
AUTHOR
Sepulang dari rumah Maryam, nurain menjadi lebih pendiam dan selalu berfikir tentang apa yang dikatakan oleh sahabatnya mengenai dia yang belum bisa berdamai dengan hati nya.
'apa iya hatiku terlalu egois untuk menerima semua keadaan ini?'
selalu itu yang yang ada dalam pikirannya.
"kamu sedang apa sayang?"
suara Gus hafidz membuat nya tersadar dari lamunan nya sendiri.
"eh,,, Abang, enggak lagi apa-apa. hanya lagi melihat suasana santri yang lalu lalang"
jawab nurain sedikit berbohong, meski pandangan mata nya melihat ke arah jendela yang menghadap tepat halaman mesjid pondok pesantren, namun pikiran nya sedang berkelana jauh, mencoba memikirkan setiap peristiwa dalam garis takdirnya.
"Abang perhatikan semenjak kamu pulang dari rumah Maryam jadi sering melamun, ada apa memang nya di sana?"
dengan lembut Gus hafidz mencoba bicara pada istri nya agar mau bercerita pada nya, jika memang ada yang dipikirkan oleh istri nya
"masa? perasaan Abang aja kali"
nurain seolah mencoba menutupi apa yang mengganggu pikirannya, atau mungkin dia belum berani untuk bercerita pada suami nya.
"tapi beneran gak ada apa-apa kan antara kalian?"
sekali lagi Gus hafidz mencoba memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.
"enggak bang, semua nya baik-baik aja"
seulas senyum terlukis di bibir nurain agar suami nya tidak perlu khawatir pada nya.
"syukurlah kalau begitu, Abang hanya gak mau istri Abang yang cantik ini jadi murung karna memikirkan suatu hal"
dengan lembut Gus hafidz mencubit hidung Bangir nurain.
hafidz yang sudah rapi dengan sarung dan Koko nya, kini berfokus pada sesuatu yang di cari nya.
"Abang pasti cari ini"
nurain yang sedari tadi hanya duduk, kini berdiri mengambil peci hitam di bawah laci yang ternyata di cari oleh suami nya.
"kaya nya yang lagi banyak pikiran Abang deh bukan Nur"
hafidz hanya tersenyum sembari mengambil peci hitam yang ada di tangan istri nya.
"Syukron sayang, Abang ke masjid dulu yah. kamu jangan lupa sholat asar disini dan ajak Naura juga agar mulai belajar sedikit demi sedikit"
__ADS_1
setelah mengelus lembut kepala istri nya, hafidz pun berlalu meninggalkan kamar menuju masjid yang tak jauh dari rumah nya.
"assalamualaikum Gus"
sapa salah seorang santri senior saat Gus hafidz hendak berjalan menuju rumah nya kembali setelah selesai melaksanakan sholat asar berjamaah.
"waalaikumsalam wr wb"
"Gus,,, kemarin ana menemukan ini saat bersih-bersih di halaman klintren, sepertinya ini punya dokter aisyah. tadi nya mau ana simpan di dalam ruangan nya tapi sudah di kunci"
santri itu memberikan sebuah buku berwarna cream dengan sampul gambar wanita bercadar yang memandang siluet senja.
"oh,, ya udah titip di ana saja"
setelah mengambil buku itu hafidz kembali berjalan menuju rumah, untuk mengambil kitab yang hendak di ajarkan pada para santri nya.
~"~
di tempat lain Aisyah sedang menikmati coklat hangat buatan ibu nya sambil memandangi kolam ikan peliharaan ayah nya, meski mata nya tertuju pada ikan-ikan di dalam kolam, namun pikiran nya sedang jauh berkelana merindukan sosok putri yang dikasihi nya.
yah,, kerinduan nya pada Naura begitu besar, walaupun setiap hari dia melihatnya dari jauh namun itu belum cukup, karna Aisyah tidak bisa memeluk nya, mencium nya, dan mencubit gemas pipi anak itu seperti dulu.
hidup nya kini kembali terasa hampa. jika dulu Aisyah hampa karna kehilangan hafidz, kini dia hampa karna jauh dari Naura, putri hafidz.
entah apa hikmah yang Allah sembunyikan di balik semua ini.
"nak, kamu mau menginap di rumah ibu?"
sebuah tangan membelai lembut kepala nya yang tertutup oleh hijab berwarna hitam.
"kalau iya, sebaiknya kamu ijin dulu sama nak Alfan karna walaupun sekarang suami mu sedang tidak ada di sini tapi kamu tetap harus ijin"
lanjut ibu nya Aisyah sambil duduk di atas kursi di samping putri nya
"iya Bu, nanti aisy hubungi ka Alfan setelah meeting nya selesai"
"ibu mau tanya, kamu kenapa sih nikah nya harus secara agama dulu? kenapa gak langsung buat resepsi saja. biar tidak menimbulkan fitnah juga"
benar, Aisyah sudah menikah dengan Alfan tiga bulan lalu tepat nya. kini hati nya sudah benar-benar menerima suami nya, setelah kejadian di supermarket dulu. Aisyah sadar, jika Alfan lah laki-laki yang benar-benar tulus mencintainya.
namun itu bukan jaminan dia langsung menerima pinangan Alfan, butuh waktu cukup lama untuk kembali mempertimbangkan semua nya hingga Aisyah benar-benar yakin bahwa di dalam hati nya tidak ada nama hafidz lagi, kini hanya Alfan, suami nya yang ia cintai.
"heumm,,, Aisyah tidak mau memberatkan KA Alfan Bu. lagian yang penting kan kita sudah halal, dimata Allah juga negara. tidak perlu di meriahkan juga tidak apa-apa"
Aisyah menghembuskan nafas dengan berat. dengan pertanyaan ibu nya yang sudah beberapa kali menanyakan alasan nya menikah secara agama dengan Alfan.
"bukan gitu isy, ibu hanya merasa tidak sempurna saja sebagai seorang ibu. kamu itu kan Putri ibu dan ayah satu-satunya, masa nikah saja harus secara agama, kan kita itu orang mampu"
__ADS_1
"iya Bu, aisy ngerti. tapi kita juga harus maklum sama keadaan nya KA Alfan yang waktu itu lagi di uji sama Allah dengan usaha nya yang hampir koleps"
"ya tapi kan kamu masih punya orang tua, nak Alfan juga. biar semua biaya ibu dan ayah yang tanggung nak"
"iya Bu aisy tahu, tapi KA Alfan tidak mau memberatkan ibu dan ayah termasuk oran tua nya. dia mau semua biaya resepsi pernikahan kami dia yang tanggung. kata nya pernikahan kami spesial maka dia ingin membuat itu menjadi lebih spesial tentu nya dengan usaha nya sendiri. ibu faham kan"
dengan lembut Aisyah membuat agar ibu nya mengerti dengan keputusan nya dan Alfan yang tidak mau memberatkan siapapun tentang pernikahan mereka.
"tapi nak, ini sudah tiga bulan loh. ibu takut kamu keburu punya anak, tapi belum resepsi nanti orang-orang yang tidak tahu menganggap kamu,,,,"
"ibu,,, insyaallah sebelum aisy hamil, resepsi pernikahan kami sudah berlangsung. ibu do'akan saja agar perjalanan bisnis KA Alfan di Singapure berjalan lancar yah"
Aisyah meyakinkan ibu nya dengan menggenggam erat tangan nya, dan ibu nya hanya tersenyum kecil mencoba mempercayai perkataan anak nya.
~"~
keesokan hari nya di rumah hafidz, nurain tengah sibuk mempersiapkan sarapan untuk anak dan suami nya.
dia begitu cekatan, dengan semua peralatan dapur yang kini sudah terbiasa digunakan nya. tanpa ada nya asisten rumah tangga yang membantu nya, hanya para santri putri yang setiap hari nya bergantian membersihkan rumah sesuai jadwal nya masing-masing.
nurain hanya ingin menikmati perannya sebagai istri dan juga ibu, yang tiga tahun lama nya ia tinggalkan, karna musibah yang menghampirinya. maka kini ia jadikan kesempatan itu untuk menggantikan hari-hari yang di lewati nya.
"sayang, Abang berangkat dulu yah kamu di rumah baik-baik. Abang gak lama ko, setelah bertemu Miss reyan, Abang langsung pulang"
Gus hafidz mengecup kening nurain, kemudian berganti pada putri nya yang sedang asik menyantap sosis bakar kesukaannya.
"Abi, nanti beliin naula cupcake yah"
"siap putri Abi, kalau istri Abang mau di beliin apa?"
"apa yah??? kayak nya rujak tumbuk seger deh bang"
Gus hafidz mengangkat alis nya sebelah, seolah merasa aneh dengan permintaan istri nya.
"apa sih bang, jangan mikir aneh-aneh deh. nur cuma lagi mau aja makan rujak"
"kalau pun iya kamu hamil lagi juga gak apa-apa, malah Abang seneng hehe"
"apa sih"
"ya udah Abang berangkat dulu yah, assalamualaikum"
setelah kepergian suami nya, naura ingin bermain bersama salah satu santri putri yang kebetulan hari itu sedang tidak ada jadwal mengaji. nurain pun menguji nya, dan ia pun kembali fokus dengan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
'buku siapa ini?'
tanya nurain dalam hati, saat melihat sebuah buku dengan gambar wanita bercadar di atas meja kerja suaminya.
__ADS_1
'apa buku ini milik???'