Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Abang ku, Sayang ku


__ADS_3

setelah mendapat kabar dari rumah sakit tentang Abang yang kecelakaan, dengan segera kami sekeluarga langsung berangkat ke Sukabumi untuk melihat keadaan Abang.


selama perjalanan bibir ini tak henti-hentinya melafalkan dzikir memohon kepada Allah agar suami ku tidak terluka parah.


"kamu yang tenang ya sayang, insyaallah hafidz baik-baik saja"


umma yang duduk di samping ku tak henti-hentinya menguatkan hati ku agar bisa lebih tenang.


"iya umma, insyaallah"


tiga jam di perjalanan rasa nya seperti tiga hari, karna aku sudah sangat tidak sabar ingin melihat keadaan suami ku yang kini terbaring di rumah sakit.


"umma dan nurain turun duluan, sekalian tanyakan kamar yang di tempati hafidz ke resepsionis. Babah dan ustadz Ilham ke tempat parkir mobil terlebih dahulu"


kata babah saat kami sudah sampai halaman rumah sakit tempat dimana suami ku di rawat


"iya bah, kalau begitu umma dan nurain masuk duluan. assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


aku dan umma langsung berjalan menuju resepsionis, setelah di beritahu kami langsung menyusuri koridor rumah sakit mencari kamar yang beritahu oleh perawat.


setelah menemukan kamar yang di tuju, aku dengan hati yang begitu takut mulai membuka pintu kamar itu. umma mengangguk dan menyentuh bahu ku seperti mengisyaratkan agar aku segera membuka pintu nya dan melapangkan hati ku jika melihat keadaan Gus hafidz.


'Bismillah' ucapku dalam hati


"Abang,,,hiks,,,hiks"


aku dan umma langsung menghampiri bang hafidz yang yang terbaring lemah tak sadar kan diri. kepala nya di perban, wajah nya penuh luka, dan tak lupa selang infus menjadi teman tidur nya hari ini.


umma hanya menangis sambil mengelus rambut anak nya. sedangkan aku masih terus memeluk tubuh nya dengan air mata yang terus mengalir


"Abang, ini nur udah di sini buat nemenin Abang. Abang bangun yah, nur kangen lihat senyum Abang, nur rindu suara Abang. Abang gak kangen sama nur sama anak kita? Abang bangun,,,,hiks,,,seandainya Abang kemarin gak jadi pergi pasti Abang gak akan terbaring lemah seperti sekarang, seandainya kemarin nur ikut Abang, pasti Abang gak sendirian merasakan sakit seperti ini, seandainya__"


"gak boleh berandai-andai dengan ketentuan Allah gak baik sayang"


"Abang?"


aku langsung melihat ke arah bang hafidz yang ternyata sedang tersenyum melihat ke arah ku.


aku yang kaget, langsung melepas pelukan ku dan berdiri tegak di samping suami ku.


"kamu kenapa? ko kaya yang lihat hantu gitu?"


"Abang udah sadar?"


tanya ku tak percaya, bahkan umma pun tak kalah kaget nya dengan ku.


gimana gak kaget, jika dilihat dari luar luka bang hafidz seperti parah tapi saat ini, suami ku bicara Seolah baik-baik saja.


"kamu berharap Abang masih belum sadar gitu?"


"nak, kamu gak apa-apa kan?"


tanya umma dengan lembut


"enggak apa-apa gimana umma, orang banyak luka kaya gini"


kata Gus hafidz namun dengan wajah nakal menggoda umma.


"maksud umma, luka mu gak parah kan nak?"

__ADS_1


"masyaallah, istri ku berharap kalau aku belum sadar dan sekarang umma ku berharap luka ku parah. apa keluarga hamba sudah tidak sayang hamba yaa Allah?"


"huss,,kemana aja kalau ngomong. lagian lagi sakit juga sempet-sempet nya bercanda, untung lagi sakit kalau enggak usah umma jewer kamu karna udah ngerjain umma dan istri mu"


"hehe,, iya umma maaf, istri Abang kenapa bengong? gak mau meluk Abang lagi"


yah, aku masih terkejut dan tak percaya jika suami ku masih bisa tersenyum dan bercanda dalam keadaan seperti ini. tapi aku bahagia ternyata luka nya tidak terlalu parah.


"sini, peluk Abang lagi. Abang kangen sama kamu dan anak kita"


"Abang" aku kembali menangis dalam pelukan suami ku.


menangis,


mengingat betapa terluka nya hati ku saat mendengar suami ku yang terluka


menangis,


betapa hancur nya hati ku, jika suami ku pergi lebih dulu meninggalkan ku di dunia fana


menangis,


karna hari ini aku masih bisa melihat nya tersenyum dan mendengar candanya


Alhamdulillah, kemarin Allah Tegur aku dengan rasa takut bahwa dengan mudahnya Allah akan mengambil semua yang ada pada kita, semua yang ada bersama kita, dan semua milik kita


sekarang Allah kembali mengingatkan ku, agar selalu mensyukuri atas apa yang Allah titipkan kepada kita, dan apa yang Allah anugerahkan untuk kita.


~


"fidz, Babah dan umma mau ke depan dulu yah nyari makanan buat istri mu. kasian Selma perjalanan belum makan apa-apa"


"biar nur antar ya umma"


aku hendak berdiri namun langsung di cegah oleh umma dan Babah


"kamu di sini aja nemenin hafidz. biar Babah yang nemenin umma. lagian kamu lagi hamil nak, jangan terlalu capek"


meski cenderung jarang bicara, namun Babah orang nya sangat perhatian dan pengertian


"ya udah, kamu tunggu sini yah nak. umma dan Babah keluar dulu beli makanan, sekalian mau lihat ustadz Ilham. biar kita makan bersama"


aku dan bang hafidz hanya mengangguk tanda setuju


"Abang tahu gak, kemarin malam nur mimpi nya buruk banget. nur lihat di rumah kita banyak orang berkumpul, dan ternyata mereka sedang mendoakan Abang yang terbaring ditutupi kain"


kata ku saat kami sudah berdua, setelah kepergian Babah dan umma ke kantin untuk membeli makanan.


"bagus dong, berarti Abang panjang umur nya, insyaallah"


"amin yaa Allah amin, itu yang nur harapkan. nur selalu berdoa pada Allah agar umur Abang panjang, Abang selalu sehat karna keberadaan Abang sangat berharga, sangat di harapkan oleh banyak orang khususnya para santri yang selalu mengharapakan ilmu dari Abang. bahkan jika suatu hari Allah waktu nya tiba, nur berdoa agar Allah ambil nur terlebih dahulu"


"shut,, kalau berdoa sama Allah jangan nanggung- nanggung. minta sama Allah agar kita sama-sama berumur panjang, menua bersama sampai punya cicit, dan kalau boleh meninggal bersama. jangan kamu duluan, karna Abang tanpa kamu tidak akan lengkap, ngerti?"


bang hafidz menyentuh hidung ku dengan telunjuk nya


"insyaallah"


kata ku sambil memandang nya dengan penuh cinta.


"Abang makan lagi yah bubur nya"

__ADS_1


"enggak ah, Abang kenyang. sekarang kamu yang harus makan yah"


"enggak ah"


"ko enggak? kasian Dede dalam perut nya pasti lapar karna umma nya belum makan siang"


"ya, terus gimana lagi orang makanan nya aja belum ada"


"oh, iya lupa. hehe,, nanti kalau gitu setelah umma ke sini bawa makanan nya, kamu langsung makan yah jangan di tunda-tunda"


aku mengangguk dengan tersenyum sebagai jawaban


"assalamualaikum, permisi Bu, izin pemeriksaan ya"


seorang perawat masuk dengan membawa beberapa obat di nampan yang di bawa nya.


"Gimana sus, suami saya baik-baik aja kan? luka nya gak parah?"


tanya ku ingin tahu saat suster sudah hampir selesai memeriksa keadaan suami ku


"Alhamdulillah semua nya baik. luka nya tidak terlalu parah insyaallah"


"berarti hari ini saya udah boleh pulang kan sus?"


giliran bang hafidz yang bertanya


"kalau itu masih belum boleh pak, karna masih ada pemeriksaan yang belum selesai oleh dokter nya, dan juga hasil lab belum keluar. nanti kalau sudah selesai dan ternyata tidak ada luka dalam yang serius, baru bapak boleh pulang"


"kira-kira lama gak sus?"


"insyaallah enggak, paling telat besok hasil observasi nya keluar. kalau gitu saya permisi ya, Bu, pak, assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


"Abang, eumm,,, emang nur udah keliatan tua yah?"


tanya ku meminta pendapat pada bang hafidz mengenai penampilan ku. karna sebagai wanita masih berusia belasan tahun, rasanya gimanaaa gitu di panggil ibu sama orang lain. kesan nya tua banget, ya kan??


"kamu kenapa? tersinggung dengan panggilan perawat tadi? hihihi"


bukan nya menjawab, Gus hafidz malah mentertawakan pertanyaan ku


"lagian, kalau dipanggil ibu emang nya kenapa? kan sebentar lagi juga mau jadi ibu"


"ih Abang, bukan nya gitu. di panggil ibu di usia nur yang masih belasan tahun rasa nya gimana gitu. kaya nya Nura udah tua gitu. kalau Abang di panggil bapa ya wajar, memang Abang kan udah__"


"udah apa? udah tua maksud kamu?"


"dih, emang siapa yang bilang Abang udah tua? atau Abang memang merasa udah tua?"


"kamu yah, awas Abang balas"


Gus hafidz mencoba menyentuh ku yang berjalan mundur selangkah dari nya


"gak kena, Uee hehehe"


kami pun hanyut dalam canda dan tawa, meski bang hafidz masih sakit namun dia masih bisa bercanda dan tertawa lepas.


aku tahu suami ku sengaja melakukan nya agar rasa hawatir ku menghilang terhadap keadaan nya.


Syukron yaa Allah, kau berikan dia untuk ku setelah kau ambil ibu ku dari ku.

__ADS_1


__ADS_2