Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
keadaan ibu


__ADS_3

ibu harus masuk rumah sakit setelah aku menemukan ini dalam keadaan tak sadarkan diri. aku tidak pernah menyangka bahwa ibu menyembunyikan penyakit nya dari kami semua.


"maaf ya de ayah terlalu sibuk sampai-sampai ibu sakit pun ayah tidak tahu"


ayah ku menangis dalam pelukan ku, begitu pun aku yang sejak ibu dibawa ke rumah sakit tak henti-hentinya air mata ini mengalir terus-menerus


"ayah, ibu akan sembuh kan?"


"kita berdo'a aja pada sang maha penyembuh. ayah tahu Ade anak yang kuat juga Sholehah, maka insyaallah Allah akan mendengar do'a anak yang Sholeh dan Sholehah"


aku semakin erat memeluk ayah sambil menangis semakin dalam.


tak pernah terbayang sebelumnya jika kini ibu terbaring lemah tak sadarkan diri di atas tempat tidur.


ibu yang selalu tersenyum ceria pada kami anak-anak nya. tak pernah sekali pun menampakan raut wajah yang bersedih apalagi marah. ibu yang selalu membelai lembut kepalaku saat aku bersikap manja pada nya begitu pun pada Abang ku, tak pernah sekalipun beliau bersikap pilih kasih kepada kami.


ibu aku rindu senyuman ibu,


aku rindu pelukan ibu,


aku rindu dimanja ibu,


ibu cepat sembuh ya,


ibu cepat sadar,


Ade takut kehilangan ibu,


"Ade makan dulu ya, Abang udah beli makanan kesukaan Ade"


Abang ku datang dengan membawa kantong kresek yang berisi makanan. aku hanya menatap wajah Abang ku yang tersenyum namun terlihat jelas bahwa mata nya menahan kesedihan. lalu aku memeluk Abang ku sambil menangis dalam pelukannya


"Abang, ibu masih belum sadar"


"insyaallah nanti juga sadar ko de, kita berdo'a aja sama Allah ya. sekarang Ade makan dulu, biar Ade gak ikutan sakit juga. kasian ibu nanti kalau udah sadar tapi malah liat Ade sakit"


aku pun menuruti perkataan Abang ku untuk makan terlebih dulu, sebenarnya aku memang belum makan dari kemarin tapi rasa lapar tidak terasa karna terlalu menghawatirkan kondisi ibu.


~

__ADS_1


"nur,," Maryam dan asyila datang ke rumah sakit dan langsung memeluk ku.


"Afwan kita baru ke sini" asyila mengusap air mata ku yang masih mengalir dari sudut mata ku


"gimana ibu? gak kenapa-kenapa kan?" Maryam bertanya dengan raut wajah yang hawatir


"mudah-mudahan gak kenapa-kenapa Iam, ana juga takut karna ibu belum sadar"


"masyaallah, sabar ya nur. insyaallah ibu sehat lagi kita doakan aja"


aku mengaminkan ucapan Maryam dengan anggukan.


"de ibu udah sadar" tiba-tiba Abang memberitahukan aku yang sedang duduk di luar bersama sahabat ku tentang keadaan ibu.


tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke dalam kamar ibu, yang kemudian disusul oleh asyila dan Maryam.


"Bu,,, ini Ade" aku mengecup ibu yang sudah tersadar namun raut wajah nya masih begitu pucat. beliau tersenyum dan mencoba meraihku dengan tangan nya, tapi seolah sulit walau pun hanya untuk mengangkat tangan nya.


"bang ibu kenapa? ko kaya yang susah gerak gitu?" aku mengalihkan pertanyaan pada Abang ku yang tengah berdiri di sebelah kiri ibu.


"ibu terkena stroke ringan de, jadi pergerakan nya sedikit lamban"


"ibu ada yang sakit? bilang sama Ade kalo ada yang sakit"


ibu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya, namun kemudian ibu mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti. aku mendekatkan telingaku pada lisan ibu


"ibu a__us" kata nya dengan begitu pelan


kemudian dengan cepat aku mengambil air minum yang sudah tersedia di meja dekat ranjang ibu.


ku berikan air itu dengan menggunakan sedotan, agar ibu bisa dengan mudah meminum air nya.


tapi tanpa di duga, air itu tidak bisa masuk ke dalam mulut ibu. lagi dan lagi air itu keluar tanpa sedikit pun bisa melewati tenggorokan ibu.


"ibu kenapa? tenggorokan nya sakit ya?"


aku bertanya dengan air mata yang kembali mengalir tanpa bisa ku bendung, begitu pun Abang ku dan sahabat-sahabat ku.


ibu kembali menggelengkan kepala nya sambil tersenyum kepada ku.

__ADS_1


akhirnya ibu kembali tiduran tanpa bisa minum air yang diminta nya.


aku dan sahabatku masih terus di samping ibu, ayah masih di ruangan dokter sedang kan Abang ijin untuk pulang ke rumah dulu sekedar mengganti baju karna tidak membawa baju ganti.


~


empat hari sudah ibu di rawat, tak ada perubahan pada kondisi ibu dan justru malah semakin parah.


tubuh ibu semakin lemah, tak ada makanan ataupun minuman yang bisa masuk ke tubuh ibu hingga akhirnya ibu harus menggunakan selang untuk membantu makanan dan minuman agar bisa masuk ke dalam tubuh nya.


sungguh ini kejadian yang sangat membuat ku terpukul, melihat ibu tak berdaya seperti itu, seolah membuat ku lebih tak berdaya.


"assalamualaikum,," ku dengar seseorang mengucap salam dan masuk ke dalam kamar rawat ibu


"waalaikumsalam wr wb" jawab ku dan semua yang ada di dalam ruangan.


ternyata ibu pengasuh yang datang berkunjung, ditemani oleh Ning Farah dan Gus hafidz. aku, Maryam, dan asyila langsung menyalami beliau dengan takzim, kecuali ayah yang hanya menangkupkan kedua tangan di dada nya.


aku tersenyum ramah pada Ning Farah yang kemudian dibalas oleh nya. kemudian ku alihkan pandangan pada Gus hafidz dengan menunduk sopan sebagai tanda hormat.


sebenarnya aku bingung kenapa bisa Gus hafidz datang ke sini, karna setahu ku dia sudah kembali ke Turki menunggu acara wisudanya. tapi semua itu ke tepis karna pikiran ini masih di dominasi oleh keadaan ibu.


ibu pengasuh, Ning Farah dan Gus hafidz berjalan mendekati ranjang ibu. kemudian mereka menyapa ibu yang memang sedang tersadar tapi tak bisa berbuat banyak.


ibu pengasuh lalu membacakan do'a untuk kesehatan ibu, dan kemudian mengajak ibu bicara.


aku, asyila dan Maryam memilih untuk menunggu di luar agar ruangan tidak terasa pengap karna terlalu banyak orang.


"syil, Iam, ana ke toilet dulu ya. nanti kalau ibu sama Ning Farah mau pulang tolong kasih tahu ana"


"biar ana Anter ya?" asyila memegang tanganku


"enggak perlu, ana bisa sendiri ko gak papa" asyila dan Maryam pun mengangguk dan membiarkan aku pergi ke toilet sendirian.


di toilet aku hanya ingin mencuci muka dan membuat mata ku kembali segar. karna jujur rasa nya mata ini sakit karna terlalu sering menangis semenjak ibu di rawat disini.


sambil berkaca di cermin toilet, ku lihat mata ku yang memang sudah bengkak dan wajah yang sembab karna sering nya menangis.


tapi lagi dan lagi meski sudah bengkak, mata ini tak bisa berhenti menangis jika sudah teringat ibu.

__ADS_1


semoga ibu kuat dan kembali sehat. nur sudah selesai menjalankan kewajiban nur di pondok, maka biarkan nur bisa menjalankan kewajiban nur pada ibu sebelum nur kembali pergi.


__ADS_2