
entah berapa lama aku tak sadarkan diri, tapi yang jelas dalam tidur panjang ku, aku selalu di temani dengan mimpi-mimpi yang indah yang membuatku terkadang enggan untuk bangun.
entah berapa peristiwa yang tidak aku ketahui, entah berapa musim yang aku lewati, tapi yang jelas aku hanya ingin tahu, aku hanya rindu dengan sosok yang kini ada di depan ku.
seorang laki-laki yang aku cintai setelah ayah ku, seorang laki-laki yang mampu membuatku tertawa dan menangis secara berbarengan.
yah,,, dia adalah suami ku, hafidz ku, penjaga hati ku.
"nur_nurain"
dia melihat ku dengan tatapan kerinduan, kesedihan dan cinta yang bercampur jadi satu.
aku tersenyum ke arah nya dengan rasa rindu yang tak kalah hebat nya.
perlahan dia mendekatiku, menyentuh pipi ku, menyentuh tangan ku, seolah tidak percaya jika aku adalah sosok nyata yang berdiri di hadapan nya.
"Abang"
"ya Allah,,, akhirnya"
dengan segera dia yang berstatus suami ku memelukku dan mencium ku tiada henti. berkali dia mengucap asma Allah dengan air mata yang terus mengalir, memeluk ku semakin erat seolah takut jika aku akan pergi dari nya.
"Abang sangat merindukan mu, Abang sangat mencintai mu, terimakasih sayang karna sudah kembali pada Abang, terimakasih sayang karna sudah mau bangun dari tidur panjang mu, terimakasih karna sudah membuat rindu Abang selama ini terobati, terimakasih sayang"
kata nya dengan terus menciumi ku tanpa henti, aku hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir deras karna tak mampu berkata-kata saking bahagia nya.
"umi,,, itu umi naula?"
tiba-tiba sebuah suara mungil mengalihkan pandangan ku dan membuatku melepas pelukan Abang dari ku.
sekilas aku melihat pada suami ku, meminta penjelasan pada nya mengenai siapa anak kecil yang tengah di gendong oleh ayah ku.
"putri kita"
aku yang mendengar ucapan Gus hafidz menatap kembali anak kecil itu dengan tidak percaya.
apakah benar dia adalah putri ku? putri yang terlahir dari rahim ku? yaa Allah, rasa nya aku tidak percaya jika sekarang dia sebesar ini. dia cantik dan sangat menggemaskan.
ayah membawa nya lebih dekat pada ku, aku terus menatap nya dengan penuh haru dan masih tidak percaya jika aku meninggalkan nya selama ini.
kembali aku menatap Gus hafidz, sebelum tangan ini meraih pitri mungil yang sedang berada di hadapan ku.
__ADS_1
"Naura sayang, nama putri cantik kita Naura"
gus hafidz seolah mengerti apa yang ingin aku ketahui hanya dengan menatap nya.
"putri ku,,,,hiks,,,hiks,,"
tanpa ragu aku langsung meraih putri ku dari pangkuan ayah, rasa nya aku tidak percaya jika sekarang aku sedang memeluknya dengan erat.
'yah, dia adalah putri ku. putri yang ku lahirkan, putri yang ku kandung, putri yang selalu ku nantikan kehadiran nya. Syukron ya Allah, syukron'
aku terus memeluk nya dengan erat, dan menghujani nya dengan ciuman sebagai tanda bahasa aku sangat menyayangi dan merindukan nya.
"umi, naula sesak"
kata nya tiba-tiba saat aku sedang memeluk nya dengan erat. aku langsung melepas pelukan ku dan melihat ke arah ayah dan suami ku secara bergantian.
kami pun tertawa renyah mendengar perkataan polos nya.
"maaf yah sayang, umi meluk nya kekencangan yah hehe"
kata ku sambil mencium pipi nya sekali lagi
"umi kenapa duduk telus? umi pegel yah?"
begitupun Gus Hafidz yang langsung melihat ku seolah baru menyadari jika aku sedari tadi hanya duduk di atas kursi roda.
"nurain baru sadar kemarin malam, tubuh nya belum benar-benar bisa di gerakkan secara menyeluruh, perlu waktu untuk mengembalikan semua fungsi otot-otot pada tubuh nya karna efek koma yang di alami nya selama beberapa tahun ini. maka nya untuk sementara waktu kaki nya belum benar-benar bisa di gerakkan itu lah alasan nurain kenapa harus duduk di atas kursi roda"
jelas ayah pada Gus hafidz
"tapi ini bukan kelumpuhan kan yah?"
tanya Gus hafidz dengan nada yang begitu khawatir
"bukan nak, apa yah mungkin bahasa sederhana nya tubuh nurain harus kembali belajar untuk beradaptasi"
"Alhamdulillah"
ucap suami ku dengan wajah yang kembali berbinar.
~
__ADS_1
menjelang malam hari, aku mencoba membacakan sholawat agar Naura bisa tertidur pulas dalam pelukan ku setelah seharian ini main dengan ku, ayah dan Gus hafidz, suami ku.
aku terus menatap dan membelai wajah nya yang mungil, dia terlelap dengan mudah. wajah nya begitu mungil, begitu tulus seperti malaikat.
aku kembali menangis mengingat betapa tidak beruntung nya aku karna tidak bisa menjaga putri ku, tidak bisa memeluk putri ku saat pertama kali dia melihat Dunia ini dan aku pun tidak bisa memberi nya asi untuk menunjang pertumbuhan nya.
"kamu jangan menangis sayang, karna sekarang adalah waktu nya untuk kita tersenyum"
Gus hafidz menyentuh pipi ku dan menghapus air mata ku.
"sini biar Abang bantu untuk menidurkannya"
aku pun memberikan tubuh Naura pada Gus hafidz untuk di baringkan di atas tempat tidur.
"bagaimana perasaan kamu sekarang Heum? apa ada bagian tubuh yang sakit?"
kini Gus hafidz duduk di hadapanku dengan menggenggam erat tangan ku. aku hanya menggeleng sebagai jawaban.
aku menatap suami dengan sendu, ada rasa bersalah dan sedih menyelimuti hati ku.
"maafkan Abang karna waktu itu sudah membuat kamu salah faham, maafkan Abang karna kesalahan pahaman itu membuat kamu terluka dan celaka, maafkan Abang karna kesalahan pahaman itu juga membuat kamu tidak bisa memeluk putri kita saat pertama kali lahir ke dunia ini. Abang menyesal dengan semua kesalahan yang sudah Abang lakukan. tapi satu yang harus kamu tahu, Abang sangat mencintai mu melebihi apapun dan siapapun. Abang tidak sanggup jika harus kehilangan kamu, Abang__"
"yah, nur percaya sama Abang"
kata ku memotong perkataan nya yang belum selesai.
"nur yakin kalau Abang mencintai nur dan juga tidak bisa kehilangan nur. tanpa Abang bilang pun nur bisa lihat cinta dan rasa kehilangan itu dari rambut Abang yang panjang dan janggut Abang yang lebat"
seketika Gus hafidz tersenyum mendengar apa yang aku katakan pada nya, dia seolah malu setelah menyadari jika aku memperhatikan penampilannya yang begitu berubah.
tubuh nya yang terlihat lebih kurus, rambutnya yang panjang dan janggut nya yang lebat namun masih terlihat rapi. begitu terlihat berbeda dengan penampilan suami ku yang dulu.
"iya, Abang belum sempat memotong rambut dan merapikan janggut Abang 😁"
"iya gak papa ko Abang Masih sama seperti dulu, masih tampan dan gagah"
"iya gitu? wah ternyata setelah koma istri Abang jadi lebih pandai memuji orang"
aku pun hanya tersenyum dalam pelukan suami ku yang begitu aku rindu kan selama ini.
Syukron ya Allah, engkau masih memberikan kesempatan untuk ku bisa kembali berkumpul dengan keluarga kecil ku.
__ADS_1
semoga melalui ujian ini, keimanan kami semakin kokoh, cinta kami semakin kuat, dan kebahagiaan kami semakin lengkap. amin