
Di luar masih hujan dengan kapasitas sedang. Gina duduk di depan TV setelah meletakkan semua piring di atas rak usai ia mencucinya. Kali ini ia berusaha dengan penuh hati-hati agar tidak memecahkannya lagi. Ia celingukan mencari dimana Surya berada tapi tidak juga terlihat.
"Jangan katakan dia kembali tidur di kamar." Gumam Gina sambil berdiri bermaksud mencari Surya dimana berada.
Gina membuka pintu kamarnya dan Surya tidak terlihat. Ia lalu menuju kamar mandi dan pintunya terbuka. Itu pertanda tidak ada orang yang sedang memakainya. Gina keluar lagi tapi kali ini sambil memanggil nama Surya. Terdengar sahutan di arah rumah bagian belakang. Gina berjalan menuju dimana tadi mendengar Suara Surya menyahut. Gina melewati sebuah pintu yang tidak tertutup dan menemukan Surya sedang melakukan sesuatu.
"Kau sedang apa?"
"Memasukkan baju kotor, Nona." Surya masih memindahkan baju dari dalam keranjang ke dalam mesin cuci. Gina manggut-manggut.
"Biarkan aku yang melakukannya." Gina mulai menawarkan diri lagi. Surya menghentikan aktifitasnya dan memandang Gina.
"Aku baru saja selesai mencuci piring dengan tanganku dan tanpa mengalami risiko buruk apapun. Jadi, rasanya mencuci baju dengan mesin cuci sepertinya akan lebih mudah."
"Baiklah, Nona." Surya setuju setelah yakin dengan apa yang Gina katakan.
Gina menghampiri Surya yang menggeser tubuhnya agar Gina bisa berada lebih dekat dengan pintu mesin cuci. Lalu satu per satu Gina mulai memasukkan sisa baju kotor dari keranjang. Setelah selesai, Gina bermaksud untuk menutup pintu mesin cuci tapi Surya melarangnya.
"Ini juga, Nona." Tunjuk Surya pada ember di samping mesin cuci.
Ternyata itu adalah baju basah miliknya saat terguyur hujan tadi. Gina lalu memasukkannya juga. Setelah menutup pintu mesin cuci, ia menatap tombol-tombol yang ada. Ia tidak tahu bagaimana cara memulai dengan mesin cuci. Seumur hidupnya ia tidak pernah melakukannya.
"Pertama tekan tombol water level dulu, Nona. Silakan sesuaikan dengan banyaknya cucian." Surya berdiri di belakang Gina tapi tangannya meraih di atas panel tombol mesin cuci sambil menombol salah satu menu.
"Kemudian ini." Jari telunjuk Surya menombol menu bergambar panah yang Gina yakin itu adalah tombol start untuk mulai mencuci.
Kemudian setelah mesin cuci mulai memberikan respon dan menyuarakan sebuah bunyi tanda mesin cuci sudah mulai bekerja, Surya mundur dari tempatnya dan membuat jarak dari tubuh Gina. Tanpa Gina sadari, ia menarik nafas dalam-dalam setelah beberapa saat yang lalu sempat menahan nafas ketika Surya berada sedekat itu dengannya.
"Oh begitu ya. Mudah sekali." Gina sangat terlihat bahwa ini adalah kali pertamanya menggunakan benda itu. Surya hanya tersenyum menanggapi.
"Mari kita tunggu, Nona." Ujar Surya sambil berjalan meninggalkan ruangan cuci.
Gina masih berdiri di tempatnya dan meraba dadanya dengan jantung yang sempat berdebar hebat.
"Kenapa dia membuat ruangan sesempit ini. Sangat meresahkan jika ditempati oleh dua orang seperti ini." Gina mengibaskan tangan ke wajahnya yang ia rasa tiba-tiba menjadi gerah.
Gina turut meninggalkan ruang cuci dan melihat Surya berdiri di pintu kaca ruang TV. Hujan deras sudah reda dan menyisakan gerimis yang masih ada.
"Kenapa? Kau menyesal hari minggumu diganggu oleh hujan pagi hari?" Celetuk Gina sambil duduk di sofa setelah sebelumnya sempat meraih remot TV di atas meja.
Mendengar suara Gina, Surya membalik badan. Yang pertama ia lakukan saat memandang Gina adalah tersenyum padanya. Sekilas Gina melihat itu tapi lalu mengalihkan pandangan pada TV dan mulai menyalakan dengan remot yang ada di tangannya.
"Sudah menjadi rutinitasmu menghabiskan hari minggu dengan segala kegiatan di luar rumah, kali ini kau malah terjebak di dalam rumah dan tidak bisa menikmati hari libur." Tambah Gina dengan masih memandang TV yang ia ganti-ganti salurannya karena merasa acara tidak ada yang menarik. Surya tidak menjawab tapi berjalan mendekati Gina lalu duduk di sofa paling ujung dari letak Gina duduk.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada acara yang bagus?" Gumam Gina masih memencet tombol-tombol remot dengan gemas karena ia merasa semua acara TV didominasi dengan acara talk show dan film kartun anak-anak.
"Itulah kenapa saya lebih suka keluar di akhir pekan dari pada di rumah saja, Nona." Sahut Surya menjawab pertanyaan Gina yang ia tahu kalau sebenarnya itu adalah pertanyaan untuk dirinya sendiri, bukan untuk Surya.
"Dulu aku juga hampir tidak pernah berada di rumah setiap akhir pekan. Tapi itu bukan karena acara TV tidak ada yang ku sukai. Itu karena berada seharian di rumah dan tidak melakukan apa-apa serta tidak bersama siapa-siapa rasanya sangat membosankan." Jelas Gina.
"Berada di mall, menghabiskan waktu di time zone, makan semua makanan di berbagai lounge bar di sana adalah kegemaranku setelah berbelanja dan menghabiskan uang Papa." Tambah Gina dengan senyum lebarnya seolah bangga bisa memilih hiburan untuknya sendiri di hari libur.
"Kadang aku juga memesan beberapa menu sekaligus di food court ketika aku ingin makan di temani oleh lebih banyak orang." Gina tertawa di akhir kalimatnya setelah menegaskan kalimat "makan dengan banyak orang" seperti menertawakan dirinya sendiri. Ya, setiap makan di rumah ia selalu sendirian. Jadi, ia lebih suka makan di luar karena itu tidak membuatnya kesepian. Paling tidak, meskipun satu meja hanya ada dirinya, tapi disekeliling ia masih bisa melihat orang lain ada di dekatnya.
Mendengar semua itu, Surya tersenyum. Ingatannya langsung dibawa pada suatu momen. Ia ingat membuntuti Gina yang keluar masuk ke dalam distro-distro dengan label merk mahal. Dan setelah itu ia akan menuju time zone. Bermain disana dengan semua permainan yang ada. Setelah puas memenangkan semua permainan, ia akan menuju tempat makan. Entah lounge, restoran atau hanya dengan makanan di food court, Gina sepertinya menikmati itu. Dan jika masih belum terlalu lelah, ia akan menuju bioskop. Melihat apakah ada film yang bisa menarik untuk di tonton atau tidak. Jika ada, dia akan menonontonnya untuk menghabiskan waktunya yang tersisa. Jika tidak ada, dia akan pergi ke mini market, membeli camilan dan memakannya di sana. Sampai mini market hampir tutup baru Gina akan pulang ke rumahnya dan tidur.
Begitulah kegiatan Gina di hari libur saat tidak memiliki pacar. Surya sangat hafal dengan kebiasaan Gina. Itu adalah acara yang masih bisa dikatakan aman oleh Surya. Karena jika moodnya sedang tidak baik, ia akan pergi ke klub untuk mencari suasana yang lebih ramai. Di klub akan ada musik hingar bingar, ada banyak orang yang akan mengajaknya berbincang meskipun mereka tidak saling mengenal, ia bisa menari mengikuti alunan musik dan melupakan apa yang membuat suasana hatinya tidak baik. Hanya saja, yang tidak pernah ia lakukan saat berada di klub adalah meminum minuman keras atau memakai obat-obatan terlarang. Ia merasa tidak harus menyentuh itu jika ingin menghibur diri.
Meskipun ia semaunya sendiri tapi, Gina tidak ingin merusak dirinya dengan alkohol atau obat-obatan terlarang. Belum lagi, dia pergi ke klub sendiri sehingga jika ia mabuk maka mungkin saja akan ada orang jahat yang bisa mencelakainya. Saat ia tidak sadarkan diri atau sedang dipengaruhi oleh alkohol maupun obat-obatan terlarang, maka ilmu bela diri yang ia miliki jadi tidak berarti. Ia akan tetap bisa disakiti oleh orang lain. Sehingga menjaga kewarasannya dari semua yang memabukkan itu adalah pilihannya.
Surya yang dulu selalu mengawasinya tidak pernah tahu alasan mendasar Gina tidak pernah menyentuh minuman beralkohol dan ia juga tidak pernah mencari tahu. Ia hanya akan berusaha melindungi Gina dari bahaya apapun. Dan entah karena kebiasaan atau karena hal lain, naluri melindunginya terhadap Gina masih selalu saja ada walau ia tidak lagi menjadi pengawal pribadinya. Bahkan sampai saat ini pun Surya adalah orang yang selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan Gina. Kesepian dan kesendirian Gina selama ini membuatnya merasa ingin selalu melindunginya. Lalu perasaan melindungi itu sekarang perlahan menjadi keinginan untuk menghiburnya dan ingin membuatnya merasa bahagia.
"Kenapa?" Gina menatap Surya yang masih diam sambil menatapnya meski ia sudah selesai dengan kalimatnya.
"Oh iya, tentu saja kau tahu semua itu." Gina lalu tersenyum kecut mengingat itu.
"Coklat panas sepertinya baik untuk Nona." Surya berdiri dari duduknya untuk mengalihkan pembicaraan dengan Gina.
"Kenapa baik untukku?" Tanya Gina karena kalimat Surya mengandung sesuatu yang ambigu seolah ada yang terjadi dengannya sehingga ia butuh ditenangkan dengan coklat panas seperti kebiasaannya jika sedang dalam mood buruk.
"Ada apa denganku? Aku merasa baik-baik saja." Gerutu Gina yang seolah Surya menuduhnya sedang tidak baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian Surya muncul dengan nampan berisi dua cangkir coklat di cangkir pasangan dan beberapa makanan ringan yang dibelinya saat berbelanja kemarin.
"Wah, pop corn. Ini akan sempurna kalau kita menonton film." Ujar Gina melihat isi nampan yang diletakkan Surya di atas meja.
"Ide bagus. Kebetulan saya baru saja membeli beberapa CD film baru." Surya mendekati meja TV dan membuka salah satu laci yang disana terdapat banyak sekali CD koleksinya.
"Kau memiliki banyak koleksi film, lalu kapan kau menontonnya? Apa kau sempat?" Tanya Gina heran ternyata Surya memiliki koleksi film sebanyak itu sedangkan ia tahu bagaimana kesibukannya selama ini.
"Sesibuk-sibuknya saya, saya masih punya waktu untuk ini, Nona." Surya mengangkat beberapa CD yang ada di kedua tangannya.
Surya lalu meletakkan beberapa CD itu di atas meja. Gina mendekatkan tubuhnya ke meja dan melihat-lihat kepingan CD dengan dalam kemasannya masing-masing. Ia melihat judul di masing-masing kemasan CD itu.
"Semuanya film action. Kau benar-benar pria sejati." Gina memandang Surya dengan pandangan putus asa karena melihat tidak ada film favoritnya dari koleksi Surya.
"Maaf Nona, saya memang bukan penyuka film drama romantis." Surya terkekeh. Gina memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Tapi tenang saja. Saya akan memutar dari aplikasi layanan streaming di ponsel saya, Nona."
"Aku tidak suka menontonnya dari ponsel. Mataku bisa sakit karena layarnya terlalu kecil."
"Jangan khawatir, Nona. Saya akan memutarnya di TV."
"Bisa?" Tanya Gina dengan mata membulat. Surya mengangguk menanggapinya.
Dan selanjutnya, setelah Gina memilih film yang ingin ditontonnya dari aplikasi di ponsel Surya, kemudian ia menghubungkan dengan perangkat home theater miliknya.
"Wah, kau bahkan punya yang seperti ini." Gumam Gina.
"Keluargaku benar-benar ketinggalan teknologi. Mereka terlalu sibuk dengan alat dapur sampai tidak tahu perangkat multimedia di rumah kami sudah terlalu kuno."
"Lagipula, tidak ada yang menonton film di rumah Anda, Nona. Semua orang sibuk di luar rumah dan tidak pernah sempat menonton film. Papa juga menonton TV hanya untuk saluran berita. Mama juga lebih sering cukup menonton sinetron. Anda sendiri, apa Anda pernah berminat menonton acara TV?" Gina menggeleng pelan menjawab pertanyaan Surya dan menyadari memang dirinya tidak suka melihat TV atau apapun itu. Ia hanya suka segala hal yang bisa membawanya untuk keluar dari rumah. Sehingga menonton bioskop lebih ia minati daripada menonton film di rumah.
Alur film berjalan dan Gina menyimak dengan baik. Hobinya memang menonton film, sehingga film pilihannya yang bergenre drama romantis itu seperti menghanyutkannya. Pada adegan manis, tanpa sadar Gina akan tersenyum-senyum sendiri melihatnya. Beberapa kali Surya mencuri pandang ke arah Gina dan ikut tersenyum melihat ekspresi wajah Gina menyaksikam film di depannya. Gina sangat menyukai film itu, sehingga ia menurut untuk ikut menonton juga demi menemaninya.
"Kau tahu, kenapa film drama romantis sangat menyenangkan untuk di tonton?" Tanya Gina pada Surya sambil menyodorkan pop corn di tangannya.
"Karena alur ceritanya romantis." Jawab Surya asal karena ia juga tidak tahu apa enaknya menonton film romantis seperti yang sedang mereka tonton saat ini.
"Jawaban macam apa itu." Gerutu Gina. Surya tertawa menanggapinya.
"Saya suka film action dengan segala pertempuran dan ketegangan dari dua lawan yang memainkan, Nona. Baku hantam dan baku tembak sangat seru untuk dinikmati."
"Kau tahu, sebenarnya sangat menakutkan melihat adegan-adegan kekerasan semacam itu. Karena aku tahu saat mengalaminya sendiri itu tidaklah mudah. Dan lagi, ketika tanganmu menyentuh tubuh manusia lain saat memukul, ada sesuatu yang sangat tidak nyaman walaupun itu dilakukan demi membela diri atau semacamnya." Penjelasan Gina membuat ia tahu sekarang kenapa film action tidak masuk daftar genre film yang disukainya.
"Jadi, aku lebih suka film drama romantis. Itu bisa membuatku berbunga-bunga sekaligus juga galau pada saat tertentu. Sangat mengasah perasaanku." Tegasnya lagi.
Surya mengerti, bagaimanapun juga Gina adalah seorang wanita. Tentu saja ia menyukai hal-hal seperti itu. Hal-hal berbau romantis yang bisa membuatnya berbunga-bunga.
Tanpa sadar Surya memandang Gina dengan fikiran tentangnya. Itu membuat Gina menjadi canggung.
"Oh iya, ku rasa cuciannya sudah selesai. Aku akan menjemurnya." Ujar Gina menghindari tatapan Surya yang mengusiknya. Membuatnya salah tingkah dan malu sehingga ia merasa harus mengakhiri suasana itu dan beralasan untuk menjemur cuciannya yang tidak menggunakan fasilitas mengering sekaligus karena menurut Gina itu bisa merusak serat pakaian.
Surya membiarkan Gina beranjak dari situ karena ia tahu apa yang terjadi padanya. Surya mengulas senyum. Tepat saat itu bel rumahnya berbunyi. Surya menajamkan pendengarannya lagi. Dan sekali lagi bel berbunyi. Ia menjadi heran. Tidak biasanya ada tamu yang datang ke rumahnya. Ia tidak pernah memberitahukan kepada siapapun dimana rumahnya. Ia juga lebih suka bertemu di luar jika harus bertemu seseorang. Surya mengingat-ingat juga tidak memesan apapun secara online sehingga tidak mungkin itu adalah seorang kurir. Ia lalu melihat monitor di dalam rumahnya untuk melihat siapa yang memencet bel di depan pagar.
"Surya, jeda dulu filmnya. Aku harus menyelesaikan ini." Teriak Gina dari bagian belakang rumah Surya. Tapi tidak ada sahutan.
"Surya, kau mendengarku?" Ulang Gina memastikan Surya mendengarkan instruksinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara seorang wanita dari ambang pintu menuju ruang cuci.
__ADS_1
Gina mengenali suara itu bukan milik Surya tapi milik seorang wanita yang ia kenal lalu menoleh.
"Mama..." Pandangan mata Gina tertuju lurus pada Bu Marina yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Pakaian Surya yang ada di tangannya terlepas kembali ke dalam keranjang. Bu Marina melihat itu lalu menatap Gina lurus.