
Surya mendekatkan wajahnya semakin dekat. Wajah Gina yang hampir tidak ada kekurangan sedikitpun itu membuat jantungnya berdebar-debar aat berada sedekat ini. Mata yang terpejam itu memperjelas bulu mata lentik dan semakin memanjang ketika Gina memberikan sentuhan mascara. Alis yang sepertinya tersentuh pensil alis itu terlihat sangat alami. Surya tahu dulu Gina tidak pandai dalam hal itu. Surya ingat ketika mereka masih tinggal bersama dalam satu kamar, Gina berusaha keras untuk membuat alis seperti para wanita saat ini yang sedang tren. Alis tebal dan mencolok.
Saat itu Surya baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat Gina masih duduk di depan meja riasnya sambil memegang sesuatu untuk dilukis diwajahnya. Surya merasa heran karena sejak sebelum ia memasuki kamar mandi tadi Gina sudah mulai menggambar sesuatu di alisnya tapi anehnya hingga ia selesai dengan segala ritual kamar mandi ternyata masih terpaku di sana dengan aktifitas yang sama. Tapi Surya hanya berani membatin tanpa bisa bertanya apalagi berkomentar.
"Ya Tuhan, kenapa susah sekali." Gumam Gina dengan nada suara kesal.
"Bagaimana mereka bisa melakukannya dengan baik? Apa mereka memulainya sejak tengah malam sehingga mereka bisa berdandan selesai tepat waktu?" Gumam Gina yang membuat Surya menahan tawa.
"Ahh, tidak. Aku lelah." Gina meletakkan pensil alis diatas meja dengan kasar dan menimbulkan bunyi keras karena tidak hanya pensil alis yang terbanting tapi benturan itu lebih kepada tangan Gina dan meja rias. Surya yang sedang mengancingkan lengan kemejanya lalu menoleh kepada Gina.
Surya benar-benar tidak bisa menahannya kali ini. Bibirnya tidak bisa jika tidak tertawa. Tapi tentu saja itu adalah tawa yang tertahan. Hanya saja Gina tetap bisa mendengar suara tawa Surya karena mereka berjarak beberapa langkah saja.
"Surya, kau menertawaiku?" Gina menatap Surya tajam dengan wajah cemberut.
"Maafkan saya, Nona." Surya tidak bisa menampik jika ia memang merasa lucu dengan bentuk alis Gina yang sangat aneh. Alis berbentuk tebal seolah itu adalah sebuah golok pembunuh naga yang ada di sebuah film kolosal.
"Kenapa orang-orang bisa membuat alis yang sangat indah. Sedangkan aku tidak." Celetuk Gina sambil kembali melihat ke arah cermin dan menatap kesal dirinya sendiri.
"Apa aku harus mengambil kelas make up agar aku bisa membuat alis sebagus mereka?" Gumamnya kemudian.
Surya berjalan mendekati Gina dan kemudian meraih remover di atas meja riasnya. Ia lalu mengambil kapas dan membasahinya dengan remover. Gina memperhatikan apa yang Surya lakukan dan memandang heran kepada Surya dengan tindakan yang ia lakukan saat ini. Surya lalu memutar kursi yang diduduki Gina dan duduk berjongkok dengan hanya satu kaki sebagai tumpuannya tepat di depan Gina duduk.
"Nona, Anda sudah cantik walau tidak membuat alis Anda lebih tebal." Ucap Surya sambil mengusapkan remover dikapas yang ia pegang itu ke alis Gina perlahan.
"Alis Anda sudah cukup sempurna. Alis yang tidak terlalu tebal dengan mata Anda yang menyudut semua itu sudah sangat proporsional, Nona. Saya rasa Tuhan menciptakan Anda dengan sangat sempurna." Penjelasan Surya itu seperti mengandung banyak pujian bagi Gina. Itu membuatnya mengerjapkan mata berkali-kali sambil memikirkan apakah benar yang dikatakan oleh Surya yang sedang memandangnya sambil tersenyum beberapa saat. Untuk sebentar, Gina membalas tatapan Surya dan melihat mata kecoklatan itu semakin dalam menatapnya entah kenapa.
Setelah itu Surya beranjak dari duduknya dan membuang kapas bekas menghapus gambar pensil alis di wajah Gina ditempat sampah dekat meja itu. Surya menyunggingkan senyum sambil berjalan ke luar kamar. Ia telah selesai bersiap dan akan menunggu Gina di meja makan sebelum mereka pergi berangkat bekerja.
Gina memandang wajahnya di dalam cermin dan menajamkan matanya dibagian alis. Ia mulai memperhatikan alisnya mengingat apa yang Surya katakan tadi.
"Benarkah? Apakah alisku cukup bagus jika dibiarkan seperti ini?" Gina sedikit memiringkan wajahnya ke kanan dan ke kiri secara bergantian untuk bisa mandang alisnya lebih jelas.
"Benar. Ku rasa dia memiliki penglihatan yang baik. Wajahku sempurna. Alisku bagus. Mataku menyudut walau tanpa efek make up foxy eyes." Gina tersenyum puas saat melihat wajahnya sendiri di depan cermin.
"Nona, apa Anda menggambar alis Anda?" Tanya Surya saat sudah berada di dekat Gina.
Mendengar suara kalimat Surya, Gina membuka matanya kembali.
"Apa?" Gina mengerjapkan mata karena kejadian itu berada di luar ekspektasinya.
"Oh iya. Ini... sebenarnya..." Gina menjadi salah tingkah karena telah salah mengerti arti tindakan Surya kepadanya. Ia mengutuk di dalam hati karena fikirannya yang terlanjur telah kemana-mana sementara ternyata Surya hanya sedang ingin memperhatikan alisnya dari jarak lebih dekat.
__ADS_1
"Feby mendandaniku tadi." Jelas Gina dengan canggung.
"Ku lihat dia sedang merapikan make upnya. Jadi aku berfikir untuk merapikan alisku juga. Aku sangat penasaran bagaimana dia bisa membuat alis sebagus itu. Sangat alami tapi tetap terlihat garis bulu alisnya." Gina merasa benar-benar harus banyak bicara sekarang agar ia bisa mengalihkan perhatian Surya dari sikap gugupnya.
Surya tersenyum melihat Gina yang berbicara padanya. Ternyata Gina masih terobsesi dengan alisnya. Ia masih ingin membuat alisnya lebih terlihat tegas.
"Tapi bagaimana menurutmu? Apakah ini jelek?" Gina ragu-ragu meminta pendapat Surya.
"Mmm..." Surya diam menatap Gina serius. Itu membuat Gina khawatir pada apa yang akan Surya katakan.
"Cantik." Jawab Surya sambil mengulas senyum.
"Benarkah?" Surya mengangguk. Wajah khawatir Gina berubah menjadi wajah merah tersipu karena Surya memujinya cantik.
Entah kenapa meskipun ia sering mendengar pujian cantik yang ditujukan pada dirinya dari orang lain, tapi ketika Surya yang mengatakannya hatinya mendadak berbunga-bunga. Rasanya senang sekali.
Feby meminum kopinya di dapur dan meletakan cangkirnya kembali di atas meja.
"Ternyata itulah kenapa tiba-tiba Nona Gina ingin aku merapikan alisnya dengan pensil alis." Feby tersenyum sendiri mengingat bagaimana tadi Gina meminyanya untuk memberikannya sedikit sentuhan pensil alis di alisnya. Awalnya memang ia merasa heran karena tidak biasanya Gina melakukan itu. Ia terbiasa melihat Gina yang hanya merias wajahnya dengan sentuhan alami tanpa alis mata. Hanya terlihat eye shadow warna natural dan pemerah pipi yang sangat samar tapi biasanya ia mempertegas make upnya pada lipstik yang ia pakai. Tapi tadi Gina bahkan ingin alisnya diberi sentuhan pensil alis. Benar-benar sebuah hal yang tidak biasa. Tapi ketika ia melihat Gina pergi dengan Surya, akhirnya ia tahu alasan apa yang membuat Gina ingin sedikit membuat perubahan pada make up di wajahnya.
Setelah Surya membawa mobilnya keluar dari halaman rumah Gina yang masih menunggunya hingga keluar dari pagar.
"Ya Tuhan, apa yang sedang ku fikirkan?" Gina memukul keningnya sendiri.
"Kira-kira apa yang Surya fikirkan tentangku?" Gina sambil merogoh tasnya untuk mencari kunci rumah yang biasa ia bawa.
"Apakah dia tahu maksudku tadi?" Gina berfikir sambil tangannya masih mengobok-obok isi tas yang ada di pundaknya.
"Tidak, tidak mungkin. Surya adalah pria yang baik. Ku rasa dia juga cukup lugu. Pria yang berasal dari kampung dan jarang bergaul dengan banyak orang. Pasti dia tidak mengerti hal itu. Ya benar. Dia tidak akan bisa memahami tindakanku." Gina lalu tertawa kepada dirinya sendiri karena seolah mendapat pencerahan dengan pemikirannya sendiri tentang Surya.
"Rumah sebesar ini kenapa masih saja memakai kunci manual. Benar-benar ketinggaan jaman. Rumah Surya saja sudah memakai smart lock door. Sepertinya aku harus mengganti kunci rumah ini dengan smart lock door agar tidak menyusahkan seperti ini." Gina masih belum menemukan kunci miliknya. Ia lalu melongok ke dalam tas dan bahkan menyalakan senter dari ponsel untuk menerangi dalam tas agar bisa menemukan kuncinya. Tapi belum sempat ia menemukan kuncinya, terdengar suara pintu dikunci dari dalam. Gina menatap pintu dan menunggu seseorang membuka pintu untuknya.
"Mama?"
Surya mengendari mobil dengan perlahan. Bibirnya tersenyum lebar sehingga terlihat deretan gigi rapi miliknya. Ia mengingat bagaimana dia hampir kehilangan kendali. Sentuhan Gina di wajahnya tiba-tiba membangunkan sesuatu yang lain pada dirinya. Entah kenapa itu membuatnya menjadi sedikit sensitif. Hanya dengan memandang wajah Gina yang menggemaskan saat tersenyum, ia seperti ingin menyentuhnya. Ada sebuah keinginan yang besar untuk memiliki Gina dengan sentuhannya. Apalagi saat Gina memejamkan matanya, ia tahu Gina telah siap menerima apapun perlakuannya saat itu dan sempat beberapa saat ia merasa dilema. Hampir saja ia melakukannya sampai pada akhirnya akal sehatnya mulai bisa mengendalikannya kembali. Bahwa Gina terlalu berharga untuk secara sembarangan ia sentuh dengan kurang ajar.
Surya menarik nafas berat. Ada prinsip yang selalu ia pegang teguh hingga saat ini. Meakipun ia telah cukup dewasa untuk bisa melakukan itu, tapi seorang wanita tetaplah seseorang yang wajib ia hormati dan ia hargai. Sebagaimana ia menghormati ibunya ia pun melakukan hal yang sama pada semua wanita terutama kepada orang yang ia cintai. Ia tidak akan memperlakukan wanita yang dicintainya secara sembarangan. Ia akan menganggapnya terlalu istimewa untuk secara sembarangan ia sentuh sebelum ia benar-benar secara legal telah memilikinya. Lagi-lagi dada Surya menghangat mengingat wajah Gina dan kemudian menarik nafas panjang untuk melepaskan sesuatu. Perasaan yang sulit ia definisikan tapi ia tahu pasti apa itu.
Hanna meminum jus alpukat di depannya. Ia mengelap bibirnya dengan tisu setelah segelas jus alpukat itu telah habis dari gelasnya.
"Sepertinya bayi kita menyukai makanannya." Ujar Marco dengan senyum lebar di bibirnya setelah melihat bagaimana begitu lahap Hanna menikmati makan malamnya.
__ADS_1
"Ya, ku rasa begitu." Hanna membalas senyum Marco.
Tidak bisa ia pungkiri bahwa akhir-akhir ini Marco memang bersikap jauh lebih baik padanya. Tetap bersikap manis walau Hanna selalu bersikap dingin. Setiap pagi selalu menemani Hanna ketika mengalami morning sickness. Dan berusaha mencarikan makanan yang bisa Hanna makan. Karena kehamilannya itu Hanna bahkan tidak bisa makan apapun. Karena begitu makanan sampai dilambungnya, beberapa saat kemudian ia memuntahkannya kembali. Saat mereka di rumah, Marco selalu sigap membuat Hanna nyaman dengan kehamilannya. Marco juga tidak memperbolehkannya memasak dan mulai memakai jasa asisten rumah tangga untuk mengurus semua urusan rumah. Hanna benar-benar diratukan saat ini.
Baru saja Marco menutup bibirnya, Hanna berlari meninggalkannya dan menuju ke arah toilet. Marco tahu apa yang terjadi pada istrinya dan segera menyusulnya di belakang. Benar, Hanna memuntahkan kembali semua yang telah ia makan barusan. Ia lalu berkumur dan membasuh wajahnya usai mengeluarkan isi makanan diperutnya. Ia berusaha membuat dirinya segar kembali.
Hanna pun keluar dari dalam toilet saat Marco sudah ada di depan pintu sambil membawakannya tisu.
"Terima kasih." Ucap Hanna sambil mengambil selembar tisu ditangan Marco dan mengelap wajahnya yang basah. Marco pun turut mengusap beberapa bagian wajah Hanna terutama pada bagian dahi dengan rambut depan yang ikut basah karena basuhan air.
"Ayo kita duduk lagi." Ajak Marco sambil merangkul pundak Hanna karena melihat wajahnya pucat dan terlihat lemas.
"Aku mau pulang." Pinta Hanna dengan suara lemah. Jelas sekali jika tubuhnya sedang lemas sekarang.
"Baiklah, mari kita pulang." Marco pun membibing Hanna untuk keluar dari rumah makan prasmanan itu. Rumah makan favorit mereka karena menyediakan berbagai masakan rumahan.
Marco fikir mungkin menu ini akan membuat Hanna berselera karena hampir menyediakan semua masakan khas rumah. Sayur asam, sayur sop, sayur lodeh, soto, rawon berbagai sayur yang diolah dengan berbagai macam cara. Urap, tumis dan kukus. Lauknya pun bermacam-macam, tahu tempe goreng, ayam goreng, ikan bandeng presto, telur dadar, perkedel dan banyak lagi.
Sejak mengalami ngidam, Hanna bahkan tidak bisa menyentuh bumbu dapur. Semua yang berbau gurih membuatnya mual hingga ia tidak bisa memasak apapun dan juga memakan apapun.
"Kenapa kau pelupa sekali." Ujar Bu Marina sambil memberikan kunci rumah kepada Gina.
"Kunciku." Gina langsung mengenali kunci itu miliknya karena terdapat gantungan berbentuk hati berwarna merah jambu sebagai gantungannya.
"Pantas saja tidak ada di dalam tasku. Mama menemukannya di mana?" Tanya Gina sambil menerima kunci yang Mamanya sodorkan.
"Kau meninggalkannya di pintu semalam. Pak Eko menemukan dan menyimpannya. Lalu tadi memberikannya padaku tapi aku lupa mengembalikannya lagi padamu." Jelas Bu Marina.
"Bagaimana kau sangat ceroboh dan meninggalkan kunci pintu diluar tanpa menguncinya kembali."
"Namanya saja lupa." Gumam Gina sambil berjalan masuk.
"Ehhem... ku lihat kau pulang bersama Surya lagi." Ujar Bu Marina mengikuti langkah Gina di belakangnya. Gina tahu kemana arah pembicaraan Mamanya itu. Ia tahu cepat atau lambat orang tuanya pasti akan mempertanyakan kedekatannya kembali dengan Surya.
"Apakah kalian pulang dari menghadiri acara yang sama lagi?" Cecar Bu Marina. Gina belum menjawab, ia masih berjalan dengan hanya menyimak setiap ucapan Mamanya.
"Apakah acara pertemuan pengusaha mengalami perubahan jadwal menjadi dua kali dalam satu bulan? Atau tiga kali? Empat kali?" Bu Marina semakin sengit mengejar Gina dengan pertanyaanya. Meskipun ia telah mempersiapkan untuk hal seperti ini, nyatanya saat berhadapan dengan Mamanya secara langsung begini, ia tetap merasa bingung.
"Apa kalian kembali rujuk?" Akhirnya itu adalah kalimat pamungkas Bu Marina karena merasa Gina seperti tidak menghiraukan dirinya.
Sepertinya kali ini berhasil, Gina berhenti dan membalik badannya.
__ADS_1
"Aku dan Surya berpacaran." Kalimat Gina tegas penuh percaya diri. Sedangkan Bu Marina menatapnya lekat. Akhirnya kekhawatirannya kali ini benar-benar telah terjadi.