
hari ini BI Nani mengajak ku untuk pergi belanja ke salah satu pusat pembelanjaan yang ada di kota Bandung.
"Abang, nur boleh izin keluar buat nemenin BI Nani belanja?"
tanya ku pada Gus hafidz saat dia sedang sibuk bersiap-siap memakai baju untuk hendak pergi mengajar
"boleh" jawab nya dengan singkat tanpa menoleh ke arah ku
"Abang, masih marah sama nur?"
Gus hafidz hanya diam tanpa menjawab pertanyaan ku
"Abang mau ngajar dulu, kamu hati-hati pergi nya"
Gus hafidz melangkah ke arah pintu kamar di belakang ku, dan aku pun langsung mengambil tangan nya lalu mencium nya sebelum dia melangkah kan kaki nya keluar kamar tanpa mengecup keningku seperti biasa nya.
hmm Abang masih marah 😔
"BI, umma mana? bukannya mau belanja bareng kita?"
tanya ku pada BI Nani yang sedang sibuk merapikan hijab nya di depan kaca lemari dapur
"ibu gak jadi ikut neng, kata nya harus menghadiri rapat orangtua mahasiswi di kampus neng Farah"
"oh, pantesan tadi keluar bareng Ning Farah. kirain bukan mau pergi bareng Ning Farah"
"ya udah kita berangkat yuk. ustadz Ilham udah nunggu di depan"
aku mengangguk, dan kami pun berjalan keluar menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah
"ka mut,,,"
tiba-tiba Gus Lutfi berlari menghampiri ku dari arah halaman pesantren bersama seorang santri putri yang biasa mengasuh dan menemani Gus luthfi bermain
"ka mut mau kemana udah rapi?"
"mau nemenin bibi belanja sayang"
"Lutfi ikut yah?"
"ikut?"
aku melihat ke arah bibi meminta persetujuan dari nya, dan bibi pun tersenyum mengangguk tanda mengijinkan Gus luthfi untuk ikut
"Gus cu boleh ikut sama ka mut"
"horeeee,,, Luthfi ganti baju dulu yah sebentar, ka mut sama bibi tunggu sini"
"ukhti, minta tolong gantikan baju Gus Lutfi yah"
kata ku pada santri putri yang menemani Gus luthfi
"iya Ning"
__ADS_1
kata nya dengan sopan dan santun. rasa nya aku masih belum biasa di panggil Ning, karna merasa malu dan kurang pantes. tapi apa boleh buat aku tidak bisa menolak, karna panggilan itu sudah menjadi adat jika menikah dengan salah seorang anak kiai dari pondoknya.
~
"ka mut, Luthfi mau ke situ mau beli mainan"
Gus Lutfi menunjuk jajaran lemari yang di penuhi aneka macam mainan bagi anak-anak
"BI, nur mau ke sana dulu nganter Gus luthfi gak papa?"
"iya gak papa neng, biar bibi ke swalayan sendiri belanja keperluan dapur"
"bibi gak repot sendiri?"
"enggak ko, udah biasa lagian. nanti juga di bantu sama ustadz Ilham"
"ka mut ayo"
Gus luthfi menarik tangan ku dengan tidak sabaran
"iya, iya ayok kita ke sana. BI nur ke sana dulu ya, assalamualaikum"
"iya neng waalaikumsalam"
aku dan Gus luthfi pun melangkah ke arah rak yang menyimpan aneka macam mainan anak
ku lihat Gus luthfi begitu antusias memilah milih mainan mobil-mobilan yang berjajar rapi di atas rak-rak yang ada di dalam toko.
aku hanya mengikuti, dan sesekali memberikan saran jika Gus Lutfi meminta pendapat tentang warna atau model mobil mana yang ingin di pilih nya.
seseorang mendekati Gus Lutfi yang sedang sibuk memilih mobil-mobil di atas rak
"waalaikumsalam"
Gus Lutfi menjawab salam seseorang yang sudah ku kenal dari dulu
"Gus Lutfi lagi beli mainan ya? sama siapa?"
tanya Agam yang belum menyadari kehadiran ku. dia memang belum tahu jika penampilan ku sekarang sudah berubah dengan menggunakan cadar, sehingga dia tidak mengenali keberadaan ku yang ada di samping Gus luthfi.
"sama ka mut"
jawab Gus Lutfi sambil menunjuk ku.
Agam langsung berdiri dan melihat ke arah ku, tepat nya ke arah mataku yang langsung ku alihkan pandangan ku ke arah yang lain, karna takut jika aku balas memandang nya akan menimbulkan fitnah.
"assalamualaikum nur"
"waalaikumsalam wr wb"
"apa kabar?"
"Alhamdulillah baik"
__ADS_1
"ana, gak nyangka penampilan anti berubah menjadi lebih anggun dan tertutup. pasti Gus hafidz semakin sayang dan cinta"
"Alhamdulillah, insyaallah. do'a kan saja"
jawab ku mencoba biasa, walaupun sebenarnya sangat tidak nyaman bicara dengan Agam yang terus menatap ku dengan tatapan yang tidak aku mengerti
"apa anti bahagia hidup dengan Gus hafidz?"
tanya nya tiba-tiba yang membuat ku melihat ke arah mata nya
"tentu, ana bahagia karna beliau adalah suami yang sangat baik dan pengertian"
"sudah pasti seperti itu"
terdengar ada nada kekecewaan di balik setiap kata nya. aku sadar itu, karna sehari sebelum pernikahan ku dan Gus hafidz, Agam sempat menelpon ku untuk mengutarakan keinginan nya datang ke rumah menemui ayah.
tapi aku melarangnya karna aku tidak mau memberikan harapan pada nya.
Ku lihat ke arah Gus luthfi sebentar, ternyata dia masih sibuk dengan memilih-milih mainan mobil nya
"boleh ana bertanya sesuatu?"
aku hanya diam dan kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban boleh atas permintaannya.
"kenapa anti lebih memilih Gus hafidz dari pada ana? apa karna dia adalah anak dari seorang kiai dan ana bukan? apa karna dia memiliki sebuah pesantren yang besar sedang kan ana tidak? apa karna dia sudah memiliki segala nya dan ana belum? apa karna dia__"
"cukup, anta jangan meneruskan pertanyaan anta ke ana"
aku yang mulai kesal dengan semua pertanyaan Agam yang seolah menuduh ku seperti seorang perempuan matrealististis
"apa ana serendah itu di mata anta?"
tanya ku dengan perasaan kecewa yang ku tahan. aku tidak menyangka Agam yang dikenal lembut dan baik akan berkata seperti itu terhadap ku.
entah apa maksud nya berbicara seperti itu, tapi yang jelas hati ini sakit saat mendengar semua pertanyaan.
apa mungkin semua orang berfikir aku seperti itu, karna menikah dengan seorang anak kiai masyhur?
yah, aku sadar aku memang tidak sebanding dengan Gus hafidz dan bahkan dengan susah payah ku bangun rasa percaya diri ku saat bersanding dengan suami ku. tapi hari ini, percaya diri itu seolah terkikis dan membuat rasa minder ku kembali.
"ka mut kenapa kaya yang mau nangis?"
Gus Lutfi menyentuh tangan ku sambil menatap ku dan Agam bergantian
"enggak ko, ka mut gak papa. Gus cu udah selesai milih mobilan nya? kalau udah kita bayar sekarang di kasir"
"udah ka"
" ya udah sekarang kita bayar"
"nur tunggu, maksud ana bukan seperti itu. nur,,,"
aku langsung menarik tangan Gus luthfi tanpa menghiraukan panggilan dari Agam.
__ADS_1
sebenarnya aku sangat marah dan kesal kepadanya, tapi aku tahan dan lebih memilih menghindari nya.
kenapa Agam tega berbicara seperti itu kepada ku,,,