
Surya kembali dari tempat mencuci tangan di depan gazebo tempatnya makan bersama Siska malam ini. Siska meminum lemon tea-nya lalu memandang Surya yang kembali duduk dihadapannya.
"Kenapa?" Tanya Surya yang melihat Siska memandangnya seperti itu.
"Apa benar yang selama ini ku lihat di cermin kalau aku memang setampan itu?" Kelakar Surya yang ditanggapi dengan senyum mencibir oleh Siska.
"Jangan khawatirkan apapun, aku akan selalu bersamamu." Kalimat Surya kemudian.
Entah berapa kali Surya mengatakan kepada Siska yang seolah selalu menaruh curiga dan merasa takut kehilangan Surya. Dan yang ingin Siska katakan dengan Surya kali ini masih tentang hal yang sama. Ketika hubungannya dan Surya diketahui banyak orang, yang Siska takutkan adalah Surya akan bertahan dengan pernikahannya dan meninggalkan dirinya. Bukan tidak mungkin Surya bisa melakukan itu karena melihat bagaimana Gina terlihat luar biasa baik secara penampilan dan juga apa yang ia miliki. Pria manapun jika berada di posisi Surya pastilah tergiur untuk tidak beranjak darinya.
"Percayalah padaku, aku hanya akan bersamamu." Surya menatap Siska dengan sungguh-sungguh. Lalu perlahan senyum Siska mulai berkembang.
"Hanna... kau tahu apa jodoh terbaik makanan seafood?" Hanna yang sedang menikmati kerang dara dengan saus lada hitam yang memberi sensasi pedas itu mengalihkan pandangan kepada Gina.
"Es teh, Nona."
"Salah." Jawab Gina cepat.
"Es kelapa muda."
"Benarkah?" Hanna tidak percaya begitu saja kata Gina.
"Kau tahu, setelah makan seafood lalu minum es kelapa muda pasti rasanya segar sekali."
"Begitu, Nona?" Hanna mengerutkan kening karena tidak mendapatkan sesuai ekspektasinya.
"Hanya karena itu saja?"
"Ya." Jawab Gina sambil memotong capit kepiting berukuran besar itu.
"Ku pikir ada alasan medis atau apa yang mendasari kenapa seafood dan es kelapa muda menjadi pasangan yang tepat." Hanna tertawa lucu.
Tapi kemudian ia melihat ke arah tidak jauh tempatnya duduk. Surya akan melintasi mereka. Sehingga Hanna berpura-pura menjatuhkan tisu disebelahnya sehingga ia memiliki alasan untuk menunduk mengambil tisunya. Ia sengaja melewatkan menyapa Surya dan Siska karena ia harus menutupinya dari Gina tentang keberadaan mereka juga di restoran berkonsep gazebo garden ini. Itu juga yang membuatnya meminta Gina bertukar tempat duduk karena tidak ingin ia melihat kebersamaan Surya dan Siska yang pasti bisa membuatnya cemburu.
"Tidak. Mmm... maksudku aku belum mencari tahu soal itu." Gina lalu terkekeh karena Hanna mengira ada alasan medis dibalik pernyataannya.
Saat itu Gina tiba-tiba mencium aroma parfum seseorang yang ia kenal dan menoleh ke arah seseorang yang baru saja lewat.
"Ya Tuhan... Jangan..." Bisik Hanna perlahan sekali. Hanna melihat itu dan merasa usahanya mengalihkan Gina jadi sia-sia.
"Surya..." Gumam Gina yang membuat Hanna menjadi lemas. Akhirnya Gina tetap tahu juga.
"Itu Surya, bukan?" Tanya Gina kepada Hanna.
"Mana, Nona?" Tanya Hanna pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Lihatlah orang yang berjalan ke sana. Itu Surya dan Siska." Hanna sampai berlutut untuk berpura-pura mencoba memastikan penglihatan Gina.
"Sepertinya bukan, Nona." Hanna kembali duduk dan memakan makanannya.
"Kau tidak mengenali mereka?" Gina memastikan.
"Lihatlah, itu adalah tas yang biasa dipakai oleh Siska."
"Oh, saya tidak begitu memperhatikannya, Nona." Jawab Hanna sambil tersenyum lebar meyakinkan Gina bahwa ia tidak mengenali dua orang tadi.
"Aku tahu itu mereka." Gumam Gina yakin.
"Ada banyak restoran di kota ini, kenapa mereka juga harus ke sini?"
__ADS_1
"Maafkan saya, Nona. Seharusnya saya tidak mengajak Anda kemari."
"Ahh, sudahlah." Gina kembali mencomot udang di depannya dan memakannya.
"Hanna, aku mau satu porsi lagi kepiting asam manis. Aku sangat kesal sekarang. Aku harus banyak makan agar aku kuat menghadapi kenyataan." Ujar Gina yang membuat Hanna membulatkan matanya.
Bagaimana tidak, satu porsi gado-gado seafood dengan ukuran paling banyak dan hampir semua Gina yang mengeksekusi, sekarang atasannya itu sudah mau menambah lagi kepiting asam manis. Hanna menggaruk kepalanya melihat selera makan Gina yang menggila seperti itu. Yang ada di dalam fikiran Hanna sekarang adalah kira-kira terbuat dari apa perutnya sampai semua makanan cukup ia masukan ke sana.
Seusai menghabiskan semua makanannya, Hanna lalu mengantar Gina untuk pulang setelah membayar tagihan yang cukup lumayan. Bagi Hanna jumlah itu sangat besar, tapi Gina dengan entengnya mengeluarkan kartu kredit untuk diserahkan kepada pramusaji yang melayani mereka.
"Teria kasih, Hanna." Ucap Gina setelah turun dari dalam mobil. Hanna mengemudikan lagi mobilnya untuk keluar dari halaman rumah Gina dan pulang.
Gina berjalan memasuki ruang tamu rumahnya yang sepi. Sepi seperti biasanya. Entah dimana semua orang tapi malam ini rumah tampak sangat sepi. Mungkin Surya juga belum pulang dan masih bersama Siska. Mengingat itu hatinya kembali seperti dicubit-cubit. Langkah Gina terus menuju tangga, tapi kemudian ia merasa harus ke tempat gym dulu sebelum tidur. Ia harus sedikit membakar kalori yang masuk ke dalam tubuhnya.
Ia rasa menggunakan treadmill akan membantunya melakukan itu. Jadilah Gina berada di atas treadmill sekarang. Mulai menekan tombol-tombol di atas panel sesuai kebutuhannya lalu mulai berlari diatas running area dengan santai sambil menikmati musik yang sedang ia dengar dari earphone bluetooth yang terhubung dengan ponselnya.
Masih berlari diatas treadmill selama 10 menit dengan santai, fikiran Gina ternyata sedang menjalar kemana-mana. Memikirkan cara untuk merebut Surya dari Siska, memikirkan agar Surya bisa bertahan dengannya lebih lama dan bahkan selamanya. Semua itu berkelebat di dalam kepalanya. Tidak peduli seperti apa sekarang hubungan Surya dan Siska, yang terpenting adalah pada akhirnya Surya bisa berpaling padanya.
Keringat sudah membasahi seluruh tubuh dan wajah Gina. Menetes dari pelipis ke pipinya. Sampai tiba-tiba ada seseorang yang mengusap keringatnya dan membuat Gina kaget sehingga keseibangannya menggunakan treadmill jadi terganggu. Ia hampir tergelincir tapi sebuah tangan dengan sigap menangkap ke dalam pelukannya di samping treadmill dan menombol off pada alat itu seketika.
Gina yang masih kaget dan merasakan jantungnya berdebar kencang akhirnya menyadari siapa orang yang membuatnya kaget dan hampir celaka tapi juga sekaligus lalu menyelamatkannya. Aroma parfum Surya. Gina lalu melepaskan pegangan yang lebih mirip sebagai pelukan itu darinya
"Kau mau mencelakaiku?" Gina marah karena Surya sudah membuatnya kaget.
"Maafkan saya, Nona. Saya hanya ingin membantu Anda."
"Kau ini..." Gina lalu merebut handuk di tangan Surya yang tadi dipakai untuk mengelap keringatnya.
"Mengagetkan saja." Gina sekarang berjalan mendekati meja dimana air minum di dalam botolnya berada.
Ia lalu duduk di lantai berlapis matras itu sambil meluruskan kakinya dan meminum air yang ia ambil.
"Kenapa melakukan olahraga semalam ini, Nona?" Tanya Surya yang sekarang ikut duduk di samping Gina bersandar dinding kaca ruangan itu.
"Oh ya? Makan apa?" Tanya Surya memandang Gina dari arah samping.
"Gado-gado seafood." Jawab Gina yang menoleh kepada Surya yang ternyata masih memandangnya.
"Kau pesan menu apa tadi?" Tanya Gina kepada Surya yang tentu saja membuatnya terkesiap. Gina bisa menangkap itu. Pandangan mata Surya seperti kaget bagaimana Gina bertanya kepadanya seolah tahu apa yang ia lakukan tadi.
"Nona ada di sana?" Tanya Surya memastikan.
"Tentu saja." Gina mengusap lagi keringat yang masih membanjir di pelipisnya.
"Kau fikir dunia ini hanya milik kalian berdua? Semua orang hanya mengontrak saja?" Gina tertawa sinis. Tampak sekali ia sedang menahan sesuatu sekarang.
"Kau bahkan tidak bisa mengenaliku saat sedang bersama Siska walaupun aku ada di dekatmu. Apa itu yang namanya cinta buta? Yang bisa kau lihat hanya Siska, yang lain kau anggap tidak ada." Lanjut Gina dengan mata yang tidak memandang Surya sama sekali.
"Saya benar-benar tidak tahu, Nona." Ujar Surya dengan suara lemah seperti menyesalkan apa yang sudah ia lewatkan.
"Aku mau mandi." Gina tidak menanggapi Surya dan berdiri dari duduknya. Tapi Surya meraih tangannya dan menahannya.
"Maafkan saya, Nona." Kalimat Surya kemudian.
Gina yang merasa tertahan pun berdiri diam di tempatnya. Surya lalu turut berdiri mengikuti Gina.
"Saya benar-benar tidak tahu Anda juga berada di sana. Anda bersama Hanna, bukan?"
"Ya, aku bersama Hanna."
__ADS_1
"Baguslah."
"Bagus. Menyaksikan orang yang ku sukai sedang bersama orang lain rasanya bagus saat aku juga ditemani seseorang. Paling tidak aku masih bisa mengalihkan perhatianku dari kalian." Ucap Gina dengan wajah dingin dan suara lirih namun berat. Surya diam menatap Gina dalam-dalam.
"Harus kau tahu, aku cemburu melihat kalian bersama seperti itu." Mata Gina berkaca-kaca saat mengatakan semua itu dengan sangat jujur memandang Surya.
"Aku menyukaimu dan kau menyukai Siska. Aku merasa diriku sangat menyedihkan. Cintaku bertepuk sebelah tangan." Surya hanya diam mendengarkan tanpa ingin menjawab sepatah katapun.
"Baiklah, ini memang risikoku menyukai pacar orang lain." Tiba-tiba Gina mengulas senyum. Surya tahu itu hanya kamuflase untuk memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Tapi aku yakin aku bisa menggoyahkan hatimu nanti. Aku punya semua hal yang bisa membuatmu tertarik padaku. Jadi, aku harap kau bisa menangani hatimu dengan baik agar kau selalu menjaganya sebelum akhirnya benar-benar ku rebut." Gina tersenyum lagi dan dari jarak yang lebih dekat.
Berada sedekat itu Surya bisa melihat kulit wajah Gina yang berkilau walau tanpa make up. Wajah yang nyaris sempurna dan kemudian berlalu meninggalkannya yang masih terpaku di tempat itu. Surya menarik nafas bebas setelah beberapa saat lalu Gina seperti membuatnya menahan nafas. Kepercayaan diri istri pura-puranya itu sangat tinggi hingga membuatnya khawatir. Bagaimana jika ia tidak akan pernah menjadi milik Gina? Apa Gina akan bisa menerima itu dengan mudah?
"Apa-apaan itu tadi." Gina berdiri di depan cermin di dalam kamar mandi.
"Aku bisa membuatnya tertarik padaku? Ya Tuhan, apa yang ku katakan padanya. Itu sangat memalukan. Bagaimana kalau sekarang dia menertawakanku? Aku menunjukkan padanya kalau aku sangat menyukainya seperti itu. Bagaimana ini?" Gina mengacak-acak rambutnya sendiri merasa sangat malu telah bertindak sangat percaya diri begitu.
🌸🌸🌸
Bu Marina mengetuk pintu kamar Gina. Sepi, tidak ada sahutan dari dalamnya. Semalam saat ia baru saja datang Pak Rangga memberitahunya bahwa Gina sudah pulang ke rumah lagi. Karena ia tahu Surya sedang tidak di dalam kamar, akhirnya Bu Marina membuka pintu itu.
Setelah pintu terbuka, terlihat Gina yang masih tidur dengan lelapnya. Bu Marina mengamati putrinya dengan rambut berantakan di atas bantal itu. Ia lalu membuka gorden agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kamar. Gina mulai terganggu dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya.
"Surya, jangan buka gordennya." Keluh Gina sambil mengeliat merasa itu sangat mengganggunya.
"Bangun. Kau harus bekerja. Jangan hanya tidur saja." Mendengar itu bukan suara Surya, Gina membuka matanya dan melihat Mamanya yang berdiri di samping tempat tidurnya.
"Mama..." Nada suara Gina mengeluh karena yang mengganggu tidur lelapnya adalah Bu Marina, mamanya sendiri.
"Kenapa Mama menggangguku." Gina menutup wajahnya dengan bantal.
"Hei, matahari sudah tinggi. Kau harus bangun."
"Tidak, aku masih ingin tidur. Setenga jam lagi saja, Ma."
"Tidak..." Bu Marina menarik selimut Gina dan membuatnya gelagapan.
"Apa-apaan Mama ini." Gina merajuk.
"Kau tidak punya waktu untuk bermalas-malasan. Sebentar lagi R-Company akan segera jatuh ke tanganmu. Kau harus bersiap sebaik mungkin."
"Apa?" Gina membuka matanya lebar-lebar mendengar ucapan mamanya.
"Apa maksud, Mama?" Gina bangun dari tidurnya.
"Aku mendengar pembicaraan Papa dengan Surya barusan." Bu Marina duduk di tepi tempat tidur Gina sekarang.
"Mama menguping?"
"Tentu saja tidak." Jawab Bu Marina dengan salah tingkah.
"Aku tidak sengaja mendengarnya saat lewat depan ruangan Papa." Bu Marina melakukan pembenaran.
"Sama saja." Gumam Gina.
"Tapi apa maksud Mama barusan? Bagaimana aku bisa mendapatkan R-Company segera?"
"Yang sempat ku dengar Surya mengundurkan diri dari R-Company."
__ADS_1
"Apa?" Gina lalu bangun dari duduknya, segera turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar.
"Apa semembahagiakan itu? Dia bahkan keluar tanpa memakai sandalnya." Bu Marina menggeleng melihat tingkah Gina.