
POV Gus hafidz
rasanya saya merasa sangat bersalah saat tadi pagi masih bersikap dingin pada istri saya.
dia yang memasang wajah senyum ceria nya di depan saya, tapi saya balas dengan tatapan dingin dan itu berhasil membuat saya tidak bisa konsentrasi mengajar karna perasaan menyesal yang timbul di hati ini.
"Gus, boleh saya bertanya?"
salah seorang santri mengangkat tangan ingin menanyakan sesuatu saat pembahasan pelajaran fiqih sudah saya sampaikan
"Gus, ana mau bertanya mengenai keutamaan tayamum. maksud nya begini jika suatu hari kita hendak sholat dan di tempat kita tidak ada air maka kita melakukan tayamum dan kita sholat. namun ternyata setelah sholat kita menemukan air, maka apakah kita harus mengulangi sholat kita dengan berwudhu terlebih dahulu atau sholat nya tidak perlu di ulangi cukup yang tadi dengan bertayamum?"
"mengenai jawaban dari pertanyaan itu, ana akan menceritakan tentang kasus yang terkait dengan dua orang sahabat Nabi SAW dalam perjalanan jauh, mereka berdua melaksanakan shalat tanpa wudhu dan bertayammum karena tidak memperoleh air. Setelah melaksanakan shalat, tiba-tiba mereka mendapatkan air. Salah satu sahabat mengulangi shalat karena waktu shalat masih ada dengan berwudlu kembali sebelum shalat. Sahabat Nabi yang lain tidak mengulangi shalatnya karena ia berkeyakinan shalatnya sah. Ketika berjumpa dengan Nabi SAW mereka menceritakan apa yang mereka lakukan di tengah perjalanan yang tidak mendapat air ketika akan shalat. Maka Rasulullah SAW menjawab: Kalian berdua benar. Kepada yang tidak mengulangi shalatnya, Rasulullah SAW bersabda; Kamu memperoleh satu pahala. Sedangkan kepada yang mengulangi shalatnya, Rasulullah SAW bersabda: kamu memperoleh dua pahala. jadi dari situ kita bisa simpulkan jawaban nya adalah boleh kedua-duanya. mengulangi atau tidak mengulangi sholat nya, itu sama-sama sah.
ada lagi yang ingin di tanyakan?"
semua santri saling memandangi satu sama lain untuk memastikan jika barang kali ada salah satu dari mereka yang ingin bertanya kembali
"seperti nya tidak ada. maka ana tutup pelajaran untuk hari ini, mudah-mudahan apa yang barusan kita pelajari bersama-sama dapat memberikan manfaat untuk kita semua, dan Allah mudahkan untuk kita mengamalkan setiap ilmu yang ada pada diri kita, walaupun itu hanya sedikit. sekian dari ana, assalamualaikum wr wb"
dengan segera saya meninggalkan kelas dan langsung pulang ke rumah.
~
sesampainya di rumah, ternyata nurain belum pulang. begitu pun umma yang menghadiri acara rapat mahasiswi penerima beasiswa ternyata masih belum kembali, otomatis rumah menjadi sepi.
"loh, de ternyata kamu udah pulang? umma sama Lutfi mana?"
tanya ku saat melihat Farah yang sedang sibuk dengan laptopnya di ruang tamu saat saya lewat hendak menuju kamar
"pergi"
jawab Farah dengan singkat dan tanpa melihat ke arah saya.
begitulah, semenjak saya menikah dengan nurain, sikap dingin Farah belum juga berubah sampai saat ini.
padahal saya sangat rindu dengan tawa nya, canda nya, dan cerita nya.
faraH memang adik saya yang periang dan ceria. dia dekat dengan siapa pun, termasuk saya sebagai Abang nya.
walau pun saya seorang laki-laki, namun Farah berhasil membuat kedekatan di antara kami sebagai adik dan Abang tanpa jarak.
"de,, apa sebegitu benci nya Ade sama Abang?"
saya mendekatinya dengan mengambil posisi duduk di depan nya agar dia mau menatap saya saat bicara
"Ade gak benci Abang"
jawab nya masih dengan nada dingin dan pandangan yang terus fokus ke arah laptop nya
"terus sampai kapan kamu akan bersikap dingin sama Abang?"
__ADS_1
"sampai ka aisy balik lagi ke sini, sampai ka aisy mau lagi praktek di sini, baru sikap Farah akan kembali seperti dulu. maaf farah masih banyak kerjaan, assalamualaikum"
Farah berdiri dan melangkah ke arah kamar nya tanpa menunggu perkataan yang belum selesai saya sampaikan.
~
pukul sebelas siang, nurain baru kembali dari pergi belanja ya bersama BI Nani.
dia masuk ke dalam kamar dan langsung mencium tangan saya dengan mengucap salam.
tak ada kata yang keluar dari mulutnya, bahkan saat saya memandang ke arah nya nurain hanya menunduk dalam diam.
'ada apa dengan istri saya? apa dia marah karna sikap saya tadi pagi?'
saya terus memperhatikan nurain yang sedang sibuk mengganti pakaian nya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dan bahkan saat dia sudah selesai dengan keperluan nya, masih tak ada kata yang keluar dari mulut nya. ini semakin membuat saya merasa bersalah dan penasaran dengan sikap nya yang tidak biasa.
"Abang sudah makan siang? kalau belum biar nur siapkan"
kata nya dengan nada suara yang sedikit lemah seperti tidak bersemangat
"Abang mau makan apa? nur ke dapur dulu ya bantu BI Nani buat siapin makanan"
nurain hendak berbalik melangkah menuju keluar kamar, namun dengan segera saya menahannya dengan menarik tangan nya
"kamu kenapa sayang? apa ada sesuatu yang dipikirkan?"
tanya ku dengan penuh selidik melalui mata nya
"apa nur marah sama Abang karna sikap Abang tadi pagi? kalau iya, Abang minta maaf karna sudah menyakiti hati kamu. Abang sudah tidak marah ko sama kamu, jadi sayang Abang jangan murung lagi ya. gak enak dilihat nya"
"makasih Abang udah maafin nur"
tak ada perubahan dalam ekspresi wajah nya. nurain masih terlihat agak murung. sebenarnya apa yang membuat nya seperti ini?
"nur ke dapur dulu ya, assalamualaikum"
nurain pun langsung berbalik dan melangkah meninggalkan ku yang masih duduk terpaku di tepi ranjang.
'kamj kenapa sayang?'
~
"fidz, umma dan Babah sudah mengurus semua keperluan untuk acara resepsi pernikahan kamu dan nurain. tinggal mencetak undangan dan foto praweding jika kamu dan nurain mau. sebenarnya umma sudah pesan surat undangan nya, hanya saja umma belum menentukan model atau gambar dari kertas nya, karna takut kamu dan nurain mau pilih sendiri. jadi besok siang kalau bisa kamu dan nurain mampir ya ke tempat percetakan nya biar semua nya cepat selesai. karna umma gak mau acara nya di nanti-nanti takut nurain keburu ngisi, kasian nanti dia kelelahan"
kata umma panjang lebar, saat kami sedang duduk di ruang tengah.
"iya umma insyaallah besok hafidz mampir ke sana, tapi ngomong-ngomong umma Abah kapan kembali dari Lirboyo?"
"insyaallah lusa Abah sudah ada di pondok lagi"
"Abang"
__ADS_1
Lutfi dengan tiba-tiba datang dan langsung duduk di pangkuan ku
"wah,,, Ade Abang punya mobil mainan baru nih"
"bukan baru ko, Luthfi di beliin ini udah beberapa hari. Abang aja yang gak tahu"
"emang di beliin sama siapa?"
"di beliin sama ka mut waktu ke pergi belanja sama BI Nani. kan Lutfi juga ikut"
"masa? ko Abang gak tahu?"
"Abang sibuk Mulu sih"
katanya dengan mulut yang sedikit di manyun-manyun kan
"umma ke dalam dulu ya fidz sebentar"
"iya umma"
umma masuk ke dalam, sedang kan saya masih asik mengobrol dan bermain dengan Lutfi sambil menunggu kedatangan nurain dari madrasah MI
"Abang, tahu gak. kan waktu Lutfi ikut ka mut belanja, ada cowok yang deketin ka mut, terus tanya-tanya ke ka mut juga, tapi abis itu ka mut nya kaya yang marah sampe mau nangis"
"cowok? Lutfi tahu siapa cowok nya?"
tanya saya penasaran saat mendengar cerita Lutfi tentang seorang laki-laki yang bertemu dengan nurain waktu itu
"eum, kalau gak salah kakak nya pernah mondok di sini. tapi Lutfi lupa siapa nama nya"
siapa kira-kira cowok itu? apa karna itu nurain beberapa hari ini terlihat murung?
"Lutfi mau main diluar aja sama ka Tiara, Abang mau ikut?"
"enggak, Abang disini aja, Ade mainnya hati-hati yah"
Lutfi pun berlari keluar rumah, menghampiri seorang santri putri yang sudah biasa mengasuh nya.
"BI, waktu bibi sama nurain belanja. apa ada seorang laki-laki yang mendekati nurain? kira-kira bibi tahu gak siapa nama nya? terus mereka ngomong apa saja?"
saya menyusul bibi ke dapur untuk menanyakan sesuatu yang membuat rasa penasaran di hati saya
"laki-laki? bibi kurang tahu Gus, soalnya waktu bibi ke swalayan, Ning nurain sama Gus luthfi ke arah tempat mainan. jadi bibi gak lihat nurain bertemu dengan siapa"
"oh gitu, kirain bibi tahu. ya sudah hafidz ke dalam dulu ya BI"
saya pun kembali masuk ke dalam kamar, sambil menunggu nurain pulang dari madrasah.
sebenarnya saya sudah tidak sabar ingin bertanya langsung kepada nurain tentang lelaki itu. karna saya hawatir jika laki-laki itu menyakiti istri saya.
apa itu penyebab nurain akhir-akhir ini murung? nurain lebih banyak diam dan melamun, beberapa kali saya mencoba mengajak nya bicara untuk mau bercerita, tapi nurain masih belum mau cerita.
__ADS_1
semoga bukan karna laki-laki itu sikap mu menjadi beda.