
"nur,, dokter Aisyah ngomong apa sama anti?" kata asyila penasaran saat aku sudah kembali menghampiri teman-teman ku
"enggak,,, bukan apa-apa ko"
"pasti tentang Gus hafidz ya?" tanya asyila lagi
"udah,, jangan ngomongin disini gak enak takut nya ada orang lain denger jadi bahan gosip lagi" kata Maryam dengan bijak. aku dan asyila pun tidak membahas lagi tentang apa yang dikatakan dokter Aisyah.
~
penampilan kreasi seni persembahan terakhir dari kelas XII telah selesai di tampilkan dan alhamdulillah berjalan dengan lancar. rasa nya beban menuju lulus satu persatu sudah di lewati begitu pun dengan sidang munaqosah. tinggal nunggu wisuda kelulusan yang tinggal tiga hari lagi. tak ada tugas atau pun kegiatan apapun bagi kelas XII karna semuanya sudah selesai, namun itu bukan berarti kami bebas melakukan apapun, masih sama yaitu masih terikat dengan semua peraturan pondok. hanya saja tidak ada jadwal masuk sekolah bagi kami, bahkan jadwal pengajian kitab pun sudah usai, tapi bagi yang masih ingin mengikuti untuk sekedar mutholaah atau mengisi waktu luang selama tiga hari menunggu itu diperbolehkan asal tidak menggangu kegiatan Ade kelas kami.
hari ini, setelah sekian lama aku tidak pernah keluar dari pondok sekedar belanja atau keperluan lainnya, maka aku putuskan untuk minta ijin keluar pondok untuk membeli keperluan ku. tapi lebih tepat nya mungkin untuk menghilangkan rasa jenuh di pondok karna tidak ada kegiatan, hee
"can, udah siap?" aku bertanya di ambang pintu kamar Kania
"udah nur, bentar pake hijab dulu"
"ya udah anu tunggu depan yah" Kania menjawab nya dengan acungan jempol.
~
"kemana dulu nih kita?" tanya Kania saat kami sudah berada di dalam angkot
"ke Jatinangor yuk, kita ke jatos"
"boleh,, tapi sekalian nonton ya" Kania mengedipkan mata nya agar aku menyetujui permintaan nya
"tapi jangan nonton yang aneh-aneh ya"
"enggak lah, emang mau nonton apaan kita. ana cuma mau nonton kisah pak Habibie Ainun. penasaran kata orang kisah nya romantis tapi melow. mengpeng kita lagi ke luar juga kan"
__ADS_1
"oke lah siap" aku pun menyetujui permintaan Kania.
karna memang kami para santri terkadang suka menyempatkan nonton bioskop kalo sedang main ke luar dengan catatan film yang kita tonton bukan film yang mengandung unsur pornografi. tapi itu pun hanya boleh bagi kelas XII yang sudah selesai atau menunggu kelulusan tiba seperti aku dan yang lainnya saat ini
"kita makan dulu yuk, ana tadi belum makan di pondok" Kania menarik tangan ku menuju satu tempat makan yang ada di dalam gedung perbelanjaan.
kami pun memesan nasi goreng dan jus kesukaan masing-masing, sambil menunggu pesanan terhidang aku pergi ke toilet sedangkan Kania duduk di salah satu kursi yang tersedia.
selesai dari toilet aku kembali berjalan menghampiri meja yang dimana Kania sudah menunggu.
"assalamualaikum nur" tiba-tiba suara seorang laki-laki menghentikan langkahku
"waalaikumsalam wr wb" jawab ku sambil membalikan badan ke arah orang yang menyapa ku
"Agam? lagi disini juga?" tanyaku saat tahu yang menyapa ku adalah Agam
"iya nur, anti lagi apa disini? sendirian?"
"sama bagus di sana lagi nunggu" Agam menunjuk ke arah bagus yang sedang duduk di atas kursi di dalam cafe"
"oh iya, kalo gitu ana duluan yah. assalamualaikum"
"tunggu nur" Agam kembali memanggil ku saat aku sudah melangkah beberapa langkah darinya
"iya kenapa gam?"
"ana mau ngomong sesuatu boleh?" kata nya dengan rona wajah yang seperti gugup entah kenapa
"boleh, ngomong aja. ana dengerin ko dari sini" karna memang kami berdiri dengan jarak yang cukup jauh sekitar 85 cm. itu aku lakukan agar tidak menjadi fitnah dikalangan masyarakat apalagi dengan penampilan ku yang memang memperlihatkan seorang wanita muslimah
"bagaimana kalau kita duduk di sana aja sebentar" Agam menunjuk kursi yang terletak di depan cafe
__ADS_1
"eummm,,, rasa nya kurang nyaman gam, takut orang lain ngira apa gitu sama kita. apalagi kalau sampai ada anak pondok atau ustadzah yang kebetulan juga lagi ke luar atau ada di sini gimana? ana takut jadi fitnah" aku mencoba menolak nya dengan halus, karna rasa nya sangat tidak nyaman jika harus mengobrol berdua sambil duduk santai dengan seorang laki-laki yang bukan mahrom ku.
"gak lama ko, sebentar aja nur,,, yah?" Agam seperti memelas dan itu berhasil membuat ku iba. aku pun menyetujui permintaannya, Agam berjalan menuju kursi yang di tunjuk ny begitu pun aku mengikuti nya dari belakang. sebenarnya apa yang mau di bicarakan sama Agam sih??
"sekarang anta mau ngomong apa?" tanya ku saat kami sudah duduk di atas kursi.
"eumm,, gini. ibu dan ayah mu sehat?" tanya nya tiba-tiba
"Alhamdulillah mereka sehat wal'afiyat"
"kalau Abang mu? masih tugas di Tangerang?"
"iya, masih di sana"
"oh,,,iya syukur lah. kalau bibi anti sehat juga?" kata nya lagi. aku diam dan tidak langsung menjawab nya. sebenarnya ini anak mau ngomong apa sih? dari tadi kaya yang muter-muter di situ aja ngomong nya. kata nya ada yang penting yang mau di sampaikan.
"gam, kalau memang gak ada hal penting yang mau di omongin ana pamit ya, kasian Kania pasti nunggu ana"
"ada ko nur ada, bentar,,," dia menarik nafas kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. aku jadi bingung sendiri lihat tingkah lakunya.
"nur,,, sebenarnya ana,,eumm,,, ana,,,kalo ana,,, ana,,,"
"apa Agam? ana--ana apa?" aku mulai kesal pada agam
"astaghfirullah,," dia mengusap wajah nya kasar
"ana gak bisa nunggu lebih lama lagi apa yang mau anta bilang. ana permisi, assalamualaikum" aku berdiri dan melangkah meninggalkan Agam.
"ana,,,uhibbuki nur (aku mencintai mu)" kata nya dengan suara setengah berteriak
langkah ku terhenti saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Agam, di depan umum,,, dia mengatakan sesuatu yang menurutku belum pantas untuk di ucapkan. ini bukan drama dengan judul telenovela bukan?. sebagian orang melihat ke arah ku, walau pun Agam mengatakannya dengan bahasa Arab, namun bahasa itu sudah sangat lumrah dikalangan para pelajar atau mungkin sebagian kalangan orang yang sudah sepuh juga mengetahui arti dari kata tersebut. aku diam dengan wajah yang mulai merah menahan malu juga kesal, karna walaupun aku tidak memakai pakaian seragam orang pasti bisa menebak berapa usia ku. masyaallah,,, sungguh aku tidak menyangka bahwa Agam akan mengatakan hal itu di muka umum.
__ADS_1
"nur,,, ana uhibbuki sungguh" dia mengatakan nya sekali lagi namun kini dengan nada yang lebih rendah. aku hanya diam, dan kembali melanjutkan langkahku meninggalkan Agam tanpa menoleh ke arah nya.