Tahta Surya

Tahta Surya
Harinya


__ADS_3

"Buka mata Anda, Nona." Suara seorang make up artis membuat Gina reflek membuka mata setelah usai memulas eye shadow untuk tindakan perbaikan. Gina mengamati cermin dihadapannya. Bayangan dari cermin itu tak ayal membuatnya takjub juga. Make up artis ini memang sangat profesional. Dia bisa membuat make up diwajahnya terlihat natural tapi sekaligus tegas.


Gina mengamati setiap sentuhan yang dibubuhkan oleh make up artis. Memalingkan sisi kanan dan kiri bergantian untuk memastikan bahwa riasannya terlihat sempurna dari segala arah.


"Bagaimana Nona?"


"Bagus." Jawab Gina singkat tapi bernada puas. Rambutnya pun sudah tersanggul dengan indah.


"Mari saya bantu mengganti gaun Anda." Seseorang yang diutus oleh butik tempat Gina memesan gaun menawarkan diri.


"Baiklah..." Jawab Gina beranjak dari tempat duduknya dengan masih memakai piyama.


Ya Tuhan, ini benar-benar hariku. Aku sudah memulai perang ini dan aku tidak boleh kalah. Ya, mulai hari ini aku hanya memiliki pilihan menang atau menang. Batin Gina penuh ambisi.


Status barunya sebagai istri Surya setelah akad nikah tadi tidak berpengaruh sama sekali untuknya. Ia sudah membuat kesepakatan dengan Surya jadi pernikahannya hanya terjadi di atas kertas. Ia tidak perlu menghawatirkan apapun. Setelah mendapatkan tahtanya, ia bisa menceraikan Surya sesukanya.


"Ceklek!!" Bunyi gagang pintu kamar hotel dibuka tanpa ketukan sebelumnya. Surya muncul dari balik pintu.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Gina menoleh dengan heran mendapati Surya memasuki kamar tempatnya bermake up.


"Saya perlu berganti pakaian untuk acara malam ini."


"Kenapa di sini? Ganti pakaianmu di tempat lain." Ucapan Gina membuat seorang make up artis dan asistennya menatap Gina aneh. Gina dan Surya tahu itu.


"Oh, maksudku jangan ganti pakaian di sini. Gantilah di kamar mandi. Aku tidak mau mereka melihatmu mengganti pakaian."


"Ahh, Nona... kami akan keluar saja kalau begitu." Make up artis itu merasa tidak enak dan bermaksud untuk memberi ruang berdua bagi pengantin baru.


"Tidak, tidak perlu. Biar dia mengganti pakaiannya di tempat lain. Kalian selesaikan saja pekerjaan kalian denganku."


"Iya, aku bisa mengganti pakaianku di sana." Imbuh Surya lalu memasuki kamar mandi hotel bintang lima tempat pesta pernikahan mereka digelar.


Kedua make up artis itu tersenyum simpul melihat kecanggungan kedua mempelai. Mereka berfikir Gina dan Surya adalah pasangan yang masih malu-malu jika berdua saja dalam satu kamar. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka bersepakat untuk tidak berada dalam satu kamar walau apapun yang terjadi.


Taman hotel malam ini benar-benar terlihat indah. Berbagai karangan bunga dan untaian lampu-lampu menghiasi seluruh taman. Tamu undangan mulai berdatangan. Di dalam kamarnya, Gina sudah siap. Begitu pula dengan Surya yang sudah memakai setelannya dan siap untuk keluar menyapa para tamu.


"Mari kita keluar, Nona." Ajak Surya.


"Aku lelah, kau saja yang keluar." Gina masih memainkan ponselnya dan tidak memalingkan wajahnya sama sekali pada Surya.


"Nona, kita harus menyapa para tamu." Bujuk Surya. Sekarang mereka hanya tinggal berdua saja di kamar. Para make up artis sudah keluar dari ruangan sejak beberapa saat yang lalu.


"Baiklah, jika Anda tidak keluar maka saya juga akan tetap di sini." Surya duduk di sofa yang lain.


"Terserah kau." Gina masih cuek dan setia menekuni ponselnya.


"Tink!" Sebuah notifikasi masuk di ponsel Gina. Ia tahu pesan itu dari Papanya.


"Kalau kau sudah tidak sabar ingin malam pertamamu dengan Surya, aku sangat bahagia. Peluangku untuk mendapatkan cucu menjadi semakin cepat. Aku akan menyampaikan pada para tamu bahwa kalian sedang bersenang-senang sekarang."

__ADS_1


Seketika mata Gina terbelalak membaca pesan itu. Bagaimana bisa Papanya berfikir seperti itu.


"Sepertinya Papa sudah kehilangan akal sehatnya." Gerutu Gina.


"Surya, ayo kita keluar." Gina berdiri dari duduknya dan tanpa menunggu Surya ia segera keluar dari dalam kamarnya. Mengangkat gaunnya dan berjalan lebih cepat. Sepatu pengantin dengan hak setinggi 12 cm tidak menghalangi langkahnya karena ia sudah terbiasa memakai sepatu hak tinggi.


Sampai di lokasi pesta, sejenak Gina terpukau pada pemandangan dihadapannya. Baru kali ini ia mendapati dekorasi pesta kebun seindah ini. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut taman. Bunga berwarna warni dari berbagai macam jenis dan warna. Tapi yang mendominasi adalah bunga mawar sehinga yang paling menyita indra penciumannya adalah aroma mawar. Keharumannya yang lembut membuatnya perlahan menarik bibirnya ke atas, tersenyum. Sangat menenangkan. Ia baru tersadar saat suara riuh tepuk tangan seluruh undangan menyambutnya.


Tanpa ia sadari Surya sudah ada di sampingnya. Gina menuruni tangga dari teras hotel sambil menyapa para tamu dengan senyuman. Tapi di tangga ketiga langkahnya tidak seimbang. Secepat kilat Surya menangkapnya.


"Kau lupa, tidak ada kontak fisik diantara kita." Bisik Gina saat Surya menopang tubuhnya agar tidak jatuh.


"Saya tidak ingin mempelai wanita menjadi perbincangan karena terjatuh tepat di hadapan para tamu undangan." Ujar Surya tenang. Gina mengerjapkan matanya salah tingkah. Ia juga sadar bagaimanapun juga tindakan Surya adalah reaksi spontanitas untuk menolongnya.


"Kali ini kau ku maafkan." Gina melepaskan dirinya dari pelukan Surya dan melanjutkan langkah. Tapi Surya menggandeng tangan Gina. Gina menoleh padanya.


"Kau ini..."


"Saya tidak ingin Anda terjatuh lagi." Bisik Surya.


Seorang pembawa acara menyambut mereka.


"Itu tadi benar-benar seperti apa yang ada di film-film romantis. Aku rasa para penulis skrip itu terlalu mengada-ada tapi disini aku bisa melihatnya sendiri dan tanpa ada unsur rekayasa." Ucapan pembawa acara yang menggoda Gina dan Surya disambut tawa oleh para tamu. Kemudian suara seorang wedding singer pria mulai terdengar menyanyikan lagu Beautiful In White dari Shane Filan menyambut kedua mempelai memasuki area pesta. Semua mata tertuju pada raja dan ratu malam ini.


Selanjutnya Gina dan Surya berbaur dengan para tamu yang lain. Teman dan relasi Pak Rangga, teman-teman Gina termasuk beberapa orang di Font yang mengenalnya dan juga keluarga Surya, semua ada di tempat itu. Keluarga Surya selalu paling menonjol diantara para tamu yang lain. Dari penampilan mereka Gina tahu bahwa mereka adalah keluarga Surya. Penampilan yang sederhana untuk sebuah pesta semewah ini. Terlihat juga tingkah mereka yang kampungan, menurut Gina.


Anehnya, Pak Rangga ramah terhadap mereka. Ia tidak malu sedikitpun memiliki keluarga sekampungan mereka. Pak Rangga menyambut dengan ramah selayaknya tuan rumah. Seperti yang Gina lihat saat ini. Pak Rangga sedang berbincang dengan seorang pria paruh baya berpakaian batik dengan motif yang entah apa namanya dan celana bahan serta sendal dari kulit sintetis. Dan juga pria itu memakai kopyah diatas kepalanya. Ia pikir ini acara ibadah memakai kopyah seperti itu. Batin Gina.


"Itu Gina." Sunday melihat Gina dan menarik tangan Faris untuk langsung menghampirinya.


"Ginaaaaa..." Panggil Sunday setelah berjarak beberapa langkah dari Gina. Gina yang sedang berbincang dengan teman SMAnya itu lalu menoleh dan berpura-pura baru menyadari kehadiran Sunday dan Faris.


"Hai..." Sapa Gina.


"Kau benar-benar tidak berhenti memberi kejutan ya. Setelah ini apa lagi yang kau gunakan untuk mengejutkanku?" Sunday menggodanya.


"Mungkin sebentar lagi aku akan melahirkan. Lebih cepat darimu." Ujar Gina asal.


"Ya Tuhan, anak ini." Celetuk Faris melihat sikap Gina yang seenaknya seperti itu.


"Itu pasti sangat keren, Gin. Anak kita akan seumuran dan pasti itu menjadi seru sekali karena kita jadi punya alasan untuk serinh bersama."


"Tentu saja." Gina tertawa menanggapi imajinasi Sunday.


"Semoga bahagia selalu." Sunday memeluk Gina. Gina membalas walau hatinya masih tertarik pada Faris sepenuhnya.


"Mana Pak Surya?" Tanya Faris sambil celingukan mencari-cari.


"Entahlah..." Lagi-lagi jawab Gina sekenanya.

__ADS_1


"Oh itu dia." Faris menemukan Pak Surya diantara tamu lain sedang berbincang. Lalu Faris meminta izin Sunday untuk menemui Pak Surya yang berada diantara para pria lain. Sepertinya itu adalah para rekan bisnisnya. Faris membiarkan Sunday bersama Gina karena pasti akan tidak nyaman jika ia bersama para pria dan tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Jadi, bagaimana ceritanya?" Sunday mendekatkan wajahnya pada Gina karena ia memelankan suaranya.


"Cerita apa?" Gina pura-pura tidak mengerti maksud Sunday. Padahal ia tahu betul arah pembicaraan Sunday adalah tentang bagaimana dirinya dan Surya bisa tiba-tiba menikah.


"Kau dan Pak Surya?" Sunday mengerling.


"Ah, itu... ya begitulah."


"Ayolah... ceritakan padaku." Rayu Sunday.


"Aku juga sangat penasaran." Sahut sebuah suara dari arah lain.


"Hei Lita..." Sambut Sunday. Terlihat sekali ada kerinduan diwajahnya saat melihat teman yang lama tak dijumpainya itu.


"Ya Tuhan, kau gendut." Lita menatap perut Sunday. Sunday tersipu.


"Kau lucu sekali seperti ikan koki."


"Enak saja." Sunday memukul bahu Lita pelan.


"Melihat kalian menikah dan bahagia, aku jadi iri." Lita mendadak sendu. Gina yang tahu bagaimana Lita diselingkuhi oleh pacarnya tanpa lalu menepuk pundaknya perlahan seolah ingin menenangkan.


"Tenang saja, sebentar lagi pacarmu akan melamar." Sunday menyemangati Lita.


"Pacar yang mana?" Lita masih suram.


"Yang kau ceritakan kepadaku tempo hari."


"Dia, sudah habis dibanting oleh Gina."


"Apa maksudmu?" Sunday terbelalak menatap Lita dan Gina bergantian menuntut penjelasan.


"Lain kali ku ceritakan padamu. Yang jelas aku sudah putus dengannya."


"Apa?" Sunday terbelalak lagi. Terakhir bertemu Lita, ia melihat temannya cukup antusias dan berbunga-bunga menceritakan hubungan dengan pacar barunya.


"Liurmu kemana-mana, Sun." Lita merasa ada yang menetes di punggung tangannya.


"Benarkah?" Sunday meraba bibirnya.


"Ahh, kau mengada-ada." Sunday salah tingkah dituduh seperti itu. Ia memang mengalami hipersalivasi sejak awal kehamilannya. Yaitu merupakan kondisi dimana wanita hamil memiliki air liur yang berlebihan dan membuatnya sering-sering meludah. Dan untuk mengurangi kegiatannya meludah terlalu sering akhirnya Sunday memiliki kehiasaan baru yaitu memakan permen. Tapi kali ini ia sedang tidak memakan permen, apakah itu membuatnya liurnya hilang kendali.


"Benar, aku juga merasakannya." Tambah Gina sambil meraba keningnya.


"Hei, apa aku ini sebuah kran bocor?" Sunday cemberut mendapat tuduhan kedua temannya.


Beberapa saat kemudian sebuah guyuran dari atas turun secara mendadak.

__ADS_1


Gina melihat Faris meletakkan jasnya diatas kepala Sunday sebagai payung darurat dan membawa Sunday menuju tempat berteduh. Seketika Gina merasa sangat cemburu. Tapi setelah itu ia juga merasakan tidak ada lagi air hujan yang membasahi wajahnya. Gina mendongak ke atas dan mendapati sebuah nampan yang digunakan seseorang untuk meneduhinya.


__ADS_2