
setelah mengobrol dengan ibu pengasuh, aku pamit untuk kembali ke asrama tapi ibu malah mengajakku untuk makan lebih dahulu. tentu aku menolaknya karna pasti rasa nya sangat tidak nyaman satu meja makan dengan guru yang teramat kita hormati. tapi dari satu sisi aku pun merasa senang dan bangga. ah,,, tapi perasaan malu dan seganku lebih besar hingga sungkan untuk mengatakan "ya".
" gak usah sungkan, yuk temani ibu makan biar lebih nikmat makan nya kalo bareng-bareng. kebetulan hari ini Babah lagi pergi sama Farah dan Lutfi ke rumah uwa nya. jadi ibu makan nya berdua sama BI Nani kalo ada kamu kan jadi lebih rame lebih enak pula"
kata beliau sambil merangkul pundak ku dan mengiringiku berjalan menuju dapur, aku hanya tersenyum menundukan kepala.
"BI gimana makanannya udah siap?" lanjut beliau bertanya pada BI Nani saat kami sudah berada di dapur
"sudah neng, tinggal nunggu disantap" jawab BI Nani dengan senyum ramahnya
__ADS_1
"yuk nur, sini duduk disini" ibu mempersilahkan aku duduk pada salah satu kursi meja makan
"gak usah Bu gak papa nur makan nya di asrama aja bareng santri putri yang lain" sekali lagi aku mencoba untuk menolak secara halus
"udah gak papa disini saja, bareng ibu sama BI Nani" ibu kembali merangkul pundak ku dan mengiringiku duduk diatas kursi, kemudia ku alihkan pandanganku pada bibi yang sedari tadi berdiri memperhatikan, dan bibi pun menganggukan kepala nya seolah memberi tanda agar aku menurut saja.
"BI sini, bibi juga bareng makan nya sama saya dan nurain" ibu pun juga mengajak BI Nani untuk makan bersama
"sekarang saja biar nikmat kalo sama-sama" ibu pun melakukan hal yang sama pada bibi seperti yang dilakukannya padaku. akhirnya bibi mengalah dan hari ini kita pun duduk makan bertiga dirumah ibu.
__ADS_1
setelah makan, aku tidak langsung bergegas ke asrama putri namun membantu bibi terlebih dahulu untuk membereskan meja makan dan mencuci piringnya langsung. sedang ibu sudah masuk ke dalam karena harus menerima panggilan dari seseorang. syukurlah jadi aku bisa sedikit lega, malu banget rasanya kalo ada beliau.
"neng, gimana nikmat kan makan bareng ibu nya Gus hafidz?" tanya bi Nani saat aku sedang mencuci piring
"ah,, bibi yang ada selama makan hati saya gak bisa tenang deg-degan banget, malu, segan, sungkan campur aduk pokoknya" jawabku apa ada nya
"baru juga makan bareng ibu nya apalagi kalo makan bareng anak nya pasti lebih dari itu" lanjut bi nani
"apaan sih bibi, jadi kesitu-situ"
__ADS_1
"tapi benerkan neng apa yang bibi bilang hehe"
"nur gak ngerti maksud bibi apa, yang jelas nur gak kepikiran kesitu, udah ah,, nur mau ke asrama ya BI. assalamualaikum" kata ku sambil keluar menghindari ledekan bibi yang pastinya akan berlanjut kalo aku masih terus disitu bersama bibi. kalo dipikir-pikir aneh juga sih kenapa gosip tentang aku masih berlanjut padahal kan Gus hafidz udah gak disini. bibi lagi ikut-ikutan yang lain, apa memang iya yah Gus hafidz menaruh,,,, 'gak gak, gak mungkin aku gak boleh ke GR an. beda-beda banget jangan ngarep, jangan mimpi oke nur!' aku, nurain menepuk-nepuk pipiku sendiri agar tersadar dari mimpi yang ketinggian.