Tahta Surya

Tahta Surya
Rencana yang Rahasia


__ADS_3

"Pikirkan cara agar Gina mau tapi tidak membuatnya curiga." Kalimat Pak Rangga sangat jelas Gina dengar dari ujung teratas anak tangga.


Apa yang sedang mereka rencanakan terhadapku? Apa ini untuk membuatku menyerah dari keinginanku merebut R-Company? Yang benar saja. Aku harus membuat mereka berfikir dua kali jika ingin menyingkirkanku secepat ini. Mereka fikir aku tidak tahu rencana busuknya. Aku akan membuat mereka menggagalkan rencana itu.


Dengan penuh emosi Gina menuruni anak tangga. Ia benar-benar tidak ingin mereka membuat rencana busuk diluar sepengaetahuannya.


"Untuk apa?" Seketika Surya dan Pak Rangga menoleh ke arah Gina datang. Tampak Pak Rangga sedikit gugup dan Surya yang juga terkejut melihat kehadiran Gina. Ia fikir Gina masih nyenyak dalam tidurnya.


"Kau sudah bangun?" Sapa Pak Rangga untuk menutupi kegugupannya.


"Ya." Jawab Gina dingin berdiri ditepi meja makan dekat Paapanya.


"Bukankah Nona masih ingin bermalas-malasan pagi ini?" Surya menambahi.


"Hei, itu bukan urusanmu. Bermalas-malasan atau tidak, itu bukan urusanmu. Jadi jangan ingin tahu, jangan penasaran dan jangan ikut campur apapun yang ada pada hidupku."


"Gina!" Suara Pak Rangga membentak. Gina sempat terjingkat mendengar nada tinggi Papanya dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Baru semalam kalian menikah dan kau sudah memperlakukan suamimu seperti ini?" Pak Rangga marah.


"Hormati dia. Dia suamimu."


"Papa yang ingin dia menjadi suamiku, bukan aku." Jawab Gina ketus.


"Baiklah, kau sudah menyerah?" Kali ini Pak Rangga bersikap lebih tenang.


"Kenapa Papa ingin sekali aku menyerah? Papa benar-benar ingin membuangku?"


"Kau sendiri yang menginginkannya. Dengan tidak menganggap Surya sebagai suamimu, itu tandanya kau sudah ingin mengakhiri uji coba ini. Dan itu tandanya kau gagal dalam ujian pengambilalihan posisi presdir R-Company."


"Habisnya kalian membicarakan sesuatu dibelakangku seperti itu. Sangat mencurigakan." Gina mengalihkan pembicaraan pada pokok permasalahan semula dan mulai menyelidik.


"Memangnya apa yang kau dengar?" Tanya Pak Rangga. Surya masih diam di tempatnya duduk.


"Kalian tidak ingin aku tahu sesuatu. Memangnya apa yang kalian rahasiakan?"


"Tidak ada." Pak Rangga cuek.


"Surya, apa yang kalian sedang rencanakan?" Sekarang Gina ganti menatap Surya. Surya mendongak ke arah Gina yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya.


"Kami tidak sedang membicarakan hal penting, Nona."

__ADS_1


"Bohong. Kalian bohong. Jelas-jelas tadi menyebut namaku dalam pembicaraan kalian." Pak Rangga dan Surya tampak berpandangan. Gina menangkap momen itu.


"Baiklah kalau kau sangat ingin tahu." Pak Rangga mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Gina melihat itu adalah dua buah tiket pesawat dengan tujuan Mexico.


"Aku ingin Surya membujukmu untuk berbulan madu."


"Sudah ku katakan pada Papa, aku tidak ingin bulan madu. Aku tidak mau kemana-mana." Gina sekarang duduk di seberang Surya.


"Setidaknya sedikit berliburlah. Kau butuh bepergian. Bukankah sudah lama kau ingin berlibur? Terakhir kau berencana berlibur ke bali juga akhirnya batal." Gina menatap Papanya tajam mendengar hal itu. Karena itu mengingatkan pada rencana berliburnya bersama Faris yang dibatalkan sepihak oleh pria yang membuatnya hampir gila karena terlalu cinta.


"Tidak, aku sedang tidak ingin berlibur. Aku sedang sangat suka bekerja di R-Company. Aku baru bergabung di R-Company, bagaimana bisa aku berlibur sesuka hati."


"Anggap saja ini kado dariku untuk kalian berdua." Bujuk Pak Rangga.


"Tidak, terima kasih."


"Meksiko hanya sebuah tempat untukmu join di kapal pesiar dulu tempat Faris bekerja. Kalian bisa menghabiskan waktu berkeliling sekitar Amerika Latin dan membuat kulit kalian lebih eksotis.


"Tidak mau." Gina berfikir apa artinya pergi ke tempat-tempat indah jika itu bukan bersama Faris.


"Lagipula aku tidak mau selama aku tidak ada disini ada sesuatu yang terjadi di R-Company dan aku tidak tahu apa-apa. Papa pikir aku bodoh? Aku sudah mulai terbiasa dengan permainan Papa. Aku tidak mau Papa melakukan hal yang merugikanku selama aku berlibur."


"Itu hanya pikiran burukmu saja."


"Aku? Menindasmu?" Pak Rangga tergelak.


"Kapan itu? Dan kenapa aku harus menindasmu? Kau itu putriku."


"Jadi selama ini Papa tidak menyadari hal itu?"


"Ini Nona, aku mengambilkanmu nasi goreng. Sarapanlah lebih dulu." Surya menyodorkan sepiring nasi goreng pada Gina untuk mengalihkan perhatiannya. Ia merasa akan ada hal tidak baik kalau ayah dan anak itu berdebat seperti ini. Jadi ia merasa harus melerai sebelum suasanya menjadi semakin panas.


"Kenapa mengambilkanku? Aku bisa mengambil sendiri."


"Anda terlihat lelah setelah acara kemarin jadi biarkan saya membantu mengurangi kelelahan Anda dengan mengambilkan sarapan."


Gina memandang Surya sebentar lalu melirik Papanya. Ia enggan menerima tapi Papanya ada disana, jadi ia tidak ingin Papanya marah lagi dengan bersikap tidak hormat kepada Surya. Surya tersenyum setelah Gina menerima sodoran piring itu.


Suasana meja makan kembali tenang. Pak Rangga turut menyunggingkan senyum melihat Gina menjadi patuh seperti itu. Ia merasa tidak salah pilih menjadikan Surya sebagai suami Gina. Surya cukup tanggap bagaimana harus bersikap saat menghadapi Gina.


"Aku akan berjalan-jalan. Nasi goreng itu sangat enak dan membuatku banyak sekali makan pagi ini. Aku harus menjaga tubuhku dari kolesterol tinggi."

__ADS_1


"Baik Pa." Surya menanggapi. Sedangkan Gina masih acuh dan memakan nasi gorengnya. Bukan karena tidak mendengar apa yang Papanya katakan tapi Gina memang malas sekali dengannya saat ini.


Tanpa Gina sadari entah ini sudah suapan ke berapa dan lidahnya merasakan nasi goreng buatan Mbak Yuyun kali ini rasanya berbeda. Kenapa ini lebih enak daripada biasanya. Aroma bawangnya lebih terasa harum. Tepat saat itu Mbak Yuyun menghampiri meja makan mengemasi sisa sarapan Pak Rangga dan Bu Marina tadi.


"Mbak, nasi gorengnya berbeda dari biasanya." Ujar Gina sambil memandang asisten rumah tangga itu.


"Benarkah, Nona? Apa rasanya jauh lebih enak?"


"Iya." Gina menambahkan nasi goreng lagi ke dalam piringnya.


"Benar sekali, persis seperti yang saya rasakan."


"Apa ada resep baru?"


"Iya Nona, sebenarnya itu..."


"Mbak Yuyun, tolong isi kembali air minumnya." Sela Surya sambil menunjuk tempat air di dekatnya.


"Oh baik, Tuan." Mbak Yuyun segera masuk ke dapur kembali sambil membawa tempat air yang akan ia isi kembali.


"Nona, sebaiknya kita pergi berlibur seperti yang dikatakan oleh Papa."


"Tidak. Aku tidak ingin pergi." Gina memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.


"Kalau kau memang ingin pergi, pergilah sendiri. Aku harus terus ada di sini agar tidak ada yang merencanakan sesuatu yang buruk padaku." Mendengar itu Surya tersenyum dan mirip sebuah tawa kecil.


"Yakinlah Nona, tidak ada yang membuat rencana buruk kepada Anda."


"Itu katamu, siapa tahu kau dan Papa sedang berencana untuk mempermainkanku di R-Company? Kalian terlihat cocok satu sama lain jadi tidak menutup kemungkinan kalian membuat rencana baru dengan mengirimku pergi berlibur."


"Saya menjamin tidak ada rencana -rencana seperti yang Anda fikirkan. Tuan Rangga, oh maksudku Papa masih pada aturan awal bahwa Anda harus belajar banyak di R-Company untuk selanjutnya bisa menggantikan saya." Tampak sekali Surya belum terbiasa memanggil Pak Rangga dengan sebutan 'Papa'.


"Benarkah?" Gina masih tidak percaya.


"Iya benar, bagaimana saya dan Papa merencanakan sesuatu jika saya juga ikut bersama Anda."


"Itu bukan hal yang sulit saat ini. Berbagai media telekomunikasi memudahkan itu. Kau tidak berfikir aku bodoh dan mengira aku tidak memikirkan itu, bukan?"


"Tidak, saya tidak berfikir sejauh itu." Ujar Surya tenang seperti biasanya.


"Karena saya memang tidak memikirkan hal itu dan tidak melakukannya. Kami, saya dan Papa tidak mempunyai rencana apapun, Nona."

__ADS_1


"Terserah. Pokoknya aku tidak mau pergi kemana-mana. Aku mau tetap di sini dan belajar menjadi Presdir R-Company." Gina beranjak dari duduknya. Tapi baru beberapa langkah Gina berhenti dan membalikkan badan, surya yang melihat itu mengerutkan kening.


"Oh iya, terima kasih sudah memilih Hanna untuk menjadi asisten pribadiku. Dia cukup kompeten untuk menjadikanku Presdir nanti. Aku harap kau tidak pernah menyesalinya karena dia akhirnya yang membuatmu tergeser olehku." Setelah itu Gina kembali berjalan benar-benar meninggalkan meja makan.


__ADS_2