
"asyila,,, dari mana ih ditungguin dari tadi juga gak dateng-dateng, kata nya mau nyari bibi malah ikutan ngilang" tanya ku pada asyila setengah saat beru kembali dari rumah pengasuh
"iya nur Afwan,,, tadi ana ada telpon dulu, jadi agak lama. terus pas abis nelpon mau langsung ke bawah tapi ustadzah dini minta tolong ana sama Kania buat beresin catatan laporan keamanan beliau, karna beliau sama ustadzah lainnya kan lagi fokus sama ujian lisan, gitu. Afwan ya Afwan banget" kata asyila dengan menangkupkan ke dua tangan nya.
"iya gak papa kalo gitu, kirain ana kemana tadi"
"gak marah kan?"
"ya, enggak lah. cuma kesel dikit" kata ku sambil mendekatkan telunjuk dan ibu jari ku
"ya udah kita makan siang yuk? ana laper" kata asyila memegang perutnya
"ayo, tapi ana nemenin aja yah. masih kenyang tadi abis makan bareng bibi di bawah"
"yah,,, masa nemenin aja, ya udah lah ana gak mau makan nasi mau nya jajan baso atau apalah yang ada di bawah sekalian kita beli cemilan di minimarket"
"kalo gitu ana gak jadi deh kenyang nya, kalau ada kode buat traktiran mah hehe"
"huuhhh,,, dasar"
"ya udah ayo atuh,,, kata nya mau traktir" kata ku menarik tangan asyila
"nanti dulu,,, kita ajak Maryam sekalian"
"oh iya,, hampir lupa saking semangatnya hehe" kata ku cengengesan, yah nama nya juga di traktir siapa yang gak senang coba. apalagi asyila kalo udah ngasih traktir an gak pernah itung-itungan karna diantara ku dan Maryam, asyila memang yang paling besar uang jajan nya karna dia juga terlahir dari keluarga yang lebih dari cukup.
~
"assalamualaikum wr wb, panggilan kepada syafina shidqya nurain, ditunggu di ruang organisasi sekarang juga. terimakasih wassalamu'alaikum wr wb"
"nur, emang ada urusan apa ke ruang organisasi kan kita udah lengser dari semua organisasi" tanya Maryam saat aku dan asyila sedang asik makan-makan di kantin setelah menyelesaikan ujian lisan yang terakhir
"paling Agam yang panggil, ngomongin soal penampilan kreasi seni persembahan terakhir kita" kata ku sambil meminum jus yang tadi sempat aku pesan
"oh iya ya, lupa masih ada kreasi terakhir yang harus kita persembahkan untuk adik-adik kelas kita" kata asyila dengan semangat
"ya udah yuk, kasian nunggu lama dia" kami pun berdiri dan langsung berjalan menuju arah ruang organisasi yang mana ruangan ini biasa dipakai oleh santri putra dan santri putri yang terpilih masuk dalam anggota organisasi baik pengurus pesantren atau pun OSIS, dan disini pula bertemu nya antara santri putri dan santri putra tapi bukan untuk ihtilath melainkan untuk mendiskusikan berbagai macam program kerja yang akan diadakan baik di madrasah sekolah maupun di pesantren.
__ADS_1
~
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam wr wb"
"ukhti nurain?" kata seseorang di balik hijab. karna walaupun disini ruang organisasi yang diperbolehkan bertemu nya antara santri putra dan santri putri, namun tetap memakai pembatas dengan hijab atau satir agar terhindar dari fitnah yang menimbulkan madhorot.
"iya, ana. ada Maryam sama asyila juga di sini" jawabku di balik hijab
"Alhamdulillah, ini ana Agam sama akhi Azhar. gini kami manggil anti ke sini mau membicarakan tentang persembahan kreasi seni yang akan di tampilkan lima hari mendatang. untuk kreasi nya kita harus mendiskusikan secara serempak antara kelas XII putra dan putri. maka dari itu sebagai perwakilan dari santri putri coba diskusikan dengan yang lainnya, kalo bisa malam ini juga harus sudah mendiskusikannya. jadi besok kita bisa berkumpul semua untuk memastikan kreasi mana yang akan di tampilkan. atau mungkin dari kalangan santri putri sudah ada ide atau masukan, biar nanti saat ana dan Azhar berkumpul bisa menyampaikan kepada seluruh santri putra nya"
"Syukron akhi Agam, sebenarnya kami santri putri memang belum sempat memikirkan kreasi apa yang mau di tampilkan nanti, karna memang kan ujian baru selesai juga. jadi mungkin,,,"
"iya Afwan, kesannya jadi ana yang buru-buru kaya nya" kata Agam memotong perkataan ku yang belum selesai
"bukan begitu maksudnya, malah kita bersyukur karna sudah diingatkan. karna memang waktu yang tinggal sebentar lagi" kata ku meluruskan maksud dari ucapan ku barusan
~
selesai berdiskusi, aku, asyila dan Maryam langsung ke minimarket untuk membeli sesuatu yang kami perlukan. di sana kami bertemu dengan dr Aisyah yang baru saja keluar dari minimarket, kami bertiga membungkuk sambil tersenyum ramah pada nya. namun,,,
"iya dok" jawab ku sambil berbalik ke arah nya
"bisa kita bicara?"
Maryam dan asyila langsung melihat ke arah ku.
"iya,, bisa dok"
"tapi bukan disini,,, di halaman poskestren aja gimana?"
"iya boleh dok"
aku pun ijin pada asyila dan Maryam untuk mengikuti dokter Aisyah.
"eumm,, gimana kaki nya semenjak sembuh gak ada keluhan apa pun kan?" tanya dokter Aisyah saat kami sudah duduk di atas kursi yang biasa ada di halaman poskestren. canggung rasa nya, tapi aku harus bisa menjaga sikap agar dokter Aisyah nyaman bicara pada ku
__ADS_1
"Alhamdulillah dok gak ada, insyaallah sehat sepenuhnya" kata ku sedikit malu
"Alhamdulillah kalau gitu"
"eummm,,, sebenarnya ada yang mau ana tanyakan ke anti. tapi ana juga bingung sebenarnya, apa pantas menanyakan hal ini ke anti" kata dokter Aisyah disertai senyuman kecil, hati ku jadi deg-degan gak karuan kaya gini. sebenarnya apa yang mau dokter Aisyah bicarakan pada ku.
"tanyakan aja dok, insyaallah ana jawab kalau memang ana tau jawabannya" kata ku mencoba biasa
"eumm,,, apa anti,,,punya,,,hubungan dengan,,,Gus hafidz?"
DEG
aku langsung melihat ke arah mata nya dokter Aisyah. aku gak nyangka kalau dokter Aisyah akan menanyakan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.
"eummm,,, Afwan dok, maksudnya gimana ya? hubungan bagaimana?" tanya ku ragu
"maksudnya,,, apa Gus hafidz pernah menyatakan perasaannya pada anti?"
"oh,,,itu,,, kaya nya gak mungkin Gus hafidz menyukai ana apalagi sampai menyatakan nya ke ana langsung"
"tapi, bukannya waktu itu anti di hukum karna menerima surat dari seseorang? apa itu dari Gus hafidz?" tanya nya lagi, ada gurat kekhawatiran di wajah nya dan itu aku lihat dari mata nya meski dokter Aisyah memakai cadar. yaa,, Allah apa aku harus berkata jujur? tapi aku takut ini akan menyakiti hati nya, karna aku yakin kalau dokter Aisyah menyimpan rasa untuk Gus hafidz. atau aku berbohong saja? tapi,, apa aku gak dosa melakukan itu?.
"eumm,,, surat itu,,,ana,,,maksudnya gak ada nama pengirim nya di surat itu, jadi ana juga gak yakin itu dari siapa. tapi ana yakin itu gak mungkin dari Gus hafidz. apalagi kan beliau tahu persis peraturan di pondok ini" kata ku meyakinkan dokter Aisyah
"tapi, kalau misalkan ternyata itu dari Gus hafidz, apa anti juga akan membalas perasaan dia?"
"apa?" kata ku kaget
"dokter Aisyah nih,, jangan berandai-andai sesuatu yang menurut ana itu gak mungkin"
"nur,,, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah sudah menghendaki" kata nya sambil memegang tanganku dan menatap ku dengan tatapan serius
"ana hanya ingin tahu bagaimana perasaan anti sama Gus hafidz?"
aku pun terdiam sejenak merenungi perkataan dokter Aisyah.
"segala sesuatu Allah yang mengatur, Allah yang mengendalikan. kita manusia hanya bisa menerima dan menjalankan sesuai perintahnya, sesuai peraturan. bahkan hati ini juga Allah yang mengendalikan. untuk saat ini ana hanya bisa jawab kalau hati ana masih ingin fokus belajar jadi ana belum memikirkan hal-hal yang berkenaan dengan itu"
__ADS_1
"iya anti bener, bahkan kalo memang anti berjodo dengan Gus hafidz ana bisa apa, Allah yang mengatur nya bukan?" dokter Aisyah tersenyum ketir dengan apa yang di ucapkan nya. aku hanya diam tanpa menanggapi, mencoba tersenyum agar tidak menjadi beban bagi ku dan dokter Aisyah, karna aku sendiri memang tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.