
POV Gus hafidz
melihat orang yang saya kagumi dan saya suka dipanggil ke atas panggung karna prestasinya, membuat saya ikut senang dan bahagia. mata ini tak lepas dari melihat nya. dia tersenyum bahagia saat menerima penghargaan dari pondok pesantren yang diwakilkan oleh ummah sebagai pengasuh pondok.
ada rasa haru dan bahagia tak kala melihat dua orang perempuan yang saya cintai saling merangkul dan tersenyum penuh keceriaan. ini semakin membuat saya yakin untuk memilih nya, insyaallah.
acara wisuda kelulusan telah selesai, saya beranjak keluar bersamaan dengan yang lainnya. saat melintasi orang-orang yang sibuk lalu lalang, saya menangkap satu keluarga yang sedang asik berbincang dengan canda tawa, dan itu tak lain adalah keluarga nya nurain.
ingin rasanya menghampiri, namun saya urungkan. karna saya belum memiliki alasan yang kuat untuk sekarang bisa berkenalan dengan mereka, di tambah waktu yang belum tepat pastinya. biarlah nanti saya langsung datang ke orangtua nya untuk memintanya menjadi bagian dari hidup saya.
"Gus, dipanggil Babah. keluarga besar sudah datang" ustadz Ilham memanggil saya yang sedang terpaku melihat canda tawa keluarga nurain
"iya tadz, saya ke rumah sekarang"
~
"lho,,, kata nya keluarga besar sudah datang bi. tapi ko sepi?" tanya saya saat ke dapur hendak mengambil air minum
"sudah Gus, tapi pada kumpul di rumah satu nya lagi" bibi menunjuk rumah yang terletak tak jauh dari rumah Babah.
rumah itu awal nya Babah bangun untuk adik nya yang menikah dengan Ning Salamah, putri dari Kiai Basyar pimpinan pondok pesantren al-basyar Depok. tapi karna kakak nya Ning salamah meninggal maka adik nya Babah pun memutuskan untuk tinggal di pondok keluarga istri nya untuk membantu kiai basyar. karna Kiai Basyar hanya memiliki satu putra dan satu putri.
"oh,, ya sudah kalau begitu hafidz ke sana dulu ya BI"
~
selesai sholat berjamaah magrib, kami sekeluarga besar kumpul di rumah Babah dan ummah. rasanya bahagia banget bisa kumpul.
"hafidz kapan berangkat ke Turki lagi?" tanya Tante Zara yang merupak adik bungsu ummah
"insyaallah dua hari lagi teu"
"tinggal berapa semester lagi kuliah nya fidz?" tanya Tante Zara lagi
"udah bres teu, insyaallah tinggal nunggu wisuda"
"waahh,,, bentar lagi dapat gelar dong ponakan bude" bude Rahma yang menanggapi
"insyaallah bude"
"mau lanjut S2 dimana? di Turki juga?" tanya bude Rahma lagi
"kalau itu, hafidz belum kepikiran. karna rencana nya mau bantu Babah dulu disini" jawab ku sopan
__ADS_1
"sama Aisyah kan?" pertanyaan bude Rahma membuat keningku berkerut, karna aku belum paham apa maksudnya
"gini lho fidz, selain kamu bantu Babah ngurusin pesantren menurut Tante alangkah baik nya kamu juga ada yang ngurus, jadi kan kamu bisa lebih pokus ngurus pesantren nya. dan yang paling cocok ngurusin kamu ya,,, Aisyah. kalian udah bareng dari kecil, pasti nya udah tau juga sifat masing-masing ya kan?"
"kalau soal itu hafidz belum bisa jawab bude"
setelah itu saya permisi ijin ke belakang, hanya untuk menghindari pembahasan soal itu sebenarnya. karna memang sebagian besar keluarga dari Babah menginginkan Aisyah menjadi menantu di rumah ini. tapi entah lah apa tanggapan ummah dan Babah soal itu, karna mereka belum pernah membahas tentang Aisyah untuk menjadi jodoh saya.
saya berjalan ke dapur hendak mengambil cemilan, namun saat diambang pintu dapur saya melihat sosok nurain yang sedang memegang kening nya.
dia melirik kiri kanan, sontak saya langsung bersembunyi di balik dinding agar tidak terlihat oleh nurain. sudah bisa saya tebak, dia pasti terbentur dan setelah itu selalu mengajak bicara benda yang ditabraknya. apa maksudnya saya juga tidak mengerti. tapi yang jelas saya suka melihat nya, lucu dan menggemaskan. masyaallah nur,,,
~
suara ayam berkokok, menyambut matahari yang mulai bangkit dari peristirahatannya. pagi ini saya putuskan untuk olahraga lari setelah sholat subuh berjamaah.
berlari mengitari pondok, tidak keluar. apalagi hampir seluruh santri sudah kembali ke rumah nya masing-masing karna libur semester, jadi pondok pesantren Tampak sepi sehingga saya bebas untuk melakukan olahraga di sekitar pondok tanpa harus ada yang memperhatikan. apalagi menurut saya disini juga sudah cukup luas untuk membuat keringat keluar dari tubuh saya.
"lumayan capek juga ternyata" kata Alif yang memang ikut berlari dengan saya pagi ini
"ternya kalau santri nya udah pada gak ada, nih pondok keliatan gede dan luas banget ya" lanjut Alif saat kami sedang duduk di teras rumah setelah menyelesaikan tiga kali keliling halaman pondok.
saya menatap lurus ke depan dengan menghabiskan air mineral yang ada di tangan saya, tanpa menanggapi perkataan Alif. sampai mata ini teralihkan oleh sosok perempuan yang tengah bejalan melewati halaman rumah.
saya terus memperhatikan langkah nya, sampai dia duduk di depan teras minimarket yang tutup seperti sedang menunggu seseorang. tanpa pikir panjang saya langsung berhamburan ke dalam rumah dan langsung mencari sesuatu yang sudah saya siapkan didalam kamar.
saat sudah di dapat, saya kembali berlari keluar. benar saja nurain sudah hendak berjalan ke luar bersama temannya. tanpa pikir panjang saya langsung berlari pelan untuk menyusulnya.
"nur,,," panggil saya saat sudah dekat dibelakang nya, dia dan temannya langsung berbalik melihat ke arah saya.
"iya Gus"
"bisa saya bicara sebentar?"
"boleh, silahkan"
saya melihat ke arah teman nya sekilas, kemudian teman nya meminta ijin untuk melangkah menjauh sedikit seolah mengerti dengan maksud saya yang tidak ingin didengar oleh yang lain.
"eumm__ begini__saya__saya__mau mengucapkan selamat buat prestasinya kemarin" dengan gugup saya mencoba menguasai perasaan saya.
"Syukron Gus" jawab nya lembut, namun dengan pandangan yang tertunduk ke bawah
"saya juga__mau ngasih ini__sebagai apa yah__ anggap saja sebagain penghargaan buat anti" kata saya masih dengan terbata karna gugup
__ADS_1
tanpa diduga nurain langsung menerima Hadian pemberian saya yang awalnya saya kira dia akan menolak nya.
"Syukron Gus"
saya hanya mengangguk sebagai jawaban, karna jantung saya dari tadi berdetak dengan cepat sampai saya seolah sulit untuk bernafas
"kalau begitu ana permisi Gus__"
"tunggu, masih ada yang mau saya sampaikan. hari ini anti pulang?"
nurain hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban
"boleh saya minta______ no telpon nya?" dengan susah payah saya mengatakan hal itu, bahkan berkali-kali saliva ini ditelan dengan paksa
"ana belum punya no telpon Gus. karna ini juga baru mau beli kartu baru sakalian pulang"
"oh gitu__iya__gak papa"
"atau boleh saya minta nama akun sosmed anti?"
"ana juga selama mondok tidak pernah menggunakan sosmed Gus"
"oh__ begitu" lagi-lagi saya harus menelan Saliva ini dengan kasar
"ada lagi Gus?" tanya nya yang mampu membuat saya malu bukan kepalang
"eng__enggak kaya nya" jawab saya dengan canggung
"kalau begitu ana permisi, assalam___"
"nur,,,apa boleh saya berkunjung ke rumah anti sekedar silaturahmi dengan keluarga anti?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut saya begitu saja.
nurain menatap saya sekilas, namun langsung kembali menundukan kepalanya. lama dia diam dan saya masih menanti jawaban darinya.
"nur,,boleh?" tanya saya lagi, dan kini nurain menganggukkan kepala nya kembali sebagai jawaban.
saya langsung berdecak bahagia dalam hati, mendapat jawaban setuju darinya
"kalau begitu tunggu saya satu Minggu lagi, insyaallah saya akan ke rumah anti untuk silaturahmi dengan orang tua anti"
lagi-lagi nurain hanya menjawab nya dengan anggukan.
setelah selesai berbicara nurain pamit dan kembali melanjutkan langkah nya menuju gerbang pesantren. saya masih betah melihatnya meski hanya dari belakang.
__ADS_1
tidak disangka nurain setuju saat saya mengatakan ingin berkunjung ke rumah nya. hmmm,,, satu Minggu lagi insyaallah saya akan mengutarakan isi hati dan niat baik saya di hadapan orangtua nya. bismillahirrahmanirrahim,,, semangat hafidz, beranikan diri untuk melangkah dalam kebaikan.