
Tresnoku moh ilang, cukup ning kowe, sayang
Ojo ning endi-endi, bakale kita rabi
Mantepno atimu, selalu sayang kamu
Oh, bebebku
Uwis tak syarati nggawe kalung ati
Minongko bukti tresnoku iki
Ku parkir cintamu di dalam hatiku
Hanya namamu
Terdengar lagu dangdut dalam bahasa jawa menyuara yang diikuti goyangan pinggul mbak Yuyun ke kanan dan ke kiri. Bibirnya turut mengeluarkan suara-suara yang Gina tidak mengerti terjemahnya.
"Mbak Yuyun..." Panggil Gina setelah sampai di dapur. Mbak Yuyun masih terlalu asyik mendengar dan berjoget sehingga tidak bisa menangkap suara Gina yang bersaing dengan volume tinggi radio. Lalu tiba-tiba mbak Yuyun menoleh ke arah radio saat suara lagu itu tidak terdengar sama sekali.
"Ehh, Nona..." Mbak Yuyun malu-malu memandang Gina yang melipat tangannya dengan wajah kesal.
"Lagunya enak sekali. Saya tidak tahan untuk tidak berjoget." Mbak Yuyun mendekati Gina.
"Ada apa, Nona?"
"Ahh, sudahlah. Melihat Mbak Yuyun berjoget seerotis itu aku jadi malas."
"Apakah goyangan saya tadi erotis, Nona?"
"Sangat." Gina mengambil segelas coklat dingin di atas meja dapur lalu berbalik meninggalkan mbak Yuyun.
"Ya Tuhan." Mbak Yuyun mendekapkan tangan ke tubuhnya.
Gina merasa mungkin lain kali saja bertanya pada mbak Yuyun karena sepertinya asisten rumah tangganya itu sedang asyik dengan pekerjaannya. Ia tidak ingin mengganggu kesenangan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Jadilah ia menunda keinginanya kali ini.
🌸🌸🌸
Surya memarkir mobilnya di sebuah tempat dengan bangunan baru yang sedang dalam proses pengerjaan. Seseorang melihatnya dan menghampiri.
"Pak Surya..." Sapa pria usia 50an itu begitu ada di dekat Surya.
"Bagaimana, Pak? Apakah ada kendala?"
"Tidak Pak, semua berjalan lancar."
"Bagus." Surya berjalan untuk mendekati bangunan.
"Bangunan ini harus selesai secepat mungkin karena harus siap digunakan dua bulan lagi."
"Baik, Pak."
__ADS_1
"Kalau memungkinkan, tawarkan kepada para pekerja untuk lembur."
"Bukankah lembur akan memunculkan biaya lagi, Pak?"
"Jika itu bisa membuat selesai lebih cepat, akan sebanding dengan biaya yang kita keluarkan."
"Iya, baik." Mandor yang mengawasi pembangunan homestore itu patuh. Kemudian Surya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Pak Hendra, bagaimana persiapan pembukaan homestore disana?" Kalimat Surya kepada orang diseberang yang menerima teleponnya.
"Baik, persiapkan dengan baik. Jangan sampai ada kekurangan. Terlebih lagi kesalahan. Semua barang harus tersedia sesuai perencanaan, tidak boleh ada yang kurang. Dan karena pembukaan besok kita memberi potongan harga pada produk tertentu, jadi tolong menambahkan stok untuk produk berdiskon." Sepertinya suara diseberang pun menyanggupi apa yang Surya perintahkan sehingga ia terlihat cukup puas mendengarnya dan lalu mengakhiri percakapan.
Pak Ari masih berdiri disamping Surya menunggu jika ada perintah selanjutnya.
"Pak Ari, karena tidak ada kendala apapun, saya rasa hari ini cukup."
"Baik Pak."
"Jika ada masalah atau kebutuhan yang harus dipenuhi, silakan hubungi staf pembangunan."
"I-iya, Pak." Suara Pak Ari ragu.
"Tapi saya belum memiliki kontaknya, Pak."
"Benarkah? Orang dari staf pembangunan juga belum menghubungi Bapak?"
"Belum, Pak."
"Oh iya, ngomong-ngomong selamat atas pengangkatan Anda sebagai presdir R-Company." Ujar Pak Ari dengan wajah berbinar.
"Terima kasih, Pak." Jawab Surya dengan senyum tulus seperti biasanya. Sampai disitu Surya pun pamit dan meninggalkan kawasan proyek pembangunan cabang R-store entah yang keberapa.
Surya memasuki mobilnya. Tapi sebelum menyalakan mesin mobil ia sempat melihat pesan masuk di ponselnya. Surya tersenyum lalu membalas sebelum ia mulai menginjak pedal gas melarikan mobilnya lagi.
Sementara itu Gina meletakkan ponselnya kembali setelah membaca isi percakapan grup.
"Tidak ada yang menarik." Gumamnya. Lalu ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Akhir-akhir ini ia jadi jarang keluar rumah. Kesibukannya bekerja di R-Company lumayan menyita waktu dan tenaganya sehingga ia lebih suka berada di rumah jika sedang libur. Seperti hari ini, setelah berusaha berkeringat dengan treadmill ia tidak memiliki kegiatan lagi.
Mata Gina menatap lurus ke atas. Beberapa saat perasaanya mendadak menjadi sepi lagi. Perasaan yang rasanya seperti sudah tidak muncul lagi akhir-akhir ini. Menyadari hal itu, Gina tiba-tiba bangun mengangkat tubuhnya dari atas tempat tidur.
"Apa yang ku lakukan? Aku seorang Gina yang selalu menemukan cara menghibur diri sendiri." Gina beranjak dan memasuki kamar mandi.
Sebuah taksi berhenti tepat di teras rumah Gina. Tepat saat itu ia juga sudah menuruni tangga dan melihat taksi terparkir dengan sopir yang menunggu di samping pintu taksi. Sopir taksi membukakan pintu untuk Gina dan kemudian melajukan ke tempat yang Gina inginkan.
Aku bersumpah akan membeli mobilku sendiri nanti. Batin Gina sambil melihat sekeliling jalan yang ia lalui.
Papa pikir aku akan menyerah dan selalu bergantung pada Surya. Huhh, angat tidak mungkin.
Di sebuah toko stationary Hanna sedang memilih alat tulis. Matanya menekuni sebuah bolpoin tinta disebuah kotak. Bolpoin yang tampak mahal harganya. Senyumnya terlukis tipis saat mengamati bolpoin itu.
"Ini sempurna." Gumamnya sambil menimang bolpoin di tangannya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya berdering pertanda ada sebuah panggilan masuk.
"Aku? Aku ada di... ahh, aku akan datang ke tempatmu. Kau dimana?" Wajahnya tampak cerah. Senyum tidak pernah hilang dari bibirnya selama menerima panggilan ponsel itu. Dan setelah membayar sejumlah harga bolpoin yang diambilnya, Hanna segera keluar dari toko stationary untuk menemui orang yang baru saja menghubunginya. Hanna semakin girang saat seorang pria yang ia cari berdiri di depan sebuah studio bioskop lantai teratas gedung pusat perbelanjaan ini.
"Hai..." Panggil Hanna pada pria yang berdiri membelakanginya. Pria itu masih asyik menekuni ponsel dan tidak menyadari panggilannya. Lalu Hanna menepuk pundaknya untuk membuatnya berpaling padanya.
Gina berjalan-jalan di deretan distro ternama. Tangan kanannya sudah menenteng dua buah paperbag dengan logo sebuah merk terkenal. Ia masih ingin berjalan-jalan karena rasanya sudah lama tidak berjalan begini. Melihat sekeliling sangat menyenangkan hatinya. Berbagai dress, tas dan sepatu kegemarannya seperti memanggil-manggil ingin dimiliki. Gina semakin antusias sehingga secara bergantian satu per satu memasuki distro.
Keluar dari salah satu distro Gina tersenyum puas sambil melihat bawaannya yang berjumlah entah berapa.
"Sekarang saatnya makan." Gumam Gina seperti sudah membuat jadwal untuk kegiatannya kali ini. Ya, itu adalah kebiasaan Gina makan setelah berbelanja. Selain tidak pernah menghabiskan waktu bersama teman-teman wanitanya termasuk berjalan-jalan di mall, ia juga tidak pernah makan bersama dengan teman-temannya. Dan untuk hal ini Gina memang paling jago. Berjalan-jalan sendirian dan makan sendirian. Kadang dia juga menonton bioskop sendirian.
Sebagian besar orang yang mengetahui hal itu pasti berfikir bahwa kehidupan Gina sangat menyedihkan. Tapi Gina bahkan sudah mati rasa terhadap kesendiriannya. Ia sangat kebal dengan sebuah kesepian jadi menjalaninya benar-benar bukan lagi menjadi masalah.
Setelah berbelanja Gina selalu memilih untuk memakan makanan di foodcourt dan bukan restoran di sudut lain mall. Kenapa food court? Karena disana ia bisa bersama banyak orang dari berbagai kalangan. Dengan bermacam penampilan dan sikap. Makan sendirian di rumah sudah menjadi kebiasaan Gina sehingga saat makan di tempat ramai seperti ini ia akan sangat menikmatinya.
Gina tampak mengantri di sebuah counter yang menyediakan masakan ala jepang. Dimsum. Makanan dengan cara masak dikukus ini adalah salah satu kesukaannya. Ia biasa memilih berbagai dimsum sebagai santapannya. Setelah memesan apa yang ingin ia makan, Gina berbalik untuk mencari meja kosong. Hari ini minggu dan semua orang sepertinya ingin memenuhi mall ini. Tapi untung saja ada sebuah meja kosong yang segera ia tuju sebelum diambil orang lain.
Sesampai di meja, Gina meletakkan paper bag yang sedari tadi memenuhi genggaman tangannya. Lalu ia keluarkan ponselnya dan meriksa apa ada pesan masuk. Ternyata yang memenuhi pesannnya adalah percakan grup di ponselnya.
Gina hendak menghapus semua pesan yang dianggap tidak penting itu tapi matanya sempat merekam sebuah chat.
Kenapa menanyakan media sosial Gina? Dia tidak punya.
Apa? Orang seperti Gina tidak punya? Apa dia cupu?
Sampai pada pesan itu Gina memanyunkan bibirnya.
"Memangnya salah tidak memiliki media sosial. Apa itu kejahatan? Dasar kalian tukang pamer. Baru hanya itu yang kalian punya lalu kalian posting agar seluruh dunia tahu? Hahh, membosankan." Gumam Gina sambil melihat pesan-pesan berikutnya dan benar saja berisi hal-hal yang tidak penting.
Gina memang sudah terlahir dengan segala yang ia punya dalam jumlah yang lebih dari cukup. Harta yang orang tuanya punya membuatnya mendapatkan semua yang ia inginkan. Barang-barang fashion bermerk dan berharga mahal, berlibur ke luar negeri, mobil dan semua yang ia miliki pasti akan sangat melelahkan jika Gina ingin memamerkannya. Lagipula baginya tidak perlu memberi tahu orang lain, mereka akan tahu dengan sendirinya jika sudah pada saatnya. Memamerkan pada orang lain hanya akan memperlihatkan seolah ia butuh pengakuan. Padahal tanpa itu pun orang akan bisa mengakui dengan sendirinya jika kenyataannya memang seperti itu.
Gina meletakkan ponselnya saat sekotak dimsum sampai di atas mejanya. Seorang pelayan counter tersenyum manis mempersilakan Gina untuk menikmati makanannya. Saat kotak dimsum berukuran medium itu dibuka sebuah kepulan asap mengepul menyapu hidung Gina. Berbagai dimsum dengan isian bermacam-macam sesuai pesanannya membuat Gina terpukau. Perutnya memdadak terasa lapar. Satu buah dimsum mulai ia sumpit dan masuk ke dalam mulutnya sekali lahap. Segelas ice blend rasa greentea di samping tangannya siap menyegarkan tenggorokannya saat ia butuh nanti.
Sambil menikmati makanan, sesekali Gina mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Banyak orang berlalu lalang di area food court. Ada yang datang berpasangan dan sepertinya mereka adalah sepasang kekasih. Ada yang bersama keluarga. Ada juga para remaja yang tampak riang tertawa bersama.
Melihat mereka tiba-tiba batinnya menjadi iri. Masa mudanya tidak ia lalui bersama banyak teman. Ia tidak pernah merasakan bagaimana pergi berjalan-jalan bersama teman atau menonton film bersama mereka. Ia tidak banyak punya teman yang bisa ia ajak melakukan banyak hal.
Gina menyuapkan dimsumnya lagi. Tapi matanya tiba-tiba menangkap sebuah pemandangan yang tak asing darinya. Seorang pria berjalan membelakanginya. Dari punggungnya dan cara berjalannya mirip Surya. Gina mengamati dan berusaha memastikan. Tapi langkah menjauh pria itu membuatnya semakin kehilangan jarak pandang.
Kenapa aku membayangkan Surya ada di sini. Sedang apa dia. Bukankah orang sibuk seperti dia tidak akan sempat berjalan-jalan di mall. Ia hanya akan pergi ke toko bangunan atau toko panci untuk mencari referensi pembangunan homestore baru dan juga produk baru yang akan dikeluarkan. Batin Gina sambil tersenyum sendiri mengingat Surya yang seperti seorang penggila kerja.
Makanan sudah ia habiskan, Gina berjalan lagi. Telinganya mendengar sebuah teriakan-teriakan dan membuatnya ingin melangkahkan kaki ke tempat itu. Arena bermain.
Gina sudah berdiri tepat di depan arena bermain mall ini. Matanya berbinar melihat semua wahana yang biasanya sering ia mainkan. Ia bisa menghabiskan saldo di dalam powercardnya jika sedang berada di sana.
Pertama Gina menggesekkan powercard-nya pada permainan House of Dead. Ia sudah menggenggam senapan yang akan ia gunakan untuk menembaki segerombolan zombie dan mengikuti alur permainannya. Gina menembaki zombie zombie itu secara membabi buta. Ia berusaha menang dan mencetak skor sebanyak mungkin. Dan berhasil. Belum puas dengan permainan itu saja, ia mulai mencoba street basketball. Setelah menyelesaikannya lalu ia beralih ke permainan lain. Lama tidak memainkannya Gina seperti rindu pada hal-hal seperti ini. Memacu adrenalinnya hingga ia merasa puas.
Gina masih belum ingin beranjak dari tempat ini. Keringat mulai membasahi dahinya. Kakinya sangat cekatan menginjak lantai permainan dance dibawahnya. Ia terlihat sangat berkonsentrasi memainkannya. Rambutnya yang tadinya tergerai sekarang sudah terangkat ke atas dengan sebuah karet. Ia tidak peduli beberapa pria yang lewat mengaguminya. Ada yang diam-diam mencuri pandang, ada yang terang-terangan memelototi kecantikan dan keenergikannya diatas permainan dance. Dan berkat kegigihannya, akhirnya ia berhasil menyelesaikan permainan dengan skor menakjubkan. Gina tersenyum puas. Tanpa ia sadari sedari tadi banyak mata menontonnya bermain. Hingga akhirnya ia menyadari itu saat tepukan riuh ia dengar ke arahnya. Gina mengedarkan pandangan. Mereka rata-rata adalah kaum pria dan remaja laki-laki. Gina melemparkan senyum saat turun dari mesin dance dan memungut paperbag belanjaanya yang ia letakkan di samping mesin permainan. Ia berlalu begitu saja walaupun beberapa orang mencoba menyapanya ingin tahu namanya atau hanya mengatakan hai. Dari semua itu Gina tahu mereka ingin berkenalan dengannya. Tapi memang seperti itulah Gina. Ia tidak tertarik untuk tebar pesona dengan sembarang pria.
Saat keluar dari arena bermain, Gina melihat Hanna berjalan diseberangnya berdiri. Ketika hendak memanggilnya, Gina urungkan karena Hanna sepertinya terburu-buru. Dan diujung penglihataannya, ia melihat Hanna bersama seseorang. Gina sangat penasaran pada pria yang bersama Hanna. Sebuah balon yang dibawa seorang anak menghalangi Gina dari bisa melihat wajah pria yang diduga adalah pacar Hanna. Mereka menuju lantai paling atas mall ini. Gina menebak Hanna dan pacarnya akan menonton film di bioskop.
__ADS_1
Gina menyunggingkan senyum lalu melanjutkan langkahnya. Entah kenapa ia turut senang melihat Hanna menikmati waktunya sendiri. Itu membuatnya terlihat berbeda dengan papanya yang membuat Surya bahkan seperti tidak memiliki kehidupan sendiri.