
Cuaca sangat terik. Matahari terasa hampir sejengkal saja dari atas kepala. Hanna berjalan menuju R-Company dengan tas yang ada di pundaknya. Ia baru saja kembali dari makan siangnya. Tidak bersama Gina ia bisa memilih menu makan siangnya sendiri. Makanan apapun baginya asalkan perut terisi sudah cukup. Tapi jika bersama Gina, ia harus menyesuaikan dengan keinginannya saat itu.
Walaupun ia jadi bisa makan apapun sesuka hatinya, ia juga mulai rindu makan siang disertai dengan segala celoteh Gina. Gina adalah orang yang suka mengobrol sehingga saat bersamanya ia tidak akan kehabisan topik pembicaraan. Gina yang suka dunia fashion, suka berwisata kuliner, suka bertraveling dan juga segala pengetahuan Gina membuatnya selalu ada hal yang dibahas selain pekerjaan.
"Kau tahu, entah bagaimana jadinya aku sebenarnya bukan peminat di bidang ini." Gina berbicara agak berbisik suatu hari saat mereka sedang makan siang di sebuah restoran china.
"Minat dan bakatku di dunia fashion. Impianku bukan berbisnis panci dan penggorengan tapi baju, tas, sepatu." Gina meminum lemon splash-nya hampir habis.
"Aku ingin membuat sebuah merk yang akan di kenal dunia. Yang semua barang produksiku akan diminati semua orang di dunia dan bahkan mereka akan berebut untuk mendapatkannya. Tapi apalah daya sudah nasibku akhirnya harus menjadi penjual panci dan penggorengan." Wajah Gina berubah lesu.
"Tapi Nona, panci, penggorengan dan semua alat dapur ini justru adalah alat bisnis yang sangat banyak peminatnya. Bayangkan ada berapa banyak rumah tangga di kota ini? Lalu negara ini? Dan juga R-Company bahkan sudah go international. Bukan hanya rumah tangga, restoran dan warunya yang menggunakan alat-alat dari R-Company juga tak terhitung jumlahnya. Ini luar biasa, Nona. Dari siklus penjualan yang saya tahu R-Compay sedang dalam masa emas sekarang. R-Store dalam waktu dekat dan dalam jangka hanya beberapa saat saja sudah akan ada tiga tempat yang kita buka. Itu menandakan produksi R-Company sangat diminati oleh seluruh lapisan masyarakat."
"Hmmm... iya, tapi panci? Ahh, itu tidak keren sama sekali. Bayangkan jika itu adalah misalnya crop top dari Regina Style adalah barang yang sangat diminati bahkan para selebriti dunia berebut untuk mendapatkannya. Alangkah kerennya." Gina masih membantah dengan sudut pandangnya.
"Tapi saya rasa pak Rangga adalah orang yang sangat jenius sehingga bisa membuat R-Company menjadi sebesar ini."
"Ya, aku tahu. Dia bahkan tidak bisa memasak tapi membuat pabrik alat-alat masak." Gumam Gina. Hanna tersenyum menanggapi bosnya itu. Ia sudah kehabisan kata untuk bosnya yang berfikir dengan caranya sendiri dan tidak mau dipatahkan oleh argumen apapun. Sehingga diam adalah hal paling aman yang harus ia lakukan.
Hanna sudah memasuki ruangan Gina sekarang. Sudah satu minggu lebih Gina pergi dan ruangan itu menjadi sepi. Hanya ada dirinya dan pekerjaan Gina. Saat Hanna baru saja membuka sebuah berkas, pintu ruangannya di ketuk. Seorang pria muncul dari balik pintu.
"Oh, Bay. Ada apa?" Tanya Hanna dari balik mejanya. Bayu mengangkat sebuah gelas plastik yang Hanna tebak itu adalah cappucino kesukaannya.
"Ahh, kenapa repot-repot."
"Ku lihat kau sibuk sekali akhir-akhir ini. Sementara bosmu malah berlibur dan belum juga kembali." Hanna tersenyum mendengar itu lalu menerima sodoran kopi yang masih panas dari tangan Bayu.
"Itulah kenapa dia jadi bos. Karena dia bisa melakukan itu."
"Wah, itu penyalah gunaan jabatan namanya."
"Hei, dia melakukannya karena memberi kita gaji, Bay."
"Wah, kau ini. Kau benar-benar adalah tipe pegawai yang penurut dan tidak banyak menuntut. Pantas saja kau disukai oleh banyak bos dan menjadi asisten pribadi pewaris tunggal R-Company." Bayu menatap Hanna.
"Andai suatu saat nanti Nona Gina menjadi presdir R-Company, kau akan menjadi orang nomer dua setelahnya. Kau akan semakin terlihat keren."
"Ahh, apa yang kau katakan." Hanna mengibaskan tangannya.
"Hei, Pak Surya hanya anak menantu di keluarga Pak Rangga. Jadi tidak menutup kemungkinan suatu saat jabatan itu akan berpindah pada Nona Gina jika ia telah mampu menguasai R-Company." Jelas Bayu.
"Kau tahu kan banyak gosip beredar di luar sana tentang pemindahan kekuasaan di R-Company ini. Sebuah keanehan jika yg menjadi presdir bukan anak kandung tapi anak menantu. Kau tahu kenapa?"
"Iya, kau pernah mengatakannya padaku. Kau katakan itu karena Nona Gina adalah orang baru di bisnis ini, sedangkan Pak Surya sudah menguasai semua medan sehingga Pak Rangga lebih mempercayakan R-Company pada Pak Surya meski dia hanya menantu dan dulunya hanya seorang asisten."
"Nah seperti itu."
"Ya sudahlah, Bay. Biarkan itu menjadi urusan mereka. Kita di sini hanya harus bekerja sesuai SOP yang berlaku." Hanna memberikan senyum pada Bayu.
"Kau memang terlalu baik, Hanna." Puji Bayu tulus.
"Bukan karena aku baik, tapi aku tidak mau ikut campur urusan orang lain. Aku hanya harus mengerjakan apa yang harus ku kerjakan saja."
"Ya Baiklah..." Bayu menatap Hanna lembut. Wanita yang ada dihadapannya memang sangat luar biasa baginya. Selalu melihat sesuatu dari sudut pandangnya yang positif.
Tiba-tiba ponsel Hanna berbunyi. Ia melihat nama di layar ponselnya dan itu adalah Gina.
"Panjang umur. Sepertinya dia merasa kita sedang membicarakannya." Hanna tertawa kecil. Bayu mengangkat alisnya.
"Terima kasih capucinonya." Hanna memberi isyarat pada Bayu untuk meninggalkan ruangan itu agar ia bisa menerima telepon dari atasannya. Bayu mengangguk dan menyunggingkan senyumnya manis.
Hanna lalu mengangkat telepon Gina.
__ADS_1
"Iya Nona."
"Hannaaaaaaaa...." Suara lantang Gina dari seberang sana.
"Aku merindukanmu." Gina yang suka berterus terang tidak pernah malu untuk mengungkapkan perasaannya.
"Iya Nona. Saya juga sudah merindukan Anda. Apa kabar?"
"Baik. Aku sedang di kebun memetik cabe. Lalu ingat dirimu. Kau suka makan gorengan dengan cabe rawit. Jadi nanti saat aku kembali akan ku bawakan cabe asli dari kampung Surya."
"Ahh, tidak usah repot-repot, Nona."
"Tidak, aku ingin kau mencoba cabe yang ditanam di kampung Surya lalu kau akan menjerit kepedasan. Kau tahu cabe di sini rasanya jauh lebih pedas dari pada cabe di kota. Dan kau wajib mencobanya."
"Baik Nona. Terima kasih. Maaf merepotkan Anda."
"Tidak apa-apa. Aku akan memetik semua cabe ini dan akan ku bawakan untukmu."
"Iya Nona. Saya menantikan itu." Lalu suara Gina tidak terdengar lagi pertanda sambungan telepon di tutup.
Hanna tersenyum mengetahui sikap atasannya itu padanya. Gina kadang tidak bisa menempatkan dirinya sebagai atasan dan lebih sering menganggapnya sebagai teman. Itu sering membuat Hanna canggung terutama jika dihadapan pegawai lain. Gina sering menggandeng lengannya saat berjalan atau bersandar di pundaknya saat duduk bersebelahan.
Jujur saja, Hanna sering merasa tidak nyaman dengan hal itu karena dia adalah bawahan Gina. Tapi melihat itu adalah sifat dasarnya, perlahan-lahan Hanna belajar untuk memaklumi. Gina memang suka seenaknya sendiri seperti itu. Dan akhirnya Hanna tahu kenapa Gina menjadi gampang akrab dengan orang lain yang menunjukkan sikap baik padanya adalah karena sebenarnya ia sering merasa kesepian. Itu yang Hanna tangkap dari cerita-cerita Gina kepadanya di sela mereka bekerja atau saat mereka sedang makan siang bersama.
Sementara itu Gina sedang sangat antusias dengan cabe-cabe yang berwarna hijau kemerahan di depannya. Matanya seperti tersegarkan melihat kebun cabe yang saat ini didominasi warna merah. Ia dan beberapa orang pekerja sedang memetik cabe yang siap untuk dipanen. Surya juga ikut memetiknya juga. Ia sudah membawa seember penuh cabe segar hasil petikannya.
Pagi tadi seusai sarapan, Surya mengeluarkan motornya dan berpamitan kepada Gina yang sedang menyiram bunga di pekarangan rumah.
"Nona, saya akan ke kebun. Hari ini akan ada panen cabe." Gina yang masih memegang selang air menoleh kepada Surya.
"Panen cabe?"
"Benar, Nona."
"Saya pergi dulu, Nona." Gina memberi isyara dengan matanya. Tapi baru Surya menarik gas motornya, Gina meneriakinya untuk berhenti.
"Ada apa, Nona?"
"Aku ikut." Surya mengerutkan kening. Gina tahu apa yang difikirkan Surya. Ia pasti heran dengan apa yang dilakukan olehnya.
"Aku ingin memetik cabe. Sudah lama sekali aku tidak beragro wisata. Jadi, boleh kan aku beragro wisata di kebunmu?" Surya tersenyum lebar mendengar alasan Gina.
"Baiklah, Nona. Mari." Dengan wajah riang, Gina langsung naik ke atas motor Surya.
Gina mengelap peluhnya karena cuaca panas yang menerpa siang ini. Ia juga melihat matahari sangat terik siang ini sehingga saat mendongak ke atas maka pandangan matanya akan menjadi sangat silau oleh cahaya matahari yang sangat terang.
"Ini pakailah, Nona." Tiba-tiba Surya sudah memakaikan sebuah topi caping di atas kepala Gina.
"Apa ini?" Gina melihat ke atas dan merabanya lalu mendapati sebuah topi yang terbuat dari anyaman sejenis bambu dan berbentuk lebar yang ada di atas kepalanya.
"Agar Anda tidak kepanasan, Nona." Mendapati Surya seperhatian itu membuat hati Gina terasa berbunga-bunga. Senyumnya terlukis perlahan.
"Terima kasih." Ucap Gina kemudian. Surya hanya mengangguk dan menyunggingkan senyum lalu melanjutkan pekerjaannya memetik cabe di tempatnya semula.
Gina masih tersipu-sipu di tempatnya. Ternyata Surya seperhatian itu. Ia tidak ingin Gina kepanasan sehingga memberikan topi caping miliknya sedangkan ia sendiri harus berpanas-panas sendiri siang ini. Itu membuat Gina merasa bahwa tindakan Surya sangatlah romantis.
Tidak ku sangka ternyata Surya bisa romantis juga. Batin Gina sambil mencuri-curi pandang ke arah Surya di deretan cabe-cabe diseberang ia berdiri.
Dada Gina kembali berdebar melihat Surya di sana. Pria itu memang serba bisa. Ia bisa menjadi presdir R-Company sekaligus petani di kampung ini. Bagaimana bisa ada pria dengan talenta yang banyak jumlahnya. Ia bisa membetulkan genteng, menambal panci, menyapu, menyetrika, mencuci piring dan mencuci baju yang semua itu adalah pekerjaan wanita. Sedangkan dirinya saja tidak becus melakukan semua itu. Berada beberapa hari di sini membuat Gina tahu apa saja yang bisa dilakukan oleh Surya.
Tanpa terasa Gina tersenyum memandang Surya. Dan Surya yang merasa diperhatikan jadi menoleh ke arahnya. Gina yang melihat itu menjadi salah tingkah dan buru-buru mengalihkan pandangan. Surya yang sempat melihat itu jadi tersenyum.
__ADS_1
Sepertinya Surya memang tidak terlalu buruk. Wajahnya memang biasa saja tapi dia bisa membuatku berdebar seperti ini. Mungkin pelet itu mengacaukan sistem perasaan di hatiku tapi ini benar-benar sangat indah dan aku ingin menikmatinya. Sebentar saja. Ya sebentar saja aku akan menikmatinya. Menikmati pelet yang indah ini.
Masih sibuk menata debaran di dadanya yang berisik, Ayu memanggil dari tepi kebun. Gina, Surya dan beberapa pekerja yang memetik cabe di sana serentak menoleh.
Ayu melambaikan tangan sambil berseru bahwa sekarang sudah waktunya makan siang dan menyuruh mereka untuk menghentikan pekerjaan sebentar untuk makan. Gina melihat ke arah Surya dan ia mengisyaratkan agar Gina segera mendekati Ayu yang ternyata datang bersama Joko membawa makanan di kedua tangan mereka masing-masing.
"Apa itu, Yu?" Tanya Gina setelah dekat sambil melepas topinya. Ayu berdiri di bawah pohon flamboyan yang rindah dan sedang dibantu oleh Joko melebarkan sebuah tikar.
"Kau mau piknik di sini?"
"Iya mbak, mari kita piknik." Ayu tersemyum lebar menanggapi Gina.
"Ayo semua makan dulu." Ayu membuka satu per satu barang bawaan yang mereka bawa. Ada nasi putih dengan uap panas yang mengepul, sayur berwarna kuning yang Ayu katakan sebagai sayur lodeh, ikan asin goreng, tahu dan tempe, ayam goreng dan telur dadar.
Menu itu terlihat sangat sederhana tapi melihatnya membuat Gina yang sedang lapar tidak bisa menahan diri untuk tidak segera makan.
"Piringnya mana, Yu?" Tanya Gina.
"Pakai ini, mbak." Ayu menyodorkan daun pisang seperti para pekerja itu yang juga memakai daun pisang sebagai alas makanan mereka.
"Bagaimana caranya?" Gina membolak-balik daun itu.
Surya mengambil daun di tangan Gina lalu melipatnya dan membentuk seperti mangkuk lalu menyematkan sebuah ranting kecil untuk mengunci daun itu agar tidak terlepas.
"Ini Nona." Surya mengembalikannya pada Gina. Gina menerimanya lalu mulai menyendokkan nasi ke dalam piring daunnya. Ia mengambil semua lauk untuk teman nasinya.
"Masakan ibu benar-benar enak." Puji Gina untuk makanan yang ada di tangannya setelah suapan pertamanya.
"Siapa dulu dong asisten kokinya, Mbak." Ayu menyombong.
"Kau yang membantu Ibu memasak?" Tanya Surya tidak langsung percaya.
"Bukan. Tapi ibukku." Ayu cengengesan setelahnya.
"Dasar, ku kira kau yang membantu." Ujar Surya. Gina tidak begitu menghiraukan mereka berdua dan sibuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Bali telor membuatnya tidak peduli kanan dan kiri. Tanpa terasa sudah nasi putih dan sebutir telur bali habis dalam piring daun Gina. Melihat itu Surya menyodorkan segelas air minum di dalam gelas plastik. Gina menerimanya dengan senang hati dan memberi Surya senyum. Tapi setelah itu ada telepon masuk sehingga Surya harus meninggalkan mereka untuk menjawab teleponnya.
"Ahh, aku selalu iri melihat kalian berdua." Celetuk Ayu tiba-tiba.
"Kenapa?" Tanya Gina.
"Kalian selalu terlihat manis." Mendengar itu Gina memandang Surya dan Surya yang berdiri di kejauhan sana tiba-tiba balas memandangnya. Entah kebetulan atau karena ia merasa diperhatikan tapi saat mata mereka bertemu, Gina merasakan pipinya menghangat.
"Nah kan... kalian tidak bisa ya menyembunyikan yang seperti ini? Itu membuat orang yang ada di dekat kalian seolah hanya mengontrak saja di bumi ini. Kalian benar-benar membuat suasana disekeliling berubah warna menjadi merah muda." Ayu menyemprot Gina dengan teorinya.
"Kau ini bicara apa." Gina mengibaskan tangannya mencoba menutupi rona tersipunya karena telah digoda oleh anak ingusan seumuran Ayu.
"Tahu tidak, Mbak. Dulu ku kira Mas Surya ini orang yang cuek dan dingin, tapi setelah melihat bagaimana memperlakukanmu, sudut pandangku tentangnya jadi berubah."
"Oh ya, benarkah?" Gina berlagak tidak percaya kepada Ayu tapi sebenarnya ia sangat senang dengan apa yang didengarnya.
"Ya, dia terlihat sangat perhatian padamu. Sangat bertanggung jawab dan yang paling membuatku terkesan adalah bagaimana caranya memandangmu. Sebuah pandangan penuh cinta. Seperti mata mas Surya tidak ingin lepas darimu, Mbak."
"Hei, kenapa kau ini? Apa kau seorang pakar ekspresi sampai bisa membaca wajah seseorang." Ayu tertawa keras mendengar tuduhan Gina padanya.
"Apa sebaiknya nanti aku mengambil kuliah di jurusan psikologi saja?"
"Sepertinya itu bagus untukmu." Gina mendukung.
Dari tempatnya duduk, Gina melihat Surya sedang serius menerima telepon. Apa benar apa yang dikatakan oleh Ayu padanya barusan? Apakah Surya memang seperti itu kepadanya? Kenapa mendengar itu hati Gina menjadi sangat senang? Ia merasa seperti perasaannya terbalas sebelum ia memintanya.
__ADS_1
Surya sudah selesai menerima telepon dan sekarang sedang berjalan menuju ke arahnya. Langkah kaki yang lebar dengan kaki panjang. Tone kulit sawo matang yang membuatnya terlihat maskulin. Dan mata coklat yang membuatnya terhipnotis setiap ia memandang. Jantung Gina berdebar kencang lagi untuk ke sekian kali. Tanpa terasa Gina tersemyum memandang Surya yang kini hanya berada selangkah saja darinya. Surya membalas senyumnya.
"Nona, kita harus segera kembali." Ujar Surya setelah ada di dekat Gina.