
POV Aisyah
aku tidak menyangka jika ka Alfan akan menyusul ku ke pondok ini. tapi darimana ka Alfan tahu kalau aku disini? dan darimana dia tahu tentang alamat pondok ini?
"ka Alfan?"
kata ku dengan pelan.
"assalamualaikum Aisyah"
"wah, ternyata neng Aisyah juga kenal sama teman nya Gus hafidz ini. maaf yah, bibi gak tahu, karna baru kali ini bibi lihat nak nya main ke sini"
"iya BI gak papa"
jawab ka Alfan ramah
"kalau begitu silahkan masuk nak"
kata bibi mempersilahkan, ka Alfan masuk dengan sopan. setelah ka Alfan duduk, aku pun duduk sambil menggendong Naura.
benar, Naura shidqiya athary adalah nama bayi nya hafidz dan nurain yang saat ini aku rawat dan aku sayang seperti anak sendiri.
sejak awal kepulangan nya ke rumah ini hingga usia nya yang hampir menginjak empat bulan, selain umma dan Farah, aku lah yang selalu mengurus nya jika jadwal praktek ku sudah selesai.
sebenarnya hafidz melarang ku untuk mengurus bayi nya, sampai suatu hari bayi nya rewel dan tidak berhenti menangis hingga aku menggendong nya dan dia pun seketika berhenti menangis. entah ada ikatan apa antara aku dan bayi ini, tapi yang jelas aku sangat menyayangi nya dan aku selalu nyaman jika di dekat nya.
"umma tahu walau kamu belum menikah dan mempunyai anak, tapi jiwa mu begitu keibuan, sampai-sampai bayi nya hafidz merasa nyaman jika didekat mu nak. sayangi dia seperti anak mu sendiri, agar dia tidak merasa kekurangan kasih sayang seorang ibu"
kata umma suatu hari, saat kami sedang asik mengasuh Naura bersama-sama.
"apa kabar nya de aisy?"
tanya ka Alfan saat BI Nani sudah berlalu setelah menyimpan segelas air di atas meja.
"Alhamdulillah aisy baik ka"
jawab ku dengan pelan sambil terus menunduk
"Alhamdulillah kalau de aisy baik. kakak hanya merasa hawatir, karna akhir-akhir ini de aisy tidak pernah menjawab pesan atau pun telpon kakak. maaf kakak gak tahu kalau de aisy sesibuk ini, sampai-sampai de aisy tidak sempat berkunjung ke rumah belajar anak-anak"
__ADS_1
DEG
Ucapan ka Alfan berhasil menyentil hati ku.
yah, sudah beberapa bulan ini aku tidak pernah berkunjung ke rumah belajar anak-anak karna terlalu sibuk mengurus Naura. aku telah Abai dan mungkin lupa dengan kewajibanku yang sudah lebih dulu aku jalankan.
"maaf ka jika aisy sudah lalai dengan kewajiban aisy pada anak-anak di sana, karna aisy___"
"karna de aisy lebih menyayangi bayi nya hafidz dari pada anak-anak di rumah belajar yang begitu membutuhkan bimbingan belajar dari de aisy"
kata Alfan memotong perkataan ku yang belum selesai.
sontak aku menatap ka Alfan saat mendengar perkataannya. ada rasa kecewa dalam hati karna tanpa mendengar alasan ku, ka Alfan dengan mudah menilai ku berdasarkan pandangan nya saja.
aku memang salah tidak menceritakan tentang semua ini pada ka Alfan sebelum nya, tapi harus nya dia tidak bicara seperti itu tanpa tahu alasan ku yang sebenarnya.
"apa ada yang ingin de aisy jelaskan pada kakak?"
sabung nya lagi.
"aisy rasa ka Alfan tidak mau mendengar alasan apa-apa dari aisy. karna sebelum aisy mengatakan alasan nya pun ka Alfan sudah lebih dulu menyimpulkan berdasarkan pemikiran dan penilaian ka Alfan sendiri"
tak ada reaksi apapun dari ka Alfan, dia hanya menatap ku dengan tatapan yang tidak aku mengerti.
aku hanya diam tanpa menjawab setiap perkataan dari ka Alfan. bukan apa-apa, hanya saja setelah mendengar semua perkataan ka Alfan, hati ku menjadi sangat bingung dan bimbang.
"sepertinya kedatangan kakak memang sangat tidak di harapkan oleh de aisy, maaf jika kehadiran kakak membuat de aisy tidak nyaman"
kata nya sambil berdiri.
"dan tolong sampaikan salam kakak pada hafidz, laki-laki yang selalu mengisi hati de aisy. kakak pamit, assalamualaikum"
DEG
sekali lagi hati ku merasa tertampar oleh perkataan ka alfan. Aku tidak menyangka ka Alfan akan berkata seperti itu. dari mana dia tahu jika hafidz adalah laki-laki yang selama ini berhasil membuat ku jatuh cinta?
apa aku begitu jahat pada nya? apa aku begitu egois dengan sikap ku?
ya Allah, logika dan hati ku saat ini seolah sedang berperang.
__ADS_1
~
"hafidz, bagaimana keadaan nurain sekarang?"
tanya ku saat baru masuk ke dalam rumah dan melihat hafidz sudah bersiap akan pergi ke rumah sakit.
"masih sama"
jawab nya dingin
"loh, ka aisy udah ke sini? kirain nanti siang setelah praktek"
tiba-tiba Farah muncul dari dalam dengan membawa botol susu yang pasti nya itu untuk Naura
"iya, kebetulan hari ini ka aisy libur jadi nya bisa pagi-pagi ke sini"
"bagus deh, jadi ka aisy bisa seharian disini. kebetulan Farah juga lagi gak ada kuliah, kita bisa bareng-bareng deh ngasuh Naura. ya udah ka aisy masuk yuk, Naura lagi di taman belakang sama umma"
"iya kamu duluan aja, nanti kakak nyusul"
kata ku saat melihat hafidz sudah berada di luar , aku pun dengan segera menyusul nya ke luar.
"hafidz, apa aku boleh ikut menjenguk nurain?"
tanya ku saat hafidz hendak masuk ke dalam mobil nya. dia hanya diam tanpa melihat ke arah ku
"aku bawa mobil ko, jadi gak akan ikut naik mobil kamu"
"maaf aisy, aku hanya ingin berduaan dengan istri ku tanpa kehadiran orang lain di antara kami"
DEG
rasa nya sakit sekali mendengar apa yang dikatakan hafidz barusan. bahkan dengan acuh nya dia masuk ke dalam mobil dan pergi tanpa pamit pada ku.
aku tahu, semenjak nurain koma hati nya pasti sangat terluka. bahkan tubuh nya menjadi lebih kurus, karna terlalu sibuk mengurus istri nya yang masih koma di rumah sakit.
hafidz menjadi sangat pendiam dan murung, bahkan jika bermain dengan anak nya pun dia hanya ingin berdua di dalam kamar nya tanpa ada yang boleh mengganggu nya.
senyumnya sudah tak pernah terlihat, bahkan penampilan nya pun sedikit berantakan seolah tak terurus. umma, Babah, bahkan hampir semua orang yang dekat dengan nya sudah mencoba untuk menghibur dan menasehati nya, tapi hafidz seolah menutup telinga nya dan hidup dengan hati nya yang telah rapuh. yah, ini pertama kali nya aku melihat hafidz sekacau ini.
__ADS_1
tapi, apa harus dia seperti itu? apa harus dia bersikap dingin dan kasar terhadap ku?
hafidz,,,, kini aku benar-benar tidak mengerti kamu