
POP Aisyah
"nak apa kamu yakin ingin kembali tinggal di sini?"
tanya ibu saat aku sampai kan bahwa aku akan kembali praktek di Indonesia
"iya Bu, aisy mau kembali praktek di sini. tapi aisy akan praktek di rumah sakit lain"
"di pondok juga?"
"sementara aisy masih belum siap kalau harus praktek lagi di pondok"
"kamu yakin dengan keputusan kamu nak? ibu tidak mau jika keputusan mu untuk kembali di sini akan membuat semakin sakit hati. ibu tidak mau melihat anak ibu kembali menangis dan terpuruk seperti kemarin"
"ibu tenang aja, insyaallah aisy sudah lebih kuat aisy sudah bisa lebih berlapang dada menerima semua ini"
"ya sudah, apapun keputusan kamu ibu akan dukung selama itu baik untuk kamu nak"
"makasih ya Bu, ibu selalu ada di samping aisy. tapi aisy minta ibu jangan bilang sama umma atau siapa pun yang berhubungan dengan hafidz kalau aisy kembali tinggal di sini. aisy masih belum siap kalau harus sering bertemu dengan mereka, terutama hafidz"
"iya nak, ibu akan selalu melindungi kamu dari apapun yang bisa membuat mu terluka"
ibu memeluk ku dengan penuh kasih.
yah, ibu adalah orang yang akan selalu menyayangi kita tanpa mengharapkan sebuah balasan.
saat aku terpuruk dan menangis karna ego ku yang merasa takdir tak berpihak pada ku, ibu selalu ada untuk mengingatkan dan menguatkan hati ku yang rapuh.
ibu selalu memeluk ku dan menggenggam tangan ku saat aku hampir terjatuh. kasih sayang nya yang tulus dan besar, membuat ku bisa kembali kuat meski harus tertatih.
do'a nya yang dapat menembus langit, memberikan ketenangan hati untuk aku agar bisa lebih berlapang dada menerima semua ketentuan Allah untuk ku. Syukron ibu, hadir mu selalu memberikan kebaikan untuk ku.
"aisy keluar dulu yah Bu, ada beberapa surat yang harus aisy serahkan ke rumah sakit yang baru"
"kamu sarapan dulu yah, ibu udah siapin makanan kesukaan kamu"
aku mengangkat jempol ku sambil tersenyum sebagai jawaban atas permintaan ibu
"anak ibu udah besar, udah dewasa. perasaan baru kemarin ibu menggendong dan mengajarkan mu cara berjalan, mengobati mu saat sakit. sekarang kamu sudah bisa mengobati banyak orang, dengan tangan ku yang selalu cekatan, dan kaki mu yang tak pernah lelah melangkah dalam kebaikan"
"ibu ko ngomong gitu, Aisy jadi sedih kan"
"ah,, sayang ibu"
ibu kembali memeluk ku dengan penuh kasih sayang
"kamu adalah kebahagian ibu satu-satunya"
"aisy juga sangat sayang sama ibu. ibu kebahagian aisy yang sangat berharga"
__ADS_1
"ternyata dua bidadari ayah di sini lagi asyik berpelukkan. padahal ayah nunggu di meja sambil menahan perut yang semakin berisik"
tiba-tiba ayah datang dan membuat kami tersenyum
"oh iya lupa, abis kalau ibu udah ngobrol sama aisy selalu lupa waktu"
"lupa sama ayah juga kan?"
"hehe ayah bisa aja"
"itu tuh kebiasaan ibu kamu nak. kalau udah sama kamu lupa sama ayah"
"yang penting aisy tidak pernah lupa sama ibu dan ayah"
kata ku sambil mencium pipi mereka bergantian
"ya udah kita makan sekarang yuk, nanti keburu basi makanan nya"
"ayah nih, bisa aja"
~
"jadi kamu bukan mau praktek bareng aku lagi?"
tanya Nilam saat kami sengaja bertemu di sebuah cafe dekat rumah sakit tempat ku praktek dulu
"kenapa gak di sini aja sih isy? kaya dulu kita kerja bareng-bareng lagi. jadi kalau mau ketemu gak susah juga kan"
"kamu tahu kalau istri nya hafidz lagi hamil?"
"iya aku tahu, karna waktu resepsi pernikahan mereka aku dan orangtuaku menghadiri acara nya. dan waktu itu istri nya pingsan karna kecapekan, setelah aku periksa ada kemungkinan istri nya sedang hamil, jadi aku sarankan mereka untuk menemui dokter kandungan. tapi kamu sendiri tahu dari siapa soal kehamilan istri nya?"
"beberapa kali aku melihat hafidz dan istri nya masuk ke ruangan dokter Rini, apalagi kalau bukan mau memeriksa kehamilan istri nya bukan"
aku tersenyum kecut mendengar perkataan Nilam tentang hafidz. yah, mau tidak mau hati ini sedikit sakit saat mengetahui kalau hafidz akan memiliki seorang anak dari perempuan lain.
"ya udah gak usah bahas mereka, lebih baik hari ini kita habiskan waktu untuk belanja atau jalan-jalan kemana gitu. mengpeng aku lagi libur"
kata Nilam yang mencoba mengalihkan pikiran ku dari hafidz
"kayak nya gak bisa Nil, aku harus pergi ke rumah belajar melihat anak-anak di sana"
"melihat anak-anak nya atau ka Alfan nya?"
"apaan sih, aku sama ka Alfan gak ada hubungan apa-apa selain tentang anak-anak"
"ya, kalau ada apa-apa juga gak papa kalo isy. kalian sama-sama singgel kan? lagian kan ka Alfan udah jelas-jelas bilang ingin jadi pendamping kamu. dari pada menunggu yang enggak pasti kan?"
"udah ah, sekarang bukan waktu yang tepat buat bahas hal seperti itu"
__ADS_1
"kapan dong waktu yang tepat? keburu ka Alfan nya nyerah terus nyari yang lain deh"
"yah, berarti kami memang tidak berjodoh. udah ah, aku pergi duluan yah. kamu masih mau di sini kan?"
"ya enggak lah ngapain aku bengong sendirian disini. aku juga mau pergi kaya nya"
"ya udah ayok, biar sekalian bareng sama aku. atau kalau kamu mau kamu ikut aku aja ke rumah belajar anak-anak"
"emang boleh?"
"ya boleh lah Nil, siapa juga yang larang"
"yah takut nya ada yang ke ganggu gitu"
"apaan sih, ya udah yuk kita berangkat sekarang. karna sebelum ke sana aku mau beli makanan sama mainan dulu buat anak-anak disana"
aku dan Nilam pun akhirnya memutuskan untuk pergi bersama melihat keadaan anak-anak di rumah belajar, rasa nya kangen banget sama mereka. semenjak kepergian ku waktu itu, aku belum pernah bertemu dengan mereka lagi sampai saat ini.
~
"apa kabar de Aisyah?"
tanya ka Alfan saat aku dan Nilam sudah sampai di rumah belajar milik nya
"Alhamdulillah baik ka, maaf sebelum nya karna tiba-tiba pergi tanpa pamit pada ka Alfan dan anak-anak"
"tidak apa-apa kakak mengerti, pasti de aisy punya alasan kuat di balik semua itu. walau pun sebenar nya kakak sendiri sempat bingung dan bertanya-tanya mengenai alasan de aisy pergi secara tiba-tiba. tapi kalau boleh ka tau, de aisy pergi bukan karna kejadian di restoran waktu itu?"
"oh__bukan ka bukan karna itu alasan aisy pergi tiba-tiba"
"Alhamdulillah kalau begitu, maaf jika waktu itu kakak lancang"
"enggak ko ka, itu bukan sebuah ke-lancangan"
"ekhem,,, kaya nya aku di sini cuma jual kacang"
"masyaallah, lupa kalau di sini ada Nilam"
kata ka Alfan dengan nada guyon. Nilam memang sudah kenal lama dengan ka Alfan, karna dulu dia pernah beberapa kali ke sini menemani ku.
dan mungkin Nilam lebih akrab dengan ka Alfan di banding aku, karna dia orang nya periang dan mudah akrab dengan siapapun.
setelah adzan asar berkumandang, Nilam pamit lebih dulu karna ada panggilan dadakan dari rumah sakit tempat nya praktek.
sedang kan aku harus menyelesaikan kegiatan ku dan anak-anak sampai selesai dan kembali membereskan rumah belajar agar selalu terjaga kebersihannya.
"de aisy, eeeuummm,,, mengenai waktu itu__kalau boleh ka Alfan masih menunggu jawaban dari de aisy. maaf jika kesan nya kakak seperti memaksa, tapi kalau boleh ka Alfan minta de aisy untuk melakukan sholat istikharah dulu, baru menjawab nya"
kata-kata ka Alfan tadi saat aku hendak pulang kembali terngiang.
__ADS_1
waktu itu aku memang belum memberikan kepastian atas jawaban ku, karna tiba-tiba anak di rumah belajar ada yang sakit dan mengharuskan kami untuk pergi melihat keadaan anak itu.
apa aku harus memberikan kesempatan untuk kami membangun sebuah hubungan? apa ini lah saat nya untuk ku melupakan hafidz? apa aku bisa mencintai ka Alfan?