Tahta Surya

Tahta Surya
Kebetulan Yang Kebetulan


__ADS_3

Friday duduk di ruang tamu rumah Gina. Ia mengedarkan pandangan pada ruang tamu yang luas bernuansa klasik itu. Jika dibandingkan dengan rumahnya, ruang tamu rumah Gina lebih lebar daripada seluruh luas rumahnya.


"Jadi, kenapa malam-malam kau ke rumah Sunday sendirian?" Tanya Gina yang duduk di hadapannya.


"Ada keperluan yang penting, Kak."


"Kenapa Sunday tega sekali menyuruh adik perempuannya datang ke rumah semalam itu."


"Itu bukan salah Kak Sunday, tapi aku yang lalai sehingga datang ke rumah Kak Sunday terlalu malam."


"Oh ya?"


"Sebenarnya aku berjanji akan mengantar sesuatu ke rumahnya sore hari sebelum bermain bersama teman, tapi aku malah pergi bermain dulu hingga akhirnya lupa waktu. Sehingga baru datang ke rumah Kak Sunday setelahnya."


"Lain kali jangan diulang ya. Itu sangat membahayakan untukmu."


"Iya Kak, maafkan aku. Karena itu aku jadi merepotkanmu." Friday merasa bersalah.


"Tidak apa-apa."


"Ku dengar dari Kak Faris, karena menghadapi preman itu Kak Surya sempat terluka?"


"Iya, tapi sekarang sudah membaik. Dia memiliki antibody yang kuat sehingga lukanya cepat sekali sembuh." Gina tersenyum pada Friday agar gadis itu tidak terus merasa bersalah seperti itu.


"Sampaikan permintaan maafku juga kepada Kak Surya." Gina mengangguk.


Gina baru sadar Surya belum muncul sejak dia memarkir mobilnya di garasi. Gina jadi penasaran apa yang sedang Surya lakukan saat ini sampai tidak datang ke ruang tamu.


Setelah berbincang beberapa lama, akhirnya Friday berpamitan untuk pulang dan mengucapka terima kasih berkali-kali.


"Aku masih membayangkan bagaimana seandainya Kak Gina tidak lewat di sana. Mungkin aku sudah kehilangan motorku."


"Itu artinya kita berjodoh." Jawab Gina.


"Ya benar." Senyum Friday mengembang penuh rasa terima kasih.


"Hati-hati di jalan. Jangan mengebut dan juga hindari jalan sepi." Pesan Gina pada Friday saat mengantarnya sampai ke teras rumah.


"Baik Kak." Friday tersenyum pada Gina.


"Ngomong-ngomong, apa Kak Sunday tidak tahu kalau Kak Gina jago ilmu bela diri?" Tanya Friday dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Gina.


"Pantas saja Kak Sunday sangat kaget saat ku ceritakan bagaimana Kak Gina dengan sangat keren membanting preman itu dan akhirnya aku bisa kabur." Mendengar itu Gina tersenyum lebar.


Memang selama Gina berteman dengan Sunday, Gina tidak pernah menunjukkan kemampuan bela dirinya karena mereka tidak pernah terlibat pada kondisi dimana Gina harus menunjukkan kemampuannya.


Setelah memastikan Friday keluar dari pintu gerbang rumahnya, Gina lalu berbalik untuk masuk ke dalam rumahnya. Saat hendak memasuki pintu rumahnya, Gina melihat Surya sedang menerima telepon di halaman samping yang bisa dilihat dari tempatnya berdiri. Surya tampak berbicara santai dengan sesekali tersenyum dan bahkan tertawa. Seperti ada yang mengawasi, Surya lalu menoleh ke arah Gina. Dan saat mereka bertemu pandang, Surya lalu menutup teleponnya. Gina melihat itu dan merasa ada yang aneh dengan Surya. Kenapa menutup telepon saat Gina melihatnya.


Tapi Gina lalu tidak memperhatikan itu. Ia membawa paper bag berisi berbagai macam sambal yang di bawa oleh adik Sunday ke dapur. Friday memberinya banyak varian sambal sebagai rasa terima kasih sudah di selamatkan. Gina mengeluarkan isinya dan memasukkannya ke dalam laci tempat biasa Mbak Yuyun meletakkan bahan makanan. Di dalam paperbag itu juga terdapat voucher yang diberikan Friday tadi.


"Ini voucher untuk Kak Gina dan Kak Surya. Datanglah ke toko kami dengan voucher ini, kami akan memberikan harga khusus." Jelas Friday seolah berpromosi. Gina mengangguk ramah.


"Ehh tapi, itu kalau Kak Gina menyukai sambal buatan kami. Aku tidak boleh terlalu percaya diri, bukan?"


"Enak, sambal buatan keluargamu enak. Sunday pernah memberikannya padaku. Kalau tidak salah sambal cumi asin. Tapi level paling rendah karena aku tidak suka makanan pedas."


"Benarkah? Kak Gina sudah pernah mencicipinya?"


"Ya, berkat Sunday." Jawabnya.

__ADS_1


"Sunday juga mengatakan itu adalah sambal homemade yang sekarang sudah berkembang menjadi home industri. Dia mengatakan kalau sambal buatan kalian adalah yang terenak di negeri ini."


"Apa Kak Sunday benar-benar mengatakan itu?" Mata Friday membulat tidak percaya.


"Ya, Benar." Gina melihat Friday sangat senang mendengar apa yang diceritakan oleh Gina.


Dan sekarang Gina memasukkan voucher bertuliskan nama merk mereka 'Ratu Sambel' itu ke dalam tas yang masih terselempang di tubuhnya. Setelah selesai, Gina membalik badan untuk keluar dari dapur.


"Ya Tuhan." Gina hampir melompat saat melihat Surya sudah berdiri si pintu masuk dapur.


"Kau mengagetkanku saja." Gina mengelus dadanya yang terkaget.


"Itu temanku yang menelepon." Kata Surya tiba-tiba. Gina yang berniat meninggalkan dapur jadi mengerutkan kening. Ia heran kenapa Surya mengatakan itu padanya.


"Aku tidak menanyakan apapun padamu." Jawab Gina dengan nada suara yang datar.


"Iya, Anda benar." Surya tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendapat jawaban itu oleh Gina.


Gina lalu berlalu dari hadapan Surya dengan kecuekan yang ia tampakkan sangat jelas. Surya menarikn nafas berat dan menghembuskannya lagi. Entah kenapa Gina menjadi sangat sensitif semenjak kedatangannya dari luar kota.


Sekarang, di kamarnya, Gina sedang bersiap mandi saat Surya memasuki kamar. Ia masih tidak menghiraukan Surya dan memasuki kamar mandi tanpa bertanya apa Surya akan mandi juga seperti biasanya.


"Ahh, kenapa aku sangat tidak suka walau dia hanya menerima telepon. Ini sangat mengesalkan." Gumam Gina di dalam kamar mandi.


Kali ini Gina tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi karena ia sangat lelah dan hanya ingin menyegarkan badannya dengan air hangat lalu berencana untuk segera tidur. Tapi saat keluar dari kamar mandi, Surya terlihat sedang membuka perban di lengannya. Gina melihat sepertinya Surya tampak kerepotan.


"Biarkan aku yang membantumu." Ujar Gina saat sudah berada dekat dengan Surya. Surya memandang Gina dan menggeser duduknya agar Gina bisa duduk di sebelahnya dan membantu melepas perban di bahunya.


Perlahan Gina melepas perban itu hingga nampak kain kasa penutup luka Surya. Gina lalu melepasnya. Terlihat luka dengan jahitan yang banyak dan masih basah.


"Ini pasti rasanya sakit sekali." Gumam Gina.


Surya meringis kesakitan saat Gina menyentuh luka yang masih memerah itu. Gina melakukan dengan lebih hati-hati kali ini. Tapi luka yang belum sembuh memang akan terasa sakit jika disentuh secara langsung. Apalagi jika diusap dengan alkohol, itu pasti sangat perih. Gina bisa merasakan itu. Ia sampai ikut menahan nafas saat mengusap luka Surya. Dan ketika terlihat Surya meringis menahan sakit, Gina mulai meniupnya ditempat yang sekarang ia olesi salep. Perlahan dan sangat lembut.


Hembusan nafas Gina membuat Surya tidak bisa untuk tidak menoleh ke arah Gina. Sedangkan berada di tempat yang sedekat itu, Surya bisa melihat dengan jelas wajah Gina. Wajah segar setelah mandi dan rambut basah yang menebarkan aroma wangi. Surya seperti selalu ingin berada pada posisi itu. Tanpa aba-aba, tiba-tiba Gina menoleh ke arahnya. Surya buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain. Dalam diam Surya menggariskan tipis senyum di bibirnya. Ia memang mengagumi Gina.


Surya adalah pria normal yang mana bisa berpaling jika harus berhadapan sangat dekat dengan sesuatu yang indah seperti itu. Ia harus menelan ludah berkali-kali untuk menahan perasaannya setiap berada sedekat itu.


Gina masih sibuk menutup kembali luka Surya setelah sebelumnya juga mengobatinya. Meskipun tidak terampil tapi Gina tahu bagaimana cara merawat luka. Surya merasa terperhatikan berkatnya.


"Terima kasih, Nona." Ucap Surya.


"Hmm." Jawab Gina merekatkan pembalut luka di bahu Surya.


"Sudah." Gina lalu menggeser tubuhnya untuk merapikan kotak P3K yang dipakai Surya untuk mengganti perbannya tadi.


"Nona, kenapa masih tetap membantu saya? Padahal Nona sedang tidak enak hati kepada saya."


"Karena aku masih punya rasa kemanusiaan terhadap sesama makhluk Tuhan."


"Jadi benar, Anda sedang tidak enak hati kepada saya?"


"Oh... tidak. Aku hanya sedang lelah saja. Kau jangan salah faham." Merasa terjebak dengan pertanyaan Surya, Gina berusaha tetap tenang melanjutkan mengemasi alat-alat yang ia gunakan untuk merawat luka Surya tadi. Ia lalu berdiri dari tempatnya.


"Nona, Anda bisa mengutarakan semua yang ingin Anda ungkapkan. Saya tidak keberatan kalau memang harus mendapatkan kemarahan Anda karena saya bersalah." Ujar Surya. Gina berhenti melangkahkan kakinya. Kemudian ia berbalik.


"Sudah malam, aku harus tidur."


"Baiklah, Nona." Surya pasrah dengan sikap Gina hari ini yang sangat membingungkan.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja tidur di situ?" Tanya Gina memastikan bahwa Surya bisa kembali tidur di tempatnya semula, bukan di tempat tidur Gina. Ia tahu Surya pasti akan mengatakan ia baik-baik saja. Dan Gina pun tidak memiliki alasan lagi untuk membuat Surya bisa tidur di sampingnya.


"Tentu saja, Nona." Jawab Surya tidak lupa dengan senyum diwajahnya.


"Baguslah." Jawab Gina singkat.


"Tapi, Anda belum makan malam, Nona." Surya mengingatkan.


"Aku terlalu lelah untuk makan. Aku akan tidur saja."


"Apa perlu saya menyuapi Anda?" Surya masih mencoba mengajak Gina bercanda. Gina tidak menjawab dan hanya menatap Surya tajam lalu berbaring dan tidur.


"Ngomong-ngomong, siapa gadis tadi?" Surya masih mencoba membangun percakapan dengan Gina.


"Oh iya, dia mengucapkan terima kasih juga padamu."


"Gadis tadi? Terima kasih?" Gina bangun lagi dari tempatnya berbaring dan mengangguk.


"Dia mengenal saya?"


"Dia gadis yang kita tolong itu."


"Benarkah? Bagaimana dia tahu rumah ini?"


"Dia bercerita banyak sampai akhirnya tahu rumah ini. Tapi yang jelas ternyata dia adalah adik Sunday."


"Sunday? Maksud Nona adalah Nona Sunday istri Pak Faris?" Gina mengangguk lagi.


"Kebetulan yang kebetulan." Gumam Surya. Gina lalu kembali berbaring.


"Nona..." Panggil Surya lagi seperti selalu meminta perhatian.


"Apa lagi?" Jawab Gina malas sambil membalik tubuhnya menghadap Surya yang berjalan ke arahnya.


"Ini foto-foto kita tadi, Nona." Ujar Surya sambil membawa beberapa lembar foto menuju tempat Gina tidur. Mereka memang sempat berfoto tadi saat berada di taman hiburan.


Saat mereka berjalan berdua menuju wahana komidi putar, Gina melihat sebuah photobox dan mengajak Surya untuk berfoto di sana. Gina menerima foto-foto yang disodorkan oleh Surya. Beberapa foto dengan banyak ekspresi dan gaya dari mereka berdua. Tidak, lebih tepatnya Gina yang banyak gaya dan banyak ekspresi. Surya hanya berdiri di sebelah Gina dan hanya tersenyum menatap kamera. Ia memang tidak pandai berpose di depan kamera sehingga ia tidak bisa menampilkan kemampuan dirinya dengan baik dalam berfoto.


Gina melihat foto itu satu per satu. Satu foto, Gina menampilkan duck face ala dirinya. Lalu ada foto dimana dia menjulurkan lidahnya. Ada juga foto saat dia menggandeng Surya dan menyandarkan kepalanya dibahu Surya. Ia berhenti difoto itu. Surya tampak tersenyum melihat kamera. Melihat itu tanpa sadar Gina tersenyum.


"Saya sangat suka foto itu." Gina mendongak memandang Surya yang masih berdiri di sisi tempat tidurnya turut melihat foto-foto yang dilihat Gina.


"Tapi aku terlihat gemuk." Ucap Gina cuek.


"Benarkah?" Tanya Surya sambil menunduk mendekatkan wajahnya kepada Gina untuk memperjelas foto yang dilihatnya dan memastikan komentar Gina.


"Tidak, Nona. Ini bagus. Anda terlihat manis di sini." Tunjuk Surya di samping Gina.


"Benarkah?" Gina menolehkan kepalanya ke arah Surya. Tapi karena Surya terlalu dekat di samping Gina, wajah mereka hampir saja bersentuhan. Mata mereka saling beradu pandang selama beberapa detik sebelum Surya lalu menarik pandangannya menjauhi Gina dengan kembali menegakkan badannya.


"Ehhemm..." Surya berusaha menutupi kegugupannya.


"Saya akan tidur, Nona. Anda juga segeralah tidur." Surya berjalan mundur menuju sofa tempatnya biasa tidur.


"Ya tentu saja. Aku akan tidur." Ujar Gina sambil menyimpan foto-foto itu diatas meja nakas di samping tempat tidurnya. Ia lalu berbaring dan memunggungi Surya yang sudah berbaring juga di sofa. Perlahan Gina menarik tangannya meraba dadanya yang berdebar kencang. Sedekat itu dengan Surya membuat jantungnya melompat ke sana kemari. Ia merasa pesona Surya semakin membuatnya menyukainya dari hari ke hari.


Melihat Gina sudah tidur dan memunggunginya, Surya tersenyum. Perlahan ia juga meraba dadanya. Lalu memasukkan tangannya ke dalam saku belakang celana dan mengeluarkan sesuatu. Satu foto dirinya bersama Gina yang sempat ia ambil sebelumnya. Sebuah foto dengan wajah Gina yang tersenyum manis ke arah kamera dan Surya yang memandangnya dengan tatapan yang harus ia sembunyikan dari Gina. Tatapan yang seharusnya tidak ia perlihatkan pada siapapun terlebih lagi keada Gina. Tatapan yang jika orang lain melihatnya maka akan bisa membaca bagaimana isi hatinya.


Surya tersenyum melihat foto itu lalu menyimpannya kembali ke dalam saku celananya agar Gina tidak bisa melihat itu sehingga menjadi tahu apa yang Surya sembunyikan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2