
Siska duduk di tepi tempat tidurnya dengan rambut basah seusai mandi. Ia melihat ponsel dan menemukan pesan singkat dari Surya. Pesan berisi ucapan selamat malam. Meskipun melihat pesan itu ternyata perasaanya masih tetap tidak nyaman setelah bersama Surya tadi.
Surya menghentikan mobilnya di tepi jalan. Siska yang duduk di sampingnya mengerutkan kening. Setelah acara dinasnya dan makan malam yang mereka lakukan, Surya masih ingin membeli martabak.
"Mari kita beli martabak telur." Surya membuka pintu mobilnya dan diikuti oleh Siska yang ikut turun juga.
Surya berhenti di sentra jajanan kaki lima yang searah dengan jalan menuju ke rumah Siska.
"Satu martabak telur ayam dan satu lagi telur bebek, Pak." Ucap Surya pada penjual martabak.
Ia memesan dua jenis martabak karena Siska biasa memesan martabak telur ayam dan Gina menyukai martabak yang memakai telur bebek. Surya memang ingin membawakan Gina martabak karena dia suka sekali makan camilan dan jam segini mungkin belum tidur.
Dan sambil menunggu penjual martabak membuat pesanan Surya, ia duduk di sebuah kursi plastik di dekat kios tidak permanen itu. Siska mengikuti Surya duduk di salah satu kursi kosong itu juga.
"Kau juga tahu Nona Gina menyukai martabak telur bebek?" Tanya Siska memandang wajah Surya.
"Iya, Nona Gina lebih menyukai martabak telur bebek karena menurutnya bentuknya bisa sangat tebal." Mendengar itu akhirnya Siska tahu sepertinya Surya memang ingin membeli martabak untuk Gina.
"Kau memang suami yang baik sangat tahu selera istrimu." Kalimat Siska menyiratkan sesuatu dan membuat Surya menoleh padanya.
"Aku tahu ini sebelum menjadi suaminya." Surya mencoba berkelakar memecah suasanya tidak nyaman yang baru saja Siska tiupkan.
Surya sangat memahami bagaimana perasaan Siska. Ia harus membiarkan kekasihnya menikahi wanita lain dan hidup bersama, tentu saja itu akan jadi beban fikiran tersendiri untuknya. Pastilah ada kekhawatiran, kecemburuan, dan berbagai fikiran-fikiran tak berdasar yang sering muncul dalam kepalanya. Inilah saat-saat dimana Surya harus bisa menenangkannya. Menangkis setiap prasangaka buruk yang membuat suasana hati Siska menjadi buruk saat bersamanya begini.
"Benar, mungkin kau malah lebih mengenalnya daripada mengenalku." Wajah Siska cemberut.
"Hei, aku tahu ada apa ini." Surya meraih tangan Siska dan menggenggamnya karena tahu kekasihnya sedang cemburu hanya karena Surya tahu martabak kesukaan Gina.
"Apa kita pergi ke suatu tempat setelah ini?" Bujuk Surya.
"Tidak, istrimu sudah menunggumu di rumah." Surya tersenyum lebar melihat kekasihnya merajuk.
"Maafkan aku." Kalimat Surya lembut sambil masih menggenggam jemari Siska erat mencoba menenangkan hatinya bahwa itu tidak berpengaruh sama sekali untuk Surya. Kata istri hanyalah senjata bagi Siska untuk menumpahkan rasa cemburunya kepada Gina yang berstatus sebagai istri Surya saat ini.
"Bagaimana kalau kau tergoda olehnya?" Lagi, pertanyaan itu terlontar lagi kepada Surya. Entah instingnya sebagai wanita atau ia merasa Gina memiliki segalanya sehingga sangat takut jika Surya akan tergoda kepadanya.
"Apalah artinya aku tergoda kalau Nona Gina bahkan tidak bisa melihatku sebagai seorang pria." Jawab Surya santai.
"Lalu melihatmu sebagai apa?" Siska penasaran.
"Kucing." Jawab Surya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Oh tidak, sepertinya kucing masih terlihat. Mungkin lebih seperti semut, kutu atau hewan yang jauh lebih kecil lagi." Surya melucu untuk menghibur Siska agar tidak marah lagi.
"Aku tidak terlihat oleh Nona Gina. Sewaktu-waktu aku bisa terinjak olehnya kalau aku tidak siaga." Siska jadi tertawa mendengar perumpamaan Surya bagaimana dirinya dimata Gina.
Siska kembali ceria setelah Surya membujuknya dengan kelucuan-kelucuan yang ia lontarkan. Surya tahu itulah risiko yang harus ia dapatkan. Harus sering menenangkan hatinya dari rasa cemburu yang menyakitinya. Keputusan Surya untuk membantu Pak Rangga sudah ia fikirkan dengan baik sehingga ia pun siap dengan segala kesulitan yang ia hadapi terhadap Siska.
Siska berdiri dari tempatnya duduk untuk meletakkan handuk basah kembali ke tempatnya biasa menjemur. Sehari ini ia bisa menikmati waktu bersama Surya jauh dari Gina berada. Gina bahkan malam ini harus pulang diantar sopir dan Surya memilih untuk tetap bersamanya. Mengingat itu Siska yakin bahwa dirinya sangat berarti untuk Surya. Menyadari itu Siska tersenyum senang.
🌸🌸🌸
Hanna berjalan memasuki lobi R-Company setelah memarkir mobilnya di basement. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia merogoh ke dalam tas untuk mengambil benda yang baru saja memberikan notifikasi di dalamnya.
Sebuah pesan dari grup perusahaan. Baru sebentar dan sudah banyak pesan yang masuk. Hanna membukanya sambil masih berjalan menuju lift. Awalnya adalah sebuah pesan gambar yang setelah melihat itu Hanna jadi terperanjat.
"Nona Gina..." Bisik Hanna sambil mempercepat langkahnya menuju ruangan Gina.
Sepanjang langkahnya menuju ruangan Gina, Hanna merasa khawatir. Ia membayangkan bagaimana kalau Gina tahu akan hal ini. Hingga begitu sampai di depan pintu, Hanna membukanya dengan nafas sedikit terengah. Ia menemukan Gina duduk dibalik mejanya. Sambil memandang keluar cendela ruangannya yang memaparkan sinar matahari pagi. Kemudian Gina memutar kursinya menghadap pintu dimana Hanna baru saja masuk.
"Pagi, Hanna." Sapa Gina dengan tersenyum.
"Selamat Pagi, Nona." Hanna berjalan perlahan memasuki ruangan dan menuju ke mejanya.
Ia meraba-raba apakah Gina tahu tentang hal itu juga. Hal yang berhubungan dengan pesan singkat di ponsel Hanna. Ia bahkan menon-aktifkan notifikasi di grup obrolan itu saat ini agar suaranya tidak membuat berisik. Obrolan Grup saat ini pastilah sangat ramai dan pasti bertambah banyak pesan yang masuk. Hanna meletakkan tasnya dengan perlahan dengan masih memandang Gina. Dari apa yang ia lihat, Gina tampaknya baik-baik saja.
"Kenapa, Hanna?" Tanya Gina dengan masih memeriksa berkas di depannya tanpa menoleh kepada Hanna.
"Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Gina lagi. Hanna menyadari jika sikapnya mengundang Gina untuk curiga kepadanya.
"Kau penasaran apa aku sudah tahu berita itu?" Kali ini Gina mengalihkan matanya kepada Hanna dan ia tidak bisa mengatakan apapun karena dari situ ia tahu sepertinya Gina juga sudah mengetahui tentang pesan itu.
"Kau tahu bukan, kalau aku sudah tahu itu." Ujar Gina yang mengingatkan pada Hanna tentang pengakuannya waktu itu bahwa ia telah tahu sebenarnya Surya dan Siska berpacaran. Itu adalah saat yang tepat bagi Gina untuk mengungkapkan pada Hanna bahwa ia lebih bodoh daripada dirinya yang mencintai seorang playboy yang setia kepadanya. Karena Gina bahkan sudah mencintai Surya yang ternyata sudah berpacaran dengan Siska sejak sebelum pernikahan dengan dirinya terjadi.
"Tapi, itu tersebar di grup obrolan perusahaan, Nona. Semua orang sudah tahu sekarang." Hanna sangat berhati-hati saat mengatakan itu.
"Semua rahasia pada akhirnya harus terungkap, cepat atau lambat." Ucap Gina dengan pandangan menerawang jauh.
Di ruangan Surya, Siska berdiri di depan meja kerja kekasih yang adalah bosnya itu dengan gelisah.
"Bagaimana ini?" Tanya Siska sedikit panik.
Sudah terbayang ketakutannya selama ini benar-benar terjadi. Sejak awal Siska sudah mengkhawatirkan hal ini. Khawatir tentang bagaimana jika hubungan rahasianya bersama Surya diketahui oleh banyak orang sementara Surya dan Gina masih belum menyelesaikan misinya. Maka itu akan menjadi sebuah skandal bagi mereka.
__ADS_1
Orang mungkin akan berpendapat sesuka mereka. Yang tidak tahu akan mengira dirinya adalah seorang sekretaris penggoda yang menggoda atasannya padahal sudah beristri. Kemudian jika ada klarifikasi bahwa hubungannya dengan Surya sudah dimulai sejak ia dan Gina belum menikah, maka ia akan dianggap bodoh karena membiarkan pacarnya menikahi gadis lain dan tetap mau menjalin hubungan dengannya sebagai pacar rahasia. Memikirkan hal itu Siska menjadi dilema.
"Maafkan aku." Kalimat Surya sambil memandang wajah Siska lurus.
"Kenapa hanya selalu kata maaf?" Tanya Siska yang untuk pertama kalinya berbicara tidak formal dengan Surya saat berada di kantor.
"Sejak awal ini adalah kesalahanku."
"Lalu sekarang bagaimana?" Siska terlihat sangat gelisah.
"Aku akan mengakhiri ini." Jawab Surya memandang Siska lurus.
"Apa?" Mata Siska berkaca-kaca dan air mata yang menggantung itu sudah sangat siap untuk tumpah.
Didalam ruangan Gina, ia pun sebenarnya resah. Ia tidak tahu harus bagaimana bersikap. Sebuah skandal tentang suaminya tersebar tak terkendali di seluruh perusahaan. Pertama kali foto kebersamaan Surya dan Siska sampai ke ponselnya saat Gina baru saja bertukar pakaian tadi pagi sebelum berangkat bekerja. Gina membuka pesan itu dan melihat foto Surya sedang bergandengan tangan dengan Siska di depan kios martabak. Mereka saling tersenyum satu sama lain. Siapapun yang melihat itu pasti tahu apa yang terjadi diantara mereka. Sebuah hubungan yang lebih dari sekadar atasan dan bawahan.
"Surya... lihatlah ini?" Gina menyodorkan ponselnya kepada Surya yang sedang ada di dapur mencuci tangannya setelah selesai mencuci semua piring. Surya melihat ke layar ponsel Gina dan mendapati foto dirinya yang sedang bersama Siska.
Setelah melihat itu Surya lalu memandang Gina lurus. Ia tidak berkata apapun dan kemudian menngalihkan perhatian dengan mengajak Gina untuk segera berangkat bekerja. Tidak ada tanggapan apapun dari Surya.
"Kau tahu, jika ini tersebar maka habislah kita. Ini pasti akan menjadi skandal besar di R-Company. Itu adalah nomor yang tidak ku kenal dan mungkin dia memiliki niat buruk terhadap kita."
"Ini kesalahan saya jadi saya yang akan menyelesaikannya, Nona." Jawab Surya tenang masih memandang lurus ke jalan raya di depannya.
"Bagaimana bisa? Ini menyangkut nama kita bertiga."
"Anda dan Siska hanya korban dari apa yang saya lakukan. Tenang saja, saya yang akan bertanggung jawab atas semua ini."
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Surya tidak lekas menjawab. Ia hanya tetap diam sambil memegang kemudi mobilnya.
"Hei, bagaimana ini? Kalau akhirnya benar-benar tersebar dan Papa mengetahui ini, kita harus bagaimana?" Mendengar suara Gina yang hampir menangis, kali ini Surya menoleh kepadanya.
Surya merasa ada yang salah dengan Gina. Bukankah seharusnya ini menjadi kesempatan terbesarnya untuk menendang dirinya dari R-Company? Sudah jelas terlihat keburukan Surya yang bisa dijadikan sebagai perselingkuhan. Dengan itu demi menjaga nama baik keluarga seharusnya Gina akan dengan tegas menginginkan perceraian diantara mereka. Dengan begitu, ia bisa meminta Pak Rangga untuk memecatnya di R-Company karena sudah menimbulkan skandal itu dan dirinya akan dengan sangat leluasa mengambil tahtanya menggantikan Surya.
Tapi yang sekarang terlihat oleh Surya malah sebaliknya. Gina yang panik dengan kemungkinan gambar itu tersebar di R-Company dan resah dengan apa yang akan terjadi dengan mereka berdua. Surya benar-benar bingung. Bingung terhadap sikap Gina yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan seperti itu.
Gina yang masih duduk di balik meja dengan ditemani oleh Hanna di sana sedikit tersentak saat ponselnya berbunyi. Gina melihat ada nama 'Papa' di layar ponselnya. Gina bergetar saat melihat nama itu. Ia berfikir pasti Papanya sekarang juga sudah tahu tentang foto itu. Tapi mau tidak mau Gina harus menerima itu dan menghadapi apa apapun tujuan Papanya menghubungi dirinya. Dan setelah menarik nafas berat, Gina pun mengangkat panggilan teleponnya.
"Iya, Pa..." Suara Gina sedikit bergetar, mengikuti jantungnya yang berdebar diatas normal menanti keperluan apa yang Papanya inginkan.
Diruangannya sendiri, Surya pun mendapat telepon yang masuk ke ponselnya dari pak Rangga.
__ADS_1
"Surya, ku tunggu kau malam ini di rumah."
"Baik, Pa." Setelah itu terdengar bunyi nada telepon telah ditutup. Surya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.