Tahta Surya

Tahta Surya
Air Mata Bawang


__ADS_3

"Suryaaaaaaa..." Teriak Gina. Surya bangun dengan buru-buru dan mendekati Gina di atas tempat tidur.


"Ada apa, Nona?" Surya dengan wajah mengantuk tapi dipaksakan untuk membuka mata selebar mungkin.


"Apa ini?" Gina menunjuk bagian badannya yang basah. Surya melihat itu lalu mengangkat wajahnya ke atas untuk mencari penyebabnya.


"Ya Tuhan..." Surya lalu menarik selimut Gina.


"Atapnya bocor, Nona."


"Iya, aku tahu. Lalu bagaimana?" Gina kesal karena badannya menjadi basah dan juga kasurnya. Sekarang Gina berdiri di tepi tempat tidur.


"Sebentar, Nona. Tunggu di sini." Surya keluar dari dalam kamar.


"Hei, kau meninggalkanku sendirian di sini? Nanti kalau aku kebanjiran bagaimana?" Gina setengah berteriak berbicara pada Surya karena Surya sudah menutup pintu kembali setelah berada di luar kamar. Gina lalu melihat tetesan air dari atap yang mengalir cukup sering membasahi kasur.


Tak berapa lama kemudian Surya kembali dengan ember dan kain di tangannya. Ia lalu meletakkan ember yang berisi kain itu di bawah tetesan air dari atap. Hujan di luar kelihatannya sangat deras sehingga air mentes hingga menciptakan genangan di atas kasur.


"Sudah." Surya memandang Gina yang berdiri memeluk gulingnya yang tidak terkena tetesan air.


"Jadi, aku tidur diatas kasur basah itu?" Gina memanyunkan bibirnya.


"Oh tidak, Nona. Saya minta maaf karena harus mengatakan kalau Anda harus tidur di bawah sini."


"Apa???" Gina membelalakkan matanya tidak percaya.


"Di lantai? Yang dingin. Dan keras."


"Maafkan saya, Nona." Surya menundukkan kepala tampak tidak tega harus terpaksa mengatakan itu.


"Ya Tuhan, masih berapa lama kita akan tinggal di rumahmu yang atapnya bocor ini?" Gina cemberut sambil berbaring diatas kasur lipat di atas lantai di sebelah Surya yang dibelinya kemarin. Diantara mereka ada guling yang Gina jadikan dinding pemisah. Kamar Surya yang sempit terasa lebih sempit saat Gina berbaring di bawah seperti ini. Semua prabotan di kamar Surya terlihat menjadi besar semua.


"Besok pagi akan saya perbaiki, Nona." Jawab Surya dengan pandangan mata menghadap atap.


"Memangnya kau bisa?" Gina mengalihkan wajahnya pada Surya.


"Akan saya coba, Nona." Surya membalas pandangan Gina dengan senyumnya seperti biasa. Melihat senyum itu, Gina buru-buru memalingkan wajahnya lagi. Dadanya seperti tersetrum melihat Surya. Gina lalu mengerjap-ngerjapkan matanya karena berusaha menetralisir perasaannya.


"Bagus." Hanya itu jawab Gina lalu dia berpura-pura tidur dengan menutup mata.


Tapi sialnya, ketika ia menutup mata senyum Surya malah terlihat jelas di ingatannya. Gina menjadi gusar. Ia lalu membuka matanya lagi.


"Maafkan saya, Nona." Sepertinya Surya tahu kalau Gina merasa tidak nyaman dengan tidurnya.


"Berhentilah meminta maaf dan tidur saja."


"Saya akan tidur setelah Anda tidur."


"Kenapa?" Gina memandang Surya lagi.


"Karena saya harus memastikan Anda tidur lebih dulu."


"Jadi, selama ini kau selalu tidur setelah aku tertidur?"

__ADS_1


"Iya Nona."


"Kenapa?"


"Hmmm... tidak apa-apa, Nona."


"Kau punya kelainan suka melihat wanita tidur?" Gina menyelidik.


"Tidak Nona, tidak sama sekali."


"Lalu?"


"Itu tadi, saya harus memastikan Anda tidur dengan nyenyak baru saya akan tidur juga."


"Ahh, kau berputar-putar. Tidak jelas." Gina lalu memunggungi Surya. Surya menyenyuminya. Dari sudut itu, Surya melihat pundak Gina bergerak lembut seiring nafasnya. Pasti Gina mulai tertidur sekarang. Ia lalu menarik selimut Gina hingga ke pundak. Lalu Surya ikut memejamkan mata juga.


Dalam posisinya, Gina ternyata masih belum tidur. Jantungnya masih berdetak tak karuan tidur bersebelahan dengan Surya seperti ini. Entah kenapa ini bisa terjadi. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya ia tidur bersebelahaan dan sangat dekat dengan seorang pria sehingga perasaanya menjadi sangat asing. Tapi diantara kegugupannya itu, perlahan ada perasaan nyaman yang ia rasakan. Terlebih saat Surya memperbaiki letak selimutnya tadi. Sentuhan tangan Surya memberinya sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bisa merasakan ada hawa hangat dari tangan Surya.


Jantung, jangan terlalu cepat berdetak. Aku benar-benar ingin tidur. Batin Gina.


🌸🌸🌸


Surya mengangkat tangga yang terbuat dari kayu untuk dibawa ke samping rumah. Ia baru saja selesai memperbaiki genteng yang semalam bocor. Peluhnya meleleh karena matahari mulai perlahan naik dan memberikan sensasi panas yang mulai terasa.


Gina keluar dari dapur dengan mata yang basah oleh air mata. Ia berkali-kali mengusap air matanya. Surya yang melihat itu segera meletakkan tangga yang ia bawa dan menghampiri Gina yang sekarang duduk di teras depan.


"Nona, kenapa?" Surya panik karena Gina menangis. Ia menatap Gina dekat untuk memastikan bahwa memang yang keluar dari mata Gina adalah air mata.


"Apa yang ibu katakan sampai Anda menangis seperti itu?"


"Keluarlah dari sini." Gina menirukan.


"Ibu benar-benar mengatakan itu?" Surya tidak percaya dengan pendengarannya. Gina mengangguk lagi sambil matanya masih memerah.


"Tapi kenapa ibu mengatakan itu? Apa ada masalah?" Surya sangat gelisah.


"Iya, karena air mataku tidak bisa berhenti saat mengiris bawang. Jadi ibu memintaku keluar saja menyiram bunga-bunganya." Jawab Gina santai.


"Baiklah, aku akan menyiram bunga-bunga itu." Gina berdiri untuk mengambil selang yang terhubung pada kran di samping rumah seperti tidak terjadi apa-apa. Ia juga berpura-pura untuk tidak tahu bahwa Surya sangat khawatir telah terjadi sesuatu antara istri dan ibunya. Surya bahkan sudah sempat membayangkan akan sangat kesulitan harus memihak pada siapa jika Gina dan ibunya benar-benar bertengkar. Tapi ternyata itu hanya karena Gina tidak tahan saat mengiris bawang. Ia menjadi sangat lega.


Surya benar-benar merasa sangat bodoh. Ketakutannya sangatlah tidak beralasan. Untuk masalah apa juga istri dan ibunya sampai bertengkar. Ibunya bukan tipe wanita pemarah yang suka mengusir. Beliau adalah wanita yang baik dengan hati yang lembut serta penyayang. Jadi beliau tidka mungkin berkata buruk hingga membuat orang lain terluka.


Surya tersenyum lebar melihat Gina yang sekarang menyiram bunga berwarna-warni dengan santainya. Lalu Surya masuk setelah yakin Gina memang baik-baik saja.


"Akhirnya masuk juga." Melihat Surya masuk ke dalam rumah, Gina menghela nafas lega. Semakin lama jantungnya semakin tidak bisa diajak berkompromi. Hanya melihat Surya saja jantungnya sudah melompat-lompat seenaknya sendiri. Itu sangat merepotkan Gina. Ia yakin itu pasti efek samping dari mantra pelet yang Surya tiupkan padanya. Benar-benar sulit dipercaya Gina bisa berdebar hanya karena berdekatan dengan Surya.


"Aku harus menemukan alat atau mantra pelet itu."


Bagaimana bisa pria yang sama sekali tidak pernah masuk hitungannya tiba-tiba terlihat istimewa dimatanya. Bukankah itu sangat mustahil. Mungkin karena penampilan yang diubahnya, Gina menjadi nyaman melihat Surya yang sekarang. Tapi itu tidaklah mungkin bisa sampai membuat jantung Gina berdebar secara berantakan setiap mereka beradu pandang. Entah mantra pelet apa yang Surya punya sehingga bisa membuatnya seperti itu.


Setelah yakin Surya benar-benar masuk, ia lalu mematikan kran air dan kembali duduk di teras. Menyiram bunga hanyalah alasannya untuk menghindari berdekatan dengan Surya sementara waktu ini. Semalam ia hampir selalu begadang karena tidur bersebelahan dengan Surya.


Gina membalik tubuhnya dan melihat Surya yang tertidur menghadap padanya. Ia memandang wajah Surya di keremangan lampu kamar. Wajahnya sangat tenang seperti yang biasa ia lihat. Dan pasti bibirnya akan gatal kalau tidak tersenyum memandang Surya dengan wajah damai seperti itu.

__ADS_1


Ingin sekali Gina menyentuh wajah Surya. Tapi tentu saja ia tidak ingin membuat Surya bangun dengan tindakan konyolnya itu. Kulit wajah Surya memang tidak selembut kulitnya tapi itu membuat Surya terlihat sangat maskulin dimata Gina.


Gina menghela nafas lagi dan menghembuskannya kasar. Di luar matahari mulai meninggi. Sebelumnya ia memang membantu ibu Surya di dapur. Seumur hidup baru kali ini ia memasuki dapur dengan niat awal ingin memasak. Tapi berhubung hanya dengan mengiris bawang saja air matanya sudah berderai-derai begitu, akhirnya ibu Surya menyuruhnya untuk keluar saja. Sepertinya ibu Surya tidak tega melihat mata Gina menangis seperti itu.


"Nona." Gina terjingkat mendengar suara Surya tiba-tiba di sampingnya.


"Kau mengagetkanku saja."


"Ini obat tetes mata yang bisa mendinginkan mata perih Nona."


"Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Mataku baik-baik saja hanya karena mengiris bawang."


"Siapa tahu ini bisa membuat mata Anda jadi segar."


"Tidak. Aku baik-baik saja. Kau tidak usah berlebihan. Aku bukan anak bosmu lagi sekarang. Kau adalah bosnya. Jadi jangan menjagaku seolah aku masih adalah tuan putri pemilik R-Company." Sindir Gina. Mendengar itu Surya menyunggingkan senyum dan meletakkan obat tetes mata ke atas meja di depannya.


"Lebih dari itu, sekarang Anda lebih dari sekadar putri bos saya, Nona." Gina memalingkan wajah pada Surya dan memandangnya dengan pandangan tak mengerti.


"Anda adalah istri saya." Lagi-lagi dada Gina berdesir mendengar itu.


"Jadi tanggung jawab saya akan secara penuh kepada Anda, Nona. Tidak ada orang yang lebih betanggung jawab kepada Anda selain saya."


"Ahh, kau ini selalu saja mengatakan hal itu." Gina tertawa dibuat-buat untuk mencairkan suasana yang berubah seketika.


"Kau tidak lupa kalau kita hanya berpura-pura menikah, bukan?" Bisik Gina sambil mendekatkan wajahnya pada Surya agar tidak ada yang mendengar kalimatnya.


"Tidak Nona, tapi tetap saja orang lain menganggap kita adalah pasangan suami istri. Akan sangat aneh jika saya bersikap cuek kepada Anda padahal Anda adalah istri saya. Justru itu akan menimbulkan kecurigaan." Jelas Surya.


"Hmmmm... benar juga." Gina tampak berfikir. Suasana menjadi sepi saat Gina sibuk menata debaran di dadanya dan Surya juga tidak berkata-kata lagi.


"Nona, apa yang ada di baju Anda?" Surya menunjuk krah baju Gina.


"Apa?" Gina merasa pasti ada sesuatu yang tidak ia sukai dari pandangan Surya padanya.


"Surya, ada apa?" Gina bahkan tidak berani menyentuh lehernya.


"Ada ulat, Nona."


"Ambil... cepat ambil..." Gina menahan untuk tidak bergerak agar ulat itu tidak semakin merayap kemana-mana. Surya lalu mengambil ulat itu dan melepasnya di sebuah daun di tanaman dekat ia duduk.


"Aahh, menggelikan..." Gina menutup wajahnya. Saat membukanya lagi, Surya melihat Gina menangis.


"Anda menangis, Nona?"


"Aku tidak menangis, aku hanya sedang merasa jijik."


"Tapi air mata Anda."


"Sudah ku katakan aku tidak menangis. Aku hanya tidak suka ada ulat yang seenaknya menempel padaku." Gina sesenggukan. Surya baru tahu bahwa Gina yang sangat kuat dan juga tangguh serta sangat percaya diri dalam banyak hal ternyata bisa menangis hanya karena seekor ulat yang menempel di bajunya.


"Nona..." Surya mengusap air mata di pipi Gina dengan kedua tangannya. Gina mengerjap-ngerjapkam matanya memandang Surya yang tiba-tiba menyentuh pipinya.


"Tidak apa-apa. Aku sudah membuang ulat itu. Anda tidak perlu takut lagi." Ujar Surya lembut sambil memandang dalam-dalam mata Gina yang basah. Bulu matanya yang lentik pun turut basah oleh air mata yang menggenang. Surya benar-benar tidak tahan melihat wajah Gina. Hidungnya memerah saat ia menangis.

__ADS_1


__ADS_2