Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Tujuh Bulanan


__ADS_3

"gak kerasa malaikat kecil Abi udah tujuh bulan di dalam perut umi. sehat-sehat yah sayang, sampai kita ketemu nanti"


bahagia sekali jika gus hafidz sudah mencium dan mengelus perut ku serta mengajak bayi kami bicara, rasanya itu kebahagiaan yang tak ternilai bagi kami para wanita, jika sudah di perlakukan seperti itu oleh suami nya.


"umi nya juga, sehat-sehat yah. sampai nanti lahiran, biar kita sama-sama besarin dan didik anak kita"


kata Gus hafidz sambil mencium keningku dan mengecup bibir ku


"insyaallah, doain yah Abi sayang"


balas ku sambil mengelus perut ku yang sudah besar


"ayah kenapa belum Dateng yah bang? padahal tadi di jemput aja biar cepet"


"Abang juga mau nya tadi jemput ayah, tapi ayah kekeuh gak mau kan. gak papa tunggu aja, insyaallah gak lama lagi juga Dateng"


"iya deh"


jawab ku sedikit lemas


"kamu gimana, pinggangnya masih sakit gak? kalau masih biar Abang elus sini"


dengan lembut Gus hafidz mengelus pinggangku yang akhir-akhir ini sering terasa sakit


"gimana? enakan?"


aku hanya mengangguk saat di tanya oleh suami ku


Drrrttt Drrrttt


tiba-tiba suara hp ku berbunyi, dan sudah bisa ku tebak pasti itu dari ayah.


"assalamualaikum ayah,,,ayah udah sampai mana?,,,oh,,,enggak,,,Ade enggak mau apa-apa,,,iya yah,,yang penting ayah cepet nyampe dengan selamat,,, oh gitu,,, iya gak papa,,, sampein salam Ade ke Abang yah,,, iya yah,,, waalaikumsalam wr wb"


"gimana sayang? ayah udah sampe mana?"


tanya bang hafidz saat aku sudah menutup sambungan telpon nya


"kata nya ayah mau mampir dulu ke bataliyon, baru abis itu ke sini"


"oh,, ya udah gak papa. kan acara syukuran nya besok jadi ayah masih keburu buat ke sini"


"Abang, nur boleh minta sesuatu gak dari Abang?"


"boleh dong, boleh banget. emang istri Abang minta apa sama Abang?"


Gus hafidz mengusap lembut rambut ku yang tergerai


"nanti,, abis syukuran nur mau kita piknik yuk? tapi cuma kita berdua"


Gus hafidz yang mendengar permintaan ku tidak menjawab sama sekali. dia malah asik membolak balik kan telapak tangan nya di kening ku


"istri Abang gak panas ko"


kata nya dengan wajah yang seperti kebingungan


"ih,, maksud Abang apa? nur gila gitu?"

__ADS_1


aku menarik tangan Gus hafidz yang agar lepas dari kening ku


"dih, sensi amat. emang cara mendeteksi orang gila itu dari kening nya?"


kata nya sambil cengengesan


"terus itu apa maksud nya kaya gitu ke nur"


"hehe,, Abang cuma mastiin kalau istri Abang ini sehat wal'afiyat. soal nya aneh aja, tumben-tumbenan ngajak piknik. biasanya juga mau nya di kamar terus"


"jadi kalau nur ngajak piknik berarti nur sakit gitu? ya udah gak jadi aja"


"hehehe,, iya deh maaf yah istri Abang yang Sholehah, Abang cuma bercanda ko. jadi kita mau piknik dimana Hem?"


"terserah Abang aja, yang penting tempat nya nyaman dan asri"


"apa kita nginep di rumah kamu yang kemarin Abang kasih ke kamu?"


"enggak ah, nur mau suasana yang baru, yang berbeda"


"hmm,,, dimana yah?? nanti deh Abang tanya ke Alif, dia kan hobi nya traveling. jadi Alif pasti tahu tempat-tempat yang enak buat piknik dimana aja"


aku pun hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol pada suami ku.


gak tau kenapa tiba-tiba aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan suami ku. tapi di alam bebas, maksudnya kaya tempat-tempat buat camping, yang asri dan sejuk pokok nya. pasti sangat menyenangkan bukan ???


~


"ayaahh"


tanpa malu aku langsung memeluk ayah ku yang baru sampai di depan kedua mertua dan adik ipar ku


kata ayah sambil tersenyum renyah dan tentu nya mencubit pipi ku dengan penuh kasih sayang


selang beberapa detik kemudian bang sandi muncul dari balik pintu saat aku masih memeluk ayah


"Abang"


sontak aku terkejut dan langsung beralih memeluk Abang ku yang hampir sembilan bulan lama nya gak bertemu


"pak Yahya, nak sandi silahkan masuk"


kata umma dengan ramah pada ayah dan Abang ku.


kemudian kami pun duduk berkumpul di ruang tamu, tak ada perbedaan diantara kami, karna Babah dan umma begitu baik memperlakukan keluarga ku, sehingga tak ada kecanggungan diantara ke dua keluarga.


dan aku sangat bahagia melihat semua ini. andai ibu masih ada, pasti beliau juga akan sangat bahagia berkumpul bersama kami.


"nak kamu gak malu masih bermanja-manja sama ayah? udah mau jadi ibu juga"


kata ayah saat aku duduk di samping ayah sambil asik merangkul lengan nya, padahal ada Gus hafidz yang duduk di sebrang tanpa aku temani


"gak papa pak Yahya, nama nya juga anak perempuan. pasti manja sama ayah nya susah hilang walaupun udah ada suami nya"


kata umma membela ku


"iya nih ayah, lagian nur kangen sama ayah kan udah lama gak ketemu"

__ADS_1


"bisa aja kamu"


semua orang tersenyum menyimak obrolan ku dan ayah, begitu luas Gus hafidz yang hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. entah apa maksud nya, mungkin dia gak habis pikir dengan sikap ku yang masih seperti anak-anak.


"Abang, sekarang gimana tugas nya udah agak longgar setelah masa covid terlewati?"


tanya Gus hafidz pada Abang ku di sela-sela perbincangan keluarga


"Alhamdulillah udah agak mending sih. cuma yaa itu, kemarin harus siaga mengamankan yang demo karna kenaikan BBM"


"pasti nya yah nak sandi sangat sibuk. tapi begitulah dunia, tempatnya capek, tempatnya sibuk, tempatnya prahara juga. yang penting kita gak lupa agar selalu di sertai dengan bismillah dan Alhamdulillah. biar segala sesuatu nya dilancarkan, di mudahkan sama Allah"


nasihat Babah yang begitu bijak pada Abang ku


"iya bah, bener banget itu yang oaling utama. doakan sandi Istiqomah dalam menjalankan amanat negara dan agama"


"tentu nak, insyaallah Babah selalu mendoakan anak-anak Babah agar di beri kemudahan dalam menjalankan amanat-Nya di dunia ini"


malam semakin larut, obrolan dan canda tawa yang di lontarkan satu sama lain pun harus berakhir sementara, demi memenuhi keinginan tubuh yang meminta untuk rehat, agar esok bisa tersenyum bersama bugar nya kesehatan jasmani.


~


pagi hari nya, semua orang tengah sibuk mempersiapkan semua persiapan untuk syukuran tujuh bulanan.


aku sekarang disini, bersama para perias yang sejak pagi sudah datang untuk merias ku layaknya kembali menjadi pengantin.


hanya saja bedanya kali ini aku bukan memakai gaun pengantin, melainkan memakai kain samping dan baju terusan yang cukup longgar. agar tidak terlalu menjiplak saat prosesi siraman nanti.


setelah selesai di dandani, umma mengajak ku ke ruang acara. karna semua orang sudah kumpul di sana.


untuk pertama kalinya, aku melihat alat-alat untuk acara tujuh bulanan. mulai dari Gubuk Siraman (termasuk gentong 2 buah, bunga, gayung), Kelapa gading 2 buah yang sudah diukir Rama-Shinta,Telur kampung, Kain batik 7 buah, Kain putih, Belut, Golok untuk belah kelapa,Duit-duitan untuk jual-beli rujak, dan masih banyak lagi.


setelah semua siap, acara pun langsung di mulai, yang mana di awali dengan acara Pengajian. ayat yang di bacakan berupa Surat Ya'asin dan Surat Yusuf.


kemudian setelah itu Calon ibu atau aku mengganti baju siraman lengkap dengan bando melatinya serta berjalan menuju tempat siraman didampingi oleh gus hafidz dan dahului oleh orang tuanya.


Acara selanjutnya yaitu acara adat suami memasukkan ke-2 buah kelapa gading ke dalam gentong, lalu di siram oleh orang tua dan keluarga yang di Tua'kan seperti umma, Babah dan ayah juga ikut menyirami tubuh ku


setelah itu, acara Gonta-ganti kain sambil ditanya kepada tamu yang hadir, cocok atau tidak kain yang di kenakan tersebut sampai pada kain ke-7.


lalu Setelah itu memakai kain putih yang di sarungkan dan Gus hafidz meloloskan telur ke dalam sarung kain putih yang ku kenakan, kemudian ayah meloloskan belut ke dalam kain sebanyak 7 kali.


hingga Acara terakhir di tempat siraman, Gus hafidz mengaduk gentong yang berisi kelapa seperti mengaduk kupon undian sambil menghadap ke tamu yang hadir, setelah itu mengambil satu buah kelapa, jika yang di ambil bergambar Shinta maka kelak anaknya perempuan, dan kalau bergambar Rama maka kelak anaknya laki-laki. itu kata nya


Setelah itu kelapa di belah, kata nya ini melambangkan susah atau gampangnya proses persalinan nanti, dan air kelapanya boleh di minum.


kemudian aku dan Gus hafidz kembali ganti baju (harusnya baju kebaya) namun aku memilih memakai gamis saja, karna kurang nyaman jika memakai kebaya yang ngepas di badan.


dan siap-siap seperti layaknya akan jualan rujak. Menurut kepercayaan dari rasa rujak inilah orang-orang bisa meramalkan jenis kelamin si jabang bayi nanti.


Uang hasil penjualan rujak dikumpulkan di mangkok atau kendi tanah liat atau ceritanya ini ditabung, tapi isinya dicampur uang recehan yang asli, nanti mangkok atau kendi nya itu dibanting oleh suami atau Gus hafidz untuk proses saweran dan uang receh nya di perebutkan oleh para tamu.


masyaallah ini pertama kali nya aku melihat sekaligus merasakan Hidmat nya acara tujuh bulanan menggunakan acara adat.


karna jika di kampung ku, biasanya hanya memanggil mama paraji dan mengundang orang-orang dekat atau tetangga untuk ikut mendoakan ibu dan si cabang bayi. kecuali memang mereka yang berduit lebih, tentu nya akan beda.


seperti sekarang aku disini, dimanjakan oleh suami dan mertuaku. Alhamdulillah.

__ADS_1


Tapi dari itu semua sebenarnya tujuan nya sama. yaitu untuk keselamatan dan kesehatan si ibu dan bayi nya. karna itulah tujuan utama nya.


__ADS_2