
POP Gus hafidz
'de kamu kemana sih, ko wa Abang gak di bales. ummah juga, Babah juga pada kemana dari tadi ditelephon in gak ada yang ankat' saya semakin tidak bisa tenang, karna hampir satu jam lebih masih belum ada balasan atau pun telephon balik dari Indonesia.
"bang,, lagi ada yang dipikirin yah? kenapa? apa Atuk dan Wawa belum angkat telepon Abang dari tadi?" tanya Arif yang mulai penasaran melihat tingkah saya yang sedang gelisah
"iya Rif, gak biasa nya lama kaya gini
balas nya" saya berdiri hendak mengambil air minum dan menyimpan handphone saya di atas kursi.
derrrtt,,,
derrrt,,,
saya lihat handphone saya bergetar, tanpa pikir panjang saya langsung mengangkat telepon itu dengan terburu-buru.
"assalamualaikum umma"
"waalaikumsalam wr wb,,, ini ane fidz bukan umma mu" jawab seseorang di sebrang sana
"astaghfirullah, Affedersin (maaf)! ana kira tadi dari Indonesia" saya mengusap lembut wajah saya, mencoba mengatur perasaan gelisah ini yang tanpa sebab
"kenapa? lagi kangen Indonesia yah?"
"yah begitu lah,,,ada apa nih telepon ana di waktu libur?"
"ini lho, tadi şeyh Osman nanyain ente kenapa hari ini gak Dateng ke masjid buat talaqi?"
"astaghfirullah,,, unuttum (saya lupa)! şeyh Osman nya masih disitu atau beliau sudah kembali ke rumah nya?"
"beliau sudah pulang, tapi kaya nya bukan ke rumah nya. tadi kata nya mau ke tempat lain ada perlu jadi talaqi hari ini hanya sebentar"
"baiklah, Bilgi için teşekkürler (terima kasih untuk informasinya)! biar besok ana langsung menemui beliau"
__ADS_1
kemudian saya menutup sambungan telepon, sebegitu gelisah nya hingga saya lupa dengan jadwal saya bersama syekh Osman. masyaallah,,, hati ini masih belum tenang. mudah-mudahan keluarga di Indonesia baik-baik saja. dan,,,,
*derrrt
derrrt*
ponselku kembali bergetar,
{ya Abang ku sayang, alhamdulillah kami disini semua baik-baik saja. gimana Abang disana? sudah punya calon kah?}
akhirnya Farah membalas WA dari saya. tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi nya untuk lebih memastikan keadaan disana
"assalamualaikum, dari mana aja de ko baru bales? disana beneran baik-baik aja kan?" saya langsung menanyakan kenapa dia baru balas pesan dari saya
"waalaikumsalam, sabar bang buru-buru amat. salam nya aja baru dijawab sama Farah" jawab Farah di sebrang sana
"iya,, iya Afwan. abis nya lama banget bales nya bikin Abang hawatir"
"tadi ade abis sholat jama'ah dulu di mesjid bareng Luthfi, bareng Babah juga. terus abis itu bantuin Wawa masak di dapur jadi baru sempet pegang hp"
"iya bang, kan besok teh Anna mau dihitbah. jadi Ade, Babah sama Lutfi nginep di sini"
"Alhamdulillah Abang ikut seneng denger nya kalo Anna jadi bersanding dengan Gus Fahmi"
"bukan sama Gus Fahmi bang, tapi sama gus Lukman"
"ko bisa gitu? bukannya Anna suka nya sama Gus Fahmi?" tanya saya kaget.
Anna adalah sepupu saya dari adik Abah saya, kami lumayan dekat jadi sedikit nya saya tahu bagai mana kisah hidupnya termasuk kisah cinta nya. dulu dia pernah bilang kalo dia sangat menyukai Gus Fahmi, yang mana Gus Fahmi ini merupakan anak dari kyai Anshor pemilik pondok pesantren salafiyah yang lumayan masyhur di Garut. tidak menyangka besok dia akan di hitbah tapi bukan oleh Gus Fahmi, melainkan oleh Gus Lukman yang merupakan kakak dari Gus Fahmi.
"eumm,, pokok nya cerita nya panjang. nanti aja ya kalo Farah udah dirumah baru diceritain ke Abang detailnya"
"ya sudah,,,, Abang mau bicara sama umma ada?"
__ADS_1
"umma gak ikut bang, besok kata nya nyusul. soalnya hari ini mau ada kumpulan dulu sama para ustadzah dan santri putri"
"mengenai apa? memang nya gak bisa di tunda?
"Farah kurang tahu sih, soal nya dadakan juga"
"oh gitu, ya udah kalo gitu Abang mau nelepon umma dulu"
"buru-buru amat bang, Farah kan mau nanya-nanya dulu sama Abang"
"nanya-nanya soal apa emang nya?"
"soal itu bang,,, hee,, soal kapan Abang mau hitbah dokter Aisyah"
"isshh,,, kamu itu kemana aja kalo ngomong. Abang sama Aisyah cuma temen gak lebih"
"lebih juga gak papa ko bang, serasi tahu. Abang ganteng, pinter. dokter Aisyah juga pin,,,"
"udah yah, Abang tutup assalamualaikum" saya pun menutup sambungan telepon dari Farah sebelum dia menyelesaikan perkataannya, karna saya tahu pasti ujung-ujungnya kesana.
begitulah, saya dan Aisyah memang teman dekat sejak kecil. karena ayah nya merupakan sahabat dari Abah saya, dari mereka Tsanawiyah tepat nya. hingga mondok dan kuliah bersama. jika ayah nya Aisyah mengambil jurusan bisnis, maka Babah sebaliknya. beliau lebih senang mengambil jurusan tafsir yang lebih memperdalam tentang agama. tapi mereka melengkapi satu sama lain, ketika pondok ini masih dalam pembangunan, ayah nya Aisyah yang selalu lebih dulu dalam membantu kami dari segi materi. ayah nya Aisyah sering mampir ke pondok kami dengan membawa nya sejak ia kecil. jadi saya dan Aisyah pun juga dekat sejak kecil hingga saat ini kami dewasa.
Aisyah merupakan gadis yang ceria, sopan, cantik dan sangat pintar. kami sering bertukar pendapat dalam banyak hal. namun semenjak kami dewasa, saya sedikit menjaga jarak karna kami bukan mahrom. tepatnya saat saya tidak sengaja menemukan diary nya, waktu saya berkunjung ke rumah nya sekedar mengantarkan buku-buku tentang Islam yang di pinta oleh ayah nya. saya menemukan diary itu tergeletak di depan pintu, mungkin terjatuh saat Aisyah hendak pergi ke suatu tempat. saya melihat disitu ada lukisan wajah saya, lalu dengan sedikit ragu saya buka ternyata isi diary itu menceritakan tentang saya dan Aisyah. bagaimana perjalanan hidup kami, kedekatan kami, hingga Aisyah mengakui bahwa dia mencintai saya.
saya kaget, Karena selama ini saya hanya menganggapnya tidak lebih dari sebatas teman. tak ada yang spesial di hati saya pada saat itu. hingga suatu hari saya melihat dia yang sedang membaca buku sambil berjalan dan tanpa sengaja menabrak pohon yang tepat berada di depannya, dia menatap ke kiri dan ke kanan, kemudian dia menunjuk pohon itu dengan telunjuk nya dengan berkata-kata seolah pohon itu bisa diajak nya untuk bicara. masyaallah,, lucu sekali. sejak saat itulah saya sering memperhatikan nya secara diam-diam. rasa ini muncul untuknya pada saat itu hingga kini tak pernah berubah. tunggu saya nur, tunggu hingga saya datang meminang mu.
"bang ko ngelamun sambil senyum-senyum gitu" tiba-tiba Arif menepuk pundak saya
"astaghfirullah,,,"
"tadi ngelamun nya kaya yang galau, sekarang ngelamunnya kaya yang lagi jatuh cinta gitu hee" kata nya lagi
"apaan, bukan ko. ya udah saya mau telepon umma dulu ya. nanti abis bada magrib Abang anter ke toko buku"
__ADS_1
"oke bang, Jangan sampe ketiduran yah awas"
"iya enggak" saya pun berlalu menuju kamar meninggalkan Arif sendirian di ruang tv. ah,, saya jadi malu sendiri