
Gina tiba di rumah dengan barang belanjaan yang sangat banyak. Mbak Yuyun yang melihat itu langsung menyongsongnya dan membantu meringkankan beban dengan membawakan sebagian paper bag dari tangan Gina.
"Surya belum pulang?" Kalimat pertama yang diucapkan Gina karena melihat rumah itu sepi.
"Wah, senang sekali mendengarnya." Ujar Mbak Yuyun yang berjalan mengikuti Gina.
"Kenapa?" Tanya Gina masih berjalan menuju ke arah tangga.
"Kalimat pertama seorang istri saat tiba di rumah."
"Apa-apaan." Gina tersenyum kecut mendengar nada godaan dari asisten rumah tangganya yang sangat akrab dengannya itu.
"Nanti, lambat laun akan ada pertanyaan lain, Nona."
"Apa?" Kali ini Gina menoleh pada Mbak Yuyun.
"Anak-anak apa sudah makan?"
"Hahh, Mbak Yuyun terlalu banyak melihat sinetron di TV. Semua itu adalah dialog yang dibuat para penulis skrip untuk memperpanjang durasi tanyang mereka."
"Justru kalimat-kalimat di dalam film biasanya diangkat dari kehidupan nyata, Nona."
"Sejak kapan mbak Yuyun suka menonton film dokumenter."
"Judul film baru, Nona?" Tanya mbak Yuyun dengan wajah polosnya.
"Letakkan di situ saja. Aku sangat lelah " Gina tidak menjawab pertanyaan mbak Yuyun karena akan terlalu panjang. Sedangkan ia sendiri sudah sangat ingin mengistirahatkan kakinya setelah memutari mall hampir seperti pembalap melintasi arena balapnya.
"Siap, laksanakan." Suara Mbak Yuyun lantang seperti komandan upacara saat menerima perintah dari inspektur upacara.
Gina duduk di salah satu sofa kamarnya yang luas. Mengangkat kakinya dan berselonjoran disana. Menikmati rasa lelah yang sepertinya lama tidak ia rasakan. Lelah berbelanja tapi menemukan kebahagiaan tersendiri dari itu.
🌸🌸🌸
Sebuah telepon masuk ke ponsel Surya saat berkendara pagi ini menuju R-Company. Gina melirik sekilas nama yang tertera di ponsel Surya. Jantungnya tiba-tiba berdegup. Faris menghubungi Surya.
"Baru saja saya akan menghubungi Anda sesampai saya di kantor. Tidak apa. Saya memang menyetir tapi ini tidak mengganggu. Baiklah, lusa kita akan bertemu. Baik, Pak Faris. Terima kasih." Gina pura-pura tidak mendengar pembicaraan Surya tapi sejak tadi ia memasang telinga untuk menyimak apa yang Surya dan Faris bicarakan.
Dan masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya, acara berkendara mereka masih diisi dengan kebisuan masing-masing dan yang terdengar hanya musik dari audio mobil milik Surya. Gina masih selalu malas untuk berbasa-basi dengan Surya. Seperti saat ini ketika sebenarnya ia penasaran pada apa yang baru saja Surya dan Faris bicarakan, Gina memilih diam tanpa sedikitpun adanya pertanyaan.
"Nona..." Akhirnya suara Surya memecah keheningan. Gina yang sejak tadi mengarahkan pandangan ke luar cendela mobil tidak ingin mengubah arah pandangnya.
"Apa?" Jawab Gina acuh dan masih melihat ke arah luar cendela.
"Nanti malam adalah malam pengusaha, jadi saya ingin Anda turut serta bersama saya untuk hadir disana."
"Sebagai wanita hebat dibalik pria hebat?" Kali ini Gina menoleh kepada Surya sambil tersenyum menyindir. Surya tertawa.
"Ya, itu salah satunya. Salah duanya sebagai pasangan suami istri, akan terlihat jauh lebih baik jika kita pergi bersama. Dan salah tiganya, kita memang memiliki misi untuk sering bersama-sama agar Papa merasa tenang selama berlibur bukan?"
"Ya, itu harus kita lakukan." Jawab Gina singkat lalu kebisuan mulai menemani perjalanan mereka lagi.
Sesampainya di R-Company, Gina dan Surya berjalan memasuki area lobi. Dari jarak beberapa meter Gina meliha Hanna berjalan dari arah toilet. Tanpa pikir panjang Gina segera menyusulnya. Surya melihat hal itu dan hanya tersenyum sambil melanjutkan langkah menuju lift.
"Hanna..." Panggil Gina dengan mempercepat langkahnya. Stileto warna nude membentuk irama khas dari detak kakinya. Hanna menoleh lalu menyunggingkan senyum hormat.
"Selamat pagi, Nona." Sapa Hanna setelah Gina ada tepat dihadapannya.
"Wah... dari rona wajahmu pagi ini, jadi benar yang kemarin ku lihat itu adalah kau."
"Maaf, Nona?" Hanna tidak mengerti maksud kalimat Gina.
"Aku melihatmu berjalan ke arah studio bioskop kemarin."
"Benarkah?" Hanna menghentikan langkah saking terkejutnya.
__ADS_1
"Hei, kenapa wajahmu pucat sekali. Apa aku tidak boleh tahu hal itu?" Gina menahan tawa melihat ekspresi Hanna yang seperti sedang tertangkap basah.
"Nona... itu... aku..." Hanna tampak bingung dan berusaha menjelaskan sesuatu.
"Apakah itu sebuah kesalahan? Lagipula aku tidak akan memarahimu karena hal ini."
"Iya, Anda benar. Anda tidak akan marah bukan."
"Tentu saja. Memangnya siapa aku ini. Aku hanya bosmu, bukan orang tuamu. Kau berpacaran dengan siapapun apa salahnya." Gina sudah tertawa-tawa sekarang melihat kegugupan Hanna.
"Apa kalian backstreet?"
"Se-sebenarnya, i-iya, Nona." Gina bertambah merasa lucu melihat Hanna mendadak gagap seperti itu.
"Hei, kita berteman bukan. Kenapa kau jadi gugup hanya karena aku tahu kau sedang berkencan dengan pacarmu. Aku tidak mengenal orang tuamu jadi aku tidak akan mengadu pada mereka." Gina semakin cekikikan.
"Sayangnya aku tidak bisa melihat wajah pacarmu karena terhalang. Aku berusaha mencari celah tapi tetap tidak bisa ku dapatkan wajahnya. Sangat mengesalkan." Sekarang berganti Gina cemberut.
"Ahh, Nona..." Dan berganti Hanna yang malah menertawainya.
"Itu bukan hal penting, bukan. Apa pentingnya tahu bagaimana wajah pacar saya."
"Tentu saja itu penting. Aku penasaran bagaimana orang yang sepertinya sering mengabaikanmu."
"Dia tidak mengabaikan saya, Nona. Hanya saja dia terlalu sibuk."
"Benarkah? Ada di divisi apa dia? Aku harus tahu sesibuk apa sehingga meluangkan waktu denganmu saja tidak bisa." Gina menunjukkan wajah kesal.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya dengan senang hati menjalani ini."
"Ya Tuhan..." Gina memandang Hanna dengan mata yang membulat.
"Ada apa, Nona?" Hanna heran dengan ekspresi Gina yang berlebihan seperti itu.
"Ahh, lagi... kau benar-benar telah dibutakan oleh cinta."
"Kami berusaha untuk saling memahami dan mendukung satu sama lain. Sehingga itu bukanlah sesuatu yang bisa menjadikan masalah diantara kami. Setidaknya semakin jarang berjumpa, semakin indah saat pertemuan sudah tiba."
"Ahh, kalau aku jadi kau sudah pasti tidak tahan dengan gaya pacaran seperti kalian. Bagiku pacaran itu harus sering bertemu, sering mengobrol dan menghabiskan waktu bersama. Pertemuan yang intens bisa membuat semakin eratnya suatu hubungan." Pintu lift terbuka dan Gina keluar dari dalamnya. Tapi matanya bertemu dengan pria di hadapannya.
"Hai, kau yang kemarin." Pria yang awalnya menombol-nombol ponselnya itu mendongak ke wajah Gina.
"Ahh iya, Nona." Jawab pria itu.
"Kau juga bekerja di sini?"
"Benar Nona."
"Wah, dunia memang hanya selebar daun kelor ya. Ternyata kau pegawai R-Company juga."
"Iya, Nona." Pria dengan kulit putih dan rambut hitam tertata rapi itu sopan.
"Oh iya, sekali lagi terima kasih kau menemukan ponselku. Aku tidak yakin jika yang menemukan adalah orang lain. Mungkin mereka akan mengambil untuk diri mereka sendiri."
Kemarin...
Setelah Gina memakan semua dimsumnya, ia segera berdiri meninggalkan meja sambil mengemasi seluruh tas belanjaannya. Karena saking banyak yang ia bawa, sehingga lupa memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Sampai saat ia berjalan beberapa meter dari food court seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"Nona... Nona..." Awalnya Gina tidak menyadari bahwa dirinya yang sedang dipanggil. Tapi setelah pria itu berada lebih dekat dibelakangnya, barulah Gina menoleh.
"Anda manggil saya?"
"Iya, Nona. Saya ingin mengembalikan ponsel Anda."
"Ya Tuhan, bagaimana aku bisa meninggalkannya." Gina ingat terakhir kali ia menggunakan ponselnya adalah saat makan di foodcourt tadi.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengantarkan ini kembali padaku." Pria itu tersenyum membalas ucapan terima kasih Gina lalu berlalu pergi.
"Kemarin kita belum sempat berkenalan. Jadi siapa namamu?"
"Sepertinya kita memang belum saling kenal tapi secara teknis saya sudah mengenal, oh maksudku sudah tahu siapa Anda." Gina mengerutkan kening menanggapi kalimat pria itu.
"Anda adalah putri pemilik perusahaan tempat bekerja jadi saya pasti mengenal Anda walaupun tidak berlaku sebaliknya."
"Ahh iya kau benar. Lagipula mana mungkin aku mengenali satu per satu pegawai di sini." Gina tertawa kecil.
"Saya Bayu, Nona. Saat kemarin menemukan posel Anda, saya tahu itu milik Anda dari layar depann yang saya lihat. Sehingga saya mencari Anda dan menemukan Anda tidak jauh dari sana."
"Baiklah, terima kasih pokoknya." Gina mengulas senyumnya lagi
"Kau bekerja di lantai ini?" Lanjut Gina masih memandang Bayu.
"Tidak Nona, saya sedang mencari seseorang."
"Benarkah? Dari divisi apa?"
"Seseorang di samping Anda." Pria itu memandang Hanna.
"Hanna?" Gina menoleh pada seseorang di sebelahnya.
"Kalian saling kenal?"
"Iya Nona." Jawab Hanna.
"Baiklah Nona, bolehkan saya meminta izin untuk sebentar saja berbicara dengannya?"
"Ya." Gina memperbolehkan.
"Kalau begitu aku akan ke ruanganku lebih dulu."
"Baik Nona. Saya akan membawakan coklat panas untuk Anda."
"Hei, tidak perlu. Suruh saja OB yang mengantarkannya."
"Baik Nona." Gina berjalan meninggalkan Hanna dan pria itu.
Apa dia pacar Hanna? Kemarin aku bertemu dengannya di mall. Kemarin juga aku melihat Hanna bersama seseorang. Dan sekarang, pria itu mencari Hanna. Karena kemarin mereka berada di satu lokasi, pasti dialah pacar Hanna. Gina menganalisa.
"Ahh, benar sekali. Pasti pria itu adalah pacar Hanna." Gina tampak girang merasa tebakannya benar.
"Lumayan tampan. Aku suka gaya rambutnya. Rapi dan wangi. Aku bahkan bisa mencium wangi pomade yang dipakainya. Bagaimana kalau aku mendandani Surya seperti itu. Pasti dia akan terlihat tampan." Gina tersenyum-senyum sendiri membayangkan Surya menata rambutnya serupa pacar Hanna.
"Apa? Surya?" Gina tiba-tiba sadar akan sebuah hal hingga menghentikan langkahnya.
"Kenapa Surya? Kenapa aku mendandaninya seperti itu? Apa peduliku padanya? Memalukan sekali aku membayangkan Surya. Memalukan." Gina memegangi pipinya yang terasa hangat.
Hanna berdiri di lorong itu dengan pria yang mencarinya.
"Terima kasih sudah membawanya untukku." Ujar Hanna menerima sebuah paperbag. Hanna sempat melihat ke dalamnya untuk memastikan bahwa isinya sesuai dengan yang ia harapkan.
"Sama-sama." Bayu memberinya senyum.
"Jangan bekerja terlalu keras. Tubuhmu butuh istirahat. Menjadi asisten pribadi bukanlah menjadi bayangannya. Jadi jangan terlalu berlebihan."
"Bukankan kalimat itu seharusnya untuk dirimu sendiri?" Bayu tertawa kecil menanggapi Hanna.
"Baiklah, kita jangan jadi workaholic." Bayu masih belum melepas pandangannya dari Hanna.
"Tidak bisa, aku masih memiliki 1 tahun waktu untuk melunasi mobilku. Jadi aku harus bekerja keras. Kontrakan dan biaya hidup menuntutku untuk bekerja dengan sangat keras."
"Terserah kau. Dasar wanita pembangkang." Sambil mengacak rambut Hanna. Hanna pura-pura cemberut sambil merapikan rambutnya kembali.
__ADS_1
"Baiklah, aku pergi. Jadilah pegawai teladan sampai bosmu enggan memecatmu walaupun kau sangat ingin mengundurkan diri." Bayu pergi setelah sempat Hanna menjulurkan lidah padanya mengejek.