
Dia benar-benar hebat. Aku tidak habis fikir terhadapnya. Tidak ku sangka dia sepandai itu dalam bermain sandiwara. Apa dengan senang hati Papa melimpahkan R-Company padanya juga hasil dari kepandaiannya itu? Kalau itu benar, kasihan sekali Papa sudah terperdaya oleh pria ini. Gina melirik Surya yang masih memperhatikan jalan di depannya. Gina benar-benar menemukan Surya yang baru saat ini. Semakin hari mengenal Surya, semakin banyak sifat asli Surya yang Gina tahu.
Hingga sampai rumah mereka belum membangun percakapan apapun. Dan saat memasuki kamarnya, Gina langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya mengantuk. Kebiasaannya saat kekenyangan. Makanan yang ia nikmati malam ini membuatnya seperti tidak bisa berhenti untuk makan. Surya sangat tahu bagaimana membuat orang lain senang, terutama tamunya. Oh, bukan tamu. Lebih tepat adalah 'mangsanya'. Mangsa yang ia harapkan untuk berinvestasi di R-Company dan membuatnya bisa melebarkan sayap R-Company hingga Turki dan negara-negara di sekitarnya.
Beberapa saat Gina merebahkan badan, Surya masuk ke dalam kamarnya. Surya tidak ingin mengganggu saat Gina sudah dalam posisi seperti itu. Tapi melihat Gina ia jadi ingin melakukan sesuatu sehingga dengan sangat hati-hati ia mendekati Gina. Selanjutnya Gina merasakan tangan Surya meraba bagian kakinya.
"Surya, apa yang kau lakukan?" Gina bangun dari posisi tidurnya dan memandang Surya dengan marah.
"Aku belum tidur dan kau sudah kurang ajar."
"Maaf Nona, tapi rok Anda terbuka jadi saya menutupnya." Jelas Surya.
"Benarkah? Kau bukan mengada-ada?" Selidik Gina.
"Iya Nona."
"Kau tidak sedang berfikiran akan macam-macam kepadaku, bukan?"
"Sama sekali tidak, Nona."
"Baik. Aku akan mematahkan tanganmu kalau sampai berani menyentuhku." Gina merendahkan nada bicaranya melihat kesungguhan yang di wajah Surya.
"Iya Nona, saya tidak punya keberanian sebanyak itu." Surya menjawab dengan tenang.
"Kau pandai sekali meyakinkan orang lain. Pantas saja Papa selalu mengajakmu dalam banyak urusan." Gina mulai merebahkan tubuhnya lagi. Surya mendengar itu tapi hanya menanggapinya dengan tersenyum dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaiannya.
Sekembalinya Surya dari kamar mandi Gina sudah tertidur pulas. Lagi-lagi Surya tersenyum melihat istrinya yang galak itu tidur dengan posisi seenaknya. Gina mengatakan Surya tidak boleh menyentuhnya, tapi dress yang ia pakai dan posisi tidurnya yang sembarangan membuat Surya mau tidak mau harus memperbaiki letak tidur Gina. Tapi kali ini dengan sangat hati-hati agar Gina tidak terbangun dan berfikir macam-macam terhadapnya.
🌸🌸🌸
Gina sudah siap dengan wajah ber-make up di depan cermin. Wajahnya seperti penuh dengan mendung dan kilatan petir. Bagaimana tidak, Surya sudah mengingkari janjinya. Janji yang sudah ia buat bersama Gina beberapa hari yang lalu.
Saat bangun tidur tadi Gina tidak menemukan Surya di kamar. Gina turun ke lantai bawah dan Surya juga tidak ada. Lalu Gina memutuskan untuk meneleponnya.
"Kau dimana?" Tanya Gina begitu Surya mengangkat teleponnya.
"Saya dalam perjalanan menemui Tuan Adskhan, Nona."
"Hei, kau lupa hari ini kau harus pergi denganku?" Gina meledak marah mendengar jawaban Surya.
"Tidak Nona, saya tidak lupa. Jadi saya memohon maaf karena tidak bisa menemani Anda datang ke reuni sekolah."
"Apa? Maaf?" Gina gemas karena semudah itu Surya meminta maaf padahal ia sudah memiliki rencana dengan mengajak Surya datang ke reuni SMAnya.
"Tidak, aku tidak akan memaafkanmu."
"Tapi ini sangat penting untuk kelangsungan R-Company, Nona."
"Kau pikir kelangsungan hidupku tidak penting?"
__ADS_1
"Maaf, Nona. Bukan begitu."
"Ahh, sudahlah terserah kau." Gina menutup teleponnya dan melempar posel yang ada ditanganannya di atas tempat tidur.
Gina sudah merencanakan untuk membawa Surya ke acara reuni sekolah karena ingin membalas teman-teman yang suka berbicara buruk tentangnya. Ia juga yakin Monica akan datang sehingga ia harus bisa membuat Monica diam dengan mengajak Surya dengan penampilan barunya. Ada rencana matang yang sudah difikirkan Gina. Tapi sekejap saja Surya merusak semua itu kareba tidak bisa ikut dengannya.
"Lihat saja, aku akan mematahkan kakinya kalau sampai memasuki kamarku." Gina menutup pintu kamarnya dan menuju tangga untuk turun.
"Seenaknya saja dia membatalkan janji denganku. Dia pikir siapa dirinya. Pemilik R-Company? Yang benar saja, R-Company adalah milikku. Jadi kenapa dia menggila dan sok memgembangkan R-Company?" Gerutu Gina saat sampai di teras rumahnya.
"Ya Tuhan, Suryaaaa..." Gina menghentakkan kakinya.
"Bagaimana aku pergi kalau mobilnya tidak ada. Papaaaaa... aku membencimu. Kembalikan mobilku." Gina bahkan sangat kesal dengan Papanya saat ini yang sudah menjual mobilnya. Tapi kemudian Gina menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya kembali.
"Tenang... tenang, Gina. Tidak ada mobil pribadi tidak masalah. Untuk sampai sana kau bisa menaiki taksi." Gina mulai memberi solusi pada dirinya sendiri.
"Tapi, apa kata mereka aku yang dulu sangat populer, ehh, sampai saat ini aku juga masih populer dikalangan teman-teman SMAku. Ya, apa yang akan mereka pikirkan kalau aku datang sendirian dan menaiki taksi. Jatuhlah harga diriku berkeping-keping." Pertimbangan Gina.
"Apa sebaiknya aku tidak datang?" Gina mulai bimbang.
"Mari kita datang ke reuni akhir pekan besok dan buktikan apakah kau masih sekeren dulu saat masih sekolah." Teringat kembali tantangan Monica saat mereka bertemu di warung angkringan waktu itu.
"Kalau aku tidak datang, pasti Monica mengira aku takut menemuinya. Tapi kalau aku datang dengan keadaan yang tidak memungkinkan ini, dia akan menghabisiku dengan setiap cibirannya yang setajam silet itu. Aku benar-benar tidak tahan terhadapnya." Gina berjalan mondar-mandir di teras rumahnya sambil memikirkan hal terbaik yang harus ia lakukan.
Dan ditengah fikirannya yang hampir frustasi, sebuah mobil memasuki halaman rumahnya dari arah pintu gerbang. Mobil Surya. Mendengar suara mobil masuk, Gina menoleh. Mobil Surya berhenti tepat di depannya.
"Mari Nona." Ajak Surya sambil membukakan pintu mobil. Gina masih mematung sambil memandang tajam ke arah Surya.
"Kenapa berubah pikiran?"
"Saya tidak ingin berakhir patah tulang atau bahkan menjadi penghuni baru kuburan karena telah mengingkari janji saya."
"Bagus. Seharusnya sejak awal kau tahu itu." Gina mulai melangkah untuk masuk ke dalam mobilnya. Surya tersenyum saat menutup kembali pintu mobil setelah Gina masuk ke dalamnya.
Di dalam mobil, Gina diam karena masih merasa marah kepada Surya yang sempat ingin mengingkari janji menemaninya siang ini.
"Di mana tempatnya, Nona?" Gina masih malas menjawab Surya.
"Nona?" Ulang Surya karena masih belum mendapat jawaban dari Gina.
"Kenapa kau masih bertanya? Reuni sekolah tentu saja di sekolah."
"Karena saya fikir mungkin diadakan di tempat lain, Nona."
"Tidak, kali ini reuni diadakan di sekolah. Sepertinya mereka benar-benar ingin bernostalgia dengan masa lalu." Jawab Gina masih ketus. Surya hanya mendengarkan dan melajukan mobilnya ke sekolah Gina.
Terdengar suara ponsel berbunyi dan itu adalah ponsel Surya. Surya menombol swits handsfree di mobilnya.
"Iya Pa." Jawab Surya. Mendengar itu Gina menoleh seketika kepada Surya.
__ADS_1
"Saya sedang bersama Nona Gina sekarang. Kami akan menghadiri reuni sekolah Nona Gina. Saya sudah menempatkan Barry di sana, Pa. Dia akan menggantikan saya sementara waktu. Baik Pa. Saya mengerti." Entah apa yang dibicarakann Surya dan Papanya, tapi Gina merasa berhak curiga apapun itu. Ia merasa perlu mencurigai banyak hal yang terjadi diantara Surya dan Pak Rangga karena Gina menanggap mereka sebagai lawannya untuk merebut tahta R-Company.
"Syukurlah mereka masih betah di sana." Ujar Gina. Walaupun ada rasa penasaran pada apa yang dibicarakan Surya dan Papanya, tapi Gina menahan diri untuk bertanya tentang itu. Ia harus menjaga sikapnya agar tidak terlihat mencolok sebagai orang yang ingin tahu urusan orang lain.
"Selama kita baik-baik saja, saya yakin beliau akan betah di sana. Apalagi mengetahui kita pergi bersama seperti ini, Papa pasti merasa nyaman."
"Baiklah, mari kita manipulasi hubungan kita. Aku rasa semakin kita membohonginya, semakin dia merasa tenang dan aku semakin cepat menggeser posisimu."
"Aku rasa begitu, Nona."
"Kalau begitu ayo kita sering melaporkan kebersamaan kita."
"Kalau begitu mari kita membuat acara-acara berdua."
"Acara yang sebenarnya?"
"Iya Nona."
"Untuk apa?" Gina memelototi Surya atas idenya tanda tidak setuju.
"Untuk memanipulasi kepercayaan Papa."
"Tidak perlu, toh Papa juga tidak ada di sini."
"Anda tahu mobil hitam dibelakang kita?" Gina melihat ke arah belakang mobil Surya.
"Itu adalah orang suruhan Papa yang selama ini mengawasi kita."
"Apa? Mengawasi kita?"
"Iya, Nona."
"Sejak kapan?"
"Sejak hari pertama kita menikah, Nona. Dia sudah memantau kita sejak itu. Setiap kita bepergian, mereka selalu mengikuti kita."
"Ya Tuhan, Papa benar-benar tidak waras sampai melakukan hal ini. Aku tidak menyangka ia bahkan melakukan ini pada putrinya sendiri."
"Kau adalah 'pesuruhnya' dulu. Kau pasti sudah bisa menduga hal ini."
"Benar, Nona. Saya sudah mengetahui ini walaupun Papa tidak memberitahu saya."
"Jadi, kau juga kenal para penguntit itu?"
"Tidak Nona, mereka adalah orang-orang baru. Sepertinya Papa sudah mengantisipasi kalau-kalau saya akan membuat penguntit yang dibayar Papa memberikan laporan palsu karena mungkin saja saya berhasil membuat mereka bisa diajak bekerja sama menipu Papa."
"Wah, Papa benar-benar pandai dalam hal ini." Gina berdecak mendapati fakta baru tentang Papanya.
"Jadi, mari kita tetap bersandiwara walaupun kita sudah tahu keberadaan mereka."
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita bersandiwara dengan baik agar Papa semakin lupa untuk pulang lagi." Lagi-lagi Surya tersenyum dengan kalimat yang dilontarkan Gina.