Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
secarik kertas


__ADS_3

keesokan harinya saat kami sudah bangun, Maryam dan asyila langsung pamit ke asrama untuk siap-siap melaksanakan sholat subuh berjamaah dimesjid pondok. aku melaksanakan sholat diposkestren, tak lupa aku sempatkan tadarus Al-Qur'an dan berdo'a untuk kebaikan seluruh orang-orang yang kusayang dan menyayangiku.


"assalamualaikum ka mut" tiba-tiba seorang anak masuk mengucap salam dengan menghampiriku sambil tersenyum manis


"aiihhh Gus cu, waalaikumsalam anak ganteng" jawabku sambil mencubit gemas pipi nya "aduh dua hari gak ketemu nambah ganteng aja Gus cu" tambahku dan mengusap lembut rambutnya


"ini aku bawain kacang ijo buat ka mut, makan ya mengpeng masih anget" Gus Luthfi menyodorkan satu kacang hijau yang dibawa nya tak lupa dia juga mengambil mangkuk beserta sendok yang ada diatas meja


"Syukron anak baik"


"ma'asyukri Kaka cantik" kami pun saling melempar senyum


"enak bubur nya pasti dari mang Diwan ya" kataku setelah memakannya beberapa sendok. yah mang Diwan adalah salah satu pedagang tetap diwilayah pondok kami, kata nya beliau sudah hampir sepuluh tahun berjualan kacang hijau disini. kacangnya enak dan katanya juga Abah nya ayah suka banget sama kacang hijau buatan mang Diwan. maka nya mang Diwan dikasih tempat sama Abah buat tetap berjualan dipondok ini.


"Gus cu mau? biar ka mut suapin ya" aku menyodorkan satu sendok kacang hijau ke mulutnya Gus luthfi

__ADS_1


"enggak, buat ka mut aja tadi aku udah makan disana sama umma"


"ya udah ka mut abisin ya" Gus Luthfi hanya mengangguk "eh iya, Gus cu kesini sama siapa?" aku celingak celinguk mencari seseorang yang menemani Gus Luthfi ke poskestren, karena biasanya Gus Luthfi selalu diantar oleh salah satu santri disini atau kalau ada kakak-kakanya selalu didampingi sama mereka.


"sendiri ka"


"lho, emang berani?"


"berani donk ka, tadi nya mau minta anterin Abang. pas ke kamar Abang baru inget kalo Abang udah berangkat lagi ke Turki tadi malam dianter sama Babah sama umma"


"ka mut ko ngelamun? kenapa?"


"eh,, enggak ko, Gus cu gak ikut nganterin gitu?"


"enggak, kasian mbak Farah sendirian nanti dirumah. soalnya kata umma mau nginep dulu dihotel satu hari, nanti malem baru pulang"

__ADS_1


"bi Nani?"


"sama, bibi juga gak ada kemaren kata nya ijin ke rumah sodaranya. nanti siang baru kesini lagi"


"waaahhh, Gus cu makin pinter aja, sekarang udah bisa jawab dengan tepat kalo ada yang nanya. tambah bangga de KA mut sama Gus cu" kini aku mencubit hidung mancung Gus Luthfi.


"Oia ka mut aku kesini selain mau jengukin KA mut juga mau ngasih ini" Gus Luthfi memberikan sebuah kertas yang terlipat rapi


"apa ini Gus cu?"


"enggak tau, tadi pas aku masuk ke kamar Abang aku liat ini dimeja Abang. karna aku liat dihalaman depannya ada nama ka mut jadi aku bawa ke sini, mungkin Abang lupa buat ngasih ka mut" jelas nya dengan begitu polosnya


"Lutfi,, Luthfi,,,Gus luthfi" tiba-tiba aku dengar suara seorang perempuan yang memanggil Gus Lutfi, sepertinya itu suara Ning Farah yang lagi nyari Gus Lutfi. aku langsung melirik Gus Luthfi dengan mata yang sedikit disipitkan pertanda aku meminta jawaban dari Gus Lutfi kenapa Ning Farah mencari Gus luthfi.


"Oia, lupa aku tadi belum ijin mbak Farah ka mut hehe. bentar ya aku samperin dulu mbak ku nya" Gus Luthfi langsung berjalan menuju asal suara.

__ADS_1


__ADS_2