
POP Gus hafidz
saya dan umma saling berpandangan saat Aisyah dengan terburu-buru pamit untuk pulang, bahkan dia tidak bersalaman pada umma terlebih dahulu.
saya tahu sebenarnya apa alasan dia bersikap seperti itu. sebenarnya bukan saya bermaksud menyembunyikan semua ini dari nya, hanya saja ini yang saya takutkan yaitu menyakiti hati nya.
tadi nya biar nanti saya yang akan menyampaikannya secara langsung di waktu yang tepat dan dengan berbicara secara perlahan, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur tak mungkin bisa dikembalikan.
Aisyah sudah terlanjur mengetahuinya dari umma secara tidak langsung. biarlah nanti saya yang akan menjelaskan kepadanya juga meminta maaf pada Aisyah.
"fidz Aisyah kenapa?"
wajah umma menyiratkan kekhawatiran saat melihat Aisyah pergi dengan sangat terburu-buru
"mungkin sedang buru-buru ada urusan umma"
saya mencoba menutupi kenapa sikap Aisyah bisa seperti itu
"tapi menurut umma bukan karna ada urusan fidz. ada hal lain yang membuat Aisyah mendadak pergi bahkan dia tidak pamit pada Farah dan juga tidak salam pada umma. apa kamu melakukan kesalahan pada nya nak?"
tanya umma penuh selidik
'ya, hafidz mungkin melakukan kesalahan karna tidak bisa membalas perasaan nya umma'. jawab ku dalam hati
"biar nanti hafidz telpon aisy aja umma, dan meminta maaf kalau hafidz melakukan kesalahan. tapi ngomong-ngomong Babah mana umma? ko gak sama umma?"
saya mengalihkan pembicaraan agar umma tidak menanyakan sesuatu yang lebih dalam lagi tentang Aisyah.
karna saya takut umma akan kepikiran dan merasa sedih jika tahu kebenarannya. beliau sangat menyayangi Aisyah layak nya anak sendiri.
"Babah sedang pergi menemui Abah untuk memberitahukan tentang kamu dan nurain"
"ko bisa begitu umma? maksud hafidz kenapa Babah langsung ke rumah Abah padahal kan kita juga baru dapat jawaban dari nurain hari ini"
tanya ku sedikit bingung karna Babah seperti sudah tahu bahwa nurain akan menerima lamaran saya
"mungkin, umma juga tadi menanyakan hal yang sama pada Babah. tapi Babah hanya tersenyum dan meminta umma pulang duluan"
~
__ADS_1
di dalam kamar saya mencoba menghubungi no Aisyah tapi tak ada jawaban, panggilan nya selalu dialihkan.
{assalamualaikum aisy, ana mencoba menghubungi anti tapi kenapa tidak diangkat sama sekali? atau anti memang sedang sangat sibuk? tadi umma menanyakan anti ke ana, katanya kenapa pulang dengan terburu-buru? semoga anti baik-baik di sana ya. maaf jika ana punya salah sama anti}
akhirnya saya memutuskan untuk mengiriminya pesan, dan untuk sementara memilih tidak tahu tentang perasaannya terhadap saya.
bukan saya tega, hanya saja saya tidak mau membuatnya semakin sakit.
saya sangat merasa bersalah karna menjadi penyebab kesedihan Aisyah. tapi ini juga diluar kendali saya, karna segala sesuatu sudah di atur oleh yang maha kehendak.
saya hanya bisa berdo'a semoga Aisyah tidak larut dalam kesedihannya dan semoga dia segera bertemu dengan lelaki yang tepat yang jauh lebih baik dari saya, amin.
"assalamualaikum bang"
terdengar suara ketukan pintu dan salam dari luar kamar saya.
"waalaikumsalam wr wb, ada apa de?"
tanya saya saat pintu sudah dibuka, tapi Farah bukannya menjawab malah masuk dan menarik saya ke dalam kamar.
"Abang,, apa benar apa yang dibilang umma? jawab jujur"
"jawab jujur soal apa?"
jawab saya santai
"nurain? Abang beneran udah ngelamar nurain? kapan bang? ko Farah gak di kasih tahu?"
"emang segala sesuatu Abang harus bilang sama kamu de?"
"Abang ko tega sih sama ka Aisyah? padahal ka aisy suka banget sama Abang"
"bukan Abang tega, tapi kan yang merasakan semua itu di sini de (menunjuk ke arah dada). seandainya hati Abang untuk Aisyah mungkin yang Abang lamar itu Aisyah bukan nurain"
"tapi kan Abang sama ka aisy sudah dari kecil selalu bareng. masa sih gak ada sedikit pun rasa cinta buat ka aisy? abang juga tahu kan gimana sayang nya ka aisy sama Farah dan Lutfi, dia sudah mengganggap kita sebagai adik nya sendiri begitu pun Farah sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri. pasti sekarang ka aisy sedang sedih dan itu gara-gara Abang"
kata Farah dengan nada yang menggebu-gebu. saya faham bagaimana perasaan nya saat ini karna Farah selalu ingin kalau saya hanya berjodoh dengan Aisyah.
"iya Abang minta maaf karna sudah buat Aisyah kecewa tapi ini diluar kuasa Abang de. perasaan ini ada bukan untuk Aisyah walaupun kami sudah kenal bertahun-tahun tapi bukan berarti kami harus berjodoh kan. Abang harap Ade faham dan mau mengerti sama apa___"
__ADS_1
"tau ah bang"
kemudian Farah pergi meninggalkan kamar saya dengan keadaan marah.
semoga Farah bisa mengerti dengan keadaan ini.
~
"bah, ummah hafidz mau menikahi nurain besok"
kata saya saat kami sedang berkumpul di ruang tengah. umma dan Babah langsung melihat ke arah ku dengan tatapan seperti tidak menyangka.
"kenapa buru-buru nak?"
tanya umma
"hafidz hanya ingin bis menjaga nurain dengan leluasa dan tanpa ada batasan"
"tapi kan, kita belum mempersiapkan apa-apa. kita juga belum memberi tahu keluarga dan saudara-saudara kita yang jauh"
"tidak perlu acara yang mewah umma, cukup ijab aja dulu itu bisa nyusul hafidz rasa"
saya mencoba memberi pengertian pada umma
"tapi kenapa harus terburu-buru fidz, boleh Babah tahu alasannya?"
kini Babah yang bertanya mengenai alasan saya mengapa ingin segera menikahi nurain
"waktu hafidz di rumah nurain ikut memakan kan jenazah ibu nya, hafidz tidak sengaja mendengar percakapan keluarga nur. ayah nurain akan dipindah tugaskan ke Surabaya dan Abang nya nur harus kembali bertugas di Tangerang. tadi nya nurain akan tinggal di rumah nya ditemani bibi nya, tapi bibi nya tidak bisa jadi akhirnya nur akan di bawa oleh ayah nya ke Surabaya. jadi menurut hafidz lebih baik hafidz segera menikahi nurain agar hafidz bisa menjaga nya dengan sepenuhnya"
saya menjelaskan kepada Babah dan umma apa alasan saya ingin segera menikahi nurain.
"baiklah kalau itu alasan kami nak Babah dan umma menyetujuinya. besok insyaallah kita akan ke rumah nurain untuk melangsungkan akad pernikahan"
"Syukron umma, Syukron bah"
saya mencium kedua tangan umma dan Babah serta memeluk mereka secara bergantian sebagai tanda terimakasih saya karna sudah merestui keinginan saya pada nurain.
subhanallah rasanya hati ini bahagia sekali, karna Allah mudahkan segala sesuatunya untuk saya bisa menghalalkan nurain. tak ada yang paling berharga dalam menjalin sebuah ikatan tanpa restu dari orangtua kita.
__ADS_1
karna restu mereka adalah restu Allah juga. dan insyaallah semua nya akan mudah jika kita sudah mendapatkan restu kedua orangtua kita. semoga ini juga menjadikan Farah untuk membuka hati nya menerima nurain. amin