
"Selamat datang, Nona." Sapa kepala divisi produksi yang melihatnya datang. Gina mengangguk ramah dan mengambil duduk di salah satu kursi dan Hanna berada di sebelahnya. Kemudian ia memilih menu yang akan ia pesan malam ini sebagai makan malamnya. Setelah menemukan menu yang Gina inginkan, Hanna pun memanggil pramusaji untuk menyampaikan pesanannya.
Suasana meja makan tampak hangat. Baru kali ini Gina makan malam bersama para kepala divisi di luar R-Company. Ia hanya pernah menggelar pesta dan makan-makan bersama para petinggi R-Company saat pelantikannya sebagai Presdir R-Company yang baru waktu itu. Setelah itu ia tidak pernah melakukannya lagi. Dengan ini ia merasa harus melakukannya lagi lain kali untuk menjalin hubungan lebih dekat dan lebih baik dengan para pegawai. Itu pasti akan membawa dampak positif bagi kinerja para pegawai.
Gina menerima pesanannya bersama dengan para penghuni meja yang lain. Beef steak yang Gina terima memang terlihat sangat lezat dengan aroma saus yang mengandung rempah-rempah itu tercium sangat sedap. Tapi selanjutnya perhatiannya tersita pada piring yang ada di depannya. Ada sebuah inisial di salah satu sisinya. Inisial huruf R milik R-Company. Ia lalu melihat lebih jeli dan ternyata benar, itu adalah piring yang diproduksi oleh pabriknya. Lalu Gina memegang pisau dan garpu ditangannya. Ia membalik bagian belakangnya dan benar saja ada inisial huruf R juga. Taplak meja berwarna putih yang sedang ia sentuh juga sepertinya memiliki tekstur embos yang tidak asing dengan inisial huruf R pada motifnya. Vas bunga yang berisi bunga tulip artificial itu juga memiliki inisial R di salah satu sisinya. Gina juga membalik badan dan melihat kursi yang ia duduki memiliki inisial R pada bagian tempat ia bersandar. Gina lalu mengedarkan pandangan ke seluruh bagian cafe dan melihat banyak perabotan yang dibeli dari R-Store. Bahkan lampu gantung itu pun juga adalah produksi R-Company keluaran terbatas bulan lalu. Gina menjadi curiga jika mungkin salah seorang pegawainya itu sebenarnya adalah pemilik cafe ini. Tapi tentu saja itu hanya ada di dalam fikirannya sendiri.
Gina pun lalu menikmati menu makan malam yang ia pesan. Benar, menu itu rasanya sangat pas dilidahnya. Beef steak dengan saus lada hitam yang pekat membuatnya rasanya seperti tidak asing baginya. Hanna juga tampak menikmati makanannya dengan lahap. Ibu hamil di sebelahnya itu seperti tidak mengalami mual atau semacamnya. Diam-diam Gina tersenyum memandang Hanna yang tampak baik-baik saja. Melihatnya seperti itu, Gina merasa tindakannya memberitahukan keberadaannya kepada Marco adalah tepat.
"Ada apa, Nona? Apa Anda tidak suka dengan makanannya? Mau saya pesankan menu lain?" Tanya Hanna heran karena melihat Gina yang sedang memperhatikannya.
"Tidak, tidak usah. Ini enak. Makanlah. Aku juga akan makan." Hanna lalu melanjutkan makannya karena melihat Gina baik-baik saja dengan menu yang sekarang ia suapkan ke dalam mulutnya.
"Selamat malam semua." Sapa seseorang di ujung meja dari jarak beberapa kursi. Gina langsung menoleh begitu mendengar suara yang sangat ia kenal itu. Suara Surya. Tepat saat itu Surya juga memandangnya dengan menyunggingkan senyum untuk menyapanya.
Surya yang saat ini duduk tepat di depan Gina membuatnya tidak bisa menghindar setiap Surya memandang dirinya. Entah kenapa suasana seperti itu menjadi agak aneh bagi Gina saat ini.
"Anda memang hebat, Pak. Terlepas dari R-Company, sekarang Anda adalah pengusaha kuliner yang sukses. Saya membaca artikel Anda dan tidak merasa heran karena sudah lama bekerja dengan Anda sehingga saya tahu kemampuan Anda yang luar biasa dalam mengembangkan bisnis. Setelah warung angkringan yang baru-baru ini viral, sekarang Anda mulai merambah ke bisnis cafe. Sama-sama tempat kuliner, tapi saya yakin Anda pasti memiliki perhitungan lain di sini." Ujar salah seorang di meja itu.
"Anda terlalu berlebihan." Surya menanggapi dengan santai. Gina merasa orang-orang di meja seperti tidak terpengaruh dengan masa lalu yang pernah ia dan Surya jalani. Mereka tidak merasa canggung dengan kehadiran Surya sementara Gina juga ada di meja itu. Entah mereka tidak peduli dengan kehidupan pribadinya atau mereka sudah lupa pada hubungannya dan Surya dulu, yang jelas mereka membuat Gina merasa lebih nyaman. Mereka berbincang segala hal dan tentu saja itu lebih banyak tentang pekerjaan.
"Ku lihat semua perabotan di sini juga adalah produksi dari R-Company. Anda benar-benar masih memiliki andil yang besar pada R-Company."
"Saya tidak bisa memakai produk lain karena saya tidak tahu pasti bagaimana kualitasnya sehingga memilih produk R-Company membuat saya lebih tenang karena saya percaya penuh pada semua produk R-Company yang sudah jelas sangat baik kualitasnya." Mendengar penjelasan Surya, serempak semua orang yang ada dimeja itu bertepuk tangan. Melihat semua orang bertepuk tangan, termasuk Hanna, Gina turut menepuk kedua tangannya juga. Ia melihat ke sekeliling dan mendapati wajah-wajah cerah mendukung apa yang Surya ucapkan.
Dari itu Gina menjadi tahu kenapa para pegawainya masih menaruh hormat pada Surya meskipun ia bukan lagi menjadi atasan mereka. Surya sangat baik saat menjadi pemimpin dan juga saat menjadi teman sehingga mereka sangat nyaman bersamanya seperti ini. Gina buru-buru memalingkan wajah saat tiba-tiba Surya mengalihkan pandangan padanya. Ia tidak mau Surya tahu bagaimana ia sedang diam-diam mengaguminya. Dan untuk menyamarkan itu, Gina pun berpamitan pergi ke toilet. Ia harus sejenak menjauh dari sana agar tidak semakin tenggelam dalam pesona Surya yang membuatnya terus saja membuatnya bimbang.
Gina menarik nafas berat saat memasuki toilet. Ia membasuh wajahnya dan mencoba menjernihkan fikiran. Memandang wajahnya sendiri di depan cermin.
"Gina, kau harus bisa mengendalikan hatimu. Jangan sampai Surya tahu isi hatimu." Ujar Gina sendiri di depan cermin. Setelah itu ia keluar dari dalam toilet. Wajahnya tampak segar sekarang setelah air sempat menyentuhnya.
"Nona..." Gina yang baru beberapa langkah meninggalkan toilet lalu menoleh.
"Kemarilah." Surya yang tadi berjalan ke arahnya sekarang sudah menarik tangannya untuk menuju ke suatu tempat.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gina heran dengan perlakuan Surya. Tapi Surya tidak menghiraukan itu dan mengajak Gina ke sebuah tempat di bagian samping cafe. Disana Surya lalu berhenti dan berbalik badan menatap Gina.
"Saya merindukan Anda. Kenapa tidak pernah mengangkat telepon saya dan tidak membalas pesan yang saya kirim?" Tanya Surya sambil menatap kedua mata Gina dalam-dalam mencari jawaban didalamnya.
"Aku sibuk." Hanya itu yang diucapkan Gina sambil melihat ke arah lain untuk menghindari pandangan mata Surya. Ia takut kebohongannya diketahui oleh pria di depannya.
"Apa ada masalah dengan R-Company?"
"Oh tidak, tidak ada. R-Company sedang sangat baik. Kau lihat sendiri kami bahkan bisa makan bersama, bukan?"
"Syukurlah kalau begitu." Ujar Surya dengan bernafas lega karena sempat mengkhawatirkan R-Company karena kesibukan Gina bahkan hingga membuatnya tidak sempat membalas pesan-pesannya.
__ADS_1
"Kalau terjadi sesuatu, jangan lupa untuk menghubungi saya, Nona."
"Kau fikir aku tidak bisa mengurus R-Company?" Gina menatap Surya sinis.
"Bukan begitu, Nona. Tapi saya ingin selalu ada untuk Anda." Jawab Surya serius. Itu membuat Gina menjadi salah tingkah mendengarnya karena merasa jantungnya seperti kesemutan karena senang.
"Dalam hal apapun, saya berharap Anda bisa mengandalkan saya."
"Ehemm... Surya, sebenarnya aku memikirkan kembali apa yang pernah ku katakan padamu." Surya mengangkat alisnya karena penasaran dengan kata Gina yang mana.
"Aku khawatir mungkin kau salah faham terhadapku. Atau bisa saja kau juga salah mengartikan ucapanku. Yang jelas aku memperbolehkanmu merayuku bukan berarti aku memberimu harapan untuk kita bisa bersama lagi pada akhirnya. Jadi, jangan terlalu percaya diri. Itu masih tergantung bagaimana kau bisa membuat perasaanku kembali padamu." Ujar Gina tegas. Mendengar itu Surya tersenyum. Surya memahami kalimat Gina sebagai seseorang yang sedang menarik satu garis dengannya untuk membuat jarak. Entah karena Gina tidak percaya pada ketulusannya atau karena memang perasaan Gina telah memudar kepadanya, ia merasa harus lebih berusaha lagi agar bisa mendapatkan cinta Gina yang pernah ia tolak.
"Meskipun Anda tidak memberi kesempatan kepada saya untuk mendekati Anda, saya hanya akan terus berusaha mendekati Anda walau bagaimanapun caranya. Saya juga hanya ingin memulai apa yang pernah saya akhiri. Saya tidak ingin menyesal karena pada akhirnya harus kehilangan Anda sebelum saya melakukan usaha sebaik mungkin." Gina menyimak baik-baik semua ucapan Surya. Hatinya semakin gelisah karena semakin Surya berusaha, itu membuat Gina semakin dilema. Antara harus menerima Surya atau berada tetap pada prinsipnya.
Gina sudah kembali ke mejanya saat ini. Semua orang tampak mengobrol dengan akrab. Begitu pula dengan Hanna yang tampak berbincang dengan para kapala divisi. Mereka tampaknya sedang membicarakan bagaimana dulu saat Hanna baru saja masuk sebagai pegawai junior.
"Saat itu Nona Hanna masih sangat muda." Ujar kepala divisi marketing.
"Sampai saat ini saya masih tetap muda, Bu." Potong Hanna dan membuat semua orang dimeja itu tertawa.
"Benar, sampai sekarang kau masih tetap muda. Jika dibanding dengan kami." Lalu kepala divisi marketing itu tergelak. Hanna pun tidak mau kalah. Gina melihat Hanna benar-benar baik-baik saja sekarang. Ia bahkan mengobrol dengan santai bersama para pegawai lain.
"Saat berada di bagian produksi, kau adalah pegawai yang sangat teladan. Jadi, tidak heran kalau pada akhirnya kau mendapat promosi untuk menjadi wakil kepala bagian produksi. Lalu setelah itu Pak Surya menjadikanmu asisten pribadi Nona Gina. Kau sangat hebat."
"Benar, dia sangat hebat. Dia bahkan bisa menjadikanku presdir sekarang." Timpal Gina yang membuat semuanya tertawa lagi.
Mendadak suasana menjadi sepi. Entah apa yang salah dengan kalimat itu tapi kemudian kepala divisi keuangan menyesal telah mengatakannya karena melihat semua orang seperti tidak berani menanggapi kalimatnya.
"Tentu saja, Nona Gina adalah pemilik R-Company yang sebenarnya jadi, sudah selayaknya memegang tahta tertinggi di R-Company." Celetuk Surya yang berjalan mendekat setelah beberapa saat tadi meninggalkan mereka. Semua orang menoleh kepadanya yang membawa sebuah nampan berisi makanan penutup.
"Maaf, tapi kami tidak memesan ini, Pak." Ujar salah seorang pegawai.
"Ini adalah layanan khusus dari cafe kami. Untuk tamu dengan reservasi party, kami memberikan layanan khusus makanan penutup tambahan dan voucher untuk bisa digunakan pada kunjungan berikutnya." Jelas Surya dengan ramah seperti biasanya.
"Wah, ini benar-benar Anda. Saya semakin yakin dengan kesuksesan yang Anda raih. Ide marketing Anda selalu bagus. Saya harus belajar banyak dari Anda." Puji kepala divisi marketing.
"Bukankah itu harus dibalik? Justru semua ini saya dapat karena saya belajar banyak selama berada di R-Company. Bekerja dengan orang-orang seperti Anda semua membuat saya termotivasi untuk terus berkembang dan berinovasi untuk memajukan usaha yang saya kelola."
"Ahh, Anda selalu saja merendah." Kepala divisi marketing tersipu mendapat pujian dari orang seperti Surya. Orang yang pernah menjadi atasannya.
"Jadi, karena rasa terima kasih saya kepada Anda semua, malam ini saya yang akan mentraktir."
"Wah, bagaimana ini? Kita ditraktir oleh pemiliknya langsung." Ujar salah seorang kepala divisi dengan wajah senang.
"Kamilah yang seharusnya berterima kasih kepada Anda." Semua orang lalu berterima kasih kepada Surya. Hanya Gina yang masih diam sejak tadi. Ia hanya memperhatikan Surya yang dengan bahasa dan tutur kata yang baik berbincang dengan para mantan pegawai yang sekarang menjadi tamu di cafenya.
__ADS_1
Merasa diperhatikan, Surya lalu mengalihkan pandangan kepada Gina. Tapi kali ini Gina tidak ingin menghindar. Ia sengaja menghadapi Surya dan mencoba mencari jalan keluar untuk dilema yang sedang ia rasakan. Surya tersenyum padanya dan Gina membalas senyumnya. Tapi sialnya aksi mereka tertangkap beberapa pasang mata pegawai lain. Termasuk Hanna. Mereka seperti tahu apa yang sedang Surya dan Gina fikirkan lalu saling tersenyum melihat mantan pasangan yang ada di depan mereka.
"Ehhemmm..." Hanna mendehem untuk mencoba menyadarkan Gina.
"Puding ini enak sekali. Apa Anda memiliki koki ahli yang hanya bertugas untuk membuat puding ini?" Tanya Hanna yang kembali menggunakan bahasa formal kepada Surya karena menghormatinya sebagai mantan atasannya di depan para pegawai lain.
Hari sudah malam, acara makan malam itu pun usai. Semua orang termasuk Gina mulai meninggalka meja. Mereka keluar dari dalam cafe Surya satu per satu melalui pintu kaca itu. Surya mengantar mereka sampai depan cafe.
"Terima kasih Pak Surya. Semoga Anda juga sukses dengan cafe ini, tidak hanya warung angkringan saja." Ujar seorang pegawai R-Company di teras cafe.
"Terima kasih." Balas Surya dengan senyum dibibirnya. Beberapa mantan pegawainya itu juga sempat melontarkan ucapan yang sama dan membuat Surya merasa senang karena mendapat dukungan dari mereka.
"Surya, aku pulang. Selamat untuk cafemu yang baru ini. Aku harap ini bisa seperti warung angkringanmu dan berkembang di beberapa tempat juga." Hanna menjabat tangan Surya.
"Terima kasih, Hanna." Surya tersenyum tulus.
"Aku juga pamit. Terima kasih untuk jamuannya. Sukses untukmu." Ujar Gina.
Melihat Gina dan Surya berbincang, Hanna berpamitan untuk lebih dulu menunggu di dalam mobil. Ia sengaja memberi mereka ruang agar lebih nyaman berbicara.
"Saya harap Anda akan sering datang kemari ketika sedang merindukan saya."
"Hei, kenapa seperti itu? Tanpa kau suruh pun aku akan datang saat aku lapar." Surya tertawa mendengar penuturan Gina.
"Aku juga berharap akan mendapat makanan gratis seperti malam ini."
"Tentu saja. Anda akan mendapatkannya."
"Baguslah, ku pegang janjimu."
"Saya akan dengan senang hati bisa bertemu dengan Anda. Saya bahkan mentraktir mereka semua hanya agar saya bisa bertemu Anda malam ini."
"Apa?" Gina ingin Surya memperjelas maksud ucapannya.
Surya menghubungi kepala divisi produksi...
"Baik, Pak. Saya akan datang untuk pembukaan cafe Anda yang baru. Saya juga akan pastikan Nona Gina hadir disana." Jawab kepala divisi produksi yang dulunya pun dekat dengan Surya.
Surya menutup telepon dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Surya terpaksa harus meminta bantuan kepala divisi produksi karena beberapa hari ini Gina seperti menghindarinya. Tidak mengangkat telepon dan tidak pula membalas pesan-pesan yang ia kirim. Itu membuatnya penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Gina. Sehingga Surya mengundang semua pejabat kelas atas R-Company hanya untuk satu tujuan, agar ia bisa menemui Gina seolah tanpa sengaja. Karena Surya yakin jika ia meminta bertemu secara langsung, Gina mungkin akan menghindarinya.
Gina menunggu jawaban dari Surya yang malah tersenyum padanya. Itu membuat Gina menjadi gemas.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang." Gina pamit dan berpura-pura tidak terpengaruh dengan cara Surya membuatnya penasaran.
"Selamat malam, Nona." Balas Surya melepas kepergian Gina.
__ADS_1
Ia menatap tubuh Gina yang berjalan membelakanginya. Wanita itu benar-benar sudah menguasai hatinya. Ditambah sejak Gina mengungkapkan isi perasaan kepadanya waktu, ia merasa itu seperti sebuah pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia sudah berusaha untuk berhenti memikirkannya karena merasa telah bersama Siska. Tapi pada akhirnya ia harus lebih memilih untuk jujur kepada Siska tentang perasaannya.
Surya menarik nafas panjang saat mobil yang ditumpangi Gina mulai meninggalkan pelataran cafe miliknya dan meandangnya sampai berbelok pada tikungan tidak jauh dari sana.