
AUTHOR
"assalamualaikum teh nur"
saat nurain hendak membuka buku Bercadar itu tiba-tiba suara seseorang masuk dari arah pintu depan rumah nya. akhirnya nurain pun menyimpan kembali buku itu, untuk membuka isinya nanti.
"waalaikumsalam wr wb"
nurain melangkah menuju asal suara, dan ternyata itu adalah suara Ning Farah, adik ipar nya.
"teh nur, hari ini sibuk gak?"
tanya Farah saat sudah saling berhadapan dengan kakak ipar nya itu.
"insyaallah enggak Ning, memang nya kenapa?"
"mau enggak, temenin Farah ke supermarket belanja bulanan? tadi nya mau bibi yang belanja, tapi bibi malah ijin pulang kata nya kakak nya sakit."
"oh,,, boleh Ning. kebetulan hari ini nur gak ngapa-ngapain di rumah"
"ya udah teh nur siap-siap dulu yah, sekalian ajak Naura juga biar seru"
nurain hanya tersenyum mengangguk, sedangkan Farah kembali keluar menuju rumah orangtuanya untuk siap-siap.
"hali ini umi sama ateu mau ajak naula jalan-jalan ke mana?"
gadis kecil yang sudah belajar memakai hijab itu bertanya penuh semangat saat ummi nya sedang fokus membenarkan hijab putri nya.
"ke supermarket, abis itu kita main Timezone insyaallah"
"holeee,,, belalti boleh beli icekim yah? kan kemalin naula gak makan icekim. jadi hali ini naula Mau memakannya"
"eummm,,, gimana yah?? boleh enggak yah"
nurain seolah ingin menjahili anak nya yang terlihat begitu menggemaskan di mata nya.
"iya deh boleh, tapi satu aja yah"
lanjut nya setelah melihat ekspresi anak nya yang cemberut kemudian mencubit dan menciumi nya dengan gemas.
"udah cantik anak umi, sekarang kita ke rumah ateu farah, let's go"
ibu dan anak itu pun keluar dengan saling berpegangan tangan, tanda Betapa mereka saling menyayangi seolah enggan untuk berpisah.
__ADS_1
"kalian mau kemana sudah pada rapi?"
tanya ibu nya Gus hafidz pada nurain dan asyila saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"mau antar Farah belanja umma"
sebelum nurain menjawab, Farah datang dan lebih dulu menjawab pertanyaan umma nya.
"ohh,,, jadi cucu ammah mau ikut belanja ya, asik dong bisa minta di beliin ice-cream sama ateu dan umi"
"iya ammah, tadi umi udah janji sama naula mau beliin icekim"
cucu dan nenek nya itu pun terlibat obrolan kecil sembari menunggu Ning Farah benar-benar siap untuk berangkat.
"kalian hati-hati yah belanja nya, inget awasi Naura terus jangan terlalu fokus sama belanjaan"
kata ibu nya hafidz sambil melambaikan tangan pada anak, cucu dan menantunya.
mobil berjalan begitu pelan melewati setiap halaman pondok pesantren yang begitu luas. hingga mendekati gerbang keluar pondok, nurain melihat Aisyah sedang berdiri terhalang sebuah pohon besar dekat masjid seolah, seolah sedang bersembunyi di balik nya.
'apa dokter Aisyah sedang memperhatikan putri ku?'
tanya nurain dalam hati,
yah, Aisyah selalu melihat Naura dari kejauhan. bahkan tak jarang dia bersembunyi di balik pohon atau dinding agar bisa melihat wajah yang di anggap putri nya itu lebih dekat.
~"~
tiba-tiba sebuah panggilan membuat nya terkaget saat dia masih berdiam di balik pohon besar dekat masjid.
Aisyah melihat ke arah suara, dia sesaat terpana pada wanita yang memakai pakaian sama dengan nya.
'siapa dia? apa aku mengenalnya'
"maaf siapa?"
tanya Aisyah ragu
"ana Maryam, sahabat nya nurain"
ternyata maryam yang memanggil Aisyah. dia yang sejak tadi melihat gerak gerik Aisyah, hanya diam memperhatikan apa yang akan Aisyah lakukan dengan berdiam diri di balik pohon, ternyata,,,
"apa kita bisa bicara sebentar?"
__ADS_1
Maryam memberanikan diri untuk mengajak dokter Aisyah bicara secara empat mata. Aisyah hanya mengangguk, kemudian mereka berjalan menuju sebuah kursi yang ada di halaman dekat klintren.
suasana begitu sepi, karna seluruh santri sedang berada di kelas nya masing-masing mengikuti kegiatan belajar dengan para ustadz dan ustadzah mereka.
untuk sejenak, dua perempuan bercadar yang duduk bersebelahan itu hanya diam tanpa ada yang memulai.
mungkin mereka sedang sama-sama menyiapkan kata yang tepat untuk di ucapkan satu sama lain.
"sebenarnya tadi ana hanya ingin melihat Naura , ana,,, ana hanya rindu pada anak itu"
tanpa diminta air mata itu tumpah dari mata Aisyah, saat mengatakan apa yang dirasakan oleh hati nya saat ini. sebenarnya dia tidak ingin menangis dihadapan oranglain, namun apa daya perasaan itu benar-benar sudah menguasai hati nya yang sekarang tengah rapuh, karna rindu pada putri nya.
Maryam hanya diam sambil memperhatikan Aisyah secara seksama, dia tahu, dia bisa melihat dari sorot mata bening Aisyah, cinta itu tulus untuk putri sahabatnya. dia juga bisa merasakan bahwa Aisyah benar-benar menyayangi Naura, seperti menyayangi putri nya sendiri, karna Maryam juga seorang ibu.
"Jika dulu asalan ana sering berkunjung ke rumah umma karna orang tua kita yang dekat dan juga,,,"
Aisyah diam seolah enggan melanjutkan kalimat nya, mungkin dia merasa tidak nyaman karna Maryam merupakan sahabat dari nurain.
"dokter tidak perlu mengatakan alasan yang kedua apa, insyaallah ana faham"
dengan bijak Maryam mencoba membuat dokter Aisyah nyaman berbicara bersama nya dengan tidak memaksanya jika tidak ingin mengatakannya.
"tapi demi Allah, kali ini alasan ana hanya satu. ana hanya rindu dengan Naura,,,,ana hanya ingin memeluk nya,,,,hiks,,,"
tanpa malu akhirnya tangis Aisyah pun pecah di hadapan Maryam. dan Maryam hanya bisa mengelus punggung Aisyah berharap tindakannya dapat memberikan ketenangan bagi Aisyah.
~"~
setelah menemani adik iparnya belanja, nurain kembali sibuk dengan rutinitas nya. yakni melayani suami dan mengurus putri serta rumah nya.
langit sore yang begitu menawan, membuat satu keluarga kecil asik bermain di halaman belakang. karna hari ini, hafidz tidak memiliki jadwal mengajar maka kebiasaannya adalah menghabiskan waktu dengan putri dan istri nya.
"yah,,, cepidol walna ijo nya abis"
keluh sang anak di tengah-tengah kesibukan mewarnai gambar bersama ayah nya.
"biar umi ambilkan yang baru ya nak"
tanpa menunggu lama nurain langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil spidol untuk putri nya. sejenak dia mencari persediaan spidol di dalam laci meja kerja suami nya, namun fokus nya pada buku Bercadar yang belum sempat dia lihat siapa pemilik buku itu.
akhirnya dia pun memilih untuk membukanya. dihalaman pertama ada sebuah gambar seorang anak perempuan yang memakai hijab dengan begitu lucu nya, nurain tahu itu adalah gambar putri nya.
kemudian di halaman selanjut nya, nurain melihat gambar dua wanita bercadar tengah asik bermain dengan anak perempuan di gambar tadi. gambar itu menunjukan betapa bahagia nya mereka, bisa bermain di sebuah taman yang begitu indah dengan panorama siluet senja membentang menghiasi biru nya langit.
__ADS_1
'siluet senja bersama ANNURA (Aisyah dengan dua cahaya)'
sebuah tulisan menjadi pelengkap dalam gambar itu.