
Hari sudah gelap. Hujan sudah mulai reda. Tidak ada lagi angin kencang. Yang tersisa sekarang hanya gerimis yang masih merata.
Surya duduk dengan menyangga Gina yang ada di pundaknya. Gina tampak tenang sekali tertidur. Awanya Gina hanya ingin bersandar saja di bahu Surya. Tapi menikmati begitu nyaman ia bersandar disana, lama-lama ia tertidur juga. Surya yang sedang berbicara sampai tidak mendapat perhatiannya lagi.
"Surya, tanganmu kasar." Gina meraba tangan Surya didalam genggamannya sesaat setelah Gina meletakkan kepalanya di bahu Surya tadi.
"Padahal kau baru saja memegang cangkul. Kenapa sejak dulu tanganmu sudah kasar begini?"
"Itu karena saya memiliki jenis kulit yang kering, Nona. Jadi telapak tangan saya menjadi kasar"
"Oh begitu?" Surya mengangguk sambil tersenyum.
"Kau sejak kecil tinggal di sini. Kau pasti mengenal semua sudut kampung ini."
"Tidak hanya kampung ini, Nona. Saya bahkan tahu segala penjuru hingga dikampung sebelah."
"Oh ya? Memangnya kau tukang sensus penduduk?"
"Bukan Nona. Saat kecil saya suka bermain sampai ke semua tempat. Sawah, sungai, kebun, bahkan juga kampung sebelah."
"Kau suka berpetualang?"
"Ya. Saya suka berenang sampai rambut saya kemerahan. Sampai bibir saya membiru dan menggigil. Mencari ikan saat airnya mulai mengering. Bermain layang-layang saat matahari berada tepat diatas kepala. Bersepeda di jalan berbatu. Banyak sekali hal-hal ekstrim yang saya lakukan bersama teman-teman saya."
"Juga bersama Dinda?"
"Ya, beberapa hal kami lakukan bersama. Tapi ada hal-hal yang tidak ia lakukan. Bermain yang bisa membuat pakaiannya kotor. Ibunya akan memarahinya habis-habisan kalau sampai Dinda melakukan itu. Sebenarnya dia termasuk anak rumahan waktu itu. Bapaknya yang kepala desa membuat ia harus juga sering menjaga diri. Ia tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa membuat bapaknya malu."
"Tapi dia bercerita bahwa pernah mencuri jambu denganmu."
"Itu adalah hal konyol yang dilakukan pertama sekaligus terakhir kali olehnya. Dirumah ia mendapat omelan ibunya dan setelah itu ia tidak berani lagi melakukannya."
"Hmmm... sepertinya sangat menyenangkan bisa melakukan banyak hal saat kecil sepertimu."
"Iya Nona, itu membuat saya merasa tidak melewatkan apapun dalam masa kanak-kanak saya."
"Aku jadi iri." Keluh Gina.
"Sejak kecil aku selalu dikawal oleh orang-orang Papa. Bahkan sampai sebesar ini pun aku masih mendapat pengawasannya."
"Itu karena Papa sangat menyanyai Anda, Nona. Sehingga beliau menjadi se-protective itu."
"Hhmm... memang benar seperti itu atau karena Papa tidak ingin aku bertingkah sehingga membuatnya malu."
"Saya rasa sejauh saya mengenal beliau, beliau sangat perhatian kepada Anda."
"Kau selalu membantuku untuk berfikiran positif. Apa kau tidak pernah membenci seseorang?"
"Tentu saja pernah, Nona."
"Oh ya?" Gina mendongak menatap Surya. Wajah Surya serius. Gina merasa apa yang dikatakan oleh Surya memang benar.
"Dulu ku pikir kau ini manusia robot yang selalu patuh dan juga tidak memiliki emosi." Mendengar itu Surya tertawa kecil.
"Itu karena Anda tidak mengenal saya, Nona."
__ADS_1
"Kau benar. Aku hanya tahu kau asisten Papa yang sangat penurut, melakukan semua yang Papa perintahkan." Gina mengungkapkan isi kepalanya kepada Surya.
"Apa kau pernah merasa jenuh dengan pekerjaanmu yang harus selalu mengikuti apa kata Papa?"
"Jenuh dalam bekerja selalu ada, Nona. Tapi jenuh dengan semua perintah tidak terfikirkan oleh saya karena Papa memberi saya gaji yang sangat pantas."
"Oh iya, dasar kau pria mata duitan. Kau bahkan mengorbankan waktumu untuk gaji besar itu." Ucap Gina sambil menatap siluet wajah Surya didalam keremangan lampu gudang.
"Apa kau adalah pria materialistis?"
"Tidak Nona, seperti kebanyakan orang saya tahu ada diposisi mana. Saya adalah pria yang realistis. Saya bercita-cita ingin memberikan Bapak dan Ibu apa yang mereka tidak punya dulu. Jadi saya harus bekerja keras mengumpulkan uang agar bisa membeli tanah dan sawah untuk Bapak dan Ibu."
"Hanya itu?"
"Ya."
"Ahh, kau benar-benar anak yang berbakti kepada orang tua. Aku salut padamu." Gina menguap setelah mengucapkan kalimat itu.
"Lalu, menikah denganku? Kau pasti tahu persis bagaimana sifat dan sikapku secara kau adalah mata-mata yang dikirim Papa langsung untuk selalu mengawasiku. Yang aku tidak habis fikir apa kau juga menganggap ini hanyalah bisnis?" Mendengar itu Surya diam. Ia palingkan wajahnya kepada Gina yang juga memandangnya.
"Seperti yang pernah saya katakan kepada Anda di awal kita akan memulai ini bahwa saya sudah menandatangani kontrak untuk selalu patuh pada Papa, Nona."
"Iya aku ingat. Tapi menikah adalah sesuatu yang sangat penting dalam fase hidup setiap orang. Dan kau mau menikah denganku demi keuntunganku saja begitu?" Gina mulai penasaran dengan Surya.
"Kau tahu bukan, setelah Papa memberikan R-Company padaku maka hubungan pernikahan kita akan berakhir begitu saja."
"Iya Nona, jika memang itu adalah tugas saya, semua akan tetap saya jalani."
"Wah, kau adalah pria berhati batu. Aku tahu kenapa Papa memaksaku untuk menikah denganmu. Kau hampir sebanding denganku dalam hal ini. Ya, kita sama-sama orang dengan hati baja yang tidak peduli apa kata orang lain asal keinginan kita tercapai." Surya hanya tersenyum mendengar semua asumsi Gina.
"Baiklah, mari kita jalani simbiosis mutualisme diantara kita. Aku mendapatkan R-Company, kau mendapatkan gaji yang sangat besar jumlahnya untuk ini."
Entah kenapa tiba-tiba ada sedikit rasa kecewa dihati Gina saat Surya mengiyakan semua yg dikatakan olehnya. Itu seperti bukan yang sebenarnya ingin Gina dengar.
"Surya, kau pernah jatuh cinta?" Begitu saja kalimat itu terlontar pada Surya karena penasaran bagaimana Surya bisa sangat santai menjalani pernikahan palsu ini. Apa dia tidak memiliki orang yang ia sukai sehingga bisa mengiyakan begitu saja perjodohan yang Papanya lakukan dengan dirinya.
"Pernah Nona."
"Wah, kau juga pernah jatuh cinta? Kau benar-benar bukan robot." Gina cekikikan meledek. Surya hanya tersenyum simpul.
"Berapa kali?"
"Satu kali."
"Wah, kau pelit sekali. Jatuh cinta hanya sekali." Gina tidak begitu percaya pada jawaban Surya. Mana mungkin Surya dengan usianya yang sudah dewasa hanya merasakan jatuh cinta satu kali. Itu sangat berbeda dibandingkan dengan dirinya yang mudah sekali jatuh cinta. Sehingga pengalaman jatuh cintanya entah sudah berapa banyak jumlahnya.
Tapi jika diingat-ingat lagi mana sempat Surya jatuh cinta jika Papanya selalu memberikan pekerjaan yang luar biasa banyak dan dia selalu berhasil menyelesaikannya.
"Kasihan sekali kau. Kau tahu, kau harus menikmati hidupmu. Masa mudamu sudah hampir usai dan kau malah terjebak denganku." Gina lalu tertawa.
"Lalu, bagaimana dengan cinta pertamamu itu?" Tanya Gina penasaran.
"Akhirnya kalian sempat berpacaran?" Surya menggeleng.
"Sudah ku duga. Pria sepertimu tidak akan bisa menjatuhkan hati wanita manapun walau kau sangat menyukainya. Kau hanya bisa bekerja, bekerja dan bekerja. Itulah keahlianmu." Surya tersenyum mendengar komentar Gina tentangnya.
__ADS_1
"Kau mau aku beri tahu cara agar wanita jatuh cinta kepadamu?"
"Tidak perlu Nona, saya belum tertarik."
"Wah, sombong sekali kau menolak saran dari seorang playgirl sepertiku."
"Bukan begitu Nona, kadang cara orang lain bisa berbeda jika dihadapkan pada kenyataan yang ada pada diri kita."
"Mmm... kau ada benarnya. Tapi paling tidak kau bisa sedikit belajar dariku. Bagaimana aku bisa membuat pria-pria itu bertekuk lutut dan memohon cinta padaku." Gina membusungkan dada mengatakan itu.
"Tidak, terima kasih, Nona."
"Aku tidak percaya ini. Kau benar-benar menolak tawaranku."
"Karena bagi saya menyukai itu tidak harus memiliki."
"Waw... luar biasa. Kau penganut paham itu?" Gina tertawa terbahak-bahak.
"Hei, dengarkan aku. Untuk apa menyukai kalau tidak bisa memiliki. Itu sama artinya dengan ketika kau makan gorengan tapi kau tidak minum setelahnya. Kau akan merasa terus haus dan haus."
"Setidaknya perasaan saya untuknya selalu ada, Nona."
"Kau ini bodoh atau apa, kau harus mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau ini pria, kenapa sangat lembek." Surya hanya tersenyum mendapat hujatan dari Gina.
"Ngomong-ngomong, siapa gadis itu?" Walaupun sebenarnya Gina sudah menahan diri sejak tadi untuk tidak bertanya, akhirnya ia tidak tahan juga. Surya memandang Gina tapi bibirnya terkatup rapat.
"Apa dia Dinda?" Tebak Gina. Surya tidak mengiyakan tapi bibirnya tersenyum. Melihat ekspresi Surya, membuat Gina seperti ada yang menyengat hatinya.
"Siapapun dia, saya menyukainya, Nona." Surya masih saja menyamarkan siapa gadis itu. Padahal dari raut wajahnya, Gina bisa membaca jika Dindalah orang yang membuat Surya jatuh cinta yang hanya sekali itu.
"Dia rupawan. Dia juga berhati baik. Jika tersenyum, aku rasa seluruh bunga akan bermekaran bersamanya." Ditengah rasa tidak nyamannya, Gina jadi ingin tertawa mendengar kalimat ungkapan Surya yang sok puitis. Dan itu membuatnya tiba-tiba jadi mengantuk oleh suara berat Surya yang menenangkan indra pendengarannya. Seperti sebuah dongeng, ungkapan hati Surya menuntun Gina untuk terus mengantuk dan tertidur.
Melihat tidak ada pergerakan ataupun komentar dari Gina, Surya menundukkan kepala untuk melihat apa yang terjadi padanya. Ternyata Gina sudah memejamkan mata dan terlelap dengan nafas teratur. Surya tersenyum melihat itu.
Dan ini sudah malam, Surya merasa perlu membangunkan Dinda agar mereka bisa segera pulang. Ia yakin Bapak dan Ibunya pasti khawatir tentang keberadaan mereka.
"Nona..." Perlahan Surya membangunkan Gina. Gina mulai mengeliat.
"Nona, hujan sudah reda. Mari kita pulang." Gina mengucek matanya mengusir kantuk yang masih hinggap.
"Ahh, dingin sekali." Itu kalimat pertama yang keluar dari bibir Gina sambil berusaha berdiri.
"Bagaimana aku bisa tertidur dalam udara yang sedingin ini." Surya membuka pintu gudang dan udara dingin menerobos dengan lebih leluasa sekarang.
"Mari kita pulang, Nona." Surya berada di luar gudang diikuti oleh Gina. Kemudian Surya mengunci kembali gudang itu. Setelahnya ia meraih tangan Gina yang dingin untuk berada hangat dalam gandengan tangannya. Jalan setapak di pematang sawah agak licin, Surya harus menahan agar mereka tidak terpeleset apalagi tergelincir.
Setelah sampai di tepi jalan, barulah Surya melepas genggaman tangannya dan menaiki motor yang tadi dibawa oleh Gina.
"Kuncinya, Nona."
"Apa?" Gina menjadi tidak fokus sejak Surya menggandeng tangannya tadi. Hatinya berdebar tidak beraturan.
"Kunci motor ini." Jelas Surya.
"Oh iya." Gina merogoh saku celananya dan mengulurkan kunci itu.
__ADS_1
Gina menaiki motor saat Surya sudah menyalakan mesinnya. Perjalan mereka menjadi lebih dingin karena angin yang menerpa. Jalanan berbatu yang menjadi licin karena hujan membuat perjalanan mereka tidak mulus. Surya harus sering mengerem dan memilih jalan yang baik. Perlahan Surya merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Medan yang ekstrim membuat Gina berinisiatif untuk memeluk Surya agar dia tidak terjatuh. Baru kali ini, menaiki motor terasa sangat menyenangkan bagi Gina. Padahal ia pernah dibonceng oleh Faris tapi rasanya tidak seindah ini. Ditengah gerimis, dijalan berbatu dan gelap hampir tidak berlampu. Kecuali lampu dari motor Surya. Gina semakin mempererat pegangannya dan meletakkan wajahnya dipunggung lebar Surya. Membuat dirinya senyaman mungkin berada di boncengan Surya.
Kalau memang akhirnya pelet Surya yang membuatku jatuh cinta, baiklah, aku akan menikmati ini. Aku akan menikmati permainan peletmu.