
"Kau bahkan belum menanyakan apapun padaku, tapi kau sudah meragukanku untuk percaya atau tidak. Itu sangat tidak adil. Kau selalu melakukan semua hal yang kau kehendaki tanpa memikirkan perasaanku. Padahal..."
"Saya menyukai Anda." Seperti ada sesuatu yang hinggap di dada Gina mendengar kalimat tiba-tiba Surya. Meraba, merayap, menjalar, memenuhi seluruh aliran darahnya dan membuat darahnya terpompa lebih cepat dari sebelumnya karena jantung yang berpacu berisik.
"Semoga itu cukup membuat Anda percaya kenapa saya seperti itu." Tambah Surya dengan senyum diakhir kalimatnya.
"Kita sudah sampai, Nona. Mobil Anda ada di sana. Hanna pasti menginap di tempat itu." Tunjuk Surya pada mobil Gina yang terpakir di depan penginapan.
Gina melihat ke arah mata Surya memandang saat mobilnya berhenti. Benar, mobilnya terparkir dengan sempurna di sana. Surya lalu menginjak pedal gas lagi untuk membawa mobilnya memasuki halaman penginapan dan sengaja mengambil tempat tepat di sisi mobil Gina. Setelah itu Surya membuka seatbelt-nya untuk kemudian turun. Gina masih bingung dengan peristiwa yang baru saja dialaminya. Itu berbanding terbalik dengan Surya yang tetap tampak santai seperti biasanya.
"Bagaimana bisa dia setenang itu? Ku fikir itu tadi adalah pengungkapan cinta. Tapi kenapa dia tidak menunjukkan sikap lain dari biasanya? Apa dia hanya mempermainkanku?" Gina memandang Surya yang berjalan ke depan mobil.
"Rasanya sia-sia saja aku berdebar seperti ini. Dia pasti tidak serius melakukannya." Gina kesal dan akhirnya ikut turun juga saat melihat Surya berbalik dan memberinya isyarat untuk mengajaknya masuk.
Gina berjalan di sisi Surya memasuki penginapan kecil yang saat Gina masuk tadi, ia bisa melihat sebuah pantai dibalik bangunannya. Entah Hanna sengaja atau tidak, penginapan ini sepertinya sangat nyaman untuk dihuni. Ia mengedarkan pandangan pada lobi penginapan yang kecil tapi memiliki desain interior hangat khas pemukiman tepi pantai. Dengan banyak perabotan dan hiasan yang terbuat dari hasil laut.
"Selamat siang..." Sapa resepsionis penginapan dengan ramah dan tidak ketinggalan disertai senyum manis.
"Ada yang bisa kami bantu?" Lanjutnya.
"Kami akan memesan dua kamar untuk satu malam." Ujar Surya santai tapi itu membuat Gina menoleh padanya dan memelototkan mata kaget. Merasa diperhatikan olehnya, Surya menoleh kepada Gina sambil tersenyum seperti biasa. Senyum ala dirinya.
"Hanna mengatakan baru besok akan pulang. Jadi, karena kita juga sudah sampai disini, mari kita menginap juga untuk menghiburnya." Jelas Surya yang faham atas ekspresi wajah protes Gina.
"Tapi, kau belum memastikan apakah Hanna benar-benar menginap di sini atau tidak." Bisik Gina dengan mendekatkan wajah pada Surya agar tidak terdengar oleh resepsionis di depan mereka.
"Hanna butuh waktu beristirahat setelah berkendara semalaman, Nona. Dia pasti masih ada di sini. Mobilnya saja masih ada." Jelas Surya kenapa ia tidak mencari tahu lebih dulu apakah Hanna menginap di sini atau tidak.
"Tetap saja kita harus memastikan itu. Karena Hanna bahkan mengatakan bahwa yang akan mengantarkan mobilku adalah orang lain." Gina masih bersikeras.
"Ini kuncinya, Tuan, Nona." Resepsionis itu menyerahkan kunci kamar setelah selesai melakukan registrasi pada sistem penginapan. Surya menerima kunci dan memberikan salah satunya kepada Gina.
"Silakan beristirahat. Jika membutuhkan sesuatu, silakan menghubungi kami di saluran 2."
"Baik." Jawab Surya lalu berjalan meninggalkan meja resepsionis yang diikuti oleh Gina juga.
"Anda mau makan siang apa, Nona?"
"Hei, kita kemari untuk mencari Hanna. Kenapa seolah kau sedang melakukan liburan?"
"Kita memang sedang mencari Hanna. Tapi kita juga butuh tenaga untuk melakukan semua itu, Nona. Jadi mari kita pergi ke resto di sana dan memesan makanan khas pantai."
"Ya Tuhan, tidak heran kau sukses menjadi pengusaha kuliner. Yang ada dikepalamu memang hanya makanan." Ujar Gina dengan bibir cemberut tidak mengerti dengan jalan fikiran Surya yang selalu saja mengajaknya makan setiap saat.
"Tentu saja, Nona. Ini sudah masuk jam makan siang jadi sangat wajar jika saya berfikir tentang makanan. Saya lapar, Nona." Surya tertawa kecil.
"Kita makan dijam yang sama, kenapa kita tidak lapar dijam yang sama juga? Aku sekarang belum ingin makan, tapi kenapa kau sudah merasa lapar saja?"
"Itu karena kita memiliki aktifitas yang berbeda, Nona."
"Benarkah?" Gina tidak percaya dengan alasan Surya.
"Kita sama-sama tahu apa yang kita lakukan selama didalam perjalanan, lalu apanya yang berbeda?"
"Anda hanya duduk sambil menikmati perjalanan, sedangkan saya harus menyetir. Menyetir itu melibatkan beberapa organ tubuh sekaligus, Nona. Mata harus selalu fokus, tidak hanya pada jalan di depan tapi juga harus sesekali melihat kaca spion jika ingin mendahului atau memastikan di belakang mobil kita aman untuk kita berpindah jalur. Tangan, sudah pasti memegang setir dan tidak bisa lepas karena itu bisa membahayakan jiwa pengendara sekaligus penumpang kalau pengendara melepaskan tanga dari setir walau hanya sebentar. Kaki juga tidak akan tinggal diam, dia harus membantu kita mengebut atau mengurangi kecepatan. Jadi, kali ini kita bisa sampai di sini karena kedua kaki saya sangat sigap memijak gas dan rem secara profesional agar meskipun berkendara dengan cepat, Anda tidak merasa terganggu dengan rem yang saya pijak. Satu lagi yang sangat penting adalah otak. Otak memiliki pekerjaan yang lebih berat daripada yang lainnya. Otak saya sedari tadi bekerja mengendalikan semua organ yang sedang saya pakai untuk berkendara dan itu benar-benar membuat energi saya terkuras habis, Nona."
__ADS_1
"Baiklah... baiklah... terserah kau saja." Gina menyerah juga. Meskipun awalnya ia berfikir Surya mungkin mengada-ada, tapi ia juga kasihan jika Surya sampai kelaparan karena memang Surya menyetir hampir selama 4 jam untuk akhirnya sampai penginapan.
Surya lalu berjalan ke arah restoran di bagian belakang penginapan yang bertempat menghadap langsung ke pantai. Tanpa disadari, Gina tersenyum lebar dengan mata berbinar melihat restoran dibawah pohon kelapa di alam bebas seperti itu. Dengan tiupan angin sepoi-sepoi khas pantai, restoran itu sepertinya sangat nyaman.
"Ehh, itu Hanna." Tunjuk Gina yang menemukan seorang wanita duduk di salah satu meja dengan pakaian yang Hanna pakai kemarin. Tanpa aba-aba, Gina lalu berjalan cepat menghampiri Hanna. Tapi pasir pantai yang ia pijak membuat ia tidak bida berjalan secepat jika saja itu ia lakukan di tanah biasa. Surya mengikutinya.
"Hanna..." Panggil Gina saat yakin bahwa itu benar-benar Hanna. Wanita yang Gina panggil pun menoleh. Dan benar, itu adalah Hanna. Ia terperanjat melihat Gina dan Surya yang sedang berjalan mendekatinya. Sekarang Gina malah smabil berlari karena ingin segera sampai pada Hanna.
"Nona... kenapa Anda di sini?" Tanya Hanna yang berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Gina dan Surya.
"Kau fikir kenapa aku di sini?" Gina malah berbalik tanya. Hanna hanya bengong tidak mengerti.
"Tentu saja kami mencarimu."
"Maafkan saya karena telah membawa mobil Anda. Tapi saya tidak bermaksud untuk membawanya lari, Nona. Semalam saya merasa sangat kacau dan tidak tahu harus bagaimana sampai tidak menyadari saya pergi sejauh ini."
"Hei, kau fikir aku kemari hanya karena mengkhawatirkan mobil?" Tanya Gina sambil menatap Hanna lekat.
"Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kau kenapa-kenapa. Aku sangat khawatir kalau kau akan melakukan hal bodoh." Selanjutnya Gina tidak bisa berkata lagi karena tiba-tiba Hanna memeluknya dengan erat. Gina terperanjat tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena Hanna memeluknya dengan sangat erat.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, Nona. Terima kasih." Hanna sampai berkaca-kaca mendapat perhatian Gina sebesar itu.
"Baiklah... baiklah... sama-sama. Tapi bisakah kau lepaskan aku dulu. Tubuhku bisa hancur menjadi debu kalau kau memelukku sekeras ini." Mendengar itu, Hanna baru menyadari bahwa tindakannya sudah keterlaluan lalu segera melepas pelukannya.
"Maafkan saya, Nona." Hanna menatap Gina dengan perasaan haru dan bahagia menjadi satu.
"Seharusnya Anda memarahi saya karena telah membawa kabur mobil Anda, bukan malah mendatangi saya seperti ini. Saya merasa menjadi pegawai yang buruk." Wajah Gina sendu sekarang.
"Kau tahu, aku datang kemari bukan sebagai bosmu tapi sebagai temanmu. Jadi kau jangan berfikir seperti itu." Hanna mengerjapkan matanya berkali-kali dengan ungkapan Gina lalu perlahan senyumnya mengembang seolah mendapatkan kehormatan besar karena benar-benar bisa menjadi teman atasannya yang sangat pilih-pilih teman itu.
🌸🌸🌸
Senja mulai menurun, malam mulai gelap. Gina membuka pintu balkoni kamarnya yang menghadap ke pantai. Dari tempatnya, Gina menemukan Hanna yang masih sendirian di tepi pantai. Itu jadi membiat Gina sedikit merasa bersalah sudah mencari Hanna ke tempat ini. Ternyata rasa khawatirnya malah membuat Hanna kurang nyaman. Meskipun tidak ia katakan, tapi Surya benar, sepertinya Hanna memang butuh waktu sendiri saat. Dan kedatangan Gina membuatnya jadi tidak bisa melakukan itu dengan leluasa. Hanna jadi berusaha tersenyum dan tertawa seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Tidak bisa memberi waktu untuknya melakukan apa yang ia inginkan saat ini. Masih mengawasi Hanna dari kamarnya, Gina melihat Surya berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Entah apa yang mereka bicarakan saat ini tapi Gina yakin Surya mungkin sedang menghiburnya.
"Maaf atas kedatangan kami." Ucap Surya sambil memandang laut didepannya.
"Nona Gina bersikeras untuk mencarimu. Dia bahkan sangat gelisah dan ingin segera menemukanmu."
"Dia orang yang baik." Jawab Hanna tersenyum teringat sifat-sifat Gina yang sering tidak sesuai dengan penampilan dan gayanya. Penampilannya yang sok arogan dan gayanya yang percaya diri itu sangat tidak sesuai sifat Gina yang sebenarnya mudah tersentuh atau terharu, juga mudah merasa iba.
"Ya, kau benar. Dia wanita yang unik. Ku rasa hanya ada satu-satunya di dunia ini."
"Itulah sebabnya kau sangat menyukainya." Goda Hanna kepada Surya yang hanya tersenyum menanggapinya.
"Jadi sampai kapan kau akan tetap merahasiakan itu dari Nona Gina? Apa kau tidak lelah menahan perasaanmu? Aku saja yang melihatmu mencuri-curi pandang padanya sudah mulai muak."
"Aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya."
"Benarkah?" Hanna membelalakkan matanya.
"Lalu?" Hanna sangat antusias dengan kabar yang baru saja ia dengar. Ia sangat tahu sudah lama kakak tingkat yang akhirnya menjadi temannya itu menyukai putri bos tempatnya bekerja. Sebagai teman yang mengenalnya selama bertahun-tahun, Hanna bisa melihat pandangan mata Surya yang berbeda kepada Gina. Pandangan mata yang seolah seluruh dunia berpindah kepada wanita yang disukainya itu, Gina.
"Hei... lalu bagaimana?" Desak Hanna karena sangat penasaran dengan kelanjutan adegan romantis yang Surya ciptakan.
"Tidak bagaimana-bagaimana." Jawab Surya singkat.
__ADS_1
"Ayolah... kenapa kau begitu pelit terhadapku. Bagaimana tanggapannya? Atau... jangan-jangan dia menjawabmu dengan tinjunya? Dia memukulmu di sebelah mana? Atau dia membantingmu?" Hanna melihat bagian depan dan belakang tubuh Surya.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa Hanna melakukan itu?" Gina masih mengawasi Hanna dan Surya di tempatnya yang berbincang. Ia melihat Hanna menggoyang-goyangkan lengan Surya dan mereka tertawa-tawa begitu. Ia sangat penasaran dan sebenarnya ingin menimbrung bersama mereka. Tapi ia tidak ingin mengganggu Hanna lagi. Gina berfikir mungkin saja Hanna akan lebih nyaman jika berbicara dengan Surya, teman akrabnya. Sehingga ia akan tetap mengawasi mereka dari tempatnya saat ini saja dengan wajah cemberut penuh penasaran.
"Untuk menghindari itu terjadi, aku langsung melarikan diri." Surya tertawa kecil.
"Oh ya? Kau bisa takut juga?" Hanna tidak percaya dengan ucapan Surya.
"Aku takut dia menolakku." Surya memalingkan wajahnya kepada Hanna sambil tersenyum kecut. Hanna bisa merasakan kekhawatiran itu dari sorot mata Surya.
"Aku pasti akan sangat menyesalinya kalau sampai dia menolakku. Aku sudah pernah melakukan kesalahan dengan menolak cintanya. Aku tidak ingin mendapatkan karma dengan Nona Gina balas menolakku. Itulah yang membuatku datang secepatnya untuk kembali dekat dengannya sebelum perasaannya untukku benar-benar telah dihapus olehnya."
"Kau harus berusaha keras untuk itu. Mungkin saja Nona Gina akan membalas dendam padamu dengan menolak cintamu."
"Kenapa kau seolah ingin membuat patah semangatku, bukan malah memberi dukungan penuh."
"Aku hanya memberimu peringatan pada kemungkinan terburuk yang mungkin bisa kau alami."
"Aku sudah terlalu lama menahan perasaanku. Aku juga sudah berkali-kali hampir saja tidak bisa menahannya dan mengatakan padanya apa yang kurasakan ini. Tapi saat aku benar-benar mengatakannya, ternyata itu rasanya masih sangat... mmm... bagaimana ya. Itu sangat sulit. Rasanya dadaku hampir meledak karena sangat canggung. Dan aku harus menahan, mencoba tetap bersikap biasa saja setelah mengatakan semua. Hingga aku tidak tahan dan tidak bisa berlama-lama, maka ku tinggalkan dia dan pergi. Tanpa menunggu jawabannya. Aku takut akan pingsan jika berada di depannya terus, mendapat pandangan herannya seperti itu." Ujar Surya panjang lebar menceritakan pengalaman 'menembaknya'.
"Aku tahu, itu pasti karena kau seorang amatir. Kalau saja seorang profesional, pastilah akan sangat biasa kau melakukannya. Seperti seseorang." Hanna tersenyum kecut. Surya tahu siapa orang yang Hanna maksud. Itu pastilah Marco yang ia tahu sebagai seorang playboy, yang mungkin sampai sekarang masih sering kambuh-kambuhan dan melakukan kegilaan dengan pergi bersama wanita-wanita yang berhasil dirayunya.
"Kira-kira, apa yang Nona Gina fikirkan terhadapku saat ini?" Tanya Surya untuk mengalihkan pembicaraan Hanna dari mengingat-ingat keburukan suaminya. Surya perlu menjaga itu agar Hanna tidak tersulut amarah mengingat sikap suaminya terutama yang kemarin baru saja Marco lakukan padanya.
"Entahlah... tapi ku rasa dia pasti sangat bingung kepadamu. Kau tiba-tiba saja mengatakan cinta padahal waktu itu kau menolaknya."
"Ya... ku rasa begitu."
"Kau tahu, aku iri kepada Nona Gina. Dia adalah cinta pertama yang kau jaga walau kau sering melihatnya berpacaran dengan banyak pria. Aku juga kagum kepadamu yang selalu tulus mencintainya. Kau memasrahkan perasaanmu tanpa berharap dia akan tahu."
"Ya, dia memang benar-benar tidak tahu. Padahal aku pernah mengatakan kepadanya." Ujar Surya dan membuat Hanna mengerutkan kening karena penasaran dengan maksud ucapannya.
Di sebuah gudang pupuk di sawah saat Surya dan Gina berteduh dari hujan waktu itu.
"Surya, kau pernah jatuh cinta?"
"Pernah, Nona."
"Wah, kau juga pernah jatuh cinta? Kau benar-benar bukan robot." Gina cekikikan meledek. Surya hanya tersenyum simpul.
"Berapa kali?"
"Satu kali."
"Wah, kau pelit sekali. Jatuh cinta hanya sekali. Kasihan sekali kau. Kau tahu, kau harus menikmati hidupmu. Masa mudamu sudah hampir usai dan kau malah terjebak denganku." Gina lalu tertawa.
"Lalu, bagaimana dengan cinta pertamamu itu?" Tanya Gina penasaran.
"Akhirnya kalian sempat berpacaran?" Surya menggeleng.
"Sudah ku duga. Pria sepertimu tidak akan bisa menjatuhkan hati wanita manapun walau kau sangat menyukainya. Kau hanya bisa bekerja, bekerja dan bekerja. Itulah keahlianmu. Ngomong-ngomong, siapa gadis itu? Apa dia Dinda?"
"Siapapun dia, saya menyukainya, Nona. Dia rupawan. Dia juga berhati baik. Jika tersenyum, aku rasa seluruh bunga akan bermekaran bersamanya." Melihat tidak ada pergerakan ataupun komentar dari Gina, Surya menundukkan kepala untuk melihat apa yang terjadi padanya. Ternyata Gina sudah memejamkan mata dan terlelap dengan nafas teratur. Surya tersenyum melihat itu.
"Nona, Andalah cinta pertama saya." Surya lalu tersenyum kepada dirinya sendiri. Bahkan mengungkapkan cinta saat Gina tidak menyadari hal itu saja rasanya semendebarkan ini. Surya menarik nafas panjang untuk berusaha menetralkan kembali detak jantungnya.
__ADS_1
Hujan masih turun dengan deras di luar gudang. Gina masih nyaman terlelap di pundak Surya yang ingin saat seperti itu bisa berlangsung lebih lama lagi. Bersama Gina adalah hal yang dulu dianggapnya mustahil, tapi perjodohan yang ia setujui mengantarnya pada sebuah mimpi yang seolah menjadi nyata. Meski hanya menjadi suami di atas kertas, tapi berawal dari itu Surya bisa menjadi dekat dengannya dan kemudian membuat Gina pun jatuh hati padanya.