Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Pertunangan


__ADS_3

POV Gus hafidz


hancur rasanya perasaan ini saat mendengar keadaan istri yang paling dicintai terbaring lemah tanpa daya. bahkan untuk berdiri saja, rasanya kaki ini tak kuat menopang tubuh sendiri.


'abang menyesal nur, maafkan Abang sayang'


hati ini tak bisa berhenti menyesali kejadian yang menjadi penyebab nurain celaka, rasanya ingin memutar waktu.


seandainya tak ada rasa penasaran tentang apa yang akan di sampaikan oleh sahabatnya Aisyah,


seandainya hati ini bisa mengontrol agar tidak terlalu khawatir pada Aisyah,


seandainya tadi langsung menyusul nurain,


seandainya dan seandainya yang kini sekarang berseliweran dalam pikiran ku, mungkin semua ini tidak akan terjadi. yaa Allah, ini lah titik terlemah ku saat ini.


"nak, istighfar sayang. kamu jangan seperti ini, kita masih punya harapan untuk kesembuhan istri mu. ingat anak mu yang sekarang sudah lahir ke dunia. dia sangat membutuhkan mu saat ini, istighfar nak"


kata-kata umma yang mencoba mengingatkan dan menguatkan hati ku seolah tak bisa di cerna oleh logika yang di kuasai kesedihan mendalam.


"istighfar nak, Tante yakin kamu kuat menghadapi semua ini. kamu do'akan agar istri mu kembali sehat seperti sedia kala. kamu jangan seperti ini, kasihan anak mu jika ayah nya putus asa. kamu masih memiliki kewajiban yang harus kamu jalan kan. sekarang kamu ikut Tante yah melihat anak mu, dia belum di Adjani"


Tante Rini benar, saya melupakan kewajiban saya pada putri kami. saya harus bisa kuat untuk anak saya, jika nurain melihat kelemahan saya, dia juga pasti akan lebih kecewa pada saya.


'maafkan Abang sayang, lagi-lagi sikap Abang membuatmu kecewa'


"gak papa bah, hafidz bisa"


kata saya pada Babah yang mencoba membantu saya untuk berdiri.


"kamu kuat, Abah tahu itu"


kata babah saat kami berjalan mengikuti dokter Rini untuk melihat bayi yang baru saja di lahiran oleh nurain.


"hanya hafidz yang di bolehkan masuk, jika kalian ingin lihat dari balik kaca saja yah"


"iya dok"


jawab umma, Farah, dan yang lain nya.


betapa bahagia dan sedih bercampur jadi satu, saat saya melihat seorang bayi perempuan yang cantik,l sedang terbaring sambil menggerakkan kaki dan tangan nya yang mungil.


tanpa menunggu lama, saya pun langsung mengumandangkan adzan di telinga nya. air mata ini tak henti-hentinya keluar, menangisi semua penyesalan yang masih menggunung di hati.


"putri Abi yang cantik, kamu kuat yah sayang. maafkan Abi yang membuat mu tidak bisa melihat senyum umi mu saat pertama kali kami ke dunia ini. tapi Abi janji, insyaallah tak lama lagi kamu akan melihat senyum umi kamu dan merasakan betapa hangat pelukan nya. kita sama-sama do'akan Agam umi cepet sembuh, cepet kembali berkumpul bersama kita"


saya berbicara dengan bayi yang kini ada di hadapan saya. mata nya begitu mirip dengan nurain, indah dan teduh.

__ADS_1


~


POV Aisyah


"isy, rasanya ibu tidak tega melihat hafidz sekarang. apalagi anak nya yang pasti nya akan sangat membutuhkan ibu nya"


bisik ibu, saat kami sama-sama melihat bayi nya hafidz dari luar.


aku hanya diam mendengarkan tanpa menanggapi. aku terlalu fokus melihat pada hafidz yang seperti sedang mengajak bayi nya berbicara, namun dengan air mata yang terus mengalir di pipi nya.


tak ada yang menangis di ruangan ini, saat melihat bayi mungil itu menggerakkan seluruh tubuh nya seperti sedang mencari ibu nya.


yah, aku yakin bayi cantik itu tahu bagaimana keadaan ibu nya sekarang. karna dia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh kedua orangtuanya.


'maafin Tante ya nak, karna sudah menjadi penyebab ibu mu seperti sekarang'


aku menyentuh kaca ruangan itu seolah aku menyentuh bayi itu.


"nak, kita pulang yuk sekarang. ini sudah malam, apalagi besok acara pertunangan mu. ibu gak mau kamu terlalu lelah, biar besok setelah acara, kita ke sini lagi untuk menjenguk istri nya nak hafidz"


kata ibu dengan suara yang pelan, saat kami semua kembali duduk di kursi depan ruang operasi.


"aisy, belum bisa pulang bu sebelum aisy melihat keadaan nurain"


"tapi malam ini kita semua belum di perbolehkan melihat nya. jadi menurut ibu kita pulang saja dulu"


"iya nak aisy, lebih baik nak aisy pulang, istirahat"


"tapi umma,__"


"besok adalah acara spesial bagi kamu nak. jangan sampai kamu kecapean karna ikut menunggui nurain di sini. kamu tenang saja yah, besok setelah acara selesai kamu bisa kembali ke sini, itu pun kalau kamu tidak merasa capek"


"baik lah umma, aisy pulang dulu. kalau ada apa-apa tolong kabari aisy"


"pasti sayang, umma pasti kabari kamu"


setelah berpamitan dengan umma dan Farah, kecuali babah dan hafidz yang sedang pergi ke Masjid, aku pun dan ibu langsung pergi melangkah meninggalkan ruangan itu.


"bentar Bu, aisy ingin melihat anak nya hafidz sekali lagi sebelum pulang"


kata ku sambil berbelok arah menuju ruang perawatan bayi.


"dia mirip hafidz ya Bu? tapi mata nya mirip ibu nya, cantik dan teduh"


kata ku sambil terus melihat kearah bayi itu


"tapi Bu, karna aisy dia tidak bisa melihat wajah ibu nya saat pertama kali melihat dunia ini. karna aisy, ibu nya pun tidak bisa mendengar suara tangis pertama kali putri nya lahir, karna aisy juga, bayi mungil itu tidak bisa merasakan ASI ibu nya untuk sementara waktu, dan entah sampai kapan,,,hiks"

__ADS_1


sekali lagi, mata ini kembali basah karna rasa bersalah yang tak kunjung bisa hilang dari hati ini


"kamu jangan terus menerus menyalahkan diri nak. tak ada yang menginginkan situasi seperti saat ini. kita tidak pernah tahu, hikmah di balik semua ini. bersabar dan tawakal, itu yang bisa kita lakukan sekarang. ibu yakin, kalau istri nya hafidz akan kembali sembuh. insyaallah"


"insyaallah, amin Bu"


"ya sudah sekarang kita pulang yah, nanti malam semakin larut"


aku pun hanya mengangguk, dan mengikuti perkataan ibu untuk pulang ke rumah.


keesokan hari nya,


semua orang sibuk mempersiapkan jamuan dan dekorasi rumah untuk acara hitbah atau pertunangan ku yang akan di laksanakan beberapa menit lagi.


semua keluarga dekat, baik dari pihak ibu atau pun ayah sudah berkumpul, ingin menyaksikan hari dimana menurut sebagian orang adalah hari spesial. tapi entah kenapa, tidak untuk ku saat ini.


rasanya aku ragu meneruskan pertunangan ini, apalagi pikiran ku masih belum bisa beralih dari keadaan nurain dan hafidz saat ini.


bahkan perasaan ku pun, sejujurnya masih belum bisa sepenuhnya terbuka untuk hati yang lain. tapi,,,,


"masyaallah putri ibu cantik sekali. walaupun tertutup, tapi dari sorot mata mu orang bisa melihat betapa cantik nya putri ibu"


aku hanya tersenyum simpul menanggapi pujian ibu.


"sekarang kita keluar yuk, rombongan sudah pada datang. acara pun akan segera di mulai"


ibu menggandeng tangan ku, mengiri aku masuk ke dalam ruangan tempat acara dilaksanakan.


semua mata tertuju pada ku, saat aku memasuki ruang acara. rasanya malu dan risih, jika harus diperhatikan seperti ini. apalagi ka Alfan, yang saat aku melihat ke arah nya sekilas, dia seolah tak henti-hentinya melihat ke arah ku.


kami duduk secara terpisah, dia bersama orangtuanya dan aku pun bersama orangtua ku.


acara segera dimulai, diawali dengan pembacaan Al-Qur'an, sholawat dan banyak lagi, hingga sampai pada titik di mana ibu nya ka Alfan menyematkan sebuah cincin di jari manisku.


rasanya, kenapa hati ini tak rela. karna bukan ini yang sebenarnya aku inginkan. tapi, bukan kah aku yang memberikan kesempatan ini pada ka Alfan? ya Rabb, tolong bantu aku untuk bisa mengendalikan hati ku agar tidak membuat kesalahan.


"Alhamdulillah acara demi acara sudah terlaksana dengan sangat lancar dan Hidmat. tapi ngomong-ngomong, tadi dari keluarga mempelai pria bisik-bisik sama saya, katanya,,,eumm,,,bagaimana,,,,kalau di halalkan saja sekalian?"


kata MC yang berhasil membuat jantungku berdegup kencang.


"ENGGAK,,,JANGAN"


kata ku dengan spontan, karna hati ini menolaknya tanpa ragu.


"waahhh,,, kaya nya yang mempelai wanita nya langsung shock yah mendengar gurauan saya hehe. tenang saja teteh cantik, gak langsung di halalkan ko. mempelai pria nya masih mau bersabar memberikan ruang untuk calon nya, bukan begitu kang Alfan?"


semua tertawa kecil mendengar gurauan MC dan reaksi aku yang mungkin menurut mereka lucu.

__ADS_1


tapi ku lihat ka Alfan, menatap ku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. apa mungkin dia tahu bagaimana perasaan ku saat ini yang sebenar nya masih belum bisa menerima dia sepenuh nya?


ah,,,aku bingung dengan perasaan ku sendiri. apa yang harus aku lakukan selanjutnya???


__ADS_2