
Gina menyandarkan kepalanya pada headrest sambil menarik nafas berat.
"Aku rasa aku akan mati kekenyangan." Keluh Gina. Surya tersenyum mendengarnya.
"Jadi, kau dan Papa sering makan di sana?" Mereka sudah dalam perjalanan pulang sekarang.
"Iya Nona." Surya masih berkonsentrasi dengan jalan di depannya.
"Darimana kalian tahu ada warung dengan angkringan 'segila' itu?"
"Segila itu?"
"Bagaimana tidak gila."
Saat diwarung tadi...
"Itu mereka." Tunjuk Surya pada pintu belakang warung. Gina mengikuti arah telunjuk Surya. Gina membulatkan mata saat melihat barisan penjaga warung dengan piring-piring yang mereka bawa. 5, 6 oh 7 orang membawa masing-masing 2 sampai 3 piring berisi sate-satean, gorengan dan macam-macam pepes.
Dengan cekatan tapi rapi para pelayan warung itu menata meja dengan piring-piring yang mereka bawa. Gina hanya bisa memandang dengan penuh ***** melihat menu yang terpampang di depannya.
Meja sudah penuh dengan aneka angkringan dan juga sebakul nasi. Tidak lupa setoples kerupuk pertulo beraroma bawang. Para pelayan warung sudah kembali ke dalam warung. Mereka benar-benar merasa menjadi pengunjung VIP dilayani sedemikian rupa.
"Biasanya kau juga dilayani begini?" Tanya Gina sambil menunggu Surya menyendokkan nasi ke dalam piring.
"Tidak juga Nona. Saat saya dan Papa ke sini tidak seramai ini." Jawab Surya sambil meletakkan sepiring nasi di hadapan Gina. Gina melihatnya sekilas dan baru sadar jika Surya mengambilkan untuknya.
"Tapi mungkin karena itu siang hari jadi angkringan tidak seramai ini." Gina manggut-manggut mendengar penjelasan Surya. Dan selanjutnya tanpa banyak kata Gina segera meraih sate ayam dan sate telur puyuh untuk dipindahkan ke atas piringnya. Ia makan dengan sangat lahap. Entah karena ia memang lapar atau karena rasa masakannya yang enak, Gina seperti tidak ingin berhenti makan dan ingin mencoba semua makanan yang disediakan.
Akhirnya dua piring nasi dan berbagai sate-satean sudah berhasil Gina taklukkan. Es cendol juga sudah ia minum habis tak bersisa.
"Masakan di sini enak. Pantas saja banyak sekali yang mengantri."
"Iya Nona, itulah kenapa saya dan Papa berlangganan di sini."
"Dari mana kau tahu ada makanan enak di sini?" Ulang Gina karena pertanyaannya tadi belum dijawab oleh Surya.
"Dari... ahh iya, dari salah satu kolega kami waktu itu. Lalu saya penasaran apa memang seenak itu rasanya. Dan setelah saya cicipi sendiri ternyata memang benar enak."
"Kau tahu, angkringan di sini membuatku rindu Jogja." Ujar Gina yang berbanding terbalik dengan sikapnya di awal tadi bahwa ia tidak suka makanan kaki lima. Padahal rata-rata angkringan di Jogja juga dijual di lesehan kaki lima.
"Apa sebaiknya kita pergi ke Jogja, Nona?"
"Untuk apa?" Tanya Gina heran.
"Baru saja Anda mengatakan sedang merindukan ke Jogja."
"Ya Tuhan, Surya... kalau aku mengatakan aku rindu Jogja itu bukan berarti aku benar-benar ingin ke sana. Kau ini kenapa cepat tanggap sekali."
"Iya, maaf Nona."
"Aku ini bukan Papa yang harus kau layani seperti raja. Bahkan Papa belum mengutarakan maksudnya saja kau sudah menyediakan segala hal untuknya." Omel Gina.
"Iya Nona, itu seperti menjadi kebiasaan saya."
"Wah... kau mengalami Ranggasindrom."
"Ranggasindrom?" Surya mengerutkan kening karena kalimat Gina sangat aneh.
"Sindrom yang kau selalu berlaku seperti yang Papa inginkan." Mendengar itu Surya tertawa kecil.
"Papa adalah bos saya, Nona. Saya harus selalu melakukan yang terbaik untuknya."
"Tapi kau hanyalah seorang pegawai, bukan budak. Jadi rasanya sangat aneh melihatmu melakukan banyak hal untuk Papa."
"Saya hanya menjalankan tugas, Nona."
"Ahh, kau ini memang Ranggaholic." Satu lagi julukan lucu yang Gina ucapkan untuknya. Surya tersenyum menanggapi itu.
Acara makan sudah selesai, Surya mengajak Gina untuk meninggalkan tempat itu. Memasuki warung kembali dan Surya sedang membayar makanan mereka. Gina menunggu tidak jauh dari tempat Surya membayar.
__ADS_1
"Gina?" Seorang wanita menyapanya. Gina mendongak dari arahnya menekuni ponsel.
"Oh, hai Monica." Ekspresi Gina datar. Itu sikap Gina bila bertemu orang yang tidak ingin ia temui.
"Aku berfikir kau mungkin sudah lupa kepadaku."
"Sebenarnya aku bisa saja lupa tapi kita ada di satu grup obrolan alumni jadi mana aku punya kesempatan untuk lupa." Jelas Gina.
"Oh iya, terima kasih sudah membagi foto acara pernikahanku waktu itu. Aku bahkan tidak sempat membaginya tapi kau dengan baik hati memberitahukan kepada semua orang bahwa pestaku di guyur hujan." Nada suara Gina santai tapi bernada sinis.
"Ahh iya, aku merasa perlu membaginya karena kau adalah ratu sekolah kita, bukan. Jadi berita apapun tentangmu masih sangat diminati."
"Benar, aku lupa akan hal itu. Aku adalah ratunya. Dan semua yang ada pada diriku sangat menarik untuk diperbincangkan." Gina mengiyakan ucapan Monica.
"Dan sejak waktu itu kau juga selalu ingin menjadi sepertiku tapi sayangnya tidak juga bisa." Gina tertawa tapi dengan nada mengejek. Tampak wajah Monica memerah menahan marah.
Mereka memang tidak akur sejak SMA sehingga sering terlibat ketegangan saat bertemu. Gina berfikir Monica selalu ikut campur tentang urusannya. Selalu mengawasi agar bisa menjatuhkan Gina. Gina tidak tahu bagaimana awalnya, tapi seingatnya sejak mereka SMA Monica memang selalu tidak suka kepadanya dan Gina tidak pernah tahu apa penyebabnya.
"Ngomong-ngomong, ratu sepertimu juga makan di warung seperti ini? Bukankah ini bukan levelmu? Atau... kau sudah turun level sekarang?"
"Mmm... mungkin levelku turun. Tapi apa bedanya denganmu? Kau juga makan di tempat ini."
"Kalau aku memang tidak begitu pilih-pilih sepertimu. Aku bukan seidealis dirimu."
"Lagipula kita memang tetap selalu memiliki level yang berbeda. Sampai kapan pun. Jadi jangan berharap kita bisa berada di satu level yang sama, apalagi aku ada dibawahmu, itu sangat mustahil." Ucap Gina dengan senyum di salah satu sudut bibirnya. Monica memutar bola matanya malas.
"Kau tahu, aku bahkan tidak perlu berada dalam antrian panjang sepertimu untuk bisa makan di sini. Aku adalah pengunjung VIP. Ketika aku masuk, aku langsung mendapat pelayanan terbaik."
"Dasar mulut besar." Cibir Monica.
"Mas... mas... kemarilah." Gina memanggil salah seorang pelayan warung yang tadi melayaninya.
"Apa saya harus mengantri dulu saat makan disini?" Saking inginnya Monica tahu apa yang dikatakannya benar, Gina sampai meminta seorang pelayan datang padanya.
"Tidak Nona, Anda langsung mendapatkan tempat tadi." Jawab pelayan itu jujur.
"See..." Gina tersenyum senang melihat Monica merasa kalah lagi atas Gina.
"Ahh iya, bukankah dia suamimu?" Monica menunjuk Surya yang masih menunggu di meja kasir. Gina tahu hal apa lagi yang akan Monica angkat dari arah pembicaraannya.
"Iya, benar." Jawab Gina singkat dan masih tetap tenang.
"Sebagai seorang ratu yang pacarnya banyak kenapa hanya seperti itu saja suamimu. Wajahnya terlalu biasa, apalagi penampilannya." Cibir Monica. Dan kali ini ia berhasil membuat Gina hampir tidak bisa berkata.
"Oh, tentang itu. Kau harusnya tahu bahwa penampilan fisik bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana dia bisa membuatmu jatuh cinta setiap saat."
"Benarkah?"
"Ya. Lagipula dia memang sedang suka berpenampilan retro. Aku sedang ingin melihatnya dengan gaya itu."
"Ahh, aku benar-benar hampir tidak percaya kau ingin suamimu berpenampilan kampungan seperti itu."
"Dia suamiku, jadi itu semua terserah bagiku. Aku yang akan menikmati penampilannya. Bukan orang lain apalagi kau."
"Ayo." Surya sudah ada di samping Gina.
"Ayo, Sayang." Gina melingkarkan tangannya ke lengan Surya. Surya yang mendapat perlakukan tidak biasa itu jadi kaget. Tapi ia segera bisa membaca situasi dan mencoba beradaptasi. Ia sapa Monica dengan tersenyum padanya.
"Mari kita pulang. Kita adalah pengantin baru jadi mari kita habiskan banyak waktu di rumah saja." Gina menarik Surya untuk pergi dari tempat itu.
Mobil Surya masih membelah jalan raya. Mengingat pertemuannya dengan Monica ia jadi mempunyai ide.
"Surya, akhir pekan ini apapun acaramu, batalkan." Perintah Gina.
"Ada apa, Nona?" Tanya Surya heran.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat denganmu." Surya merasa jangan-jangan angkringan tadi beracun sehingga membuat Gina bersikap aneh. Setelah menggandeng lengannya dan memanggilnya sayang, sekarang Gina malah ingin pergi dengannya akhir pekan besok.
"Tapi saya memiliki jadwal melakukan kunjungan ke proyek homestore baru kita, Nona."
__ADS_1
"Batalkan. Kau bisa mengunjunginya lain kali."
"Baik Nona." Jawab Surya patuh.
"Tapi akan kemana kita pergi?"
"Nanti kau akan tahu."
🌸🌸🌸
Hanna berjalan menelusuri lorong menuju ruangan Gina. Saat membuka pintu tidak ada siapapun. Tapi Hanna melihat tas Gina ada di atas meja kerjanya. Entah pergi kemana pemiliknya.
"Hai Hanna. Kau sudah datang." Sapa Gina memasuki ruangannya dan langsung menuju kursi kerjanya.
"Iya, Nona."
"Kau tahu, beberapa hari ini aku datang sangat pagi, bukan."
"Iya Nona. Itu baik sekali." Jawab Hanna masih berdiri di depan meja Gina.
"Baik apanya. Ini terlalu pagi untuk bekerja." Hanna mengerjapkan matanya beberapa kali sambil mencerna ucapan Gina.
"Maaf, Nona."
"Aku tidak bisa menyetir lagi sekarang."
"Kenapa, Nona?"
Pagi hari di rumah Gina beberapa hari yang lalu...
Gina belum menyelesaikan sarapannya. Pak Rangga juga masih menikmati nasi goreng yang enak itu.
"Surya, mulai hari ini kau akan ke kantor bersama Gina." Ucapan Pak Rangga berhasil membuat Gina tersedak seketika. Surya yang ada di sebelahnya dengan sigap menyodorkan segelas air putih kepada Gina.
"Papa, kenapa aku harus bersama Surya? Aku memiliki mobilku sendiri." Alasan Gina.
"Oh ya? Tapi mulai hari ini kau tidak bisa mengendarainya."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah menjualnya."
"Apa?!?! Menjualnya?!?!" Gina sampai melotot mendengar kalimat papanya yang bernada santai itu.
"Papa tidak enak badan?" Sindir Gina
"Tidak, aku sehat."
"Lalu kenapa melakukan ini?"
"Aku pikir kalau kalian bisa pergi kemana-mana bersama kenapa kau harus punya mobil sendiri."
"Papaaaaa..." Gina mulai terbakar emosi.
"Lagipula mobil itu dibeli dengan uangku. Jadi aku bisa menjualnya kapanpun aku mau." Pak Rangga masih sesantai biasanya. Wajah merah padam putrinya tidak mempengaruhinya sama sekali.
"Apa???" Gina tidak habis fikir dengan yang dikatakan papanya.
"Sejak kapan Papa sepelit ini?"
"Sejak aku memecat diriku sendiri dari R-Company. Aku merasa jiwa hematku terpanggil agar hari tuaku tetap terjamin." Jelas Pak Rangga.
"Sekarang aku adalah pria tua yang sudah pensiun. Aku sudah menyerahkan perusahaanku pada menantu dan anak perempuanku. Sehingga tdak bekerja membuatku harus pandai-pandai mengatur aset-asetku." Lanjutnya.
"Aku juga bukan orang tua yang selalu bergantung pada anaknya. Terutama dalam hal finansial. Jadi..."
"Sudah cukup, Pa. Jadi katakan saja Papa ingin aku kemana-mana dengan Surya. Papa tidak usah membuat alasan yang terlalu dibuat-buat seperti itu." Gina meninggalkan meja makan dan keluar dari rumah itu. Pak Rangga memandang Gina dengan senyumnya yang mengembang. Niatnya sudah terbaca oleh Gina. Ia merasa telah ketahuan. Tapi itu tidak menjadi masalah untuknya. Karena tujuan utamanya menjual mobil Gina memang ingin mendekatkan putrinya itu dengan suaminya.
"Wah, pasti sangat menyenangkan pengantin baru kemana-mana selalu bersama." Hanna menggoda Gina.
__ADS_1
"Menyenangkan apanya."