
AUTHOR
Semua terlihat panik saat Naura di bawa ke ruang UGD untuk di periksa.
Nurain menangis merasakan ketakutan dan kecemasan yang luar biasa pada putrinya.
Farah mencoba menenangkan nurain dengan duduk di sisi nya sambil mengusap lembut punggung kakak iparnya itu.
Sedangkan Gus hafidz hanya diam di kursi pojok seolah menjauh dari istri nya, entah apa yang dia pikirkan saat ini. tapi yang jelas semua sibuk dengan pikiran dan kekhawatiran masing-masing.
"gimana fidz keadaan cucu ummah?"
Tanya umma yang baru tiba bersama Abah yai
"belum tau umma, masih di periksa di dalam"
"ya sudah kamu jangan hawatir, insyaallah Naura kita baik-baik saja"
Umma pun berjalan melewati hafidz untuk menghampiri menantu nya yang terlihat masih menangis di temani anak perempuannya. Sedangkan Abah yai, duduk di sebelah hafidz dengan trus melafalkan dzikir untuk kesembuhan cucu semata wayang nya.
"sing sabar yah neng geulis, insyaallah Naura baik-baik saja umma yakin"
dengan lembut perempuan paruh baya itu mengusap kepala menantunya berharap bisa memberikan kekuatan pada menantunya, walaupun sebenarnya ia sendiri pun merasakan kekhawatiran yang mungkin lebih besar pada cucunya.
karena katanya, seorang ibu akan lebih sayang pada cucunya melebihi putra atau putri nya sendiri.
"iya umma"
Nurain menjawab dengan lirih, namun mata nya melihat ke arah suami nya yang sedari tadi seolah menghindari nya.
'apa Gus hafidz masih marah sama aku'
Nurain hanya bisa bertanya dalam hati.
Selang dua puluh menit dokter baru keluar dari ruang pemeriksaan, dan keluarga hafidz langsung menghampiri dokter tersebut.
"gimana dok keadaan putri saya?"
__ADS_1
tanya hafidz tanpa basa basi
"Alhamdulillah panas nya sudah tidak terlalu tinggi, tapi kami masih harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk meyakinkan tidak ada nya penyakit yang serius pada putri anda. Jadi untuk malam ini putri anda harus di rawat terlebih dahulu di sini"
"iya dok, terimakasih untuk penanganan nya"
"sama-sama, kalau begitu saya permisi. Karna sekarang sudah malam Insyaallah besok hasil pemeriksaan sudah bisa diketahui, mudah-mudahan semuanya baik-baik saja, nanti setelah di pindah ke ruang perawatan boleh kalian masuk untuk melihat. Mungkin untuk sekarang hanya itu saya permisi assalamualaikum"
"waalaikumsalam wr wb"
"nak sebaik nya kamu ke mesjid dulu, pasti tadi belum sempat sholat Isa. biar Babah sama umma yang tunggu di sini sampai Naura di pindahkan ke ruang perawatan"
"iya bah"
Hafidz pun berdiri hendak berjalan menuju mesjid dekat rumah sakit
"ajak istri mu nak, karna Farah kebetulan sedang tidak sholat"
kata umma saat hafidz berjalan hendak melewati nurain yang masih diam tanpa suara.
Tapi tenang saja rumahtangga pun tidak semenyeramkan orang bilang, itu kembali pada sikap kita dalam menangani suatu permasalahan yang hadir.
Saling support dalam kebaikan, saling memahami dalam setiap karakter dan saling berusaha untuk selalu menjaga keutuhan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangga itu adalah kunci kesuksesan nya.
"Abang,,"
Panggil nurain saat hafidz berjalan di depan nya Tanpa menggenggam tangannya seperti biasa yang dilakukan oleh suaminya.
"Abang,,, maaf"
Katanya lagi, saat melihat suami nya menghentikan langkahnya namun tidak melihat ke arah nya.
"Abang, jangan diamkan nur. Nur tahu nur yang salah, nur yang egois, tapi tolong Abang ngomong jangan diam kaya gini"
Sekuat tenaga nurain menahan air mata nya agar tidak keluar, karna takut jadi pusat perhatian orang yang melihat nya.
"kita bicarakan itu nanti saja jika sudah di rumah, sekarang kita fokus pada Naura. Abang mau ambil wudhu dulu"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari istri nya, hafidz langsung melangkah menuju kamar mandi khusus laki-laki. Sedangkan nurain hanya bisa menghembuskan nafas nya yang berat sembari melangkah menuju kamar mandi perempuan. Tentunya dengan air mata yang mulai menetes namun dengan segera ia hapus.
~~
"untuk malam ini biar umma saja dan Farah yang jaga Naura di sini, kalian pulang saja istirahat"
Kata umma saat semua sudah kumpul kembali di dalam ruang kamar perawatan, dan gadis kecil itu masih tertidur dengan selang infus yang harus menemaninya untuk malam ini.
"umma saja yang pulang sama Babah juga Farah, biar hafidz yang jaga disini"
"nak, benar kata umma mu. Biar kami yang disini, kamu pulang sama istri mu biar besok pagi kalian ke sini lagi"
Kini giliran Babah yang meminta hafidz untuk mendengarkan kata-kata orangtuanya, atau mungkin lebih tepatnya ini sebuah perintah agar anak nya mau menuruti perkataan orangtuanya.
Hafidz pun mengangguk, dan mengajak istri nya ikut pulang bersamanya setelah mencium dan memeluk putri nya yang tertidur pulas secara bergantian.
Tak ada perbincangan selama perjalanan, kedua nya saling diam, seperti orang asing yang tak saling mengenal, padahal mereka adalah sepasang suami istri yang sudah memiliki satu orang anak.
Begitulah dunia rumah tangga, jika sedang akur maka akan terlihat begitu romantis seolah tak ingin berpisah satu sama lain. Namun ketika pertikaian menerpa, tak jarang saling mencaci, mencela, atau saling diam seperti yang terjadi antara sepasang anak manusia di dalam mobil Pajero hitam yang melaju di tengah jalanan yang gelap dan sepi.
"Abang, sebelum tidur sebaik nya Abang makan dulu biar nur hangatkan lauk nya dulu"
Nurain menyentuh tangan suami nya yang kekar dengan ragu, sedang kan hafidz hanya mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tanpa menoleh ke arah istri nya sama sekali.
'apa sebenarnya yang membuatmu semarah itu pada ku bang'
hanya bisa bergumam sendiri.
Setelah selesai menata kembali makanan yang telah dihangatkan, hafidz muncul dengan memakai kaos oblong putih dan celana panjang, seperti biasa yang dia kenakan ketika di rumah.
Dengan segera dia duduk di atas kursi dan langsung menyantap makanan yang telah di sediakan istri nya.
Mereka makan dalam satu meja, namun hanya sedikit merasa tidak selera karena pikiran yang terbagi-bagi antara anak yang sakit dan permasalahan yang masih belum menemukan solusinya.
Hening, itulah yang terjadi sekarang didalam rumah yang biasa nya ceria, penuh tawa dan canda, serta sanjungan yang saling dilontarkan. Namun untuk sementara mungkin suasana itu akan hilang.
Hafidz sendiri sebenarnya bingung, kenapa untuk kali ini dia benar-benar merasa kecewa dengan nurain, dan ingin lebih memilih untuk diam agar emosinya tak tersulut.
__ADS_1