Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Ibu


__ADS_3

"gus hafidz ngomong apa nur?" tanya Maryam saat aku sudah kembali berjalan bersama nya


"kata nya mau silaturahmi ke rumah Iam"


"APA? SERIUS? KAPAN?" tanya Maryam dengan suara yang cukup keras seolah kaget dengan apa yang aku katakan


"kata nya seminggu lagi, lagian anti apaan sih keras banget nanya nya" aku mengorek-ngorek telinga ku dari balik hijab ku karna telinga ini terganggu mendengar suara keras maryam barusan


"ya kaget lah nur, Gus hafidz ke rumah anti coba. wah,,, siap-siap jadi Ning nurain ini mah"


"apaan sih, ke rumah mau silaturahmi bukan mau lamaran"


"anti tuh polos apa kurang pinter sih, yah silaturahmi nama nya ke sana nya lamaran. gimana sih gitu aja gak ngerti"


"ana bukan gak ngerti, cuma kan tadi bilang nya mau silaturahmi. kalau ana berfikiran mau ngelamar ternyata emang silaturahmi biasa aja kan gak lucu, kesannya ana ngarep banget gitu"


"iya sih,,, tapi jawab jujur yah, anti sebenarnya suka gak sih sama Gus hafidz?" Maryam berdiri di depan ku dan melihat ke arah ku dengan serius


"hmmm,,, ana takut Iam, jadi ana gak berani berharap jauh. anti juga tahu lah ana Sama Gus hafidz udah kaya bumi dan langit bedanya jauh banget"


"kita hilangkan status sosial, dan sekarang yang mau ana tahu soal hati soal perasaan tanpa embel-embel status. anti suka sama Gus hafidz?"


aku terdiam cukup lama dan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Maryam.


"nur ko diem? jawab dong. ana mau anti jujur sama perasaan anti sendiri. soal nya ana lihat-lihat kaya nya Gus hafidz emang serius suka sama anti. tapi anti nya kaya yang suka gak suka gitu. mungkin kemarin-kemarin ana gak terlalu peduli soal perasaan anti sama Gus hafidz. cuma pas denger kalo gus hafidz mau ke rumah anti, ana jadi peduli sama perasaan sahabat ana sendiri"


aku masih diam menyimak semua yang Maryam katakan, mencoba mencari kebenaran dari hati dan logika ku yang tak pernah sejalan.


"nur,, anti suka kan sama Gus hafidz?" sekali lagi Maryam bertanya sambil memegang tanganku dengan erat


"ana__ana gak tahu Iam perasaan ini tuh salah apa enggak. walaupun hati ini mengatakan iya tapi logika ana selalu bertentangan dengan hati ini. banyak yang harus ana pertimbangkan jika ana menyukai seorang Gus hafidz" kata ku dengan nada yang begitu pelan


"kenapa? apa alasannya?"


"banyak,,, banyak banget yang harus ana pertimbangkan jika ana bersama Gus hafidz"

__ADS_1


"status sosial? karna anti bukan anak kiai sedangkan Gus hafidz anak kiai? karna Gus hafidz punya pesantren dan anti enggak? kenapa sih nur harus ada perbedaan itu di mata manusia? bukannya Allah saja membedakan manusia itu dari ketaqwaan nya bukan status nya? dan kalau pun orang lain melihat dari sisi itu, tapi kan gak semua melihat ke arah situ. kenapa___"


"bukan hanya tentang status sosial iam. tapi juga asyila, dokter aisyah___" aku memotong perkataan Maryam yang belum selesai


"asyila? kenapa sama asyila? maksudnya apa nur ana gak paham" tanya Maryam yang juga memotong perkataan ku yang belum selesai


aku terdiam sejenak, apakah sebaiknya aku cerita pada Maryam tentang asyila yang juga menyukai Gus hafidz?


"nur,, ana sahabat anti kan? asyila juga kan?"


aku hanya mengangguk tak kala Maryam menanyakan hal itu


"kalau anti menganggap ana sahabat anti, coba anti terbuka sama ana, kenapa sama asyila?" Maryam menatap ku dengan selidik


"asyila menyukai Gus hafidz Iam"


"apa? anti kata siapa nur?"


"asyila sendiri yang bilang, dan itu juga alasan kenapa waktu itu sikap nya berbeda. dia cemburu saat tahu kalau Gus hafidz nulis surat buat ana Iam"


"hmmm,,, rumit juga ya ternyata. terus kalau nanti Gus hafidz ke rumah buat ngelamar anti gimana? anti mau jawab apa? masa iya mau nolak. kan anti sendiri tadi yang ngizinin Gus hafidz buat silaturahmi ke rumah"


"kalau bukan buat ngelamar terus mau silaturahmi apa dong nur. kan ini pertama kali nya Gus hafidz ke rumah anti, sebelum-sebelumnya gak pernah kan?"


"iya bener Iam"


tadi kenapa aku gak nanya langsung ya, silaturahmi ke rumah tujuannya apa. aku malah main iya aja, tapi itu juga ku lakukan atas dasar dorongan hati yang memang merasa bahagia saat Gus hafidz bilang mau ke rumah buat silaturahmi. hmm,, semoga Allah mudahkan segala nya jika memang itu baik untuk semuanya


~


"assalamualaikum ibu,,,,"


aku mengetuk rumah dari luar karna saat hendak ku buka, ternyata pintu nya di kunci


"Bu,, assalamualaikum,,, Bu ini ade pulang"

__ADS_1


masih belum ada jawaban, 'kemana ya ibu ko di ketuk beberapa kali gak ada jawaban. gak biasanya kaya gitu' batin ku


ku coba menghubungi ibu via telpon, gak ada jawaban.


"neng nurain baru pulang yah?" tiba-tiba suara seseorang mengalihkan perhatian ku dari layar hp yang ku pegang


"iya Bu, baru pulang" jawab ku sopan


"kenapa gak masuk atuh neng?" tanya tetanggaku yang bernama Bu Mina barusan


"pintu nya di kunci, kira-kira ibu liat ibu nur gak?"


"tadi liat sih abis dari warung langsung ke rumah, gak keluar lagi neng"


"oh gitu ya, tapi dari tadi di ketuk pintu nya gak ada yang buka"


"mungkin lagi di kamar mandi, coba neng jalan lewat pintu belakang atuh"


"iya mungkin Bu, biar nur coba lewat pintu belakang"


"ya udah atuh ibu permisi ya neng, assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


setelah Bu Mina berjalan menuju rumahnya, aku pun berjalan menuju pintu belakang. berharap pintu nya tidak di kunci.


dan benar saja, pintu belakang tidak di kunci. aku masuk dan langsung menuju dapur untuk mengambil air putih, karna rasanya tenggorokan ku kering sekali setelah selama naik bus tidak minum ataupun makan apapun.


"Bu,,," aku melangkah menuju ruang tengah mencari keberadaan ibu. masih tidak ada


"Bu,,, ibu dikamar?" aku mengetuk pintu kamar ibu ku


"innalilahi ibu,,," aku berlari menuju ke dalam kamar ibu saat ku lihat ibu sedang tergeletak di lantai tak sadar kan diri.


dengan ragu dan perasaan yang begitu takut, ku dekatkan jari ku dengan hidung ibu, berharap masih ada nafas dalam tubuh nya.

__ADS_1


Alhamdulillah, ternyata masih ada. tanpa pikir panjang lagi aku pun berlari keluar meminta bantuan tetangga untuk mengangkat tubuh ibu yang tergeletak.


ibu kenapa ya Allah? sakit apa ibu sebenarnya?


__ADS_2