Tahta Surya

Tahta Surya
Angkringan Rejo


__ADS_3

Gina memperlambat laju mobilnya serta pandangannya menuju ke luar cendela saat melintasi warung angkringan yang pernah didatanginya. Warung itu memang selalu ramai, sama seperti saat ia datang bersama Surya waktu itu. Ia menjadi rindu angkringan itu karena melihat akun sosial media Angkringan rejo dari ponselnya tadi.


Mengingat itu, Gina merasa semuanya menjadi masuk akal. Ketika Surya datang, semua pegawai tampak hormat kepadanya. Ternyata benar, itu karena Surya lebih dari sekadar tamu VIP. Dia adalah sang pemilik warung. Dan bisa-bisanya Surya merahasiakan semua itu darinya. Berpura-pura bahwa ia adalah pengunjung, bukan sebagai bos di warungnya. Surya memang pandai sekali menyembunyikan hal seperti itu.


Saat ini, sebenarnya Gina ingin turun dan makan di sana tapi ia tidak ingin Surya melihatnya datang dan berfikir yang tidak-tidak tentangnya. Melihat orang-orang yang sedang menikmati angkringan dan nasi kucing di dalam sana, membuat Gina semakin ingin memasuki warung. Tapi kemudian ia memiliki ide. Ia ambil ponsel di dalam tasnya dan membuka aplikasi pemesanan makanan online. Persis seperti perkiraannya, warung seterkenal milik Surya pasti sudah terdaftar di dalam aplikasi pemesanan online. Tanpa pikir panjang, Gina lalu memesan angkringan melalui aplikasi lalu melajukan mobilnya kembali untuk pulang.


Gina sedang memasuki halaman rumahnya. Ia yakin sebentar lagi seorang driver akan mengantar pesanannya ke rumah sehingga ia tidak langsung masuk ke dalam rumah tapi menunggu di teras. Dan benar, tak berapa lama kemudian, seorang pengendara motor berhenti di depan pagar rumahnya. Seorang security menanyainya dan ketika akan menuju rumah, ia melihat Gina ada di sana yang lalu memberi kode untuk membiarkan driver itu masuk.


Tiga kotak angkringan aneka sate-satean sudah ada di tangannya sekarang. Gina lalu masuk membawa pesanannya itu dan meletakkannya di atas meja makan. Kemudian ia menuju ke dapur untuk mencuci tangan lalu membuka semua kotak itu. Aroma masakan khas angkringan segera tercium oleh indra pembaunya. Sedap sekali.


Gina mulai membuka nasi kucing dan meletakkan di atas piring. Ia menyuapkan ke dalam mulutnya dan lidahnya segera memuji betapa nikmatnya makanan yang Gina masukkan ke dalam mulutnya itu. Sambal yang disediakan pun Gina letakkan di atas piring. Sesekali ia mencolekkan sate-satean itu di atas sambal yang rasanya tidak begitu pedas, tapi gurih, manis, masam dari tomat menyatu dalam setiap colekannya.


Disaat Gina masih asyik dengan makan malamnya yang hanya sendiri saja, Pak Rangga datang memasuki ruang makan.


"Kau baru datang?" Tanya Pak Rangga kepada Gina yang menyuapkan nasinya hanya memakai tangan.


"Hmm..." Gina tidak bisa berbicara dengan benar karena mulutnya penuh dengan makanan.


Pak Rangga tersenyum melihat tingkah putrinya yang memang senang sekali makan. Ia lalu duduk di kursi seberang Gina duduk.


"Angkringan Rejo?" Pak Rangga menatap nama merk diatas kotak pembungkusnya. Gina menghentikan suapannya dan menatap Papanya. Gina tahu sepertinya Papanya tahu nama itu.


"Kau dari Angkringan Rejo?"


"Papa tahu aku tidak mungkin melakukan itu." Jawab Gina lalu melanjutkan makannya.


Pak Rangga menatap Gina dalam-dalam. Gina makan dengan lahap seperti sedang kelaparan. Entah memang sedang lapar, atau karena itu makanan kesukaanya atau karena alasan lain, tapi Gina sangat antusias dengan makanannya. Pak Rangga pun jadi penasaran ingin mencicipi sate telur puyuh. Tapi belum sampai tangannya menyentuh tusuk sate telur puyuh, Gina sudah menarik kotak pembungkusnya. Pak Rangga mengangkat alis memandang putrinya.


"Papa, jangan makan itu. Telur puyuh mengandung protein tinggi, itu bisa meningkatkan kolesterol Papa."


"Mana mungkin, hanya satu tusuk saja."


"Tidak, Papa harus taat apa kata dokter."


"Dokter sedang tidak ada di sini."


"Bagaimanapun juga, Papa harus selalu menjag kesehatan."


"Hei, itu hanya 5 butir telur puyuh."


"5 butir telur puyuh ini mengandung 6 gram protein yang sama dengan sebutir telur ayam. Dan aku yakin Papa tidak akan berhenti dengan hanya satu tusuk telur puyuh saja. Papa pasti akan makan lagi, lagi dan lagi." Bujuk Gina.


"Hmm... katakan saja kau tidak ingin berbagi denganku." Pak Rangga cemberut. Gina lalu tertawa.


"Baiklah, aku akan memesan sendiri. Jika aku menghubungi Surya secara langsung, dia pasti akan memberiku secara gratis berapapun itu jumlahnya. Apalagi kalau ku katakan kau tidak ingin berbagi sate telur puyuh angkringan miliknya denganku. Dia pasti akan memberiku porsi ganda sebagai bonusnya." Pak Rangga pura-pura menatap layar ponselnya.


"Tidak, jangan." Sahut Gina cepat.


"Ini untuk Papa." Gina mendorong kotak berisi angkringan itu ke depan Papanya yang masih duduk di seberangnya.

__ADS_1


"Tidak, aku akan memesan sendiri saja."


"Papa jangan mengancamku seperti itu. Sudah makan saja semua yang Papa mau." Gina menyuapkan lagi nasinya dengan wajah cemberut karena melihat gelagat Papanya yang sepertinya mengancam begitu. Sedangkan melihat sikap Gina seperti itu, Pak Rangga menahan tertawanya.


Pak Rangga menggunakan cara itu karena ia yakin Gina tidak mau Surya tahu dia sedang makan makanan dari warung Surya. Dan benar, berhasil. Gina segera memberikan semua aneka sate-satean itu kepadanya.


"Surya memang memiliki bakat yang luar biasa dalam berbisnis. Tidak hanya R-Company. Bahkan dia bisa mengembangkan warung angkringannya dengan sangat baik." Ujar Pak Rangga. Gina pura-pura tidak memperhatikan perkataan Papanya dengan menyibukkan diri menikmati isi piring di hadapannya.


"Ketika dia mulai membuka usaha warungnya, aku tidak yakin itu akan berjalan dengan baik mengingat kesibukannya bersamaku. Tapi dia seperti robot yang tidak pernah lelah bekerja. Kebiasaannya bekerja keras sejak kecil membuatnya terbiasa melakukan kesibukan diluar kebiasaan orang lain." Lanjut Pak Rangga.


"Dia memang orang yang sangat tahu cara membalas budi kepada orang tua yang telah membesarkannya sejak kecil membuatnya berusaha sangat keras untuk membayarnya. Dan hingga saat ini Surya merasa itu tidak pernah cukup memberikan apapun kepada orang tuanya. Dia memang jauh lebih baik dari anak kandung manapun."


"Anak kandung?" Awalnya Gina tidak terpengaruh dengan kalimat-kalimat Papanya dan tetap pura-pura tidak memperhatikan tapi kalimat terakhir yang diucapkan Pak Rangga membuatnya reflek menanyakan hal itu.


"Ya, walaupun dia hanya anak angkat, tapi Surya jauh lebih peduli kepada orang tuanya dari pada kau yang anak kandungku."


"Sebentar, maksud Papa..." Gina tidak melanjutkan kalimatnya dan berharap Pak Rangga bisa memberi penjelasan.


Waktu itu Pak Rangga meminta izin orang tua Surya untuk membawanya ke kota, membiayai sekolahnya dan berjanji akan memberikan pekerjaan karena merasa berhutang telah mencoba menyelamatkan putranya, Roby.


"Apakah Anda benar-benar akan membantunya?" Tanya Bu Maryam yang duduk di ruang tamu bersebalahan dengan Pak Wiro, suaminya.


"Tentu saja, Bu. Aku akan membiayai kuliahnya dan memberinya pekerjaan yang layak. Aku akan menjaganya seperti aku menjaga anakku sendiri."


"Benarkah?" Bu Maryam ingin memastikan.


"Surya adalah anak kami satu-satunya. Kami tidak ingin dia pergi jauh-jauh, Pak. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau Surya tidak kembali. Saya tidak mau kehilangan anak kami."


"Kami tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali Surya. Kami bersyukur Tuhan memberikan kami anak sebaik Surya. Meskipun tidak mengandungnya, tapi sejak bayi kami merawatnya." Pak Rangga terkesiap mendengar penuturan Bu Maryam. Tapi ia tidak menanyakan apapun tentang apa yang diucapkan oleh Ibu Surya itu.


"Jadi, saya berharap Anda tidak membuatnya melupakan kami jika Surya telah mendapatkan kehidupan yang baik di kota."


"Tidak Bu, saya akan menjadikan Surya seperti anakku tapi dia akan tetap menjadi anak Bapak dan Ibu. Saya akan memastikan itu." Ujar Pak Rangga yang akhirnya benar-benar ia tepati.


Pak Rangga adalah orang yang selalu mengingatkan Surya ditengah kesibukannya untuk sering-sering menelepon orang tuanya di kampung walau hanya sekadar menanyakan kabar mereka. Pak Rangga tahu bagaimana rasanya kehilangan anak, sehingga ia tidak akan membiarkan orang tua Surya merasakan apa yang ia rasakan juga walaupun dengan cara yang berbeda.


Gina manggut-manggut mendengar cerita Pak Rangga yang mengatakan padanya bahwa Surya adalah seorang bayi yang Pak Wiro temukan di tepi jalan raya saat dini hari ia pergi mengambil air di sungai. Bayi laki-laki yang diletakkan di dalam sebuah keranjang hanya ditutupi selimut itu menangis karena kelaparan dan kedinginan. Pak Wiro membawanya ke rumah kepala desa setempat untuk melaporkan penemuannya. Kepala desa pun telah melaporkan kepada polisi tapi berdasarkan spekulasi pihak berwenang, bayi itu memang sengaja dibuang oleh orang tuanya entah dengan alasan apa. Sehingga Pak Wiro dan Bu Maryam yang merasa iba pun merawatnya. Kebetulan mereka juga tidak dikaruniai anak sejak belasan tahun menikah sehingga kehadiran Surya di tengah-tengah mereka sangat mereka syukuri. Oleh karena itu Pak Wiro memberi nama Surya pada bayi laki-laki itu karena Surya seperti matahari yang mencerahkan kehidupan mereka.


Dari apa yang Papanya ceritakan itu akhirnya Gina menarik garis bahwa Surya adalah orang yang mudah sekali melakukan kebaikan tidak hanya karena ajaran orang tuanya tapi juga karena dirinya yang malang kini menjadi orang yang berguna berkat orang tua yang merawatnya dan menyayanginya hingga saat ini. Gina pun ingat bagaimana Surya sangat peduli pada anak-anak di panti asuhan Rumah Gina. Mungkin ia tahu bagaimana rasanya tidak pernah tahu siapa orang tuanya sehingga ia ingin berbagi kasih kepada anak-anak itu seperti apa yang telah orang tuanya lakukan padanya.


🌸🌸🌸


Sore ini Gina mengendarai mobilnya dengan santai. Dengan tumpukan kotak berisi makanan yang ia letakkan di dalam bagasi, akhirnya Gina sampai di tempat yang ia tuju. Rumah Gina. Ini memang bukan kali pertama ia datang ke panti asuhan ini. Pertama kali memang saat Surya mengajaknya. Tapi suatu ketika setelah berpisah dengan Surya, Gina merasa sangat kacau dan kesepian, lalu saat berkendara tanpa arah tiba-tiba ia berjalan di dekat Rumah Gina lalu berkat acara diluar rencana itu, Gina akhirnya datang ke panti. Setelah berada di sana ternyata anak-anak itu cukup bisa membuatnya merasa terhibur. Bermain bersama anak-anak panti membuat Gina bisa sedikit melepaskan bebannya.


Setelah itu beberapa kali Gina pun bermain ke Rumah Gina. Dan setiap kedatangannya tentu saja ia tidak pernah datang dengan tangan hampa. Gina selalu membawakan sembako dan juga makanan dan camilan-camilan untuk anak-anak. Ia melakukan sama seperti yang Surya lakukan. Seperti sore ini, Gina datang membawa makanan untuk anak-anak Rumah Gina. Sudah terbayang di kepala Gina bagaimana anak-anak panti sangat senang melihatnya datang seperti biasanya.


Gina menghentikan mobilnya di halaman Rumah Gina. Baru saja ia membuka pintu beberapa anak yang sedang bermain di teras rumah segera berhamburan menyambutnya sambil memanggil namanya. Gina yang melihat itu tersenyum lebar menunggu kedatangan mereka.


"Kak Gina, kenapa lama sekali tidak datang kemari?" Tanya seorang anak perempuan berkepang dua itu.

__ADS_1


"Apakah 2 minggu itu lama?" Tanya Gina ramah dengan dikerubuti beberapa anak.


"Tentu saja. Itu lamaaaaa sekali." Gadis berusia 5 tahun itu sangat lucu saat berceloteh kepadanya.


"Baiklah, maafkan aku. Aku sangat sibuk sehingga baru datang lagi sekarang." Gina mencubit pelan pipi gadis itu.


"Doakan aku sehat selalu dan juga pekerjaanku baik-baik saja agar aku bisa sering-sering kemari bermain dengan kalian."


"Iya, Kak..." Jawab sebuah suara pria dewasa. Itu membuat Gina memandang ke arah pria yang sepertinya keluar dari dalam Rumah Gina dan sedang berjalan ke arahnya sekarang.


Gina terpaku di tempatnya dengan bibir yang terkatup rapat. Surya memamerkan senyumnya sambil terus melangkah semakin dekat. Senyum yang bahkan saat melihatnya secara langsung seperti ini selalu membuat Gina merasa rindu.


"Anda datang kemari, Nona?" Surya sudah ada di depannya sekarang. Anak-anak di sekitar Gina tampak memberi tempat pada Surya untuk semakin dekat dengan Gina.


"Ya." Jawab Gina singkat karena ia tidak mau Surya tahu dirinya sedang grogi sekarang.


"Oh, iya. Adik-adik... aku membawa sesuatu untuk kalian. Bantu aku membawanya masuk ya." Ujar Gina mengalihkan perhatian Surya serta untuk menghindari suasana canggung itu. Semua anak bersorak gembira mendengar penuturan Gina.


Gina lalu membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan kardus-kardus berisi makanan ringan. Beberapa anak turut membantu untuk barang-barang yang ringan dan membawanya masuk ke dalam panti.


Surya bermaksud ikut membantu saat Gina mulai mengangkat kotak makanan yang dikemas ke dalam kantong plastik berukuran besar dan berisi lebih dari 10 kotak setiap kemasannya.


"Tidak usah, biarkan aku saja." Larang Gina saat Surya mengangkat salah satu kantong plastik.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya senang Anda memesan dalam jumlah banyak angkringan ini di tempat kami." Surya tersenyum kepada Gina yang wajahnya menjadi pucat sejak tadi karena pasti akan ketahuan memesan makanan angkringan Rejo milik Surya.


"Pilihan yang tepat Anda memilih Angkringan Rejo untuk menu makan malam kita semua di sini."


"Aku tidak tahu kau ada di sini jadi tidak ada bagian untukmu." Jawab Gina cuek sambil berjalan membawa masuk kotak-kotak berisi angkringan.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya punya banyak di warung." Surya mulai berkelajar.


Gina memalingkan wajahnya mengutuki dirinya yang sedang sial kali ini. Bagaimana bisa ia berkunjung di waktu yang bersamaan dengan Surya yang datang ke Rumah Gina. Ditambah lagi ia membawa Angkringan dari warung Surya, itu pasti membuat Surya merasa Gina masih selalu mencari tahu tentang dirinya. Walaupun memang benar sejak tahu Surya adalah pemilik Angringan Rejo, Gina hanya akan makan angkringan di tempat itu, walaupun membelinya lewat aplikasi pemesanan makanan secara online, tapi Gina berusaha agar tidak pernah tertangkap basah seperti ini. Rasanya benar-benar sangat canggung bertemu dengan Surya begini.


Semua anak sedang menikmati makan malam mereka dengan menu spesial Angkringan Rejo di ruang makan bermeja panjang yang mampu memuat semua anak untuk makan bersama. Sedangkan Gina dan Surya juga ada di sana menyaksikan mereka dengan sekotak angkringan yang sedang dihadapi. Wajah Gina cemberut menatap Surya yang justru tersenyum kepadanya.


"Kau sendiri yang mengatakan punya banyak angkringan di warungmu, tetapi kenapa sekarang kau malah menginginkan milikku?" Ujar Gina kesal karena saat Bu Wati menawari Surya angkringan miliknya, Surya malah mengatakan Gina akan berbagi dengannya. Dan tentu saja ungkapan mengada-ada Surya itu membuat Gina menjadi kesal karena hanya bisa mengiyakannya.


"Semua orang makan malam, jadi saya rasa tidak baik kalau saya hanya menjadi penonton saja."


"Dasar kau sangat plin-plan." Gerutu Gina sambil membuka kotaknya. Ia mulai membuka nasi kucing berbalut daun pisang di dalamnya lalu menyuapkan sedikit setelah ia sertakan sambal sambil menggigit sate telur puyuh kesukaannya.


Lagi-lagi Surya tersenyum melihat Gina makan dengan lahap seperti itu. Seumur hidupnya ia tidak pernah menemukan wanita yang tidak pernah bisa menolak makanan seperti Gina. Ia memakan segala menu dan tidak menjaga penampilannya sama sekali saat makan. Jika makanan itu harus disantap dengan tangan, maka Gina tidak akan segan melakukannya. Itu adalah salah satu daya tarik Gina di mata Surya.


"Kau tidak mau makan?" Tanya Gina yang melihat Surya hanya bengong, bukannya menyuapkan makanannya.


"Tentu saja mau, Nona."


"Lalu kenapa bengong? Kau tahu bukan bagaimana kalau aku makan? Kau akan tertinggal dariku."

__ADS_1


"Bagaimana kalau Anda menyuapi saya? Tangan saya teriris tadi saat mengupas bawang di dapur warung." Ujar Surya sambil menunjukkan jari telunjuk di tangan kirinya yang berplester. Gina berhenti mengunyah dan mencerna ucapan Surya. Berfikir apakah dia sedang tidak waras hingga mengatakan hal itu padanya.


__ADS_2