Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Kembali nya Aisyah


__ADS_3

POV Gus hafidz


melihat istri ku tiba-tiba pingsan membuat ku reflek untuk mengangkat tubuh nya dengan segera.


semua orang terlihat panik, begitupun umma, Babah dan ayah yang langsung berlari ke arah kami. tanpa pikir panjang saya pun langsung membawa nurain ke rumah yang jarak nya memang tidak jauh dari aula.


dengan perlahan saya coba membangun kan istri saya yang sedang terbaring di atas ranjang tempat tidur kami.


wajah nya begitu pucat saat saya membuka cadar yang menutupi wajah nya. ada rasa penyesalan karna tadi saya tidak menyadari kelelahan istri saya hingga dia akhirnya pun pingsan karna kecapekan.


"assalamualaikum"


ucap suara seorang perempuan di ambang pintu kamar ku


"boleh ana masuk?"


tanya nya saat saya hanya menatap nya tanpa menjawab salam dari nya


"saya hanya ingin memastikan keadaan nurain"


"iya boleh, silahkan"


jawab saya dengan terus menatap tak percaya akan kehadiran nya yang begitu tiba-tiba.


dengan cekatan dia mulai memeriksa keadaan nurain. saya masih memandang nya dengan tidak percaya, sudah lama kami tidak bertemu. ada sedikit rindu untuk nya, namun hanya rindu sebatas teman dari kecil yang tumbuh bersama hingga dewasa, namun harus berpisah karna sebuah alasan.


"istrimu tidak apa-apa, dia hanya kecapekan. mungkin terlalu lelah karna harus menyambut tamu-tamu yang terus berdatangan mengucapkan selamat pada kalian"


kata nya sambil terus merapikan alat-alat medis ke dalam tas hitam nya.


"ana permisi dulu. ana harus menemui umma dan Babah, nanti kalau istri mu sudah siuman ana kembali lagi"


dengan segera dia melangkah meninggalkan kamar kami. saya yang sejak tadi hanya diam terpaku, dengan segera mengikuti langkah nya untuk menyusul nya.


"Aisyah"


yah, itu adalah Aisyah.


yang kepergian nya membuat keluarga saya merasa kehilangan,


yang kepergian nya membuat saya merasa bersalah,


yang kepergian nya membuat jarak di antara kami,


yang kepergian nya membuat kami seolah tidak pernah tumbuh bersama, sehingga ada rasa kekakuan diantara kami saat bertemu kembali.


"apa kabar? anti sehat?"


tanya saya saat sudah berada di hadapan nya .


"Alhamdulillah baik"

__ADS_1


jawab nya dengan tanpa melihat ke arah saya


"selama ini anti kemana aja? kenapa sulit di hubungi? terus kenapa anti mengganti no hp?"


dengan rasa penasaran yang selama ini mengusik pikiran saya, akhirnya saya keluarkan saat berada tepat di hadapan orang nya.


sekilas Aisyah menatap heran pada saya, namun dengan segera dia kembali menarik mata nya dari melihat saya.


"seperti nya tanpa ana jawab, anta sudah tahu alasan nya kenapa ana seperti itu"


"Aisyah, apa anti bahagia dengan keputusan anti meninggalkan pondok ini?"


Aisyah langsung menatap saya dengan tatapan yang tidak saya mengerti


"apa anta peduli dengan kebahagian ana?"


DEG


pertanyaan itu berhasil menyentil hati ku karna seolah saya lah penyebab semua kesedihannya.


"ana permisi, ana harus menemui umma dan yang lainnya"


Aisyah melangkah hendak meninggalkan saya namun sekejap dia berhenti kembali.


"sebaik nya anta bawa nurain ke dokter kandungan"


Aisyah pun kembali melangkah dan meninggalkan saya sendiri yang masih menatap nya hingga dia hilang dari pandangan.


~


tanya ku pada nurain yang saat saya masuk sudah ada dalam posisi duduk di tepi ranjang


"Alhamdulillah udah bang"


"apa yang kamu rasain sekarang? apa perlu kita ke dokter?"


tanya saya memastikan keadaan istri saya yang masih terlihat pucat


"enggak perlu, nur gak papa ko hanya sedikit pusing"


kata nya sambil memegang kepala nya


"atau mau Abang buatin apa? minuman atau makanan gitu?"


"gak usah, gak perlu bang. kalau nur mau bisa ambil sendiri. mending sekarang kita ke aula lagi, masih banyak tamu yang harus di sambut"


"gak perlu, kamu masih pucat kaya gitu. biar Abang aja yang ke aula, kamu di sini istirahat jangan kemana-mana"


"tapi kan gak enak bang"


"gak papa sayang. Abang gak mau nanti kamu nambah sakit. lagian tamu nya pasti sudah berkurang, biar nanti Abang yang bilang kalau kamu lagi kurang enak badan pasti mereka mengerti"

__ADS_1


"tapi bang__"


nurain masih bersikukuh ingin kembali ke aula, padahal dari wajah nya sudah sangat jelas terlihat kalau dia masih lemas


"gak ada tap-tapi an pokok nya istri Abang harus nurut sama Abang yah. ini demi kebaikan ku sayang"


"iya deh, nur nurut"


"gitu dong, baru istri Sholehah. ya udah Abang ke aula dulu yah, kamu di sini istirahat, kalau mau apa-apa nanti panggil BI Nani aja. biar Abang minta tolong buat jagain kamu"


"gak usah bang, nur gak perlu di jagain sama BI Nani, kasian lagi repot. nur mau tidur aja gak mau apa-apa"


"bener?"


tanya saya memastikan, dan nurain hanya mengangguk sambil tersenyum manis


"ya udah Abang ke aula dulu, kamu istirahat, jangan kemana-mana"


setelah mencium kening dan memeluk nya sebentar, saya pun langsung melangkah meninggalkan nurain istirahat sendiri untuk kembali ke aula menemui tamu-tamu yang masih datang silih berganti.


di dalam aula, saya kembali ke atas pelaminan, di sana sudah banyak tamu yang sedang menanti yang di sambut oleh umma dan Babah.


sekilas pandang ini menyapu isi aula mencari keberadaan Aisyah, siapa tahu dia belum pulang. dan benar saja, saya melihat Aisyah sedang duduk di atas kursi tamu VIP bersama paman dan ibu.


saya ingin menghampiri, namun tamu masih bergantian menyalami dan memberikan selamat kepada saya. maka saya urungkan niat saya, sampai tamu-tamu kembali pulang dari acara ini.


"assalamualaikum paman, ibu"


sapa saya pada paman dan ibu nya Aisyah saat acara sudah mulai selesai.


"waalaikumsalam wr wb, masyaallah hafidz sudah lama tidak bertemu. rasa nya paman rindu sekali berdiskusi dengan kamu"


"iya paman, hafidz juga sama. tapi paman sekarang sepertinya sedang sangat sibuk dengan perusahaan paman yang di Malaysia"


"iya nak, banyak yang harus Pama urus di sana. tapi ngomong-ngomong selamat yah atas pernikahan mu dengan sang istri. maaf waktu itu paman tidak bisa menghadiri acara akad kalian"


"iya enggak apa-apa paman, karna acaranya juga memang dadakan"


"ngomong-ngomong bagaimana keadaan istri mu nak?"


kini ibu nya Aisyah yang bertanya


"Alhamdulillah sehat Bu, tadi hanya sedikit capek. Aisyah yang memeriksa tadi"


sekilas ku lihat pada Aisyah yang hanya diam dengan ekspresi yang begitu datar dan dingin.


jujur, sikap nya sedikit mengganggu pikiran ku. dia yang begitu periang, ceria dan banyak bicara. tapi kini seolah berubah seratus delapan puluh derajat.


dia begitu dingin dan lebih banyak diam. saya kehilangan sosok Aisyah, teman masa kecil saya, sahabat saya yang begitu saya sayangi dan hormati.


beberapa saat kami larut dalam obrolan bersama, seperti dulu saat kami sering berkunjung dan mengunjungi satu sama lain.

__ADS_1


Babah yang sibuk membicarakan masa muda nya dengan paman yusuf, umma yang yang berbincang dengan ibu nya Aisyah, dan Farah yang dengan antusias bercerita pada Aisyah dengan kerinduan yang menggebu-gebu layak nya seorang adik pada kakak nya.


saya hanya tersenyum menyaksikan semua itu, sudah lama sekali suasana ini hilang dari pandangan. kini semua sudah berubah, sudah berbeda. namun saya berdo'a, semoga luka Aisyah bisa segera sembuh, dan Allah pertemukan dia dengan lelaki Sholeh yang mencintai nya dengan tulus, amin.


__ADS_2