
DEG
hati ku seolah tak percaya saat aku mendengar siapa yang berbicara di sana. dada ini seolah terasa sesak mendengar suara nya. karna ada kemarahan yang tersimpan untuk nya.
"nur,," dia kembali menyebut nama ku. namun aku masih diam menatap lurus, mengepal tangan ku yang mencoba menahan rasa marah di hati ku karna ulah nya.
"nur,,, maaf" lagi, dia menyebut nama ku. aku tersadar, air mata ku menetes sempurna karna tak bisa ku bendung lagi saat dia mengucap kata 'maaf'.
"nur,,, apa anti benar-benar marah kepada ana? maaf,, ana enggak tahu kalau itu akan,,,"
"marah? rasa nya gak ada hak buat ana marah sama antum. antum yang punya pondok ini jadi antum bebas melakukan apapun yang antum mau sesuka hati antum, yah,,, walau pun antum sendiri tahu kalau apa yang antum lakukan adalah salah satu yang di larang di pondok ini, tapi tenang aja antum gak bakalan ngerasa hukumannya karna antum seorang GUS" ku tekan kata 'GUS' terhadap nya, karna rasa marah ku yang masih ku tahan terhadap nya.
"di tambah antum juga jauh kan dari sini. jadi pasti nya cuma ana yang bakalan merasakan hukuman nya walau pun sebenarnya ana merasa kalau ana gak salah dalam hal ini, oh enggak,,, ana juga salah. harus nya ana langsung buang surat itu saat Gus luthfi memberikannya kepada ana, tanpa harus membaca nya terlebih dahulu " lanjutku yang masih di kuasai dengan amarah karna ulah nya
"nur,,,Afwan. ana gak bermaksud seperti itu, ana gak bermaksud buat anti di hukum karna itu. Afwan nur,,," dia mengulang kata maaf kepada ku, tapi aku, hati aku masih marah masih,,, ah,,,entah lah.
"ana harus menyelesaikan pekerjaan ana Gus, kalo tidak ada yang mau dibicarakan lagi, ana tutup teleponnya. lagian ana juga gak mau kalo harus dihukum lagi karna menerima telepon bukan pada tempatnya. assalamualaikum"
"waalaikumsalam wr wb" jawab nya pelan, aku pun langsung menutup telpon nya. ku usap sisa air mata yang masih ada pipi dan mata ku sebelum mengembalikan ponsel milik bibi, karna rasa nya malu jika aku ketahuan habis menangis.
"gimana neng, udah ngomong sama Gus hafidz nya?" tiba-tiba BI Nani sudah ada di belakang ku sebelum aku memberikan ponsel yang ada ditangan ku kepada nya.
__ADS_1
"udah bi, ini nur kembalikan ponsel nya" aku, nurain memberikan ponsel itu pada BI Nani.
tak ada pertanyaan lagi dari BI Nani yang biasa nya bawel kalo soal goda menggoda antara aku dan Gus hafidz. entahlah mungkin beliau sudah mendengar percakapan ku dan melihat ku sedikit menangis, maka nya merasa tidak enak dengan ku. atau mungkin beliau tidak mau terlalu ikut campur tentang ini, aku tidak tahu.
aku melanjutkan setrikaan baju yang masih tinggal beberapa lagi. pukul sebelas kurang akhirnya pekerjaan selesai. aku bangkit setelah merapikan kembali baju dan setrikaan pada tempatnya. aku berjalan keluar ruangan kecil itu berniat pamit pada BI Nani. namun ku lihat BI Nani tak ada di mana pun, kemana beliau? ku panggil masih tidak menyahut. mungkin di kamar nya, pikirku. ah,,, ternyata benar bibi sedang tertidur pulas. akhirnya aku putuskan kembali ke asrama tanpa pamit kepada bibi terlebih dahulu.
sesampai nya di kamar aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri kemudian siap-siap hendak pergi ke musholla dan setelah itu baru pergi ke madrasah atau sekolah untuk kembali melaksanakan ujian sekolah.
setengah dua belas aku sudah selesai bersiap-siap, masih lumayan agak lama ke waktu adzan dhuhur. tapi aku memutuskan untuk lebih awal pergi ke musholla, setidak nya waktunya bisa aku gunakan untuk tadarus terlebih dahulu.
"nur,,, mau ke musholla?" tanya Widia saat aku sedang mengenakan mukena ke kepalaku.
"bareng yuk,,, ana juga mau tadarus dulu di musholla" lanjut nya, aku hanya mengangguk tersenyum mengiyakan ajakan Widia.
"syil,,, mau ikut ke musholla juga gak biar bareng kita" kata Widia pada asyila yang dari tadi sedang duduk sambil menghadap lemari nya
"eumm,,, kayak nya enggak. duluan aja" kata asyila sambil melirik ku sebentar. aku hanya diam tanpa mengeluarkan kata disini.
"kenapa gak bareng aja? ana liat anti juga lagi gak ngapa-ngapain, iya kan nur?" Widia mengikut tangan ku. mungkin meminta dukungan ku. tapi kenapa disini, Widia kayak yang agak maksa, apa mungkin Widia tahu kalau aku dan asyila sedang tidak dekat akhir-akhir ini, sehingga Widia ingin membuat kami jadi dekat lagi. entah lah,,,aku hanya memandang asyila sekilas,ku lihat asyila juga seolah enggan pergi dengan ku. maka lebih baik aku diam saja.
"gimana syil mau ikut kita gak bareng ke musholla?" tanya Widia lagi memastikan
__ADS_1
"Wid,,, ko maksa sih? ana kan udah bilang enggak. jadi gak usah nanya lagi. kalau kalian mau duluan yah duluan aja kenapa maksa orang yang gak mau" tiba-tiba asyila bicara dengan nada yang sedikit tinggi yang membuat orang seisi kamar melihat ke arah nya dan ke arahku secara bergantian. yah dia marah pada Widia atau mungkin marah itu ditujukan pada ku melalui Widia. kamu kenapa sih syil,,, ko jadi berubah gini.
"Afwan syil, ana gak maksud maksa. ya udah nur kita aja yang ke musholla. salah ana udah ngajak orang yang susah diberi pengertian" Widia menarik pelan tangan ku sambil berjalan dan melirik pada asyila dengan tatapan sinis. di sini aku jadi merasa serba salah dan tidak enak, seolah aku biang dari keributan antara Widia dan asyila. masyaallah,,,
"Afwan ya Wid" kata ku saat kami sudah berada didepan pintu musholla
"kenapa minta maaf?" tanya Widia
"enggak, ana jadi merasa bersalah aja"
"enggak, bukan salah anti ko. udah gak usah baper ya soal tadi" Widia menggandeng ku melangkah masuk ke dalam musholla.
~
selesai sholat, aku langsung bergegas siap-siap hendak pergi ke sekolah. hari ini aku berangkat bareng dengan teman-teman ku yang lain, selain Maryam tentunya. saat kami menuruni anak tangga dekat rumah pengasuh, tiba-tiba mobil Babah dan ibu pengasuh datang. kami semua langsung menunduk tanda hormat kami pada beliau.
satu per satu dari orang dari mobil itu keluar. ada ayah, ibu, Ning Farah, Gus Lutfi, bahkan dr Aisyah juga ada ternyata. kami semua hendak langsung bersalaman pada beliau secara bergantian. namun selang beberapa detik ternyata ada seorang lagi yang turun dari dalam mobil. seorang perempuan dengan gamis merah maroon dan hijab yang senada. masyaallah,,, anggun sekali, cantik dan seperti nya orang nya juga lembut. itu terlihat dari cara nya dia tersenyum ramah kepada kami.
"Alhamdulillah udah sampai, gimana calon suka dengan suasana disini?" tiba-tiba ibu mengatakan sesuatu yang membuat mata kami semua membulat sempurna. kami semua saling berpandangan satu sama lain.
calon? calon siapa maksud nya ibu pengasuh? apa kah calon nya,,,gus hafidz?
__ADS_1