
Alhamdulillah setelah dua hari Abang di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
selama perjalanan Abang tertidur pulas dipangkuan ku, mungkin karna efek obat yang diminum nya sebelum kita berangkat ke Bandung.
dengan lekat ku pandangi wajah suami ku yang begitu teduh. aku tersenyum saat memori ku kembali membawa ku pada saat pertama kali melihat nya.
saat aku sedang membantu bibi menggosok pakaian orang rumah dengan setrika, tidak sengaja aku membuat pakaian Gus hafidz bolong karna terbakar oleh setrika yang ku gunakan.
betapa panik nya aku waktu itu, dengan ragu menunjukkan nya pada bibi.
"enggak apa-apa neng, insyaallah Gus hafidz gak bakalan marah. orang nya baik ko, ramah lagi"
kata bibi mencoba meyakinkan ku waktu itu
"tapi BI kata anak-anak orang nya nyeremin. gak bisa senyum, dingin pokok nya gitu deh. sekarang nur malah ngerusak baju nya, nur takut nur di omelin"
"enggak ko neng, Gus hafidz orang nya baik. kalau gak percaya, coba aja neng ngomong langsung minta maaf, orang nya ada di belakang neng ko dari tadi"
mendengar itu tubuh ku langsung mengeras seperti patung. rasa nya aku sulit sekali bergerak. karna aku yakin Gus hafidz mendengar semua yang aku omongin sama bibi tadi.
namun mau tidak mau aku harus meminta maaf atas kesalahan yang ku buat.
Gus hafidz menatap ku dengan tajam saat aku berhasil memutar tubuh ku untuk bisa berhadapan dengan nya.
'kata bibi ramah, tapi ko tatapan nya aja udah kaya apa gitu. ih,,,ngeri sendiri liat nya aku'
"a_a_assalamualaikum Gus. i__ni ana mau__minta maaf_ka_karna tidak sengaja meru__"
"BI hafidz mau minta tolong di buatin roti canai sama susu"
kata nya sambil berlalu kembali ke dalam rumah tanpa melihat ke arah ku, mendengar perkataan maaf ku, apalagi menjawab maaf ku.
saat itu rasa nya aku benci sekali pada nya. sombong dan sok, itu lah penilaian ku terhadap nya.
tapi sekarang, lelaki sok dan sombong itu sedang tersenyum dalam tidur nya di pangkuan ku. entah apa yang ada dalam mimpi nya, hingga suami ku tersenyum seperti bayi yang sedang bermimpi indah.
"Abang, bangun! udah nyampe"
kata ku saat kami sudah sampai depan rumah. sedangkan umma dan Babah sudah lebih dulu turun untuk bisa membantu Abang turun dari mobil.
"hmmm,,, udah sampe yah? masyaallah saking indah nya mimpi Abang sampe gak nyadar udah nyampe aja depan rumah"
"memang nya Abang mimpi apa?"
tanya ku penasaran
"ada deh"
bang hafidz malah berdiri dan langsung keluar dari mobil tanpa memberi jawaban atas pertanyaan ku.
"Abang"
Gus Lutfi dan Ning Farah yang sudah berdiri di depan pintu rumah, langsung menyambut Gus hafidz dengan pelukan hangat layaknya saudara yang merindukan dan menghawatirkan keadaan saudaranya.
~
"neng lagi apa di dapur?"
tanya bi Nani saat aku sedang membuat susu jahe untuk suami ku
"oh,, pasti buat bebeb nya yah"
"bukan, tapi buat ayang nya hehe"
aku membalas guyonan bibi, sambil terus mengaduk susu jahe yang hampir selesai aku buat
"ya udah nur, ke dalam dulu yah BI"
aku pun masuk ke dalam dengan membawa secangkir susu jahe kesukaan bang hafidz
"teh nur"
tiba-tiba Ning Farah memanggil ku saat aku berjalan di ruang tengah
__ADS_1
"Ning Farah"
kata ku sambil tersenyum hangat pada nya
"jangan panggil Ning, panggil Farah aja. lagian kan teh nur udah jadi kakak ipar ana"
"enggak enak kayak nya kalau hanya manggil nama, gak biasa he"
"ya udah deh, terserah teteh aja gimana enak nya"
aku hanya tersenyum menanggapi perkataan nya
"besok jadwal teh nur buat cek kandungan kan? kalau boleh Farah mau ikut yah. mau liat wajah ponakan Farah yang masih di dalam perut"
kata nya sambil mengelus perut ku dengan lembut
aku sangat bahagia melihat itu, semenjak aku hamil sikap Ning Farah berangsur berubah menjadi semakin ramah dan baik pada ku.
memang benar yah, hadirnya seorang bayi ke dunia ini selain membawa rezeki tapi juga membawa keberkahan untuk hidup kita. padahal baby nya masih dalam perut tapi berkah nya sudah banyak yang di rasakan oleh orang-orang dirumah ini, khususnya aku sebagai ibu nya.
"masyaallah, baby nya gerak teh. ini,,, teteh bisa ngerasain kan? ya Allah gemes banget jadi nya pengen cepet-cepet ketemu sama Dede bayi nya. kamu sehat-sehat di situ ya, nanti kalau udah lahir ateu bakalan ajak kamu kemana pun kamu mau oke"
sekali lagi Ning Farah mengelus dan mengajak bayi ku yang masih dalam kandungan ku.
Syukron ya Allah, limpahan Rahmat mu selalu mengelilingi kehidupan ku. dengan kau hadirkan orang-orang yang menyayangi ku dan aku pun menyayangi mereka
~
"sayang ko lama banget, pasti abis ngobrol sama bibi yah"
tanya Gus hafidz saat aku sudah masuk ke dalam kamar sambil memberikan susu jahe yang ku buat tadi
"enggak, tadi abis ngobrol sama Ning Farah dulu sebentar"
"Farah? kayak nya semenjak kamu hamil, kalian jadi mulai dekat"
"Alhamdulillah bang, nur seneng banget dengan perubahan sikap Ning Farah.
"Abang juga sangat bahagia karna pada akhirnya Farah bisa menerima kamu dan ini semua berkat kehadiran malaikat kecil kita yang masih asyik tiduran di sini"
"Abang mau ngapain?"
tanya ku saat tangan suami ku mulai nakal menyentuh setiap bagian tubuh ku dengan tatapan nakal nya
"ini masih siang loh"
"emang nya kalau Abang mau pegang-pegang kamu harus malam-malam yah"
"enggak juga, cuman kan nanti kalau ada yang masuk gimana"
"enggak bakalan ada yang berani masuk, lagian Abang tuh kangen banget sama kamu. karna udah istirahat penuh beberapa hari ini. lagian gak lama ko, cuma beberapa menit pasti beres. yah,,yah,,"
kata nya sambil mengedipkan mata dan memanyunkan bibir nya ke arah ku
"ih,, Abang apaan sih genit pisan"
"ayolah sayang, cuma secuil aja. maksudnya secuil di pipi, secuil di bibir, secuil di__"
"Abang ih jorok ngomong nya, kemana wae ngelantur"
"biarin, sama istri sendiri ini ngomong jorok nya, bukan sama orang lain. ayo lah sayang sini, jangan buat Abang panas dingin, kan baru sembuh dari sakit Abang nya"
aku hanya tersenyum menanggapi kemauan suami ku yang terkadang membuat ku geleng kepala.
aku kira menikah dengan seorang Gus yang jutek dan cuek tidak akan ada yang nama nya romantis atau pun canda tawa karna dia pasti bukan orang yang humoris.
tapi aku salah, Gus hafidz itu paket lengkap. dingin dan cuek kalau depan orang lain. tapi saat dengan ku, dia berubah 180° Celcius.
bukan hanya romantis dan humoris, tapi juga___omes alias otak mes*m😆😆
~
"assalamualaikum neng"
__ADS_1
suara bi nani yang mengucap salam dan mengetuk pintu membuat ku langsung memakai hijab untuk membuka pintu kamar
"waalaikumsalam, iya BI kenapa"
tanya ku ramah
"maaf ganggu, itu ada tamu Gus hafidz di depan"
"siapa bi?"
tanya Gus hafidz dari belakang punggung ku
bibi bukan nya menjawab tapi malah tersenyum sambil melihat ke arah ku dan Gus hafidz bergantian
"BI, siapa tamu nya?"
"bibi juga gak tahu, tapi kata nya temen Gus hafidz waktu di Turki"
"oh, ya udah sebentar lagi saya ke depan"
"iya Gus,, ya udah bibi permisi dulu,, ngomong-ngomong keramas jam segini kayak nya seger ya neng hehe"
kata BI Nani sambil tersenyum meledek dan berlalu meninggalkan ku yang tersipu malu
"gara-gara Abang nih, aku jadi malu kan sama bibi"
"loh, ko Abang? memang nya malu kenapa sama bibi?"
"itu, Abang kenapa coba pake nyamperin bibi dengan rambut basah gitu. kan bibi mikir nya jadi macam-macam"
kata ku sedikit merajuk
"emang kita habis macam-macam kan barusan"
"ih, Abang, au ah nyebelin"
"hehe, ya udah Abang ke depan dulu yah menemui tamu yang datang. kamu lanjutin ngeringin rambut nya, nanti kalau udah beres kamu susul Abang ke depan"
aku mengangguk dan Gus hafidz pun langsung melangkah ke ruang tamu setelah mengecup kening ku.
aku kembali melanjutkan kegiatan ku yang belum beres, yakni menyisir rambut dan membereskan tempat tidur yang tadi berantakan karna ulah suami ku, dan pastinya aku pun ikut terlibat 😁
"hafidz, bukan kah Islam tidak melarang jika seorang laki-laki memiliki istri lebih dari satu? apalagi kamu seorang mu'allim yang akan selalu menyebarkan dakwah pada manusia lain nya"
ku dengar suara seorang perempuan di ruang tamu tengah berbicara pada suami ku.
aku berjalan semakin mendekat, karna ingin melihat siapa yang datang bertamu di sore hari begini.
"lihat aku? aku sudah merubah penampilan ku menjadi sebenar-benarnya Sorang muslimah. namun di hati ku masih kosong dari pengetahuan tentang agama ku. jadi anggap lah permintaan ku adalah salah satu dakwah yang harus kamu lakukan"
"tapi bukan dengan cara seperti itu"
aku hanya mendengar percakapan antara suami ku dengan seorang wanita di balik dinding. wajah nya tidak asing bagi ku, kami pernah bertemu di Turki beberapa kali. namun aku lupa siapa nama nya.
"kamu pernah bilang, bahwa aku seorang wanita yang cantik dan baik. siapapun yang melihat ku pasti akan suka pada ku, apalagi jika aku menutup aurat ku. dan ini sudah aku lakukan. aku bukan hanya ingin menutup aurat ku, tapi aku juga ingin menutup mata dan hati ku dari perbuatan maksiat. aku mohon hafidz, kamu mau membantu ku"
"maaf, seperti nya kamu salah mengartikan perkataan ku saat itu. dan permintaan kamu itu adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan"
aku semakin bingung dengan arah pembicaraan antara suami ku dan perempuan itu. memang nya apa permintaan dari perempuan itu pada suami ku.
"nak ada apa ini?"
tiba-tiba Babah datang dari arah pintu depan bersamaan dengan umma dan Gus Lutfi.
"tidak apa-apa bah, ini teman hafidz hanya__"
"hanya ingin memintanya untuk memenuhi janji nya"
kata perempuan itu memotong perkataan suami ku
"memenuhi janji?"
"iya pak, saya ke sini ingin menagih janji yang dulu pernah di ucapkan oleh hafidz pada saya saat kami masih di Turki"
__ADS_1
aku masih terdiam di balik dinding mendengarkan semua percakapan di ruang tamu.
'janji apa yang sudah di ucapkan oleh Gus hafidz pada nya? dan kenapa suami ku tidak pernah mengatakan tentang perempuan itu pada ku?'