
Surya mengerjapkan mata saat ia mulai terjaga dari tidurnya. Ia mendengar sesuatu yang berisik dari sebuah arah. Matanya masih terasa berat untuk terbuka walau fikirannya sudah mulai terjaga sepenuhnya. Ruangan itu masih gelap saat penglihatannya sudah terbuka secara utuh. Ada aroma yang sangat ia kenal selama ini. Aroma bawang yang ditumis. Surya segera mengangkat tubuhnya saat menyadari kemungkinan yang bisa saja terjadi. Ia lalu berjalan menuju ke arah dapur.
Gina sedang memegang spatula dan menggoreng sesuatu di sebuah penggorengan. Ia tampak sibuk dengan celemek yang sedang ia pakai. Merasa diperhatikan seperti itu, Gina menoleh ke arah Surya.
"Kau sudah bangun?" Senyum Gina lebar melihat Surya berdiri di pintu dapur.
"Mandilah dulu, ini akan segera selesai. Setelah itu kita akan sarapan." Gina lalu kembali mengorek nasi di atas penggorengan.
Surya menurut dan menuju kamarnya untuk mandi. Fikirannya masih tertinggal kepada Gina yang tiba-tiba memasak. Sebuah kejadian yang sangat ajaib melihat Gina memakai celemek seperti itu. Dia yang biasa memakai pakaian bermerk dengan harga yang fantastis, saat di rumahnya malah lebih memilih memakai pakaian kedodoran miliknya dan sekarang malah memasak makanan untuknya.
Apa Nona Gina sangat tertekan sehingga menjadi seperti itu? Apakah pernikahannya denganku membuatnya sangat putus asa sehingga ia kehilangan jati dirinya dan berubah sejauh 180° dari sebelumnya. Atau mungkinkah pekerjaannya di R-Company sangat menguras fikirannya sehingga membuatnya frustasi lalu pada titik itu ia jadi... Surya tidak berani membayangkan lebih lanjut dampak dari kehidupan yang di alami Gina akhir-akhir ini. Kehidupan yang jauh dari kebiasaannya sebelumnya.
Surya mengguyur kepalanya yang berputar-putar memikirkan Gina yang berubah sedrastis itu. Air shower yang dingin ia harap bisa menenangkan otaknya yang penuh dengan fikiran-fikiran khawatir terhadap Gina.
Gina meletakan nasi goreng di atas tempat nasi yang terbuat dari kaca dan membawanya ke atas meja makan. Saat itu Surya sudah selesai mandi dan menghampiri Gina yang kembali ke dapur untuk mengambil piring berisi teman makan nasi goreng.
"Kau sudah selesai? Mari kita sarapan." Sapa Gina dengan senyum manis di bibirnya serta tangan kanan membawa piring berisi telur ceplok, sosis dan juga nugget ayam. Semua itu Gina dapatkan dari dalam kulkas.
Gina berjalan keluar dapur. Sedangkan Surya masih berdiri di ambang pintu dapur menatap dapurnya yang sekejap saja berubah menjadi seperti telah diterjang oleh tsunami. Berantakan. Alat-alat memasak keluar dari tempatnya, ceceran nasi goreng berserakan dimana-mana disekitar penggorengan. Kulit telur ada di atas meja dapur, sisa bawang bekas untuk bumbu, semuanya memenuhi meja dapur Surya.
"Apa yang dilakukan dengan dapurku? Nasi goreng itu diaduk atau lempar-lempar? Kenapa bisa berceceran diseluruh tempat?" Surya menarik nafas panjang.
"Sangat berantakan." Gumam Surya selanjutnya sambil tertawa kecil membayangkan apa saja yang sudah dilakukan Gina pada dapurnya tadi.
"Surya, kemarilah cepat." Ajak Gina dari meja makan yang bersebelahan langsung dengan meja dapur.
"Baik Nona." Dengan perasaan sesak Surya menuju ke tempat Gina menata meja makan.
"Ayo kita sarapan." Gina mengambilkan Surya nasi goreng di atas piring dan diletakkan di depannya.
Surya memandang nasi goreng itu lekat. Nasi goreng dengan penampilan nasi yang masih ada sebagian menggumpal-gumpal kecil, dengan warna kecoklatan tidak merata. Dari situ Surya bisa membayangkan bagaimana rasanya. Surya menarik nafas lagi kuat-kuat lalu menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Gina dengan pandangan harap-harap cemas.
"Lumayan." Surya mengunyah nasi gorengnya perlahan.
"Benarkah?" Gina juga menyendok nasi goreng miliknya sendiri. Ia lalu memandang Surya yang menikmati sarapannya dengan hikmat tanpa suara apapun.
"Surya, berhentilah memakannya." Ujar Gina kemudian dengan nada pelan tapi volume sedang.
"Kenapa, Nona?"
"Ini sangat asin." Gina memandang nasi gorengnya muram.
"Hanya sedikit asin, Nona."
"Tidak, sepertinya aku terlalu bersemangat saat menambahkan garam ke dalamnya."
"Ini enak, Nona." Surya terlihat biasa saja. Gina menatap Surya bergidik.
🌸🌸🌸
Matahari sudah mulai tenggelam sore ini. Cuaca hari ini terasa panas sepanjang hari. Itu berbanding terbalik dengan cuaca semalam yang dihiasi oleh hujan deras. Entah bagaimana cuaca malam ini, akankah hujan atau tidak.
__ADS_1
Udara dingin semalam membuatnya terbangun semakin nyaman dibalik selimut tebal yang diberikan oleh Surya saat ia sudah terlelap. Tapi kemudian ia membuka mata dan sadar bahwa ia tidak sedang berada di dalam kamar melainkan di ruang TV. Gina bersiap bangun saat melihat tepat dibawah sofa ada Surya yang tertidur pulas diatas karpet bulu yang ia pakai. Gina memandang Surya yang ada di bawahnya. Wajah tidurnya sangat damai seperti biasa. Melihat itu lagi-lagi Gina menyunggingkan senyum. Wajah itu sebenarnya tidak memiliki garis ketampanan yang sama dengan wajah pria-pria yang pernah dipacarinya. Tapi entah kenapa Gina sangat menyukai Surya yang bahkan tidak masuk kedalam tipe pria kesukaannya sehingga membuatnya ingin menarik perhatian Surya dan ingin melakukan banyak hal untuk itu. Oleh karena itu Gina memutuskan untuk membuat sarapan tadi pagi. Berharap Surya akan terkesan padanya.
Gina duduk di samping Surya yang sedang menyetir dengan santai. Sore sepulang bekerja adalah saat yang nyaman berkendara ditemani oleh sopir begini. Lama-lama Gina terbiasa dengan hal itu dan sangat menikmatinya. Tapi wajahnya yang cantik masih ditekuk sampai saat ini karena insiden nasi goreng asin tadi pagi dan membuatnya merasa tidak enak kepada Surya.
"Surya, lidahmu baik-baik saja?" Tanya Gina sambil menoleh kepada Surya. Gina merasa bersalah karena sudah membuat masakan dengan rasa garam.
"Baik-baik saja, Nona." Surya menjawab sambil tersenyum.
"Aku yakin lidahmu sekarang pasti mati rasa." Gumam Gina dan Surya yang mendengar itu kali ini menahan agar tidak tersenyum apalagi tertawa.
Surya tahu itu berlebihan dengan tetap menghabiskan nasi goreng rasa garam itu, tapi ia juga tidak ingin mengecewakan Gina yang sudah berusaha untuk masakannya tadi pagi. Ia harus bangun pagi dan memasak walapun ia sama sekali belum pernah melakukannya. Jadi, Surya harus memberinya penghargaan dan kesan yang baik atas usahanya. Sehingga menghabiskan sepiring nasi goreng yang sangat asin adalah hal yang harus dilakukannya.
"Ada kalanya makanan memang memiliki rasa yang kuat, Nona. Sehingga ada yang namanya ikan asin, telor asin, cumi asin..."
"Tapi belum ada nasi goreng asin dalam sepanjang sejarah perkulineran." Sela Gina.
"Tidak perlu berpura-pura menyukainya. Aku juga akan tetap mengerti jika kau jujur rasanya tidak enak." Lanjut Gina lagi.
"Semua berawal dari tidak bisa sehingga menjadi bisa, Nona. Saya menyukai usaha Nona, sehingga saya menghargai makanan yang Nona buat dengan memakannya sampai habis."
"Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu. Kau tidak perlu menanggung risiko darah tinggi setelah ini. Itu adalah kesalahanku jadi kau tidak boleh menjadi korban."
"Saya terlalu sehat untuk mendapatkan tekanan darah tinggi saat ini, Nona."
"Baguslah kalau kau yakin dengan hal itu." Gina mulai bisa tersenyum lagi. Ia memandang Surya. Gina merasa lega karena Surya terlihat baik-baik saja. Ia juga cukup senang karena Surya yang menghargainya begitu.
"Oh iya, ku lihat tadi pagi banyak bahan makanan di rumahmu habis. Stok telur dan juga sayuran sudah tidak ada. Baiknya kita berbelanja dulu sekarang."
Gina berjalan di depan Surya yang mendorong troli mendekati lorong bahan makanan. Gina lalu mengambil dua kotak berisi telur yang masing-masing berisi 10 biji dan meletakkannya di dalam troli yang didorong oleh Surya.
"Lalu apa lagi ya?" Gumam Gina mengingat-ingat apa yang harus dibelinya lagi. Ia berpura-pura bisa berbelanja layaknya wanita lain. Padahal ini adalah pengalaman keduanya berbelanja setelah pengalaman pertama saat ia berbelanja dengan Ayu di pasar waktu itu. Jadi, berbekal pengalaman pertamanya itu, Gina berusaha mengulang kembali apa yang harus ia lakukan sekarang.
Jadi Gina menuju rak sayur mayur dan mengambil beberapa sayuran. Wortel, brokoli, selada, sawi, bayam. Kemudian Gina mendekati rak buah-buahan. Jeruk, apel, anggur merah, masing-masing Gina mengambil sesuai keinginannya. Surya masih mengikuti Gina dengan setia. Ia akan membiarkan Gina membeli apapun yang ingin ia beli. Lalu setelah itu Gina berjalan ke lorong makanan ringan. Semua makanan ringan dengan berbagai jenis dan merk ada di sana. Gina mengambil makanan ringan kesukaannya. Keripik kentang adalah makanan ringan wajib untuknya sehingga ia tidak akan melewatkan itu. Untuk urusan berbelanja makanan ringan, Gina sudah sangat berpengalaman karena sering kali tujuan utamanya pergi ke minimarket adalah untuk memborong makanan ringan.
"Nona, saya akan mengambil sesuatu di sebelah sana." Surya pamit untuk mengambil entah apa. Gina hanya mengangguk mengiyakan sambil memasukkan makanan ringan yang ia ambil.
"Gina..." Sapa seseorang di dekatnya. Seketika Gina mendongak dari posisi menunduknya saat mengambil sebotol selai kacang di rak bagian bawah. Seorang pria berkulit putih dengan senyum menawan dan tatapan mata hangat ada di sampingnya sekarang.
"Hai, kau." Gina mengenali pria tampan itu.
"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Tutorku yang Tampan." Kelakar Gina dan seketika itu membuat pria yang dikatakan tampan oleh Gina lalu tertawa.
Tepat saat itu Surya berjalan mendekati Gina dan melihatnya sedang berbincang dengan seorang pria. Surya mengawasi pria yang terlihat dari samping itu. Ia merasa tidak pernah mengenal pria itu. Surya berfikir apa mungkin dia adalah mantan Gina yang terlewat dari sepengetahuannya. Surya lalu berhenti di deretan rak makanan ringan tidak jauh dari Gina dengan berpura-pura memilih juga dan tetap memasang pendengarannya agar tahu siapa pria itu dan apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian Surya menoleh cepat kepada Gina dan pria itu saat Gina memanggilnya 'Tutorku yang Tampan'. Pandangan mata Surya tajam ke arah pria yang tertawa mendengar ucapan Gina barusan.
Memang tampan. Batin Surya memandang pria yang bersama dengan Gina itu.
"Bagaimana, kau sudah tidak tertarik lagi dengan pemrograman?" Tanya pria yang dikatakan sebagai tutor Gina itu.
"Iya, sebenarnya aku tertarik sekali, tapi berhubung aku sudah tidak lagi bekerja di Font jadi aku harus benar-benar mengucapkan selamat tinggal pada ilmu pemrograman." Lalu Gina tertawa. Wajahnya terlihat cerah saat tertawa begitu.
Surya masih mengawasinya dari tempatnya berdiri. Untuk pertama kali Surya tidak suka melihat cara Gina tertawa. Surya menyesalkan kenapa Gina tertawa begitu lepas kepada pria tampan di depannya seperti itu. Melihat itu seperti ada butiran-butiran pasir yang digosokkan di hati Surya.
"Benarkah? Kau tidak bekerja di Font lagi?"
__ADS_1
"Hmm..." Senyum Gina tidak lepas sama sekali saat memandang wajah pria itu. Surya semakin gerah melihatnya.
"Lalu, apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
"Aku menjadi tukang panci." Gina lalu tertawa setelah mengatakan itu. Pria di depanya yang tentu saja tidak percaya pada ucapan Gina pun ikut tertawa. Mereka terlihat akrab.
"Kau ini mengada-ada saja. Aku harus mengatakan pada Sunday kalau suaminya harus mempekerjakan kau lagi di Font. Mana bisa wanita secantik dirimu menjadi tukang panci. Nanti yang ada bukan ibu-ibu yang ingin menambalkan pancinya tapi para bapak yang malah mengantri." Kelakar teman Gina yang diikuti tawanya lagi.
"Baiklah, lain kali kita harus mengobrol lebih banyak."
Dari situ Surya menyimpulkan bahwa pria itu mengenal Sunday.
Tapi siapa dia? Dia mengenal Sunday tapi dia bukan pegawai Font karena bahkan tidak tahu sekarang Gina tidak bekerja di sana lagi. Surya menganalisa.
"Boleh." Gina mengiyakan.
"Nomor ponselmu masih tetap sama, bukan?"
"Tentu saja."
"Bagus. Lain kali kita harus makan bebek goreng lagi. Dengan sambal ijo yang banyak sampai perutmu terbakar."
"Siapa takut." Pria itu lalu berpamitan dan meninggalkan Gina yang juga kembali memilih makanan ringan.
Sekarang Surya kembali menghampiri Gina dengan satu botol kecap dan saus tomat pedas. Saat berada di dekat troli, Surya lalu memasukkan semua yang ada di tangannya itu. Surya bersikap biasa seperti tidak menghiraukan apa yang baru saja Gina lakukan.
"Sudah cukup. Ayo kita ke kasir." Gina mendorong troli yang penuh dengan belanjaan itu. Surya mengikutinya dari belakang.
Tiba-tiba saja Surya jadi malas terhadap Gina. Baru saja sebentar ia meninggalkannya tapi sudah berbincang akrab dengan orang lain. Dia juga tidak memperkenalkan dirinya sebagai suami padahal ia tahu dirinya berdiri tidak jauh dari tempat Gina berbincang dengan pria tadi. Gina benar-benar bersikap seolah dia masih single. Surya sengaja tidak bertanya pada Gina tentang siapa pria itu tapi ternyata Gina juga tidak ingin memberitahunya apapun.
Semua belanjaan sedang di hitung di meja kasir. Setelah selesai lalu Surya membayar sejumlah nilai belanjaan mereka. Kini Surya sedang mendorong troli yang ia bawa hingga ke tempat parkir dimana mobilnya berada. Belanjaan mereka terlalu banyak sehingga akan berat jika membawanya tanpa bantuan alat.
Surya memindahkan semua belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil dan Gina sudah duduk di jok depan menunggunya.
"Apa itu? Tutor tampan? Makan bersama lagi? Mereka benar-benar pernah melakukannya? Tapi kenapa aku tidak pernah tahu?" Gumam Surya sambil menutup pintu bagasi dengan sangat keras. Ia sengaja melakukannya karena kesal melihat Gina tersenyum manis begitu kepada pria tadi. Gina pasti bisa merasakan pintu itu seolah dibanting.
"Memangnya siapa pria itu?" Surya berjalan mendekati pintu mobilnya.
"Surya, malam ini aku akan memasak semur ayam." Ujar Gina saat Surya sudah duduk di dalam mobil.
"Tidak Nona, saya yang akan memasak untuk Anda. Saya akan membuat semur ayam." Jawab Surya cepat karena tidak ingin Gina mengacaukan dapurnya lagi. Belum lagi ia tidak mau menanggung risiko memakan makanan dengan rasa yang aneh.
"Kenapa? Kau takut masakanku tidak enak lagi?"
"Bukan, bukan begitu..." Surya berbohong.
"Aku melihat tutorialnya mudah sekali." Gina menunjukkan sebuah video cara memasak semur ayam dari ponselnya.
"Mari kita memasak bersama, Nona." Ujar Surya akhirnya.
"Baiklah kalau begitu." Gina tampak sedang dalam suasana hati yang cukup baik sekarang. Terbukti ia jadi sering tersenyum dan wajahnya tampak ceria.
Apa semembahagiakan itu berbicara dengan si Tutor Tampan? Nona Gina benar-benar tidak pernah berubah. Seorang playgirl tetaplah seorang playgirl. Keluh Surya dalam hati. Ia lalu menarik nafas berat dan menghembuskanya perlahan hingga Gina tidak menyadari itu.
__ADS_1