
satu persatu ustadzah memberikan pukulan rotan pada kaki kami, setiap ustadzah memukulkan rotan sebanyak sepuluh kali. bisa dibayangkan bagaimana perih dan sakit nya kaki kami? tak ada yang tidak menangis, termasuk aku. ini pertama kali nya kaki ku dipukul hingga biru dan ungu, masyaallah,,, sakit sekali. ini baru hukum dunia, tak terbayang bagaimana sakit dan pedih nya hukum akhirat. ighfirlii ya Rabb,,,
para ustadzah pun kembali ke asrama Meraka, kami di sini masih duduk menahan sakitnya kaki masing-masing. setelah ustadzah benar-benar menghilang dari pandangan kami, satu persatu kami pun mulai kembali ke kamar-kamar kami masing-masing dengan saling memapah satu sama lain, karna kaki kami benar-benar sakit sehingga sedikit sulit untuk berjalan.
tinggal aku sendiri, menunggu ibu pengasuh menemuiku. karna usatadzah bilang ibu ingin langsung bicara denganku. aku tidak terlalu memikirkan apa yang ingin dikatakan beliau, fokus ku saat ini adalah menahan sakit pada kaki ku. hingga ibu pengasuh datang, aku langsung hendak berdiri namun beliau langsung melarang nya, agar aku tetap pada posisi ku. aku pun menuruti beliau, ku tundukkan kembali pandanganku dihadapan beliau karna rasa malu dan segan ku terhadap beliau.
"nur,, sini mana coba ibu lihat kaki nya" ibu pengasuh mendekatiku mdan mencoba menyentuh kaki ku, aku kaget dan langsung menghindar, karna sungkan jika kaki ku harus disentuh oleh beliau.
"gak papa, sini ibu mau liat" beliau memaksaku, mungkin tahu jika aku sungkan terhadapnya
"BI,,,, tolong ambilkan air sama kompresan ya, sekalian salep yang buat ngobatin lebam ya" ibu memanggil BI Nani dan langsung meminta bibi untuk mengambilkan obat,
"iya neng" BI Nani pun mengambil apa yang tadi ibu minta, aku masih diam mematung dengan wajah yang terus menunduk. entah apa yang akan ibu pengasuh bicarakan pada ku tentang ini aku tidak tahu.
__ADS_1
"BI sekalian tolong ambil kan kasur lantai dipojok kamar tamu"
BI Nani pun kembali mengambil apa yang ibu perintahkan terhadapnya, saat semua barang yang diminta sudah ada didepan mata ibu meminta ku untuk bergeser sedikit kemudian BI Nani menggelar kasur lantai yang tadi dibawa nya.
"nur tiduran sini yah" ibu meminta ku untuk tiduran di atas kasur lantai tersebut
"enggak usah Bu gak papa" tolakku dengan halus
"enggak usah Bu, nur disini aja" tolak ku sekali lagi
"udah neng nurut aja sama ibu, biar kaki nya bisa diobati" kata bi Nani yang kemudian memegang pundak ku dan mencoba memapah ku untuk tiduran di atas kasur lantai.
aku pun memandangi wajah ibu pengasuh sebentar, kemudian beliau menganggukkan kepala nya dengan senyum nya yang lembut, aku tidak bisa menolak lagi. akhirnya aku pun menuruti nya.
__ADS_1
"sini ibu lihat kaki nya, nur posisi nya tengkurap ya biar ibu bisa ngobatin kaki nya nur"
"jangan Bu jangan sentuh kaki nur gak pantas. ibu kan guru nur, nur ngerasa,,,"
"ngerasa apa? sini nurut aja sama ibu ya,, nur putri ibu kan?"
"tapi Bu,,"
"kalo ibu anggep nur putri ibu, berarti ibu juga ibu nya nur selain guru nur juga. yang nama nya murid atau anak bukannya harus nurut sama perintah guru atau orangtua nya bukan" beliau menatap ku dengan senyuman yang begitu tulus sama seperti ibu ku. aku pun tidak bisa menolaknya lagi.
ku rebahkan tubuh ini diatas kasur, beliau mulai mengompres kaki ku dengan air hangat kemudian mengoleskan salep pada kaki ku. aku menangis melihat perlakuan beliau pada ku, beliau yang begitu tulus, beliau yang begitu baik terhadap ku. maaf kan aku ibu,, jika aku justru membuat mu kecewa, jika aku tidak bisa membuat mu bangga.
ibu,, kau seperti ibu ku
__ADS_1