
setelah solat subuh, aku langsung mencari keberadaan Naura yang semalam tidur di kamar nya Ning Farah. sedangkan suami ku Gus hafidz masih belum kembali dari masjid.
rencana nya pagi ini aku ingin membuatkan sarapan untuk putri dan suami ku.
"eh teh nur, sini masuk teh"
kata Ning Farah saat pintu kamar Ning Farah sudah dibuku oleh pemilik nya.
"pasti mau liat Naura yah?"
tanya nya sambil mengajak ku masuk ke dalam kamar nya. aku hanya mengangguk sambil tersenyum ramah pada Ning Farah yang tak lain adalah adik ipar ku.
ternyata putri ku masih tertidur pulas. seperti nya dia nyaman tidur bareng ateu nya.
"biasa nya Naura jam segini udah bangun, tapi ini belum. mungkin capek dari perjalanan yah teh"
"seperti nya begitu Ning. tapi, apa semalem tidur nya gak kebangun? biasa nya Naura bangun tengah malam minta di buatin susu"
"iya teh semalem juga bangun dan KA aisy,,,,"
Ning Farah menggantung kalimat nya seolah takut membuatku tersinggung. benar, kejadian semalam di saksikan oleh semua keluarga, bahkan asyila, Maryam dan ustadz Ahmad pun melihat bagaimana aku yang tidak merasa nyaman dengan kedekatan antara putri ku dan dokter Aisyah.
"jadi dokter Aisyah menginap di sini?"
tanya ku pada Ning Farah
"i-iya teh nur, karna semalam sudah sangat larut jadi KA aisy menginap di sini, apalagi su,,,"
"ya sudah gak papa, nur permisi dulu yah Ning, assalamualaikum"
sebelum Ning Farah bercerita panjang lebar, lebih baik aku pamit keluar kamar.
kenapa harus dokter Aisyah yang membuatkan susu untuk putri ku? aku ini ibu nya ada di sini dan aku lebih berhak atas itu.
rasa kesal yang semalam hampir hilang kini seolah kembali menghampiri hati ku, dan masih dengan alasan yang sama yaitu kehadiran dokter Aisyah.
"kamu dari mana sayang?"
saat ku buka pintu kamar ternyata gus hafidz sudah ada di dalam dengan memegang sebuah kitab kuning di tangan nya.
aku hanya melihat nya sekilas kemudian duduk di atas ranjang dengan perasaan kesal ku yang belum hilang.
"kenapa? kamu masih marah sama Abang?"
dia, gus hafidz meletak kan kitab nya kemudian menghampiri dengan duduk di samping ku.
"Abang,,,, apa dulu dokter Aisyah sering menginap di sini?"
tanya ku penasaran. gus hafidz melihat ke arahku dengan kedua alis yang bertaut seolah bingung dengan pertanyaan yang barusan ku lontarkan.
"Abang kenapa gak jawab? apa dulu dokter Aisyah sering nginep di sini?"
kata ku mengulangi pertanyaan
__ADS_1
"kamu kenapa tiba-tiba nanya soal itu?"
"Abang kenapa balik bertanya sih? nur cuma mau jawaban ya apa enggak?"
"pernah,,,beberapa kali"
"oh,,, pantesan"
perasaan kesalku semakin bertambah saat mendengar jawaban dari suami ku.
"tapi,,,itu pun kalau sedang dalam keadaan darurat dan pasti nya saat tidak ada abang di sini"
"oh begitu, terus kenapa sekarang dia berani menginap disini saat ada Abang?"
dengan replek aku bertanya dengan suara sedikit tinggi
"kamu kenapa sih nur tiba-tiba menanyakan sesuatu yang tidak penting"
ada nada kesal dari suara Gus hafidz saat menjawab pertanyaan ku. aku memang salah karna kamu baru saja berbaikan tapi aku seolah menciptakan keributan yang baru lagi.
"nur hanya gak mau dokter Aisyah menggantikan posisi nur sebagai ibu nya Naura"
5anpa bisa ku bendung air mata ini pun keluar dengan begitu lancarnya.
"nur takut, Naura akan lebih dekat dengan dokter Aisyah dari pada nur sebagai ibu nya,,, hiks,,,, padahal waktu di Surabaya Naura tidak pernah mengatakan apapun tentang dokter Aisyah, dia begitu menikmati kedekatannya dengan ku dan ayah. tapi sekarang,,,, kenapa harus dokter Aisyah sih bang"
"ini hanya tentang waktu sayang"
"Naura masih kecil, masih banyak kesempatan untuk kamu bisa lebih dekat dengan nya dari siapapun. maaf Abang tidak bisa mencegah Aisyah untuk merawat putri kita, karna ini juga bukan kemauan Abang. ya sudah Abang mau ngajar kitab dulu yah"
setelah mencium keningku, Gus hafidz pergi meninggalkan kamar kami dan aku melangkah menuju dapur berniat ingin membuat sarapan untuk keluarga ku, terutama untuk putri ku Naura.
"neng,,, pagi-pagi udah ke dapur aja"
sapa bi Nani dengan ramah saat aku sudah berada di dapur
"iya bi, mau buatin sarapan"
jawab ku tak kalah ramah
"gak usah neng biar bibi aja"
"gak papa bi, lagian aku juga mau buatin sarapan buat Naura"
"oh,,, udah di siapin neng Aisyah barusan, itu di meja makan"
mendengar nama dokter Aisyah lagi seketika hati ini merasakan panas yang teramat, jujur ini baru pertama kali nya aku merasakan semarah ini pada seseorang. namun aku harus bisa menahan nya, agar tidak membuat keributan di rumah ini, karna bagaimana pun ini rumah guru sekaligus mertua ku.
"sarapan neng Naura memang sudah biasa di siapin neng Aisyah atau Gus hafidz, tapi paling sering neng Aisyah yang buatin karna neng Naura suka banget dengan masakan neng a,,,"
seolah baru tersadar dari sesuatu, bi nani tidak melanjutkan perkataannya dan justru menatap ku dengan tatapan yang tidak enak terhadap ku.
"maafin bibi ya neng"
__ADS_1
lanjut bi Nani tiba-tiba
"heeeummm,,, mulai sekarang nur aja yang siapin sarapan buat Naura bi, itu yang di meja makan simpen aja, atau makan sama yang lain"
kata ku sambil terus menyiapkan bahan-bahan yang ingin di masak untuk sarapan pagi ini.
aku gak habis pikir, setelah kejadian tadi malam kenapa dokter Aisyah masih saja melakukan hal yang tidak aku suka.
harus nya dia sadar, kalau aku merasa tidak nyaman dengan kedekatan nya terhadap putri ku, tapi ini,,,,
PRANK
tanpa sadar, tangan ini membanting sendok yang aku pegang.
"neng gak papa kan?"
bi Nani menyentuh bahu ku, mungkin beliau kaget melihat tingkahku pagi ini yang begitu menampakkan kemarahan.
aku hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan bi Nani.
hampir lima belas menit aku baru menyelesaikan masakan ku. khusus untuk putri ku, ku siap kan sosis bakar dan roti bakar kesukaan nya, itu yang selalu ku siapkan saat masih di Surabaya untuk nya.
setelah semua nya terhidang di atas meja makan, aku pun memutuskan untuk mengganti pakaian ku dan bersiap memanggil putri dan suami ku untuk mengajak mereka sarapan bersama, tak terkecuali semua orang yang ada di rumah.
"sayang,,,kamu udah cantik aja. mau kemana?"
tanya Gus hafidz yang baru pulang mengajar saat aku berjalan di ruang tengah hendak ke kamar nya Ning Farah.
"aku mau bangunin Naura bang buat sarapan. Abang juga siap-siap yah kita sarapan bareng"
"itu Naura"
kata Gus hafidz sambil menunjuk putri kami yang kebetulan sudah di tuntun oleh ateu nya, rNing Farah.
"abiiiii"
putri kecil ku berlari ke arah kami dengan rambutnya yang sudah tersusun rapih dengan kuncir kuda nya.
"masyaallah,,, putri Abi sudah cantik aja"
kata Gus hafidz sambil menciumi pipi mungil nya
"iya dong, kan abis di mandiin sama ateu"
jawab putri ku dengan nada has anak kecil
"sini gendong sama um,,,"
"mamah aisy,,,, naula mau di gendong mamah aisy"
belum sempat aku menggendong tubuh mungil nya, tiba-tiba Naura merengek dan menunjuk seseorang yang ada di belakang kami. yah,, lagi-lagi dokter Aisyah yang pagi ini berhasil membuat hati ku kembali marah dan sakit karna kehadirannya.
kenapa harus dia yaa allah,,,
__ADS_1