
dua minggu berlalu,,,
ujian sekolah selesai, kini aku dan santri putra putri lainnya tinggal menghadapi ujian pondok yang terdiri dari ujian lisan dan tulisan. dan tentu nya ini lah ujian yang paling mendebarkan bagi kami semua, karna final dari ujian ini adalah sidang munaqosah yang akan di saksikan oleh seluruh orangtua baik santri putri maupun santri putra. disini adalah ajang bagi kami mengukur seberapa dalam ingatan dan kemampuan kami dalam belajar selama ini, dan disini pula adalah tolak ukur seberapa sungguh kami dalam mencari ilmu. subhanallah,,, semoga Allah lancarkan dan mudahkan segala sesuatunya, amin.
"hhmm,,, alhamdulillah hukuman ku sudah berakhir nur, besok ana udah bisa balik pake hijab-hijab kesayangan ana" kata Selly saat kami sedang duduk melepas lelah setelah membersihkan aula
"bener banget sel, malah udah bau lagi hijab nya sampe mau muntah ana pake nya" sahut Dewi yang juga salah satu temanku yang kemarin masuk dalam dua belas pelanggar Satri putri
"yee,, itu mah anti aja yang jorok gak pernah dicuci hijab nya" kata Selly lagi sambil menarik ujung hijab Dewi
"mau di cuci gimana orang hampir tiap menit harus pake hijab pelanggaran ini kan. dua minggu lagi, Bayangin dong gimana wangi nya smeriwiiinggg,,,hehe" Dewi mengibar-ngibarkan hijab nya di depan mukaku dan Selly,
"waaahhh,,, suwe nih orang,,, awas aja" kata Selly sambil memberikan isyarat kepadaku. sontak kami langsung menghujani Dewi dengan cubitan dan tarikan pada ujung hijab nya
"aw,,,sakit,,,geli hahaha,,,ampun,,ampun ,,iya maafin deh maafin" teriak Dewi minta ampun dan maaf kepada kami, aku dan Selly pun berhenti menggelitik dan mencubit Dewi.
"wi, malah disini dia dari tadi dicariin juga. kata nya mau nemenin ana ke luar pondok hari ini" kata Nafisah yang tiba-tiba sudah ada didepan kami tanpa kami sadari kedatangannya.
"oh iya lupa, astaghfirullah" jawab Dewi dengan menepuk kening nya menandakan bahwa dia benar-benar lupa
"ya udah ayo,, ana udah ijin tadi sama bagian keamanan tinggal anti yang belum" kata Nafisah lagi kepada Dewi
"oke lah siap" sahut Dewi sambil mengacungkan jempol ibu jari nya
"kalo gitu Dewi nya ana pinjam dulu ya man teman" dia Nafisah, meminta ijin kepada ku dan Selly dengan memasang senyuman nyengir nya
"udah bawa aja gak usah ijin segala, udah gak dibutuhkan ko disini juga haha" kata Selly sambil mendorong badan Dewi ke arah Nafisah
"jahat kamu Sell,,, hiks,,hiks,,awas ya nanti ana bales"
"udah pergi mah pergi aja, gak usah drama" kata ku tak mau kalah ikut nimbrung. Nafisah dan Dewi pergi meninggalkan ku dan Selly yang masih duduk santai di atas kursi aula.
__ADS_1
"nur,,, gak kerasa ya kurang dari sebulan lagi kita bakalan lulus dari sini. ana gak kebayang nanti kalo diluar gimana" kata Selly menatap lurus ke depan
"begitulah,,, ana juga" jawab ku singkat
"kira-kira abis dari sini anti mau lanjut kuliah ke mana?" tanya nya pada ku
"belum tau, ana masih bingung Sell, antara mau kuliah apa mondok lagi"
"mondok disini maksudnya?"
"bukan kaya nya"
"terus dimana?"
"belum tau juga, baru planning soal nya"
"ini mah seandainya ya, misalkan Gus hafidz beneran suka sama anti terus ngelamar anti pas lulus nanti, kira-kira jawaban anti apa?" aku langsung melihat ke arah Selly, yang tiba-tiba menanyakan hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dipikiran ku.
"nur, anti kenapa gak mau bilang jujur sih sama para ustadzah kalo surat yang waktu itu dari Gus hafidz?"
"anti tau dari siapa Sell?" tanya ku dengan nada yang sedikit kaget, kenapa Selly bisa tahu soal itu
"bukan dari siapa-siapa, ana hanya mengira-ngira. tapi ternyata bener kan?" tanya Selly lagi mencoba memastikan
"iya, bener" jawab ku sambil menunduk
"terus anti kenapa gak jujur aja sih waktu itu?"
"ana jujur juga gak bakalan merubah keadaan kan, tetep aja ana yang dihukum"
"iya juga sih, malah kayak nya bakalan nambah ribet bakalan timbul perspektif yang aneh-aneh dari sebagian para santri apalagi ini berhubungan sama Gus hafidz yang punya pondok ini" kata Selly menduga-duga apa yang aku pikirkan waktu itu. tapi aku senang setidaknya Selly tidak menyudutkan ku seperti sebagian santri putri lainnya yang mengatakan bahwa aku sok alim, sok misterius, sok kecentilan dan lain sebagian. tapi ya sudah lah aku tidak mau memikirkan hal-hal yang membuatku sakit hati, toh mereka hanya menduga-duga dengan pikiran mereka sendiri.
__ADS_1
"ya udah yuk sel kita ke asrama sekarang" aku berdiri, begitu pun Selly. kami berjalan berdampingan menuju asrama.
"nur,,,bisa ana bicara sebentar" asyila tepat berada di depan ku dan menghentikan langkahku
"ya udah ana duluan aja ke asrama nya nur" kata Selly yang seolah mengerti bahwa asyila hanya ingin bicara berdua dengan ku
aku pun kembali duduk di atas kursi yang ada di aula, begitupun asyila.
kami terdiam, tak ada kata yang keluar dari ku untuk membuka pembicaraan ini karna aku ingin membiarkan asyila yang bicara terlebih dahulu.
"nur,,, Afwan" asyila menunduk di sertai dengan air mata yang mulai menetes dari mata nya. aku masih terdiam, membiarkan asyila menyelesaikan apa yang ingin dikatakan nya.
"Afwan karna ana udah menjauhi anti, Afwan karna ana tidak bisa dipercaya, Afwan karna ana begitu ego dengan perasaan ana, Afwan karna ana,,,,__"
"cemburu dengan Gus hafidz?" kata ku langsung memotong perkataan asyila
"dari mana anti tau?" asyila langsung menatap ku dengan tatapan yang heran
"syil apa persahabatan kita sedangkan itu? sampai-sampai karna satu masalah yang sama sekali bukan salah satu dari kita penyebab nya membuat kita saling menjauh?" tanya ku dengan perasaan kecewa atas sikap nya asyila selama beberapa hari ini
"ana tahu ana yang salah, ana terlalu memikirkan perasaan ana nur tanpa memikirkan perasaan anti sahabat ana" kata nya dengan air mata yang semakin deras mengalir
"bukan itu yang membuat ana kecewa syil. bukan tentang anti yang tidak memikirkan perasaan ana,, bukan syil. tapi ana kecewa karna anti tidak bisa menjaga janji persahabatan kita. anti inget kan siapa dulu yang selalu bilang bahwa jangan sampai persahabatan kita pecah Karna satu masalah. masalah sebesar apapun harus kita selesaikan dengan cara saling bicara, terbuka dan percaya satu sama lain. pada kenyataannya kita bukannya saling bicara untuk menyelesaikan masalah nya tapi malah saling menghindar tanpa bicara" kata ku meluapkan semua kekecewaan yang ada dalam hati ku
"iya nur ana salah, selama ini ana selalu berpikir dan mencoba berdamai dengan perasaan ana sendiri dan itu sangat sulit apalagi ini menyangkut perasaan terhadap seseorang dan ternyata dia malah menyukai sahabat ana sendiri. hati ini menolak, hati ini kecewa, tapi ana tahu ini salah bukan seperti ini ana seharusnya. jadi sekali lagi Afwan untuk keegoisan ana nur, sekarang ana ikhlas ana mencoba ridho atas semua ketentuan Allah. anti mau kan maafin ana nur?" asyila menatap ku dengan tatapan yang penuh penyesalan, dan itu sungguh membuat ku iba kepadanya
"ana maafin anti ko, kemarin sekarang dan seterusnya. ana hanya meluapkan kekecewaan ana agar kita jangan sampai seperti ini lagi ke depannya. anti gak salah ko syil, gak ada yang salah dalam hal ini. seandainya jika ana bisa membalikkan hati seseorang maka ana akan membuat Gus hafidz juga menyukai anti tapi itu di luar kendali ana" kata ku sambil memeluk asyila dan juga terhanyut dalam tangisan bersama.
ternyata benar dugaanku selama ini, asyila menjauhi ku karna Gus hafidz. aku tidak menyangka bahwa sahabat ku menyukai seseorang yang justru menyukai sahabatnya yaitu aku walaupun aku sendiri belum yakin akan hal itu. Afwan ya syil anti harus kecewa karna sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan kecua ALLAH.
"
__ADS_1