
POP Aisyah
"isy,, kamu yakin mau Nerima lamaran ka Alfan?"
pagi itu sebelum aku mampir ke pondok, ku sempatkan untuk menemui Nilam di rumah sakit sekedar menyerahkan beberapa berkas yang di minta Nilam saat aku masih praktek di rumah sakit yang sama dengan nya.
"kamu kenapa nanya gitu lam? bukan nya kamu yang dukung aku agar mau membuka hati ku untuk ka Alfan? tapi kenapa sekarang kamu seolah ragu dengan keputusan ku?"
aneh jadi dengan sikap Nilam, kemarin mendukung tapi sekarang seolah ragu dengan keputusan ku
"bukan gitu isy, maksud aku jangan langsung lamaran. tapi coba kamu Deket dulu sama ka Alfan, sekiranya dia bisa menggantikan posisi hafidz di hati kamu, baru deh kamu lanjut ke lamaran"
"maksudnya kamu nyuruh aku buat pacaran gitu? kamu kan tahu pacaran itu sama dengan mendekati zina dan aku tidak pernah mau dengan yang nama nya pacaran"
"iya aku tahu, tapi__apa yah__eumm,,, ah, aku jadi bingung ngejelasin nya sama kamu. maksud nya bukan pacaran juga, tapi lebih ke pertemanan tapi dekat gitu"
aku semakin tidak mengerti maksud dari perkataan Nilam
"hhmm,,, aku gak ngerti maksud kamu lam. tapi mungkin ini keputusan terbaik, aku hanya minta doa dan dukungan dari kamu sebagai sahabat sekaligus sepupu ku. agar semua nya lancar, dan hati ku bisa terbuka untuk ka Alfan"
"yah,, aku pasti selalu dukung dan mendoakan segala kebaikan untuk kamu isy. mudah-mudahan ini memang keputusan yang tepat. jadi setelah ini kamu mau ke pondok buat menemui orangtua hafidz?"
"iya, aku harus ke pondok untuk memberitahukan tentang lamaran ku pada umma dan Babah. karna bagaimana pun mereka sudah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri"
"perlu aku temani?"
"gak usah lah, aku bisa sendiri. lagian kan kamu gak mungkin ninggalin jadwal praktek kamu"
"kamu yakin gak mau aku temenin? nanti kalau ketemu__"
Nilam seperti ragu mengucapkan nama yang pasti nya sudah aku tahu siapa dia.
"hafidz dan istri nya maksud kamu? memang nya kenapa kalau aku ketemu mereka? lagian mau gak mau aku pasti bakalan ketemu sama nurain dan hafidz"
"bukan gitu, sekarang istri nya lagi hamil besar loh. aku takut nya hati kamu belum kuat melihat nya, karna hafidz sebentar lagi akan punya anak dari perempuan lain"
"hmm,, yah mau gimana lagi. dia menikah dengan perempuan lain otomatis dia pasti punya anak dari nya kan? udah lah, gak usah hawatir insyaallah aku gak kenapa-kenapa. hati ku udah ikhlas"
"ya udah deh, aku seneng dengernya"
"ya udah aku pergi dulu yah, keburu siang, nanti gak keburu lagi karna harus ngejar jadwal praktek aku. dah Nil, assalamualaikum"
dan sekarang aku di sini, di rumah hafidz setelah tadi di rumah sakit tidak sengaja berpapasan dengan Farah dan nurain.
aku terpana melihat perutnya yang sudah membesar, tidak menyangka sebentar lagi hafidz akan menjadi seorang ayah, namun bukan ayah dari anak-anakku. astaghfirullah,,, kenapa pikiran itu selalu berkeliaran di benak ku.
"bukan gitu de, Abang hanya mau lelaki terbaik untuk Aisyah"
kata hafidz dengan raut wajah yang,,, aku sendiri tidak mengerti apa maksud sebenarnya dia bicara seperti itu
"insyaallah dia baik fidz"
kata ku mencoba biasa saja dengan perhatian yang di berikan hafidz hari ini. yah, dia menurutku kekhawatiran nya adalah bentuk perhatian untuk ku, tentu nya hanya sebagai sahabat nya, tidak lebih
"siapapun dia, pasti sangat beruntung mendapatkan mu nak. umma berdoa, dia adalah lelaki terbaik yang Allah pilihkan untuk mu"
"amin,, Syukron umma"
aku memeluk umma dengan erat dan air mata yang mulai berjatuhan antara bahagia dan sedih. bahagia, karna umma selalu menyayangi ku seperti putri nya sendiri, sedih karna aku tidak tidak bisa menjadi putri nya yang seutuh nya. yah,,, hati ini masih sama, belum berubah
~
"Alhamdulillah dokter Aisyah sudah sampai, para pasien sudah mengantri menunggu kedatangan dokter"
kata Nindy yang merupakan asisten ku di rumah sakit
"iya maaf banget saya telat, ada urusan dulu tadi. langsung aja yah kamu panggil pasien urutan pertama. saya masuk dulu ke dalam"
__ADS_1
"iya dok"
dengan sedikit tergesa aku memakai jas putih dan mencuci tangan ku, kemudian kembali ke meja ku untuk menyambut pasien ku yang pertama
"silahkan duduk Bu"
sambut ku dengan ramah pada seorang pasien yang sudah berusia lanjut
"waah,, saya baru lihat loh dokter yang pake cadar. biasa nya kan masker bukan cadar, pasti dokter muslimah banget yah"
kata nya sambil duduk, dan aku hanya tersenyum mendengar nya sambil terus fokus memeriksa tensi darah ibu tersebut.
"Alhamdulillah normal tensi nya, sekarang ibu berbaring yah biar saya periksa secara menyeluruh"
"kayanya dokter belum nikah yah"
kata nya lagi sambil tiduran di tempat tidur pasien, lagi aku hanya tersenyum menanggapi
"saya punya cucu loh yang belum nikah juga, anak nya ganteng udah punya usaha sendiri, kalau dokter mau biar saya jodohkan sama cucu saya itu, gimana dokter mau?"
"wah, saya kira ibu belum punya cucu karna terlihat masih sangat muda"
puji ku mengalihkan pembicaraan
"masa sih dok? usia saya udah enam tujuh loh. malah akhir-akhir ini saya sering sakit pinggang, di tambah batuk saya semakin hari semakin parah. itu arti nya saya udah sangat tua"
"selain itu keluhan nya apa lagi?"
"kaya nya itu aja sih dok"
"kalau gitu, ibu harus cek ke laboratorium dulu yah, setelah hasil nya keluar bawa ke sini dan nanti baru saya buatkan resep"
kurang lebih tiga puluh pasien yang datang hari ini. cukup melelahkan, apalagi hari ini aku habis bepergian, mulai dari rumah sakit tempat ku dulu praktek, rumah hafidz dan langsung ke sini. bahkan aku sampe lupa untuk makan siang tadi.
tapi Alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan semua pemeriksaan. dan sebelum pulang aku memutuskan untuk pergi mencari makan dulu, karna perut ku sudah sangat keroncongan dari tadi.
tiba-tiba suara yang tak asing menyapa ku saat aku tengah berjalan melewati setiap lorong rumah sakit.
"waalaikumsalam wr wb, ka Alfan"
"iya ini ana, maaf sebelumnya karna gak ngasih kabar dulu kalau mau ke sini"
"oh,, iya gak papa. kebetulan aisy juga udah selesai praktek nya. tapi ngomong-ngomong ada apa yah, ka Alfan sampai harus ke sini nyamperin aisy?"
tanya ku penasaran
"eum,,,ini__"
"assalamualaikum ka aisy"
seorang perempuan muncul di belakang ku dengan tiba-tiba, sontak aku langsung menoleh ke arah nya.
dia memakai gamis berwarna Milo dengan hijab yang senada, dan itu sangat cocok untuk kulit nya yang putih bersih.
dia tersenyum manis kepada ku, aku pun membalas senyumnya di balik cadar ku. sekilas ku alihkan pandangan ku pada ka Alfan untuk meminta penjelasan tentang siapa perempuan yang kini di hadapan ku.
"perkenal kan ka, aku Ade nya ka Alfan, Husna khoirunnisa"
"oh,,, iya, aku Aisyah"
"maaf yah de aisy, dia Husna maksa mau ketemu de aisy. kata nya terlalu lama kalau harus menunggu satu Minggu lagi. jadi nya kami ke sini, sekalian__"
"sekalian mau ngajak kakak makan bersama, boleh yah"
Husna yang melanjutkan kalimat kakak nya yang belum selesai.
"oh,,, iya boleh"
__ADS_1
tanpa menunggu lama, kami pun pergi mencari restauran yang dekat dari rumah sakit. aku dengan mobil ku dan ka Alfan bersama adik nya dengan mobil nya mengikuti dari belakang
"pantas ka Alfan jatuh cinta sama ka aisy, orang nya lembut dan baik banget. padahal banyak banget perempuan yang deketin ka Alfan, tapi gak ada satu pun dari mereka yang ka Alfan pilih"
kata Husna di sela-sela kami menunggu makanan yang belum datang
"ah, kamu berlebihan de"
kata ka Alfan yang seperti nya merasa tidak enak dengan ku atas ucapan Ade nya
"oh iya ka aisy, habis ini ka aisy mau yah nemenin Husna sama ka Alfan belanja. kalau ka aisy yang ikut milih kan pasti bagus selera nya karna sama-sama perempuan"
ternyata Husna anak yang cukup manja jika dilihat dari nada nya ketika bicara.
sebenarnya aku sangat lelah ingin istirahat. tapi rasanya gak enak kalau langsung menolak nya begitu saja.
"de, gak enak masa baru ketemu udah minta ditemenin belanja. kan ada kakak, jadi sama kakak aja belanja nya lagian de aisy pasti capek setelah seharian praktek"
"yah, gak asik kalau hanya sama ka Alfan"
kata Husna dengan nada kecewa
"enggak ko ka aisy gak capek, gak papa biar aisy temenin Husna belanja"
dengan sedikit terpaksa aku pun mau menemani Husna belanja. mudah-mudahan tubuhku kembali fit setelah makan, agar ada tenaga untuk berjalan-jalan menemani Husna belanja.
~
"de aisy, maaf ya Husna jadi nya merepotkan de aisy karna harus menemani nya belanja"
"gak papa ko ka, aisy gak merasa direpotkan"
"ka aisy sini, aku mau beli gamis tapi mau kakak yang pilihin"
Husna menarik lenganku menuju barisan gamis yang terpampang di gantungan
"menurut kakak mana yang bagus?"
"eum,,,ini"
aku memilih gamis dengan model abaya dengan warna baby blue. namun di waktu yang sama sebuah tangan juga menyentuh baju yang sudah mau aku ambil.
"Aisyah?"
"hafidz?"
kami sama-sama terkejut, karna tidak sengaja bertemu di sini.
"dokter Aisyah di sini juga?"
kata nurain yang berada di belakang hafidz. aku tidak langsung menjawab nya, namun malah terfokus pada tangan nurain yang di genggam erat oleh hafidz.
"kalau dokter mau ambil yang warna ini, ambil aja biar nur ambil warna yang lain"
"enggak ko, silahkan aja. ini bukan buat ana tapi buat__husna"
"siapa de aisy?"
tanya ka Alfan yang sudah berada di samping Husna
"ini teman aku ka, hafidz dan istri nya nurain. dan hafidz ini ka Alfan dan adik nya Husna"
aku pun memperkenalkan ka Alfan pada hafidz tanpa menyebutkan dia siapa. karna aku yakin hafidz sudah tahu tanpa aku jelaskan siapa ka Alfan.
"kalau begitu kami permisi dulu. silahkan kalian lanjutkan belanja nya, mudah-mudahan nanti bisa silaturahmi kembali"
hafidz pun berbalik meninggalkan kami. aku masih melihat ke arah nya yang menggandeng nurain dengan begitu romantis. bahkan sesekali dia memapah nurain dengan penuh perhatian, karna mungkin takut nurain terjatuh.
__ADS_1
hafidz, apa aku bisa membuka hati ku untuk laki-laki lain??