
POV Hafidz
"sudah empat bulan kamu terbaring di sini sayang. apa kamu gak capek terus tidur seperti ini?"
tanya saya pada nurain, berharap dia bisa mendengar semua perkataan yang ku ucapkan saat bersama nya.
"kamu harus lihat, bagaimana cantik dan menggemaskan nya anak kita. mata nya sangat indah seperti mata mu, dan Abang rindu dengan mata itu. mata yang selalu menatap Abang dengan tatapan yang hangat dan penuh kasih sayang. mata yang selalu teduh namun menampakkan binar keceriaan. Abang rindu semua itu sayang___rindu,,,, hiks"
tak ada lagi perasaan malu untuk menangis sejak nurain tak pernah bangun dari tidur nya, rasanya hati ini begitu kosong dan hampa.
tak ada keceriaan lagi dalam hidup ku seiring redup nya senyuman indah itu dari bibir istri ku.
"apa kamu masih marah dengan Abang? apa hukuman ini belum cukup untuk Abang? apapun akan Abang lakukan sayang, asal kamu bangun dan kembali pada Abang, kita sama-sama membesarkan dan mendidik Naura hingga dia tumbuh menjadi seperti ibu nya, cantik dan Sholehah. kamu pasti akan sangat bangga memiliki putri seperti naura. meski usia nya baru empat bulan, tapi dia sudah sangat pintar merekam apapun yang dia lihat dan dia dengar. kamu mau lihat? ini Abang bawakan video nya pagi ini saat dia sedang bermain sambil memainkan jari-jarinya yang mungil. menggemaskan bukan? kamu pasti ingin menggendong dan mencium nya dengan gemas. tapi untuk itu, kamu harus cepat sembuh dan kembali sehat agar bisa berkumpul dengan keluarga kecil kita ya sayang"
masih sama, tak ada respon dari nurain. ku kecup kening nya, sebagai tanda betapa aku sangat mencintai nya. ku rasakan kulit nya sedikit kering, mungkin efek dari obat yang selalu di suntikkan ke dalam selang infus nya, bahkan tubuh nya pun menjadi sangat kurus. tapi itu tidak mengurangi kecantikan nya.
"nak hafidz? Tante kira tidak ada siapa-siapa di sini. maaf yah Tante mau memeriksa keadaan nurain sebentar"
kata Tante Rini yang selama ini merawat nurain di rumah sakit. aku pun mundur ke belakang, memberikan ruang untuk Tante Rini dan perawat memeriksa keadaan nurain.
"pagi sekali nak hafidz sudah ada disini?"
"iya dok, karna hafidz gak bisa tenang jika harus meninggalkan nurain lama-lama"
kata saya tanpa mengalihkan pandangan ini dari nurain.
"heeummm, Tante ngerti. kamu yang sabar ya nak. beruntung nurain bisa memiliki kamu"
"oia dok, apa hafidz bisa bicara dengan dokter?"
"bisa, kalau begitu kita ke ruangan Tante sekarang"
saya pun mengangguk dan mengikuti langkah Tante Rini menuju ke ruangan nya.
"apa yang ingin kamu bicarakan pada Tante?"
tanya nya saat kami sudah duduk di atas kursi yang ada di dalam ruangan Tante Rini
"begini, kalau boleh hafidz ingin merawat nurain di rumah. hafidz ingin menjaga nya selama 24 jam. dan hafidz juga ingin mendekatkan nurain dengan anak kami, siapa tahu dengan begitu nurain bisa sadar Tan"
__ADS_1
yah, jika tidak ada perawat atau dokter lain nya aku selalu memanggil Tante Rini dengan sebutan Tante bukan dokter, ini hanya demi menjaga keprofesionalan dalam pekerjaan Tante Rini di rumah sakit ini
"itu pun jika menurut Tante memungkinkan untuk nurain di rawat di rumah"
sambung ku pada Tante Rini
"heeummm,,,begini fidz"
ada tarikan nafas yang begitu berat sebelum Tante Rini melanjutkan perkataan nya. entah apa maksud nya, tapi saya berharap itu bukan lah hal yang buruk yang akan di sampaikan nya.
"sebenarnya Tante tidak ingin mengatakan nya, tapi mau tidak mau Tante harus menyampaikan nya pada kamu. empat bulan nurain koma, dan sejak saat itu sampai sekarang tak ada perubahan yang berarti pada kondisi nya. nurain masih bisa bernafas, sedikit banyak nya itu karna di bantu dengan oksigen. semakin lama nurain di rawat disini, maka biaya nya akan semakin besar. sebenarnya Tidak ada penetapan waktu secara pasti berapa lama seseorang harus terhubung dengan ventilator atau alat yang membantu merawat nurain selama ini. Hanya saja selama empat bulan ini kami memantau keadaan nya, dan itu tidak ada hasil yang signifikan sama sekali. Tante hanya tidak semua ini memberatkan mu fidz, baik itu dari segi biaya ataupun waktu. apalagi sekarang kamu mempunyai seorang putri yang sangat membutuhkan mu. Tante hanya___"
"hanya ingin membantu nurain pergi lebih cepat dari sisi hafidz, begitu maksud Tante? hafidz gak nyangka Tante akan Setega itu pada nurain"
"bukan nak, maksud Tante bukan seperti itu. justru Tante sangat menyayangi kalian berdua. maka nya Tante tidak ingin membuat kalian berdua tersiksa dengan keadaan yang berbeda"
kata Tante Rini diiringi air mata yang mulai terjatuh dari mata nya
"Tante kemarin bilang kalau nurain pasti akan kembali sembuh, walaupun kemungkinan itu sangat kecil. tapi kenapa sekarang Tante bicara sebalik nya? Tan, buat hafidz sekecil apa pun harapan nurain untuk bisa kembali sembuh, Bahkan jika harapan itu hanya 0,001% hafidz tidak akan pernah putus asa untuk menunggu nurain kembali bangun. jadi hafidz mohon, Tante jangan menyerah dengan keadaan istri hafidz. hafidz mohon Tan"
kedua telapak tangan ini ku satukan sebagai bentuk permohonan ku pada Tante Rini agar terus mau menyimpan harapan pada kesembuhan istri ku.
Alhamdulillah Tante masih mau berjuang bersama saya untuk kesembuhan nurain.
'harapan ini masih besar ya Allah, hamba yakin engkau pun akan memberikan kebahagian setelah ujian ini'
~
"fidz,,"
dengan tiba-tiba Alif sudah berdiri di hadapan saya, dia menatap saya dengan tatapan iba dan prihatin. yah saya tahu itu, karna hampir semua saudara ataupun sahabat yang dekat dengan saya menaruh simpati atas kejadian yang menimpa nurain.
kami pun saling berpelukan dan menanyakan kabar satu sama lain, karna sudah beberapa bulan tidak ketemu.
"kita ke kantin dulu yuk, pasti anta belum makan. lagian di sana sudah ada yang nunggu kita"
"siapa?"
Alif tidak menjawab, dia hanya menarik saya untuk mengikuti langkahnya.
__ADS_1
setelah sampai ternyata di kantin sudah ada teman dan sahabat-sahabat saya yang dulu satu kampus saat berkuliah di Turki.
masyaallah rasa nya terharu bisa kembali bersua dengan mereka. kami saling memeluk dan menanyakan kabar satu sama lain.
"maaf yah, kita baru tahu keadaan istri mu fidz. jadi kita baru sempat menjenguk ke sini"
kata faqih salah satu sahabat saya waktu di Turki.
tak banyak waktu yang kami habiskan untuk melepas rindu, karna suasana yang tidak memungkinkan saya bisa berlama-lama dengan mereka.
setelah melihat keadaan nurain, satu persatu dari mereka pamit pulang kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.
sisa Alif yang masih di sini menemani saya menunggu nurain.
"gimana fidz? anta mau pulang dulu?"
tanya Alif saat saya baru keluar dari salah satu ruangan para perawat, untuk menitipkan nurain karna harus pulang dulu ke rumah.
"iya kita pulang dulu, ada perawat yang nungguin nurain"
tanpa menunggu lama kami pun melangkah ke luar rumah sakit menuju parkiran. Alif ikut saya ke pondok karna ingin menemui umma dan Babah.
saat sampai di depan rumah, saya melihat sebuah mobil terparkir di sana. dan yah, saya sudah tahu siapa pemilik mobil itu.
"assalamualaikum"
kata saya mengucap salam bersama Alif saat masuk ke dalam rumah. Di sana sudah ada Babah, ummah dan mertua ku yang tak lain adalah ayah nya nurain.
beliau menatap ke arah saya, dengan tatapan yang cukup tajam.
benar, saya tahu alasan nya kenapa. tapi, siap tidak siap saya harus menghadapi beliau dan menanggung semua resiko atas kesalahan saya.
"yah"
saya mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangan beliau, namun,,,,,,
PLAK
sebuah tamparan mendarat tepat di pipi saya.
__ADS_1