
"sayang, bangun waktu nya minum susu"
seperti biasa, suami ku akan siaga dan selalu tepat waktu untuk membangunkan ku dari rutinitas tidur siang.
semenjak Hamil, Gus hafidz menjadi sangat protektif pada ku. apalagi saat dokter bilang kalau darah ku selalu kurang saat di periksa membuat Gus hafidz semakin memperhatikan ku.
"udah satu jam kamu tidur, sekarang bangun yuk. minum susu abis itu makan buah-buahan. Abang udah siapin semua nya"
dengan mata yang masih belum sepenuh nya terbuka, aku mencoba bangun untuk duduk.
"kesayangan umi dan Abi lagi apa di dalam? sehat-sehat yah nak, selalu dukung semua aktivitas umi buat kesehatan kalian berdua"
aku tersenyum memperhatikan suami ku yang begitu senang mengajak Dede bayi dalam perutku untuk mengobrol sambil mengelus perut ku dengan lembut.
"rasa nya Abang gak sabar nunggu empat bulan lagi buat ketemu buah hati kita. mudah-mudahan Allah lancarkan semua persalinan mu, dan Allah sehat kan kamu dan anak kita"
"amin ya Allah amin"
"sebentar Abang angkat telpon dulu yah"
aku memakan semua buah yang di bawakan oleh Gus hafidz sambil menunggu nya selesai berbicara dengan seseorang di sebrang sana.
sesekali Gus hafidz tersenyum di balik kata nya, entah apa yang di katakan orang di balik telpon nya. tapi yang jelas akhir-akhir ini aku sangat suka melihat nya tertawa.
bahkan tak jarang aku pun selalu memandang wajah suami ku dengan lekat seolah esok aku tidak bisa melihat wajah nya kembali
"kamu kenapa liatin Abang sampe segitu nya?"
tanya Gus hafidz membuat ku tersadar
"enggak, nur suka aja lihat Abang tersenyum"
"kamu tuh yah, lagi hamil ko makin genit sih"
"dih, siapa juga yang genit. tapi ngomong-ngomong barusan siapa yang telpon bang"
"oh, itu Miss reyan kata nya lusa mau ke Indonesia tepat nya ke Sukabumi. dan Abang juga harus ke sana, karna beliau mau survey seni lukis kaligrafi terbesar di sana. kira-kira kamu gak papa Abang tinggal sebentar?"
"hmmm,,, nur ikut yah?"
"jangan dong sayang, kamu kan lagi hamil. Abang gak mau kamu kecapekan terus berdampak sama kesehatan kamu dan bayi kita"
"insyaallah gak capek ko bang, kan cuma duduk di kursi mobil aja"
"nanti yah jangan sekarang ikut nya, Abang masih belum tenang kalau kamu harus pergi-pergi an jauh. lagian Abang gak lama ko, malam nya juga udah pulang insyaallah"
"ya udah deh, nur gak ikut"
"tapi kamu gak marah kan sama Abang?"
"enggak, nur ngerti ko"
jawab ku sambil tersenyum. walau pun sebenarnya aku ingin sekali ikut karna semenjak hamil bawaan nya selalu ingin dekat dengan suami ku.
__ADS_1
tapi aku juga tidak ingin membuat suami ku hawatir, dan dengan terpaksa aku pun menuruti perkataan nya.
~
"assalamualaikum ayah"
sapa ku pada ayah saat kami sedang melakukan video call melalui WA
"waalaikumsalam nak, apa kabarmu dan calon cucu ayah sehat?"
"Alhamdulillah sehat yah. ayah sendiri gimana sehat?"
"Alhamdulillah ayah juga sangat sehat"
"ayah, kapan mau ke Bandung? Ade Udeh kangen banget sama ayah"
"iya nak, maaf banget ayah belum sempat ke Bandung. insyaallah nanti saat acara tasyakuran tujuh bulan kamu ayah usahain buat ijin pulang"
"beneran ya yah, Ade tunggu kedatangan nya"
"insyaallah nak,,, oh iya nak hafidz mana? ko gak keliatan?"
"lagi mandi, mau siap-siap ke Sukabumi sebentar lagi yah"
"kamu ikut nak?"
"enggak yah, gak di izinin takut kecapekan kata nya"
"iya memang sebaik nya jangan, kamu tunggu aja di rumah sambil do'akan suami mu biar selamat dan urusan nya lancar"
apalagi semenjak kepergian ibu, hanya ayah tempat ku mengadu dan menumpahkan segala kerinduan.
sedang kan Abang ku sangat sulit dihubungi karna terlalu sibuk dengan kegiatannya sebagai TNI, hanya sesekali kami bertukar kabar. itu pun jika kebetulan Abang ku sedang rehat sejenak dari kegiatan nya.
"sayang, bisa ambilkan kemeja Abang yang__loh ko mata mu sembab? kenapa? kamu abis nangis?"
Gus hafidz yang masih mengenakan handuk langsung mendekati ku saat melihat ku yang memang habis menangis.
"enggak ko bang, barusan abis vc an sama ayah jadi nur kangen deh mau ketemu"
"kirain Abang ada yang sakiti kamu, kita doain aja biar ayah sehat selalu. kalau kamu lagi gak hamil pasti udah Abang ajak buat ke Surabaya jenguk ayah, tapi keadaan kamu sekarang tidak memungkinkan untuk perjalan jauh"
"iya nur ngerti ko bang, lagian udah liat wajah ayah barusan jadi kangen nya sedikit terobati"
"jangan nangis-nangis lagi yah, kasian Dede bayi nya. kalau umi nya nangis pasti yang di dalam perut juga ikut nangis"
dengan lembut Gus hafidz mengusap sisa air mata ku yang masih menempel di pipi ku.
"Abang jangan lama-lama yah di Sukabumi nya"
kata ku saat sedang membenarkan kancing kemeja suami ku
"kamu, makin ke sini pipi nya makin berisi yah"
__ADS_1
"maksud Abang nur gendut gitu"
aku pura-pura tersinggung dengan ucapan Gus hafidz yang secara tidak langsung menyebutku jadi gendut
"bukan gendut tapi berisi sayang hehe"
"sama aja tahu"
"gak papa atuh, jadi nya kalau Abang lagi gemes makin Gambang cubit pipi kamu nya hihi"
"nyebelin"
"hehe, jangan cemberut gitu dong. kan Abang mau pergi masa di kasih wajah cemberut gitu. biarpun kamu chubby tapi tetep cantik ko"
"Abang"
sekali lagi aku merasa berat melepas kepergian suami ku yang hanya satu hari. entah kenapa hati ku selalu gelisah jika jauh dari suami ku. mungkin kah ini hanya bawaan hormon dari hamil ku?
"cuma satu hari ko, insyaallah besok malam juga Abang udah disini lagi. gak papa yah Abang tinggal dulu sebentar. ya udah sekarang antar Abang ke depan sebelum berangkat yah"
aku hanya mengangguk sambil menahan air mata yang begitu mudah keluar.
setelah pamit pada semua keluarga, suami ku langsung pergi dengan membawa mobil nya. dan aku masih betah memandangi mobil yang terus melaju itu sampai hilang di balik gerbang pesantren.
~
siang hari, ketika aku baru kembali dari jalan-jalan bersama BI Nani, tiba-tiba rumah di penuhi dengan orang yang lalu lalang.
entah siapa mereka, yang pasti mereka bukan dari kalangan para santri yang biasa jadwal bersih-bersih di rumah umma
"BI, ini ada apa yah ko banyak orang gini?"
tanya ku pada BI Nani yang ada di samping ku. namun bibi hanya menggeleng tanda beliau juga tidak mengetahui apa-apa.
aku berjalan memasuki rumah dengan bibi yang mengikuti ku dari belakang.
"nak,,,hiks,,,hiks"
dengan sedikit berlari umma langsung memeluk ku diiringi isak tangis yang begitu pilu
"umma, ini ada apa? kenapa semua orang pada kumpul disini?"
tanya ku yang masih belum paham dengan apa yang terjadi
"kamu yang sabar yah nak,,, hiks,,hiks"
aku tidak menjawab perkataan umma, dan hanya pokus berjalan ke depan mencoba mendekati kerumunan orang-orang yang ada di hadapan ku.
dengan kaki yang gemetar, aku mendekati sosok yang tengah terbaring di tutupi kain kaf*n.
ku duduk di samping nya, mencoba membuka kain itu walau pun tangan ini rasa nya kaku untuk ku gerakkan.
tubuh ini begitu gemetaran, menahan rasa ketakutan yang dari tadi menghampiri hati ku.
__ADS_1
"abaaaaanggg,,,,"