebih kecil daripada rumah Mbak Gina." Ujar Ayu seperti tahu apa yang difikirkan Gina. Gina hanya membalasnya dengan senyum.
"Ehh, kau tahu rumahku?" Gina menyadari kalau Ayu tidak pernah ke rumahnya. Jadi bagaimana dia bisa tahu bagaimana rumahnya.
"Iya, Bude yang mencetitakannya padaku kalau rumah besannya sangat besar dan sangat bagus. Bahkan kata Bude ruang tamu rumah ini jauh lebih kecil daripada kamar mandi di rumah Mbak Gina."
"Ahh, ibu terlalu melebih-lebihkan." Gina mengibaskan tangannya.
"Tapi aku percaya pada apa yang dikatakan Bude. Setelah melihatmu dan melihat pesta pernikahan mas Surya denganmu waktu itu aku yakin sekaya apa dirimu." Ayu sekarang menuang air putih ke dalam gelas yang ada di meja makan itu.
"Aku juga bisa melihat semua yang kau pakai bukanlah barang murah."
"Tidak, ini hanya imitasi kau tahu." Ujar Gina berbohong.
"Kau fikir aku akan percaya begitu saja." Ayu tertawa kecil melihat Gina berusaha membohonginya.
"Mas Surya pernah membelikanku jam tangan dan saat aku mengganti baterainya di tukang jam, ia mengatakan dari sususan mesin jam itu tidak dibuat di negeri ini tapi itu dibuat di luar negeri. Bahkan ada nomer seri di mesinnya. Karena aku penasaran akhirnya aku mencarinya di internet dan Mbak Gina tahu berapa harganya? Bukan hanya ratusan ribu tapi hampir 2 juta. Menurutku itu mahal, Mbak. Hanya sebuah jam tangan saja berharga jutaan." Cerita Ayu.
"Jadi aku yakin semua yang kau pakai pasti berharga jutaan." Ayu tersenyum jumawa setelah menyelesaikan analisanya. Gina tersenyum kecut menanggapi Ayu.
"Baiklah, aku akan mandi dan istirahat sebentar. Nanti bisa temani aku lagi kembali ke rumah sakit?"
__ADS_1
"Mas Surya mengatakan Mbak Gina bisa kembali nanti sore."
"Iya, tapi aku ingin berada di sana saja. Di sini juga tidak ada siapa-siapa."
"Ada aku."
"Tidak, sebaiknya aku berada di rumah sakit saja."
"Baiklah kalau begitu. Sekarang mbak Gina beristirahat. Kalau mencariku, aku ada di sebelah."
"Sebelam mana?"
"Rumahku di sebelah."
"Oh iya."
Ayu keluar dan Gina menutup pintu rumah itu. Lalu ia berjalan ke arah kamar yang Ayu katakan sebagai kamar Surya. Gina membuka pintunya yang tidak terkunci. Benar, sejak sampai rumah Surya, Gina tidak berharap banyak kamar Surya akan seluas kamarnya sendiri. Tapi karena lelah, Gina sudah tidak berfikir panjang dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur itu. Kantuknya benar-benar tak tertahankan.
🌸🌸🌸
Hanna berjalan keluar dari ruang kerjanya di ruangan Gina. Hari ini atasannya tidak bekerja sehingga ia harus mengerjakan pekerjaan Gina. Pagi tadi ia baru membaca pesan yang Gina kirim bahwa ia harus pergi bersama suaminya karena urusan keluarga. Hanna tampak memasuki pantry. Di dalam ada beberapa pegawai lain yang juga sedang membuat minuman. Mereka menyapa Hanna dengan hormat. Meskipun Hanna hanya seorang asisten, tapi jabatannya tentu lebih tinggi daripada pegawai lain karena ia berada dibawah langsung dari Gina. Jadi jabatannya dengan Gina hampir sejajar.
Hanna menyeduh kopi di dalam cangkir. Setelah itu ia duduk di kursi yang ada di dalam pantry sambil menikmati kopinya. Atasan yang tidak ada membuatnya sedikit leluasa bergerak kesana kemari.
"Hai, kau di sini?" Sapa seseorang yang tiba-tiba masuk juga. Hanna mendongak memandang Viviana. Ia adalah sekretaris Surya yang dulunya adalah sekretaris Pak Rangga. Tapi Surya tidak memiliki asisten pribadi sekarang. Ia merasa mampu bekerja tanpa asisten dan hanya cukup berkolaborasi dengan sekretarisnya saja. Karena sepertinya Surya sangat menguasai pekerjaannya dan memiliki wewenang untuk melakukan pekerjaan dengan bagian-bagian terkait jadi ia tidak perlu memiliki asisten pribadi.
"Mau kopi?" Tawar Hanna yang tampak sudah akrab dengan Viviana.
"Boleh." Viviana duduk diseberang Hanna duduk tadi. Tak lama Hanna kembali dengan secangkir kopi juga.
"Aku senang karena aku akan bekerja tanpa pengawasan langsung, tapi aku iri, kapan aku juga bisa berlibur." Melihat ekspresi wajah Hanna yang bingung, akhirnya Vivian menjelaskan perkataannya.
"Ambillah saja cuti. Tidak akan ada yang melarangmu. Ku lihat kau tidak pernah mengajukan cuti. Setiap hari kau selalu masuk untuk bekerja." Saran Hanna.
"Percuma aku meliburkan diri lalu pada akhirnya semua pekerjaanku menumpuk dan saat kembali aku harus lembur." Hanna tertawa mendengar itu.
"Itu adalah risiko yang harus diambil." Ujar Hanna.
"Tapi untung saja Pak Surya bukanlah seseorang yang diktator dan bukan penganut faham romusha jadi aku masih cukup mampu mengatasi kejenuhanku." Vivian meminum kopinya yang masih panas.
"Kau sendiri? Bagaimana pekerjaanmu? Ku rasa lebih berat menjadi asisten Nona Gina dari pada saat kau masih di jabatanmu yang dulu. Nona Gina tidak tahu sama sekali tentang R-Company jadi pasti kau bekerja keras untuk membantunya."
"Begitulah, aku sudah ada di posisi ini jadi aku hanya harus menjalaninya."
"Ngomong-ngomong, kenapa kau mengajukan diri untuk menjadi asisten Nona Gina? Apa itu menghasilkan lebih banyak uang?" Tanya Vivian penasaran dengan keputusan Hanna. Hanna hanya tersenyum sambil menikmati kopinya di jam istirahat ini.
🌸🌸🌸
Gina merasa ada seseorang yang duduk di tepi tempat tidurnya. Gerakan itu membuat tidurnya terusik. Ia mencoba membuka matanya tapi terasa berat. Lagi pula posisinya yang menghadap tembok membuatnya malas berbalik. Itu pastilah Ayu yang mendatanginya. Ia tadi berjanji untuk membangunkannya 2 jam setelah Gina tidur. Dan Gina sempat melihat jam di arlojinya sudah lewat 2 jam.
"Ayu, biarkan aku tidur stengah jam lagi ya." Gumam Gina. Tidak ada jawaban dan Gina kembali melanjutkan tidurnya.
Sampai pada akhirnya Gina bangun dan melihat jam menunjukkan pukul 1 siang.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa sudah siang." Gina turun dari tempat tidur. Keluar dari dalam kamar dan tidak menemukan siapa-siapa. Sepertinya Ayu tidak kembali lagi untuk membangunkannya. Tapi baru saja Gina akan memasuki kamar mandi di salah satu sisi rumah Surya, Ayu masuk dari pintu depan.
"Mbak Gina... Mbak Gina..." Panggil Ayu dengan suara keras. Gina mengurungkan niatnya untuk mandi menghampiri Ayu.
"Ada apa, Ayu?"
"Ahh, syukurlah kau sudah bangun. Maafkan aku. Aku lupa membangunkanmu. Aku mengantarkan ibu menggiling padi di penggilingan sampai aku lupa. Aku baru saja pulang, mbak." Ayu terengah-engah karena berlari dari rumahnya ke rumah Surya.
"Ahh, tidak apa. Aku juga yang salah. Kau sudah membangunkanku tapi aku masih mengulur waktu."
"Membangunkanmu?"
"Ya." Perasaan Gina tidak enak ketika Ayu mengatakan itu.
"Ini aku baru datang untuk membangunkanmu. Sejak pulang dari sini aku mengantarkan ibu."
"Lalu... siapa yang masuk ke kamarku tadi?"
"Masuk? Aku juga tidak masuk ke kamar." Ayu bengong mendengar ucapan Gina.
"Ayu, apa di sini sering ada maling?"
"Tidak ada."
"Tapi aku yakin ada seseorang yang masuk ke kamarku."
"Kau melihatnya, mbak?"
"Tidak, karena aku sangat mengantuk jadi aku hanya mengatakan padanya kalau harua membangunkan setengah jam lagi saja. Aku fikir itu adalah kau."
"Tidak Mbak, sejak pergi tadi pagi, aku baru kembali sekarang."
"Jadi, siapa orang itu, Yu." Gina bingung. Lalu ia teringat sesuatu dan kembali masuk ke kamarnya. Ayu mengikuti. Ia melihat Gina membuka tas dan koper. Lemari Surya juga ia buka.
"Tas dan koperku aman. Entahlah dengan lemari Surya yang tidak terkunci ini. Apakah ada barang berharga disini." Gina tampak panik.
"Apakah yang masuk tadi adalah maling?"
"Mbak Gina ada-ada saja. Mana ada maling masuk di siang hari."
"Kau tahu, maling jaman sekarang tidak kenal waktu."
"Tapi tidak dikampung seperti ini, mbak. Maling akan berfikir ribuan kali kalau mau beroprasi di siang bolong. Seramai ini." Ayu menahan tasa melihat kepanikan Gina.
"Kau ini..." Gina masih tidak percaya.
"Mungkin Mbak Gina bermimpi?"
"Tidak, aku yakin ada orang di kamarku tadi."
"Sudahlah, Mbak Gina mandilah agar badan lebih segar." Bujuk Ayu. Gina yang masih seperti bingung diantar oleh Ayu ke kamar mandi. Tapi tiba-tiba Gina menghentikan langkahnya.
"Ya Tuhan, Yu... mungkinkah rumah ini berhantu?" Celetuk Gina sambil melihat sekeliling dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Hantu???" Ayu ikut bergidik ngeri mendengar ucapan Gina.