Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Di jenguk Ibu


__ADS_3

"Iam,,,, masyaallah" aku dan asyila langsung merangkul Maryam secara bersamaan setelah selesai membaca surat itu.


"gak nyangka banget ternyata surat misterius itu ditujukan ke anti" kataku masih tidak percaya, karna aku pikir surat itu hanya surat iseng yang ditulis seseorang hanya untuk membuat kehebohan dikalangan santri putri


"jadi ini alasan anti tadi keluar paling akhir dari kelas" tanya asyila memastikan pada Maryam, dan Maryam hanya mengangguk dengan raut wajah yang seolah bingung


"terus, perasaan anti gimana sekarang pas tahu perempuan dalam surat itu adalah anti iam,, masyaallah bidadari nih" kata ku sambil iseng meledek Maryam


"ihhh,, ana syok tahu. ko ana sih" kata Maryam dengan mengeluh


"gak boleh gitu dong Iam, ini kan petunjuk dari Allah kata yang nulis surat nya juga bukan? yah,,, berarti ini memang terbaik buat anti nanti nya" kata asyila dengan bijak


"eh,, tapi ngomong-ngomong ko masih gak ada nama pengirim nya ya, kata nya mau mengenalkan diri diawal kalimat nya tapi pas di akhir masih gak ada tuh nama nya, hanya ada nama Maryam aja" tanyaku sedikit heran


"yaahh,, mungkin si penulis hanya ingin memberi tahu dulu surat itu buat siapa-siapa nya, biar gak ada lagi yang saling sangka. kan tahu sendiri gara-gara itu surat temen-temen kita pada saling sangka gitu iya kan? lagian kalo di kasih tahu nama nya sekarang mungkin si penulis gak mau Maryam nya malu kalo nanti ketemu sama dia" kata asyila panjang lebar.


"masuk akal juga sih,,, jadi gimana Iam tanggapan anti nya Iam?"


"ana,, gak tau nur. ana belum yakin"


"jangan ragu Iam,,, insyaallah baik buat anti. kan enak abis lulus dari sini langsung nikah. jadi bobo gak sendirian deh" kata asyila yang semangat meledek Maryam


"ihhh,,, itu mah anti aja, ana masih mau kuliah dulu kali belum mikir ke situ-situ dulu. lagian kaya nya yang bakalan nikah duluan diantara kita nurain sama Gus hafidz deh" kata Maryam menanggapi ledekan asyila. aku yang mendengar itu langsung melihat ke arah asyila karna merasa tidak enak dengan nya, dan benar saja asyila hanya diam menunduk tanpa menanggapi perkataan Maryam lagi.


"ko pada diem sih? emang bener kan nur? asyila juga pasti setuju sama pendapat ana" lanjut Maryam semakin menggoda ku. yah,, Maryam memang tidak tahu tentang perasaan asyila pada Gus hafidz karna kami berdua belum memberitahu nya. kata asyila untuk sementara yang tahu cukup aku dan dia, Maryam jangan tahu dulu karna asyila merasa malu dan belum siap jika harus ada yang tahu lagi tentang perasaan nya, termasuk Maryam.


sebenarnya Maryam sempat bertanya pada ku perihal alasan asyila yang seolah menjauhi ku pada waktu itu saat Maryam melihatku dan asyila kembali dekat seperti dulu. namun baik aku maupun asyila tidak mengetakan kebenaran nya, kami hanya bilang bahwa diantara kami ada kesalahpahaman mengenai masalah kami yang berada dalam satu kamar, entah lah dia percaya atau tidak dengan alasan kami karna setelahnya Maryam pun tidak bertanya lagi.

__ADS_1


~


"assalamualaikum wr wb,,, panggilan kepada ukhti syafina shidqya nurain kelas XII jurusan MAK ditunggu di ruangan penerimaan tamu, sekali lagi panggilan kepada ukhti syafina shidqya nurain ditunggu di ruangan penerimaan tamu. terimakasih untuk perhatian nya wassalamu'alaikum wr wb"


aku yang sedang duduk menyiapkan kitab-kitab yang hendak dimutholaah, langsung memakai hijab yang tergantung sembarang di pintu lemari ku.


"siapa yang berkunjung nur?" tanya asyila saat aku hendak melangkah menuju pintu keluar


"gak tahu syil, mungkin ibu" jawab ku ragu


"ana temenin yah, biar sekalian ketemu ibu mu. udah lama juga gak silaturahmi"


aku pun mengangguk tanda setuju. setelah asyila memakai hijab, kami pun berjalan berdua menuju ruang penerimaan tamu yang terletak dekat kamar para ustadzah.


"assalamualaikum" aku dan asyila mengucap salam saat kami sudah sampai diruang penerimaan tamu.


"waalaikumsalam wr wb" jawab seseorang dari dalam


kami berjalan masuk dan langsung menyalami ustadzah Mira, setelah itu beliau berlalu meninggal kami.


"Tante apa kabar nya" aku dan asyila gantian menyalami Tante ku yang duduk di atas kursi


"Alhamdulillah baik,,, ponakan tanten gimana sehat?"


"Alhamdulillah sehat wal'afiyat,,, Tante ke sini sendiri?" tanya ku sambil melihat-lihat ke arah luar ruangan


"enggak,,, Tante ke sini sama ibu mu"

__ADS_1


"tapi ko gak ada" kataku heran


"lagi ke kamar mandi dulu" kata Tanteku menunjuk kamar mandi yang ada di dalam ruangan ini. dan benar saja ibuku keluar dari pintu kamar mandi.


"ibu,,," aku langsung menghampiri ibuku dan memeluknya dengan erat "ibu,,, nur kangen banget sama ibu" kata ku lagi yang masih memeluk ibu dengan disertai air mata yang mulai jatuh


"iya nak,,, ibu juga sama kangen banget sama nurain" kata ibu dan kemudian menciumi pipi dan kening ku.


"ibu,,," kini asyila yang menghampiri ibu dan langsung dipeluk oleh ibu ku. itu sudah biasa, karna baik asyila ataupun Maryam sudah sangat dekat dengan ibu ku, dan ibu juga sudah menganggap sahabat-sahabat ku seperti anak nya sehingga mereka pun memanggil ibuku dengan sebutan ibu.


"apa kabar kamu nak sehat?" tanya ibu pada asyila


"Alhamdulillah sangat sehat, apalagi setelah melihat ibu dan dipeluk oleh ibu" jawab asyila disertai senyuman hangat


"memang paling bisa yah kamu itu menyanjung orang" kata ibu terkekeh "satu lagi mana Putri ibu ko gak keliatan?" tanya ibu sambil melihat kearah setiap ruang


"Maryam,, kebetulan gak ke sini, kata nya lagi mandi" jawab asyila pada ibu. kami pun kembali duduk di atas kursi yang telah di sediakan untuk para tamu yang berkunjung.


"ibu ko keliatan pucat, ibu lagi gak sakit kan?" tanyaku hawatir saat melihat wajah ibu yang terlihat pucat.


"enggak ko, ibu gak sakit nak. itu perasaan kamu aja"


"beneran? atau ibu baru sembuh dari sakit? ko gak bilang-bilang sama nur kalo ibu sakit" kata ku lagi sambil terus bergelayut manja ditangan ibu ku. "Tante ibu kemarin-kemarin sakit yah?" tanya ku lagi pada tanteku untuk memastikan, karna kalo pada ibu pasti tidak akan menjawab nya dengan jujur


"enggak ko,, ibu kamu sehat-sehat aja. bukti nya masih jengukin kamu kan nur" jawab Tante meyakinkanku


"ibu kalo sakit, jangan ditutup-tutupi ya dari nur" kata ku lagi pada ibu, dan ibu hanya menjawabnya dengan anggukan dan kembali memelukku.

__ADS_1


ah,,, rasa nya bahagia sekali di jenguk ibu, setelah hampir dua bulan lamanya tidak bertemu, selain hanya bisa mendengarkan suara nya via sambungan telpon. aku memang sengaja melarang ibu untuk menjengukku karna aku tidak mau kalau ibu sampai kecapean di jalan karna jarak rumah dan pesantren ku lumayan jauh. apalagi jika harus menggunakan bis umum, rasanya hati ini tidak tega melihatnya.


sebenarnya di rumah ada kendaraan pribadi hanya saja itu digunakan jika ayah kebetulan ada dirumah atau sedang libur bekerja. dan kami tidak menggunakan jasa supir dengan alasan perekonomian kami belum mampu pada tahap itu. karna aku memang terlahir dari keluarga yang cukup atau biasa disebut kalangan menengah. tapi itu tidak mengurangi rasa syukurku karna bagi ku yang paling penting adalah kami saling menyayangi dan melindungi satu sama lain, itulah yang selalu diajarkan oleh kedua orangtuaku.


__ADS_2